
Tatapan mata Firman yang tajam siap menerkam itu, membuat Mama Maryam semakin ketakutan. Saat ini yang bisa dilakukannya hanyalah berdoa dalam hati. Semoga pria yang memeluknya erat ini, sadar akan kelakuannya yang kelewat batas dan sudah membuat dirinya takut setengah mati.
"Tenanglah, Aku tidak akan melakukan apa yang ada dipikiran mu itu." Ucap Firman dengan lembut penuh penghayatan. Perlahan-lahan melepas tangannya yang membelit di pinggang Mama Maryam. Menatap sendu kedua manik mata Mama Maryam, yang membuat Mama terpana.
Tatapan Firman yang teduh itu penuh dengan kasih sayang dan kerinduan. Tatapan ini dulu yang sering membuat Maryam salah tingkah. Saat mereka dulunya masih bersahabat.
Mama Maryam terbengong, terhipnotis dengan tatapan itu. Tangan Firman bergerak menyentuh pipi Maryam yang halus dan putih itu. Mengelusnya pelan, yang membuat Maryam menggerakkan kepalanya ke arah pipinya yang di elus oleh Firman.
"Aku sangat mencintaimu.!" ucap Firman pelan, Dia takut untuk mengutarakannya. Tapi, ungkapan cinta itu harus diucapkannya. Dia tidak bisa lagi memendam rasa itu. Tangannya kemudian bergerak merapikan rambut Maryam yang menutupi sebagian wajahnya.
Tubuh Maryam bergetar mendengar pengakuan cinta dari Firman tersebut. Dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Apa maksud Firman mengatakan itu?
"Kamu gila." Mama Maryam mendorong kuat tubuh Firman, sehingga pria yang sedang terlena itu hampir saja jatuh terjerembab. Tapi, Dia masih bisa menyeimbangkan tubuhnya. Sehingga berdiri tegak dan dengan cepat, Firman menahan tangan Maryam yang hendak meninggalkan tempat itu, sehingga mau tak mau Mama Maryam menghentikan langkahnya.
Mama Maryam tidak percaya dengan apa yang dialaminya saat ini. Perlakuan Firman membuat jantungnya rasanya mau copot. Dia merasa tubuhnya tidak berdaya, sendi-sendi tulangnya rasanya sudah lepas dari tempatnya.
Firman dengan cepat membalik tubuh Mama Maryam, hingga Mereka bersitatap.
"Iya, Aku gila karenamu. Aku gila, Aku memang gila. Aku gila memendam rasa cinta ini." Ucap Firman dengan frustasinya, tangan kanannya masih memegangi erat tangan kiri Maryam. Dia merasa sedikit lega. Karena telah berhasil mengutarakan isi hatinya. Yang terpendam sejak mereka masih berstatus sebagai sahabat.
"Kamu memang gila, hentikan omong kosong ini. Setelah hari ini, Aku tidak ingin melihat wajahmu di rumah ini lagi." Ucap Mama Maryam tegas, menghempaskan tangan Firman dengan kuat, sehingga tangan itu pun lepas dari tangan Mama Maryam dan mengatung di udara.
Hati Firman rasanya seperti dicabik-cabik oleh kuku yang tajam. Sangat sakit dan perih mendapati kenyataan bahwa Maryam ternyata membencinya dan sedikit pun tidak ada rasa untuknya. Pantaslah Mama Maryam pergi dari kampung dengan keadaan hamil. Daripada memintanya untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
Sepeninggalan Mama Maryam. Firman terduduk lemah di rerumputan taman itu. Dia memegangi dadanya yang terasa sesak. Harapannya pupus sudah. Impiannya lenyap sudah. Seharusnya Dia tidak mengutarakan isi hatinya. Jikalau mengetahui Maryam malah membencinya.
Mama Maryam dengan cepat berlari masuk ke kamarnya yang ada di lantai dua dengan tubuh basah kuyup. Dia sangat bersyukur, tidak ada penghuni rumah yang melihatnya. Tapi itu hanya pemikiran nya. Ternyata ada mata yang melihatnya masuk ke kamarnya dengan keadaan basah kuyup itu.
Dengan berderai air mata, Mama Maryam mengguyur tubuhnya di bawah shower. Dia menangis, sesekali air terminum nya karena mulutnya yang terbuka karena menangis.
__ADS_1
Dia tidak ingin kejadian ini terjadi. Dia merasa hidupnya sudah bahagia, walau sudah menjadi janda. Dia tidak pernah kepikiran untuk menikah lagi. Tapi, pernyataan ungkapan cinta Firman itu membuat hatinya sakit. Karena kenangan pahit masa lalu terkuak lagi.
Jujur dulu Dia menyukai pria itu, bahkan Dia mencintainya. Tapi, karena mereka mempunyai perbedaan keyakinan. Maryam tidak mau memupuk rasa itu. Dia menguburnya dalam-dalam. Dia tidak berani mengungkapkan perasaannya. Karena dirinya malu. Dia perempuan. Rasanya begitu tabu mengungkapkan perasaan terlebih dahulu. Apalagi Dia menilai Firman tidak menyukainya. Hanya menganggap nya sahabat.
Setelah merasa tenang, Mama Maryam pun menyelesaikan mandinya. Sesaat Dia mengingat tatapan mata Firman yang sahdu dan menusuk sampai ke relung hatinya. Tatapan itu mulai memuncul titik cinta di hatinya yang sudah terkubur untuk Ayah dari putrinya itu. Dia kesal, tidak mau itu terjadi.
Tanah kuburan suaminya masih merah, tapi Dia sudah memikirkan pria lain. Ini sungguh tidak adil buat Pak Ali, yang sudah begitu baik, mengangkat derajatnya menjadi istrinya.
Mama Maryam merasa tubuhnya meriang, Dia tidak semangat lagi untuk turun ke bawah untuk makan malam. Ditambah, Dia akan merasa tidak nyaman. Apabila si Firman ada juga di ruang makan tersebut. Akhirnya Maryam memilih tidur, setelah menelan satu tablet Paracetamol.
❤️❤️❤️
"Kita keluar sekarang sayang?" tanya Yasir dengan lembut, menghampiri Rili yang sudah selesai berhias. Tapi, memilih tetap duduk di kursi depan cermin meja riasnya.
Rili menatap Yasir dengan tersenyum dari pantulan cermin. Seperti biasa Yasir selalu nampak tampan dan gagah di mata Rili. Suaminya itu terlalu sempurna untuknya dalam segala hal.
"Makanya ayo temenin Abang ikut jamuan makan malam. Kalau Adek tidak ikut, Abang tidak jamin, kalau sepulangnya sudah ada bekas bibir yang menempel di pipi ini." Ucap Yasir serius yang membuat Rili menatap tajam Yasir dan mengerutkan keningnya.
Dia berbalik, hingga kini wajahnya mendongak untuk menatap wajah Yasir yang berdiri dihadapannya.
"Mau selingkuh? Sudah bosan dengan Adek. Karena Adek hamil ya?" tanya Rili kesal, wajah cemberut membuatnya semakin gemesin. Dia mencubit perut Yasir dengan cepat yang membuat Yasir mengasuh kesakitan Dia tidak sempat mengelak, dari jemari lentik istrinya yang menarik sedikit otot perutnya.
"Adek main kasar. Sakit tahu, siapa lagi yang mau selingkuh. Suamimu ini terlalu sempurna, jadi banyak cewek yang klepek-klepek. Melihat Abang datang sendiri, mereka akan memanfaatkan situasi. Abang nanti jadi kesal dibuat wanita-wanita genit itu. Jadi, kalau Adek ikut dengan Abang. Abang merasa aman dan tenang." Ucap Yasir serius, menundukkan sedikit tubuhnya hingga kini mereka sejajar. Yasir mencubit gemes hidung Rili yang mancung yang kini sudah berubah warna jadi merah itu, karena kesal.
Rili menepis tangan Yasir yang mencubit hidungnya. "Oohh.. Adek jadi Bodyguard nya Abang?" tanya Rili ketus. Dia kembali menepis tangan Yasir yang mau merangkulnya.
"Ya, kurang lebih begitulah. Istriku Bodyguard cantik." Yasir dengan cepat menyambar bibir Rili yang lagi manyun itu. Hanya itu cara jitu, agar Rili tidak memanyunkan bibir tipis sexy itu lagi.
"Terlalu percaya diri sekali. Perasaan Abang kali banyak cewek yang ngejar-ngejar. Buktinya gak laku-laku juga. Lakunya hanya pada Adek saja." Ucap Rili bangkit dari duduknya. Dia berdiri di depan cermin. Merapikan pakaiannya dan make up nya yang memang sudah bagus itu.
__ADS_1
"Enak saja, banyak tahu yang suka sama Abang. Kalau Adek baru benar gak laku-laku. Paling cowok yang suka sama Adek hanya Abang Rival doang. Huuuu...!" Yasir kembali memanas-manasi Rili, dengan mengacungkan jempolnya ke arah bawah, sebagai indikasi istrinya itu tidak main.
Rili menatap kesal suaminya itu, bisa-bisanya Yasir bersikap menyebalkan malam ini.
"Eeemmmm kita lihat saja nanti, apa benar tidak ada cowok yang akan melirik Adek." Ucap Rili sombong, melipat kedua tangannya di perutnya.
Yasir tertawa terbahak-bahak. Dia merasa istrinya itu lucu sekali. Mana ada pria akan melirik wanita hamil.
"Malah tertawa lagi. Awas saja nanti di tempat acara dekat-dekat sama Adek. Kita buktikan, siapa yang duluan dapat gebetan." Rili menyambar clutch nya berwarna silver bertabur permata itu. Dia berjalan meninggalkan Yasir yang masih tertawa terbahak bahak, sambil memegangi perutnya yang sudah terasa kram, karena tertawa kelewat batas. Rahangnya sampai terasa ngilu.
Yasir berlari kecil mengejar Rili yang sudah di depan lift. "Sayang tungguin dong...!" Yasir langsung merangkul Rili disebelahnya dengan tersenyum.
"Awas jangan meluk-meluk." Rili menggerakkan bahunya, tidak sudih dirangkul Yasir.
"Koq gitu?" Yasir protes, Dia sedikit terkejut. Ternyata Istrinya menanggapi serius candaannya.
"Jaga jarak, kita jalan sendiri-sendiri." Rili kembali menjauhkan tubuh Yasir yang menempel padanya. Saat ini mereka sudah berada di dalam lift.
Yasir menghela nafas panjang dan dalam. Dia pura-pura menyerah. "Baiklah, tantangan diterima." Ucap Yasir, Dia mempersilakan wanitanya keluar duluan dari lift khusus itu.
"Siapa takut. Yang kalah tidak boleh minta jatah uwu' -uwu' selama tiga bulan." Ucap Rili tegas, menatap Yasir. Tangan Rili bergerak dilehernya, seperti ingin menyembeli. Dia pun berjalan ke ruang tempat acara yang dimaksud Yasir.
Tubuh Rili berjalan melenggak-lenggok, tatapannya penuh godaan tapi mematikan. Gaun panjang lengan cansee yang dikenakan Rili berwarna pastel nampak elegan dan anggun di tubuh Rili. Bahan yang tidak ngepas itu, seolah menutupi perut Rili yang hamil lima bulan. Jadi, kalau tidak diperhatikan dengan seksama. Maka orang tidak akan tahu kalau Rili sedang hamil.
Benar saja, saat Rili memasuki ruangan itu. Banyak mata yang tertuju kepadanya. Hal itu membuat Yasir jadi gelisah.
TBC
Tinggalkan jejak dengan like coment positif dan Vote
__ADS_1