
"Jangan ambil keputusan sendiri, ini harus dibicarakan dengan Ayah dan Mama. Tunggu Ayah dan Mama pulang. Adek mohon untuk saat ini jangan katakan kalimat perpisahan itu." Ucap Mely terisak, bersimpuh dihadapan suaminya yang kini masih duduk di sofa.
Hati Rival terasa semakin sakit melihat sikap Mely yang memohon dan bersimpuh dihadapannya. Sakitnya menelusup ke semua relung hatinya. Mely sampai hendak bersujud dan mencium kaki suaminya itu, dengan cepat Rival menarik Mely kepelukannya. Akhirnya tangis Mely kembali pecah.
"Adek telepon Mama sekarang, seharusnya saat ini Mama dan Ayah sudah sampai di bandara." Ucap Mely setelah Rival melepas pelukannya.
Dia pun meraih ponselnya yang ada di atas meja yang dihadapannya. Belum sempat Dia melakukan panggilan. Ternyata di layar ponselnya, sudah tertera Mamanya memanggil. Dengan cepat Mely mengangkatnya.
"Ma....!" ucap nya cepat dengan masih terisak, tanpa menunggu Mamanya selesai mengucap salam.
"Kamu jangan menangis, Ayahmu kondisi kesehatannya tidak serius. Hanya struk ringan. Kalau Ayah sudah sehat. Mama dan Ayah akan pulang secepatnya." Terdengar suara yang begitu menyedihkan dari sambungan telepon. Mely yang mendengarkan ucapannya Mamanya itu dibuat sangat kaget dengan informasi yang didengarnya.
"Makkk..sudd Mama apa?" tanya Mely dengan suara terbata-bata. Dia sudah membayangkan sesuatu hal yang buruk terjadi kepada Ayahnya itu.
"Ayah mu terjatuh di toilet Bandara, struk ringannya kambuh."
"Di Bandara? bandara disini atau di Australia?" tanya Mely bingung dan menatap Rival yang juga menguping pembicaraan istrinya itu disebelahnya. Karena Mely mengaktifkan speaker.
"Di Australia. Tapi, syukurlah sudah ada perubahan kondisi Ayahmu. Moga dua hari ini, Ayah dan Mama bisa pulang." Ucap Mama Maryam.
Mely sejenak berfikir kenapa Mamanya itu mengira Dia menangis karena Ayahnya yang terjatuh? padahal Dia menangis, karena mengetahui fakta yang sangat menyakitkan.
"Ma, ada yang ingin Mely tanyakan?" ucapnya sendu, tetapi hatinya tidak yakin. Untuk menanyakannya, karena kondisi Ayahnya yang lagi sakit.
"Apa sayang?" tanya Mamanya Mely.
Mely melirik ke arah Rival yang duduk di sebelah nya. Dengan tatapan nanar.
"Mely anaknya Mama sama Ayah gak sih?" tanya nya cepat.
"Iya, kamu itu anaknya Mama dan Ayah. Kenapa kamu menanyakan hal itu?" tanya Mama Maryam dengan nada bicara sedikit terheran.
__ADS_1
"Gak Ma. Mely hanya ingin tahu saja. Mely merasa bukan Anak kalian. Apalagi sejak Abang Rival hadir dalam keluarga kita. Bahkan Ayah, tega ingin mencarikan istri lagi kepada Abang Rival." Ucapnya menangis, menatap kesal serta mengibah kepada Rival yang duduk disebelahnya. Rival yang mendengar ucapan istrinya itu. Dibuat semakin frustasi saja. Berarti sudah jelas, bahwa mereka adalah kakak adik.
"Sudah sayang, jangan menangis. Ucapan Ayahmu tempo hari jangan diambil hati. Ayahmu hanya ingin kamu berubah jadi istri yang baik untuk Rival. Mama senang bercampur sedih hari ini. Jikalau Ayahmu tidak terjatuh di kamar mandi saat di Bandara, menuju perjalanan pulang. Mama mungkin sekarang sudah memelukmu dan juga cucu nya Mama." Ucap Mama Maryam yang akhirnya ikut menangis.
"Dari mana Mama tahu Mely hamil?" tanya nya lirih.
"Dari Sari, tadi Mama menelpon ke rumah. Dia cerita kalian masih di rumah sakit dan kamu sedang mengandung. Mama tadi meminta Sari menjenguk kalian ke rumah sakit, membawakan banyak makanan. Sari sudah datang kan? makanya kamu menangis mendengar cerita dari Dia, kalau Ayah terjatuh di kamar mandi?" ucap Mama Maryam, menyimpulkan sendiri, alasan Mely menangis.
"Iya Ma. Semoga Ayah cepat pulih Ma. Mely sudah kangen sama Mama. Coba kalau Abang Rival tidak sakit, mungkin kami sudah menyusul kesana." Ucap Mely, yang kini nampak tidak menangis lagi.
"Mama tidak akan bolehkan kamu kesini. Kamu lagi hamil muda. Mama tidak mau terjadi hal yang tidak kita inginkan. Baiklah, Mama sudahi dulu. Perawat memanggil Mama." Tuuutttt... Panggilan pun terputus, sebelum ditutup dengan salam.
Ponsel yang sedang Mely genggam dengan cepat meluncur terjatuh di sofa dan terplanting ke lantai. Dia merasa kini dunianya telah hancur. Suaminya yang mengetahui sedikit ilmu agama itu. Kekeh ingin mereka bercerai. Padahal diluar sana, banyak pasangan suami istri yang ternyata adalah saudara. Kenapa suaminya itu, tidak bisa seperti orang lain itu. Tidak mempermasalahkan pernikahan incest.
Rival memungut ponsel Mely yang terjatuh. Dia sungguh tidak tega melihat Mely yang bersedih, setelah mengetahui fakta yang menyakitkan ini.
"Kenapa mencintaimu begitu menyakitkan. Hatiku belum merasa ikhlas, Abang yang tidak bisa melupakan mantan istri Abang. Dan sekarang fakta ini menambah kepedihan hatiku saja. Kenapa Abang begitu getolnya kita harus berpisah? akankah Abang akan Kembali kepada mantan istrinya Abang itu?" ucap Mely, Dia kembali menangis, memegang dada suami nya yang bidang itu dan menarik-narik baju kaos yang dikenakan Rival.
"Maafkan Abang ya, kalau sikap Abang membuat Adek menderita. Mana mungkin Abang akan Kembali kepada nya. Dia itu mencintai orang lain. Dan mereka tentunya sudah menikah." Ucap Rival, meraih tangan istrinya yang menarik-narik kaos yang dikenakan nya.
"Jadi, kalau Dia belum menikah. Abang akan Kembali dan akan menikahinya?" Cecar Mely, Dia ingin kepastian.
"Udah ya Dek, kita jangan bahas itu lagi. Baiklah, kita lalui proses ini perlahan. Kita cari informasi yang mendetail mengenai hubungan persaudaraan kita. Kalau pun kita benar-benar saudara. Nanti saja kita pikirkan solusinya setelah berdiskusi dengan keluarga besar." Rival memeluk Mely, memberikan ketenangan kepada istrinya itu. Dia merasa sedikit tenang dan lega. Setelah mengatakan hal ini kepada istrinya itu.
Lama Rival memeluk Mely membelai kepalanya. Perlakuan Rival itu membuat Mely sedikit tenang. Mely menarik lengan Rival dan menempatkannya di perutnya yang masih datar.
"Anak-anak mu pingin disayang. Sudah dua hari, Abang mengabaikan mereka." Ucapnya masih terisak. Mencoba meredam, sakit di dada yang terasa menyucuk-nyucuk itu.
Rival pun melakukan perintah Mely, Dia dengan pelan mengusap perut istrinya itu yang masih ditutupi pakaian itu.
"Kenapa diam saja, biasanya Abang mengajak mereka bercerita dan melantukan ayat suci Al-Qur'an." Ucap Mely lirih.
__ADS_1
Walau merasa canggung, Rival pun melakukan kebiasaannya sebelum Dia mengetahui fakta yang menyakitkan ini. Sentuhan lembut dan lantunan ayat suci Al-Qur'an itu membuat Mely tenang.
"Kita pulang saja ya Bang?" ucap Mely masih dalam pelukan Rival. "Abang sudah sembuh kan?" tanya nya lagi.
"Iya." Jawab Rival singkat.
🌛🌛🌛
Mely dan Rival memilih pulang ke rumah orang tuanya mereka. Rival masih ingin mencari bukti lain, kalau Dia memang anak dari pak Ali.
"Foto ini yang membuat Abang yakin, kalau Abang adalah anaknya Ayah." Ucapnya, memberikan bingkai yang berisi foto dirinya dan Pak Ali kepada Mely. Kini mereka sedang berada di ruang kerja Pak Ali. Mely dan Rival duduk di sofa.
"Kalung yang dipakai anak kecil ini, yang menjadi alasan Abang melakukan test DNA. Abang mempunyai kalung seperti ini. Dan sialnya kalung itu berada di ransel Abang yang Adek bakar. " Terang Rival. Melihat raut wajah istrinya yang seperti berfikir.
"Pantas saat Aku dulu memeriksa tas Abang. Aku juga melihat kalung ini di dalam tas ransel Abang. Saat itu, Aku juga sempat merasa, kalau Aku seperti pernah melihatnya. Ternyata Aku melihat kalung itu di foto ini.
"Dulu foto Ayah dan Abang ini, selalu Ayah letakkan di atas meja kerjanya. Tapi lima tahun terakhir ini. Foto ini disimpan Ayah." Jelas Mely, melihat detail foto dalam bingkai itu.
"Kenapa takdir sekejam ini?" ucap Mely melirik Rival.
"Entahlah Dek, Abang juga sangat frustasi mengetahui fakta ini." Ucap Rival membalas tatapan istrinya itu dengan lembut. Dia harus tenang. Karena saat ini Mely yang nampak terpukul.
"Kenapa Abang begitu yakin, kalau kita adalah saudara?" ucap Mely.
"Dari hasil Test DNA dan juga tadi jawaban Ibu." Jawab Rival.
"Apa kita perlu tanyakan kepada orang lain saja, misalnya Bi Ina, siapa tahu Dia mengetahui apa yang terjadi di rumah ini. Karena sejak Aku kecil, Bi Ina sudah bekerja di rumah ini." Ucap Mely, Dia menepuk paha suaminya dengan cepat yang membuat Rival sedikit terlonjak kaget.
"Ide bagus." Jawab Rival, menghela napas dalam. Berusaha menetralkan jantungnya yang hampir copot dari tempatnya, karena terlonjak kaget.
"Ooowwhh.... kenapa tidak kepikiran, harusnya Adek melakukan test DNA juga. Siapa tahu hasilnya beda. Siapa tahu, Aku ini bukannya anak Ayah." Ucap Mely antusias, Dia menjentik jarinya, dan menatap wajah suaminya yang nampak sedang berfikir keras.
__ADS_1
Tinggalkan jejak dengan like coment dan vote ya say. 🙂🙏❤️