
Tak....tak...tak...
Suara detakan jarum jam terdengar jelas di ruang keluarga. Suaranya sama dengan suara detakan jantung sepasang suami istri yang sedang mode canggung, Karena bingung harus memulai percakapan.
Yasir, Dodi dan Jelita sudah pulang. Tentu saja Yasir mengajak Dodi dan Jelita menginap di rumahnya. Yang ternyata, dekat dengan rumah Mama Maryam. Rumah mereka hanya dipisahkan empat rumah saja. Dimana rumah Yasir pertama dapat, kalau masuk dari simpang.
Sedangkan Mama Maryam dan suaminya Firman juga sudah masuk ke kamarnya. Firman membujuk istrinya, agar meninggalkan Mely dan Rival di ruang keluarga.
Pasangan suami istri itu duduk berseberangan, dengan perasaan berdebar-debar. Entah apa yang mereka pikirkan berdua. Kenapa mendadak keduanya membisu?
Eeehhmmm...
Rival pun berinisiatif untuk memulai percakapan. Dia beranjak dari tempat duduknya. Melihat suaminya itu, akan menyamperinnya. Mely langsung tidak tenang. Entah kenapa Dia jadi grogi. Rasanya seperti PDKT saja. Mely menarik napas dalam. Mencoba menenangkan debaran jantungnya yang berdetak lebih cepat itu. Sepertinya dia akan kena serangan jantung.
"Mas," ucapan Mely terhenti, disaat Rival duduk dihadapannya, meraih tangan Mely yang menopang tubuhnya saat duduk di atas karpet lembut di atas lantai.
Mely terkejut, karena tangan Rival terasa sangat dingin. Disaat meraih tangannya. Mely menjadi merasa begitu kasihan melihat suaminya itu.
Mely membalas tatapan mata Rival yang mengibah. Sedangkan tangan Rival sudah merangkum kedua tangan Mely. "Mas saaakit? ucap Mely dengan suara lemah, karena merasakan tangan Rival yang dingin.
Rival diam, Dia tidak mau bersikap cengeng dengan mengakui bahwa dirinya memang sedang tidak sehat.
"Mas tidak sakit, Mas sehat dan sangat sehat. Apalagi saat ini, Adek mau kan memaafkan Mas?!." Ucap Rival dengan mata berkaca-kaca. Masih merangkum kedua tangan Mely.
Mely tersenyum, "Emang, Adek ada jawab permintaan maaf dari Mas? kan belum." Ucapnya sedikit ketus, tapi tersenyum.
"Baiklah, Mas mohon---- Maafkanlah Mas sayang?!" ucap Rival, mengulang permohonan maafnya dengan bersungguh-sungguh. Tatapan mata penuh harap, membuat Mely menganggukkan kepalanya. Tentunya air mata yang dari tadi ditahannya, akhir nya luruh juga membasahi pipinya.
Hati Rival sangat legah dan bahagianya, melihat Mely menganggukkan kepalanya disaat Dia meminta maaf. Dia yakin, Mely sedang malu. Makanya istrinya itu menjawabnya dengan isyarat tubuh.
Rival menjulurkan jemarinya, melap air mata Mely yang sudah membasahi pipi putih itu. Keduanya bersitatap penuh kerinduan. Lama keduanya saling pandang, dan akhirnya Rival merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
Untuk kali ini tangisan Mely pecah dalam pelukan Rival. Dia merasa bersalah, telah gegabah mengambil keputusan dengan meninggalkan suaminya dalam keadaan sakit. Mely pikir, penyakit Rival tidak serius.
Tapi, nyatanya dihadapannya saat ini, suaminya itu menampakkan kondisi yang tidak baik. Tubuh kurus dan Rival nampak tidak terawat.
__ADS_1
"Sayang, jangan menangis. Maaf, kalau Mas sebagai suami tidak bisa membuatmu bahagia. Mas janji, akan berubah jadi suami yang lebih bertanggung jawab." Ucap Rival dengan mengelus lembut punggung Mely dalam dekapannya. Tubuh Mely masih bergetar dalam dekapan pria yang sangat dicintainya itu.
Mely meluapkan kerinduan yang terpendam kepada suaminya itu, mengeratkan pelukannya dan menghirup aroma tubuh Rival yang wanginya khas dalam-dalam. Rival pun tak kalah hangatnya membalas pelukan Mely.
Rival mengurai pelukannya saat merasa Mely sudah tenang. Dia kembali melap air mata Mely di pipi putihnya, sembari memperhatikan lekat wajah Mely yang sekarang nampak lebih cantik. Jelas makin cantik, Mely sekarang berubah jadi sosok wanita lebih dewasa dan rajin berhias. Cewek tomboi sudah hilang dari dirinya.
Mely sangat malu, karena kedua mata Rival tidak berkedip menatapnya. "Adek semakin cantik." Ucap Rival lembut dengan tersenyum. Dia masih membelai pipi Mely yang kini sudah bersemu merah karena malu.
Melihat Mely menampilkan ekspresi malu itu, membuat Rival gemes. Apalagi saat ini kedua bibir Mely yang berwarna Cherry itu begitu menggoda. Ingin rasanya Rival mencicipinya lagi.
Benar saja, Rival mendekatkan wajahnya. Dia ingin menyambar bibir Mely yang sudah satu tahun ini tidak pernah dirasakannya. Pergumulan panas mereka tadi saat Mely setengah sadar, melintas dipikiran Rival. Sehingga membuat organ lunak dibagian bawahnya kini sudah mengeras dan menegang.
Entah siapa yang memulai duluan, kini keduanya sudah saling berpangutan dengan rakusnya. Menyalurkan kerinduan yang membuncah, sampai tidak tahu tempat.
Disela-sela ciuman panas itu, tangan kanan Rival meraih tangan Mely yang memegang tengkuknya. Memindahkan tangan Mely ke bagian bawahnya yang sudah mengeras tepat di antara sela*ngkangan Rival.
Sontak Mely terkejut menghentikan aksi pangutan bibir keduanya. Karena tangannya yang memegang otot yang mengeras dan mengacung dibalik celana goyang yang dikenakan Rival.
"Mas," Suara Mely yang menahan gairah, membuat Rival tersenyum.
"Kita ke kamar ya?" tawar Rival, mengelus lembut rambut Mely. Pertanyaan Rival hanya dijawab anggukan oleh Mely.
Dengan cepat, kini Mely sudah berada dalam gendongan Rival. Dia berjalan cepat menuju kamar mereka. Dia sudah tidak sabar lagi untuk melakukan pergumulan panas dengan istrinya itu.
Rival merasa tubuhnya sehat, setelah bertemu dengan Mely. Semangat tambah berkali-kali lipat.
Ceklek..
Huaa...huaa....huaa..
Tangisan anak-anak mereka terdengar kuat, disaat Mely menekan pintu handle pintu kamar mereka.
Kini keduanya saling bersitatap dalam keadaan Mely masih dalam gendongan Rival. Sepertinya acara kangen-kangenan keduanya akan terjeda, karena anaknya menangis kencang di kamar Baby sitternya yaitu Febri.
"Mas turunin, si kembar nangis." Ucap Mely malu-malu menatap Rival.
__ADS_1
Dengan terseyum Rival pun menurunkan istrinya itu. Dan mereka berdua berjalan menuju kamarnya Febri.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka, Rival melihat kedua anaknya menangis sambil berguling-guling di atas ranjangnya Febri. Tidak mau ditenangkan oleh Febri.
"Sa--yang R twins--!" suara Mely memanggil kedua anaknya. Membuat kedua anak itu, langsung bangkit dan duduk mencari asal suara Mamanya. Sedangkan Febri kini menghentikan aksinya membujuk anak kembar itu. Dan menatap lekat majikannya yang kini sudah berada di tepi ranjang.
Kedua bayi kembar itu pun merangkak menghampiri Mamanya. Walau anak kembar itu sudah pandai berjalan. Tapi, disaat-saat genting. Mereka masih sering merangkak.
Kini keduanya sudah berada dalam dekapan Mely. Kedua anak kembar itu pun menatap lekat Rival, yang mengusap kepala anaknya secara bergantian. Dan secara serentak kedua anaknya kembali menangis kencang, disaat Rival mengusap-usap kepala kedua anak kembarnya.
"Ma--Ma--!" ucap kedua anak kembar itu dan disambung dengan bahasa yang hanya dimengerti oleh mereka.
Rival sedih, dari ekspresi wajah dan bahasa tubuh kedua anaknya. Sepertinya anak-anak itu, tidak suka dengan keberadaan Rival di kamar itu.
"Ayo sayang, ikut Ayah." Rival mencoba meraih putrinya Raina, dari gendongan Mely. Tapi, anak itu menolak dan malah semakin menangis kencang. Begitu juga dengan Raynan, Dia juga semakin mengencangkan tangisannya disaat Rival ingin meraihnya dari gendongan Mely.
Sesaat Rival merasa down, kedua anaknya tidak menyukainya. Dia mencoba tersenyum dan berbesar hati. Walau kedua matanya sudah berkabut. Dia tidak mungkin menangis dihadapan anak-anaknya.
"Mereka tidak menyukaiku. Itu wajar, karena Aku bukan Ayah yang baik." Ucap Rival dan tidak berani mengajak anaknya itu berinteraksi lagi dalam dekapan istri nya Mely. Dia tidak mau anaknya itu kembali menangis lagi.
"Bukan begitu, mereka mungkin takut saja melihat brewok Abang." Ucap Mely lembut, berjalan keluar dari kamar Febri, sambil menggendong kedua anaknya, menuju kamar mereka.
Rival mengekor dibelakang, kedua anaknya yang memasrahkan kepalanya di pundak Mamanya, masih menatap lekat Rival yang mengekori mereka.
"Wajar mereka tidak menyukaiku, sejak di dalam kandungan Lima bulan, Aku tidak pernah berinteraksi dengan mereka, ditambah sejak lahir pun, kami sudah terpisahkan." Ucapan Rival membuat hati Mely terusik. Kenangan pahit terungkap lagi.
Mely hanya diam, saat ini Dia sedang di dalam kamar mandi. Membantu anaknya untuk buang air kecil. Ya, sudah kebiasaan Mely mengajari anaknya buang air seni, disaat terbangun dini hari.
Rival tidak tinggal diam, Dia membujuk anaknya yang laki-laki agar mau digendong. Tapi, anaknya tetap saja tidak mau dekat dengannya.
TBC
Mampir yuk ke novel ku yang berjudul Dipaksa Menikahi Pariban. Seru loh
__ADS_1