Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Berangkat


__ADS_3

Setelah selesai sarapan, Yasir membawa Rili periksa kandungan ke Rumah sakit. Mereka pun dapat antrian ketiga. Kini mereka sedang duduk di kursi panjang Stainles, menunggu antrian.


Baru duduk sebentar, Ponsel Yasir bergetar dalam tas selempangnya. Dia merogohnya. Nampak dilayar ponselnya, nama Asisten Jef.


"Assalamualaikum Bos..!" ucap Jef dengan nada suara sedikit panik.


"Walaikumsalam. Kamu kenapa Jef?" tanya Yasir, merasa ada yang tidak beres.


"Ini Bos. Investor mau menanam saham di cabang kita yang baru, Dia ingin berjumpa langsung dengan Bos." Jawab Jef lemah, merasa tidak berguna sebagai asisten. Karena Dia tidak menghandle dan meyakinkan orang yang akan menjadi relasi bisnis mereka.


"Oohh begitu, baiklah. Kamu atur semuanya saya hanya ada waktu pukul 16.00-18.00 Wib. Kalau Dia tidak bisa berjumpa diwaktu yang saya tetapkan. Lepas saja. Masih banyak yang mau bekerjasama dengan kita." Ucap Yasir sedikit kesal. Kenapa Jef akhir-akhir ini tidak becus bekerja. Apa karena Si Maura, tidak mau menikah dengannya?


"Siapa sayang?" tanya Rili penasaran, karena raut wajah suaminya itu tiba-tiba saja jadi buram.


"Asisten Jef. Kerjaan di Kota Medan. Harus Abang yang turun langsung." Jawabnya menghela napas kasar. Sungguh Asisten Jef tidak bisa diandalkan lagi. Gara-gara patah hati.


"Oohh...!" Jawab Rili, memegang paha suaminya dan tersenyum.


"Semangat....Ganbate...!" ucapnya dengan mengangkat tangan dan mengepalkan jarinya.


Yasir gemes melihat istrinya yang selalu menyemangati nya. Dia pun langsung memeluk Rili dan dilihatin orang banyak.


"Semangat.... Semangat...!" ucap Yasir dengan suara keras, masih memeluk Rili dalam keadaan duduk dan menghadiahi puncak kepala Rili dengan kecupan.


"Wangi banget sih rambutnya? bikin nagih terus untuk ciuminnya." Ucap Yasir lagi, menghujani kepala Rili dengan kecupan yang membuat orang disekeliling mereka sedikit risih. Karena mereka menganggap perlakuan Yasir kepada istrinya itu norak.


Yasir tidak memperdulikan itu, toh yang diciumnya adalah istri sendiri. Bukan istri orang lain.


"Ibu Rili Askana...!" suara perawat tidak didengar oleh mereka. Karena mereka asyik dengan dunianya sendiri.


"Ibu Rili Askana...!" perawat yang berjenis kelamin wanita itu, menambah volume suaranya, sehingga Rili pun mendengar namanya disebut.


"Iya Sus, saya....!" ucapnya melepas pelukan Yasir. Dengan menahan malu. Mereka pun masuk ke ruangan pemeriksaan, dimana Yasir merangkul Rili.


Suara-suara sumbang terdengar.


"Asyik bermesraan, nama sampai dua kali dipanggil tidak didengar." Ucap seorang Ibu muda yang juga mau melakukan periksa kandungan duduk dibelakang Rili.


"Ciihhh.... Norak kali suaminya, di tempat umum main nyium-nyium segala. Pamer kemesraan. Jangan-jangan di rumah seperti Tom and Jerry." Ucapnya yang masih didengar Yasir dan Rili saat masuk ruang Obgyn itu. Yasir tersenyum mendengar ocehan Ibu-ibu di ruang tunggu itu. Dia malah semakin bangga dengan dirinya, apabila ada orang yang keberatan melihatnya, memperlakukan Rili dengan mesra.

__ADS_1


"Silahkan berbaring Bu." Ucap perawat ramah. Rili pun berbaring, Yasir langsung berdiri disisi ranjang dekat kaki istrinya itu. Dia membantu Rili menaikkan bajunya.


"Kita periksa ya Bu." Dokter mulai menggerakkan transducer, setelah perawat mengoleskan gel ke perut Rili, agar memudahkan transducer digerakkan.


Yasir dengan semangat memlerhatikan layar monitor yang menampilkan janinnya.


"Mana anak saya Dok? koq gak jelas?" tanya nya bingung. Dia tidak mengerti cara melihat hasil kiriman gambar di layar monitor.


Dokter tersenyum, mulai memberikan penjelasan kepada Yasir. Yasir pun mengangguk-angguk saja. Walau Dia tidak merasa puas dengan penjelasan Dokter itu. Dia ingin penampakan bayinya jelas seperti gambar bayi yang utuh. Bukan seperti sketsa gitu.


"Kondisi janin ibu sehat, air ketuban cukup. letak plasenta juga bagus," Ucap Dokter, berjalan menuju kursi kerjanya.


Yasir dan Rili duduk dihadapan Dokter yang dibatasi oleh meja kerjanya Dokter.


"Jenis kelaminnya Dok?" tanya Yasir, Dia ingin memastikan lagi jenis kelamin anaknya. Karena saat USG dua minggu yang lalu, jenis kelaminnya laki-laki. Tapi, Dokternya seperti ragu mengatakannya karena usia kandungan Rili baru 14 Minggu.


"Laki-laki Pak, pertumbuhan nya bagus. Bobot tubuh juga bagus. Kondisi janin ibu kuat. Tapi, dari pemeriksaan untuk Ibu ada sedikit masalah." Ucap Dokter sambil membaca catatan perawatnya.


"Apa itu Dok? istri saya kenapa Dok?" Ucap Yasir panik dan begitu khawatirnya. Dia langsung menggenggam tangan Rili yang tertaut di atas meja.


Dokter itu tersenyum lagi. Dia sangat menyukai sikap Yasir yang nampak begitu mencintai istrinya.


"Aku ingini BIKiNI..!" Bisik Rili di telinga Yasir. Kedua bola mata Yasir melotot penuh. Dia harus sabar dan ikhlas untuk memenuhi ngidam istrinya yang aneh-aneh itu.


"Iya Dok," Jawab Yasir, menatap Rili dengan cemberut. Tapi, Yasir yang cemberut, jadi nampak lucu.


"Ingat Pak, istrinya jangan setres. Jangan buat menangis." Ucap Dokter memberi penekanan.


"Iya Dokter Ulfah." Jawab Yasir, setelah melihat name take Dokter tersebut.


Mereka pun keluar dari ruangan itu, berjalan ke apotik yang juga ada di rumah sakit itu dengan bergandeng tangan.


"Sayang, sepertinya ini terakhir kali Abang bawa Adek keluar kota." Ucap Yasir, setelah memasang seatbelt nya Rili. Mereka sudah berada di dalam mobil dan akan pulang ke Hotel.


Kening Rili menyergit. "Kenapa begitu?" tanya nya menatap lekat mata Yasir.


"Ya Abang khawatir sama kesehatanmu dan anak kita." Ucapnya, mentoel hidung Rili yang mancung. Karena tatapan Rili menantangnya.


"Terserah Abang saja. Yang penting nanti jangan ada yang nelpon malam-malam mintain Adek mendatanginya naik jet pribadi ya. Ogah.....!" ucap Rili memanyunkan bibirnya dan membuang muka.

__ADS_1


Rili ingat betul, setelah menikah dua bulan, saat itu Yasir lagi ke Kota Jakarta. Baru juga berpisah dua hari. Yasir sudah tidak tahan. Dan meminta Rili untuk datang menemuinya. Karena Yasir tidak bisa tidur, kalau tidak ada Rili disampingnya.


"Eehhmmmm... iya juga ya. Tau ahhk gelap " Ucapnya memacu mobilnya menuju Hotel.


"Kita harus ke kota Medan. Sebaiknya Adek temui sebentar istrinya Abang Rival. Abang kasihan sama Abang Rival, Dia memohon-mohon tadi di telpon agar kita ke rumahnya." Ucap Yasir saat membantu Rili mempacking barang-barang mereka yang semuanya dibeli di Danau Toba.


"Terserah Abang saja, walau hatiku merasa berat dan malas untuk datang ke rumah itu. Semoga tidak ada hal buruk yang akan terjadi. Bukannya Adek sok paranormal. Tapi, hati Adek bilang. Adek akan mengalami hal buruk jika bertemu dengan mereka lagi." Ucap Rili menghembuskan napasnya kasar, Dia bangkit dari duduknya Dan bersandar di lemari pakaian.


Yasir meraih Rili kepelukannya. " Itu hanya perasaan Adek saja. Mana mungkin Abang izinkan nanti istrinya Rival macam-macam sama bidadari surgaku ini." Ucap Yasir gemes. Dia memeluk Rili erat dan menciumi ceruk leher istrinya itu.


Wajah Rili memerah, aksi Yasir yang mesum selalu membuat hatinya berdebar-debar. Seperti baru pertama kali jumpa saja. Dan baru kali dapat ciuman seperti itu. Padahal hampir tiap hari Yasir menciumi leher Rili. Dia suka sekali membaut tato di area itu. Karena bisa terlihat langsung.


Entahlah, apa ini yang dikatakan cinta sejati? rasanya sangat nyaman berada dekatnya. Walau Dia sesuka hatinya menguyel-uyel pipi ini. Tetap Aku suka. Rili membathin dalam dekapan hangat suaminya itu.


Rili melonggarkan pelukan Yasir. Kini mata keduanya bertemu. Setiap Rili menatap matanya Yasir. Dia selalu melihat tatapan penuh cinta dan kasih sayang di dalamnya.


Setelah puas di bermain-main di leher indahnya Rili. Bibir sexy nya Yasir naik satu tingkat. Mendarat sempurna dibibir Rili yang kenyal dan terasa hangat. Ciuman yang tadi hanya sekilas, kini sudah berubah jadi ciuman panas, yang saling menuntut dan ingin lebih. Bahkan Yasir ingin rasanya menelan bibir ranum dan kenyal itu. Karena gemesnya.


Kalau sudah seperti itu, maka Rili akan menggigit Pelan bibirnya Yasir. Agar suaminya itu, jangan mau menelan dirinya.


"Selamanya kita akan selalu bersama sampai maut memisahkan. Bahkan di surga kelak, kita pasti akan menjadi pasangan suami-istri." Ucap Yasir, menatap Rili dengan sendu.


Rili tertawa, " PD banget. Abang tahu dari mana akan masuk surga?" ucap Rili, mencoba lepas dari pelukan Yasir. Tapi Yasir malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Yakinlah, Abang kan tidak punya hutang."


"Apa hubungannya masuk surga dengan hutang?" tanya Rili, mulai tertawa, karena Yasir menjilati leher Rili kembali. Kalau sudah begini, Rili pasti nyerah. Dia tidak akan tahan untuk tidak tertawa. Karena Rili merasa geli dengan tindakan Yasir di lehernya.


"Abang pernah dengar khutbah di mesjid, yang membahas mengenai hutang." Jawab Yasir, masih melakukan aksi nya dileher Rili, yang kini sudah membuat tanda kepemilikan lagi disana.


Leher putih nya Rili sudah berubah warna seperti warna ruam kulit. Tidak stempel lagi. Tapi sudah seperti belengan yang memanjang.


"Sudah aahkk... Katanya kita mau cepat sampai." Ucap Rili mendorong tubuh Yasir yang memepetnya di dinding lemari.


Dengan napas yang menggebu-gebu. Yasir pun menyudahi aksi mesumnya itu. Dia merapikan rambut istri nya itu dan tersenyum.


"Lets go...!" ucapnya semangat empat lima.


Cinta sejati itu abadi, tanpa batas dan selalu menyukai di­rinya. Cinta sejati itu seimbang dan murni, tanpa kekerasan: cinta sejati tetap terlihat bersama memutihnya rambut, namun selalu muda di hati.

__ADS_1


__ADS_2