
"Mas benar-benar mencintai mu dan anak-anak kita. Mas hanya telat menyadarinya dan merasa bersalah kepada Rili. Kalau Mas tidak mencintaimu. Mas pasti tidak akan mencarimu. Mas pasti akan mencari wanita lain. Sampai disini kamu paham gak sih dek?!!.." ucap Rival dengan nada bicara sedikit tinggi.
Mama Maryam yang menguping dibalik pintu kamar mandi dikejutkan oleh perawat yang datang untuk memeriksa keadaan Mely kembali, karena sekali dua jam perawat datang memeriksa pasien.
"Mengangetkan saja sus?" ucap Mama Maryam memegang dadanya yang masih berdetak sangat cepat itu karena terkejut, karena kedatangan perawat yang berpakaian serba putih itu.
"Siapa yang bertengkar di dalam Bu? suara pria yang terdengar barusan sepertinya sedang marah." Tanya perawat dengan heran dan bingung. Saat Dia memasuki kamar, suara Rival sampai terdengar keluar.
"Mana Ibu Mely? Apa Dia yang di kamar mandi? apa suaminya memarahinya?" tanya perawat dengan kesal dan penasaran. Kenapa ada suami tega memarahi istrinya yang baru melahirkan bayi kembar. Proses melahirkannya juga tidak mudah, karena ada insiden plasenta tidak mau keluar.
Mama Maryam terdiam, dengan mata berkaca-kaca.
"Buka pintunya, buka pintunya..!" perawat yang panik dan merasa kasihan kepada Mely, akhirnya terbawa perasaan dan salah paham kepada Rival. Dia beranggapan Rival sedang memarahi Mely. Karena Dia mendengar percekcokan antara Rival dan Mely di kalimat terakhirnya Rival. Disaat suara Rival meninggi.
Mely masih berdiri dengan tubuh bergetar. Ucapan Rival yang bernada tinggi, membuat dirinya sensitif dan emosional. Dia pun kembali kencing berdiri, karena memang Dia sudah merasa sesak. Lagian Dia tidak bisa jongkok untuk kencing, karena bagian bawahnya di jahit.
Rival semakin merasa bersalah melihat Mely yang kencing sambil meringis menahan perih dibagian bawahnya, masih dalam pakaian lengkap. Darah dan kencing bergabung mengalir di lantai kamar mandi. Bau amis pun tercium dari air seni yang bercampur darah.
"Buka pintunya.. Buka pintunya.. IBu Mely apa Ibu baik-baik saja di dalam?" teriak perawat di balik pintu kamar mandi. Perawat makin khawatir saja, karena tiba-tiba saja tidak ada terdengar suara dari dalam kamar mandi. Perawat pikirannya sudah traveling ke arah negatif. Dia berpikiran Rival sudah meleyapkan
Mely.
Rival kesal bukan main kepada perawat itu. Rival merasa perawat itu terlalu mendramatisir keadaan, sehingga Dia merasa lebih baik diam. Dalam membersihkan Mely saat ini.
Rival melepas pakaian Mely bagian bawah dan **********. Darah Mely sangat banyak di pembalut kain itu. Walau amis, tapi Rival tetap membersihkan bagian bawah Mely yang masih dalam keadaan berdiri.
Air mata Mely jatuh sederas-derasnya tanpa ada isakan. Dia masih berdiri dengan kaki gemetar dan Vagin**anya masih terasa perih saat Dia buang air seninya.
Setelah Bagian bawah Mely bersih. Rival mulai memasangkan pakaian dalam dan pembalutnya Mely. Dia sudah mengerti cara memakaikannya, karena Dia memperhatikan Mama Maryam tadi saat mengganti pembalut Mely.
Pasangan suami istri itu, memilih untuk tidak berdebat, setelah perawat menggedor-gedor pintu kamar mandi. Setelah Mely sudah rapi, Rival berniat untuk menggendongnya. Tapi, Mely berontak, Dia tidak mau digendong Rival.
"Dek, jangan bersikap seolah Mas memang laki-laki paling jahat di dunia ini. Baiklah kalau Adek tidak mau kita bersama lagi. Mas akan mengabulkan permintaanmu. Setelah kamu sehat, tapi Adek jangan menyesal. Hak Asuh anak kita, akan Mas ambil alih." Ucap Rival sedikit mengancam. Dia ingin menunjukkan kekuasaannya. Agar Mely berubah dan jangan pergi darinya.
"Tidak.......!" Tiba-tiba saja Mely berteriak dengan kuat. Dia tidak terima dengan ucapan suaminya itu. Dia merasa dadanya semakin sesak saja. Hatinya begitu sakit mendengar ucapan pria yang masih dicintainya itu. Dia tidak bisa membayangkan Kalau Rival mengambil anak mereka, kalau akhirnya perpisahan dan hak asuh dimenangkan Rival. Tidak seharusnya mereka bertemu lagi. Lebih baik mereka tidak usah bertemu selamanya.
Ucapan Rival itu mengguncang jiwanya Mely. Mely pun pingsan, dengan cepat Rival menahan tubuh Mely yang hendak jatuh di lantai kamar mandi, wajah Rival mendadak pucat. Dia takut bukan main. Dia tidak mau kehilangan Ibu dari anak-anaknya itu. Sementara diluar kamar mandi, perawat dan Mama Maryam sudah ribut tidak jelas. Menggedor-gedor pintu dengan tidak sabaran nya. Karena mendengar teriakan Mely.
Rival pun akhirnya membuka pintu kamar mandi. Dia menggendong Mely keluar dari kamar mandi itu dan meletakkan Mely di atas bed.
Perawat dan Mama Maryam langsung berlari menghampiri Mely yang sudah pingsan.
"Apa yang bapak lakukan...?" teriak perawat histeris mendapati Mely pingsan. Perawat itu terbawa perasaan. Karena Dia ternyata punya pengalaman buruk dengan suaminya yang jahat. Bahkan saat Dia melahirkan suaminya tega memukulnya. Disaat Dia meminta tolong mengganti popok anaknya. Saat itu suaminya sedang tidur.
"Mely... Mely... anakku sayang...!" ucap Mama Maryam terisak sambil memegangi wajah putrinya itu.
"Apa Bapak ingin membunuh istri bapak? istri baru tiga jam melahirkan, tapi Bapak sudah membentaknya. Dimana hati nuranimu?" ucap perawat dengan menunjuk-nunjuk Rival yang sudah kalut dan panik bukan main.
Rival bahkan nampak ketakutan, Dia memundurkan langkahnya sehingga mentok ke dinding kamar tersebut.
__ADS_1
"Kalau Bapak tidak ingin punya anak, jangan menikah. Istri masih kesakitan, tapi Bapak sudah bicara dengan nada tinggi. Coba Bapak yang merasakan dulu bagaimana sakitnya melahirkan itu. Ibu Mely melahirkan bayi kembar. Plasenta anak Bapak yang kedua tertinggal. Asal Bapak tahu, disaat tangan Dokter itu masuk ke dalam rahim untuk mengambilnya. Itu sakitnya luar biasa.
"Apa Bapak mau membuat istrinya mengalami baby bluse. Apa Bapak mau membuat Ibu Mely jadi tertekan, stres sehingga akan membunuh bayi nya sendiri?" ucap perawat panjang lebar yang terbawa perasaan itu. Sepertinya Ibu perawat itu sedang PMS.
Ucapan perawat itu, semakin membuat Rival terpuruk. Dia sama sekali tidak ada niat untuk membentak atau ingin memarahi Mely. Diakhir percekcekonnya dengan Mely memang nada bicaranya sedikit meninggi. Tapi Dia tidak ada maksud untuk kasar kepada istri yang sangat dirindukannya itu.
Saat perawat sibuk membentak-bentak Rival. Mama Maryam berusaha menyadarkan Mely dengan segala usahanya. Mulai dari mendekatkan minyak kayu putih ke hidung Mely dan menepuk-nepuk pelan pipi Mely.
Puas memarahi Rival, perawat pun akhirnya memeriksa keadaan Mely. Dia memeriksa tekanan darah Mely dan denyut nadinya.
"Tekanan darahnya rendah, ditambah lagi darah nifas yang banyak keluar membuat Ibu Mely jadi lemah." Ucap perawat kepada Mama Maryam. Sedangkan Rival sudah seperti orang bodoh-bodoh terduduk disudut ruangan itu dengan bersandar ke dinding.
Sementara pasangan suami istri yang tak lain adalah Yasir dan Rili, sudah mendengar ucapan perawat yang memarahi Rival. Mereka pun akhirnya memilih meninggalkan tempat itu dan tidak pamit lagi. Mereka tidak mau ikut campur saat ini. Sebelum mereka pulang. Mereka menjumpai perawat yang bertanggung jawab merawat Pak Firman. Yasir memberi sejumlah uang kepada perawat itu, agar menjaga Pak Firman dengan baik.
"Bu, apa saudara Ibu tidak ada di daerah sini. Kalau ada minta kesini untuk membantu Ibu menjaga si kembar dan Ibunya. Sepertinya suaminya itu tidak berguna." Ucap perawat menatap sinis Rival yang masih terduduk dengan lemah dan seperti orang bodoh-bodoh.
"Ada Sus, nanti akan saya kabari sama mereka kalau kami sedang di Rumah sakit ini." Jawab Mama Maryam lemah. Dia juga sudah merasa sangat lelah sekali.
"Akan saya beri injeksi kepada Ibu Mely. Nanti dua jam lagi, saya akan periksa keadaan Ibu Mely. Semoga Ibu Mely tidak mengalami pendarahan. Tolong Bu, jelaskan kepada menantu anda agar jangan kasar kepada istrinya. Dan jangan dibuat Ibu Mely tertekan bathin Bu. Bisa-bisa ASi nya nanti tidak keluar. Akan saya beri vitamin untuk produksi ASI dan juga susu untuk Ibu Mely.
"Aku perhatikan sepertinya orang Ibu dari keluarga berada. Tapi, kenapa ya baju Ibu Mely saat datang kesini, seperti pakaian orang miskin." Ucap perawat sok ikut campur, yang membuat Mama Maryam hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan perawat yang kelewat sensitif dan sok tahu itu.
Mely mengerjapkan matanya, saat membuka mata Dia melihat Mama Maryam dan perawat dihadapannya.
"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" ucap Mama Maryam, membelai kepala Mely.
"Sikembar sedang tidur pulas sayang. Kamu juga harus istrirahat ya?" ucap Mama Maryam sambil mengelus kepala Mely.
Mely menyoroti ruangan itu, sebisa jangkauan matanya. Dia tidak melihat Rival di ruangan itu. Sesaat hatinya sedih. Dia beranggapan Rival memang pergi dari hidupnya.
Mely juga tidak mengerti dengan keinginannya. Dia kesal kepada Rival. Tapi, Dia sangat menginginkan suaminya itu bersamanya saat ini. Mely benci dengan dirinya. Yang keinginannya sendiri sulit dipahaminya.
"Saat bayinya tidur, sebaiknya Ibu Mely istirahat juga. Kalau Ibu cukup istirahat dan pikiran Rileks, maka ASi Ibu akan cepat keluar." Terang perawat itu dengan terseyum.
"Iya Sus." Jawab Mely lemah.
Perawat pun keluar, tapi sebelum keluar Dia menatap Rival dengan tajam. Saat perawat menatap ke arah Rival. Mely memperhatikan gerakan mata perawat tersebut.
Deg....
Jantungnya berdegup kencang, melihat keadaan Rival seperti orang bodoh-bodoh dan tidak punya semangat. Tak terasa air mata Mely kembali menganak sungai di pipinya.
"Jangan menangis lagi sayang. Ingat anakmu. Apa kamu ingin makan sesuatu? apa kamu mau buah? mau ya sayang!?" ucap Mama Maryam dengan mata berkaca-kaca. Mely mengangguk.
Mama Maryam pun mengupas buah jeruk yang dibelikan oleh Yasir. Dengan mata berkaca-kaca dan dengan mulut yang terasa kaku, Mely pun menghabiskan dua buah jeruk Berastagi.
Rival beranjak dari duduknya, menyambar paper bag yang berisi pakaian untuknya yang dibelikan oleh Yasir. Dia pun masuk ke kamar mandi. Dia mengguyur tubuhnya dari kepala Sampai ujung kakinya dengan air dingin.
Tubuhnya yang panas perlu didinginkan. Lama Rival membasahi tubuhnya, sampai hatinya merasa tenang.
__ADS_1
Rival keluar dari kamar mandi dengan sudah berpakaian lengkap. Pakaian yang dibelikan Yasir sangat pas di badan Rival, sehingga penampilan Dia sangat kren.
Dia melirik istrinya itu, untuk kali ini Mely mau menatapnya. Rival bingung, akankah Dia menyapa istrinya itu? tapi kalau Dia menyapanya. Dia takut Mely marah lagi kepadanya.
"Nak Rival, kamu makanlah dulu. Dari siang tadi kamu belum makan." Ucap Mama Maryam, memperhatikan Rival yang seperti ingin keluar.
Rival menatap Mama Maryam. "Nanti saja Ma, keburu tutup toko. Ini sudah tengah sepuluh malam." Jawab Rival, mengambil dompet dan kontak mobilnya dari nakas meja dekat lemari pakaian.
"Kalau bisa kamu cepat pulang, sepertinya si kembar akan terbangun." Ucap Mama Maryam.
"Iya Ma, ini nanti sekalian Rival akan minta kepada perawat untuk stay disini." Ucapnya dengan datar. Rival pun keluar dari kamar itu tanpa menyapa Istri nya itu. Sikap Rival itu, membuat hati Mely kembali sakit.
Setelah keluar dari ruang inap Mely. Rival mendatangani tempat perawat berkumpul.
Saat Dia berjalan ke tempat piket para perawat itu. Para perawat yang berjenis kelamin wanita terpesona dengan Rival. Secara baju dan celana yang dibelikan Yasir nampak mahal dan sangat pas untuk Rival. Sehingga ketampanannya bertambah sepuluh kali lipat.
"Ada apa ya Bang?" tanya perawat yang masih gadis dengan senyum mengembang sempurna dan dengan bahasa tubuh yang menggoda.
"Bisakah diantara kalian berempat salah satunya berjaga di ruangan no xx saat ini?" tanya Rival dan langsung meletakkan empat lembar uang pecahan seratus ribu di atas meja yang ada dihadapannya.
"Saya akan keluar sebentar, istri saya tidak ada yang jaga." Ucapan Rival yang mengatakan Dia sudah punya istri membuat para perawat yang masih Single itu jadi lemas.
"Kirain belum nikah." Ucap seorang perawat dengan berbisik kepada teman sebelahnya.
Tiba-tiba saja perawat senior yang memarahi Rival datang. Dia memperhatikan penampilan Rival yang berbeda.
"Ada apa Pak?" tanya nya datar.
"Saya hanya ingin meminta jasa para perawat ini untuk menjaga Istri saya. Karena saya ada keperluan sebentar ke luar." Ucapnya dingin, karena Dia kurang respect kepada perawat yang sok ikut campur urusan rumah tangganya.
"Oohh iya Pak, kami akan jaga Ibu Mely." Jawab perawat senior tersebut.
Rival pun melenggang pergi menuju mobilnya di parkiran. Sedangkan perawat senior itu. Meminta satu perawat yang dianggapnya cekatan merawat bayi masuk ke ruang rawat inap nya Mely.
Perawat senior itu juga membawa vitamin dan susu menyusui untuk Mely.
Rival melajukan mobil mewahnya ke area pusat perbelanjaan, Dia mencari toko perlengkapan Baby. Sebenarnya di rumahnya, sudah lengkap semua perlengkapan untuk menyambut bayi kembarnya itu. Bahkan Rival sudah mendesain khusus kamar bayinya. Tapi, karena kebutuhan pakaian untuk Mely dan bayinya kurang, Dia pun akhirnya menuruti keinginan Mama Maryam untuk belanja.
"Iya Pak, mau beli apa?" tanya pelayan toko ramahnya, yang melihat Rival sedikit bingung untuk barang yang akan dibelinya. Pasalnya di rumahnya pun semua perlangkapan bayi dan mendesain kamar anak. Kebanyakan diambil alih oleh Mama Maryam.
"Mau membeli perlengkapan bayi tapi bayinya kembar. Satu anak laki-laki dan satu perempuan." Jelas Rival, sambil menatap barang dagangan yang menurut nya sangat lucu-lucu.
"Ada lagi Pak?" tanya SPG.
"Saya juga mau beli baju untuk istri saya, Istri saya baru melahirkan." Terang Rival ramah.
Pelayan itu pun akhirnya mengambil pesanan Rival. Yang terlebih dahulu dipilihkan untuknya.
Mengetahui Rival sudah menikah, pelayan itu sedikit kecewa. Tapi, karena Rival memborong banyak. Akhirya rasa kecewa SPG itu merubah jadi rasa bersyukur.
__ADS_1