
"JJS yuk sayang..!?" ucap Yasir yang mengekori Rili masuk ke dalam kamar.
"JJS (Jalan-jalan sore)?" tanya Rili berbalik badan, Dia pun melihat wajah suaminya yang memelas.
"Yuk....Aahhkkk...!" Yasir langsung membopong Rili keluar dari kamar.
"Turunin tidak usah digendong. Adek bisa berjalan sendiri Yachay...!" Rili berontak sambil memukul-mukul pelan dada Yasir yang bidang.
"Abang pinginnya gendong Adek terus, kalau gak digendong satu hati, rasanya Abang tidak semangat." Ucap Yasir yang kini mereka sudah berasa di dalam lift.
"Turunan sayang, Adek malu." Ucap Rili. Ia benar, Dia memang malu digendong didepan banyak orang.
"Ini salah satu bentuk ngidamnya Abang. Ya pingin gendongin kamu sayang...!" Yasir memberi penekanan.
Rili diam, ya benar memang sejak Rili hamil, suaminya itu selalu ingin pamer kemesraan didepan khalayak ramai. seolah-olah Dia saja yang punya istri di dunia ini.
Ya jadilah, Rili diam. Diprotes pun tidak ada gunanya. Akhirnya Rili yang malu itu membenamkan wajahnya di dada Bidangnya Yasir, kemudian rambutnya yang panjang dibiarkannya menutup wajahnya.
Mereka berkeliling desa disekitar Danau Toba, pemandangan yang disuguhkan sungguh menyejukkan mata dan mendamaikan hati. Apalagi orang yang kita cintai bersama kita. Memikmati indahnya ciptaan-Nya.
"Yachay... stop...stop...!" ucap Rili sedikit keras dan semangat nya.
"Ngapain disini sayang? Ini kan hanya perkebunan sayur." Ucap Yasir bingung. Apa istrinya itu mau beli sayur langsung ke tempatnya dan menjualnya lagi. Apa Dia mau jadi penadah sayur? pikir Yasir.
"Iya, Adek suka suasana nya dan pemandangannya." Ucap Rili langsung membuka handle pintu mobilnya. Berlari ke kebun sayur orang. Yasir dengan cepat mengikuti langkah istrinya. Dikebun itu sangat banyak jenis sayur yang ditanam dan siap panen.
Rili melangkah kan kakinya lebar ke bagian sayur daun ubi yang daunnya lembut dan nampak berminyak. Tinggi batang daun ubi itu sekitar pinggang Rili. Luasnya hamparan daun ubi yang siap petik itu, membuat wajah Rili berbinar-binar. Dia sangat menyukai daun ubi yang daunnya nampak lembut dan berminyak itu.
Taakk.... Rili memetiknya, dengan tertawa dan gemes. Dia senang sekali. Dia pun memetiknya lagi. Hingga tangannya kecanduan untuk memetik terus dan terus.... Setiap yang dipetiknya diberikannya kepada Yasir yang mengekorinya dibelakang. Sehingga sekarang wajah Yasir tidak nampak lagi, karena terbenam oleh tumpukan sayur daun ubi.
Yasir heran melihat tingkah istrinya. Ada apa ini? kenapa ngidamnya aneh sekali, memetik sayur. Apakah anaknya berniat jadi petani?
Yasir melarang Rili memetik sayur itu, tapi disaat Yasir melarangnya, Rili akan berbalik badan dan menatap kesal Yasir. Sehingga Dia ketakutan melihat tatapan istrinya itu.
"Abang tidak senang melihatku bahagia. Lihatlah sayur ini, indah sekali. Dia sangat lembut. Aku ingin memasaknya." Ucap Rili dengan ekspresi gemes dan bahagia nya. Sungguh Yasir heran seheran- herannya melihat istrinya itu.
__ADS_1
"Tapi lihatlah Abang, sudah tidak bisa lihat jalan. Karena sayur yang Adek petik sudah sangat banyak." Ucap Yasir mulai kesal.
"Kalau sudah banyak. Letakkan dibawah. Koq jadi bloon sih?" ucap Rili masih melanjutkan aksinya memetik sayur. Dan kesal, karena Yasir melarang hal yang disukainya.
Yasir pun meletakkan daun ubi yang tertumpuk padanya. Di atas tanah, Kemudian mengikuti Rili kembali.
"Aduuhhh... ini sayur kenapa gemesin...!" Ucap Rili menempelkan daun ubi itu ke wajahnya. Dengan wajah sumringah dan hatinya begitu senangnya. Daun ubi yang tumbuh subur dan lunak serta berminyak itu, sungguh membuat Rili tergiur untuk terus memetiknya.
"Apakah sekarang Aku harus berganti haluan menjadi pedagang sayur." Ucap Yasir menepuk wajahnya dengan sayur yang dipetik oleh Rili.
Rili yang tidak bisa diingat kan itu, Yasir Akhirnya membiarkan Rili memetik semampunya dan sepuasnya. Hingga semua sayur hampir ludes dipetik Rili.
Saat itu juga pemilik kebun datang dengan membawa golok. Karena Dia mendapat laporan, ada orang yang mencuri sayurnya.
"Maling....maling.... jangan lari kalian. Tetap disitu, kalau tidak ku bacok kalian..!" teriak Bapak-bapak pemilik kebun. Rili tidak mendengar teriakan Bapak-Bapak itu, Dia terlalu menikmati keinginannya memetik sayur yang lunak-lunak itu.
Tapi, Yasir yang mendengar teriakan Bapak pemilik kebun dibuat panik, karena melihat golok yang dipegang Bapak itu siap membacok siapapun dihadapannya.
"Sayang... Richay... sayang.... sudah, sudah... hentikan... " Yasir menarik tangan Rili yang memetik sayur daun ubi itu dengan paksa. Sehingga Rili menoleh ke arah suaminya itu.
"Lihat itu yang punya kebun sudah datang kesini. Bawa golok." Ucap Yasir takut, jelas kelakuan istrinya itu salah.
Rili menoleh ke arah pria paruh baya yang berjalan cepat ke arah mereka. Rili takut, karena melihat golok ditangan Bapak itu.
"Sayang, apa kita akan di bacok?" tanyanya ketakutan dan memeluk suaminya dari samping.
"Bisa jadi, kamu sih merusak tanamannya." Jawab Yasir sedikit kesal dengan ngidam Istrinya ini.
"Aduuhhh... Bagaimana ini sayang, ini keinginan anakmu. Anakmu meminta, Aku memanen sayur nya itu. Karena bagus sekali." Jawabnya masih memeluk Yasir dengan gemetar.
"Sudah diam sayang, kita hadapi sama-sama. Abang akan melindungimu." Ucapnya, kalau Bapak ini tidak bisa diajak berdamai. Maka Yasir akan menunjukkan kesombongan nya. Membeli semua tanah di daerah ini. Dia akan membuat kebun sayur yang luas.
"Berani kalian mencuri, padahal hari masih terang." Ucap yang punya kebun, dengan mengacungkan goloknya maju mundur. Yang membuat Rili semakin ketakutan. Apalagi wajah Bapak yang punya sayur begitu menyeramkan. Karena matanya melotot tajam.
"Maaf Pak, kami tidak ada niat mencuri. Kami hanya memanennya." Ucap Yasir sedikit ketakutan. Bukan Dia tidak berani. Tapi ini orang tua dihadapannya. Dan memang mereka salah. Dasar ngidam istrinya aneh.
__ADS_1
"Memanennya?" tanya Pak pemilik kebun heran dan bingung. Enak sekali pasangan suami istri ini. Dia yang menanam koq jadi orang lain yang memanennya.
"Enak sekali kalian, saya yang menanam kalian yang memanennya." Ucap Bapak Pemilik kebun, masih mengacung-acungkan goloknya dengan emosi. Tiba-tiba saja, warga datang berkerumum ke lokasi.
Rili ketakutan Dia mempererat pelukannya, menyembunyikan rasa takutnya. "Sayang... kita dikeroyok." Ucapnya lirih dengan degupan jantung semakin keras saja, itu bisa dirasakan Yasir. Akhirnya Dia kasihan juga kepada istrinya itu, membayangkan mereka akan dihajar massa. Yasir mengecup kening istrinya. Dan tangannya mengelus punggung istrinya itu. Dia ingin menenangkan Rili.
Bapak pemilik kebun, dibuat kesal dengan tingkah Yasir dan Rili. Sempat-sempatnya mengumbar kemesraan dihadapannya. Bapak itu tidak tahu, Bahwa Yasir kena sindrom mengumbar kemesraan sejak Rili hamil.
"Yachay, sepertinya kita akan dikeroyok massa." Ucapnya semakin memeluk Yasir dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak sayang, kamu tenang." Jawab Yasir.
Kini Yasir menatap Bapak Pemilik kebun dengan penuh kewibawaan.
"Kami akui kalau kami salah, Maaf. Bisa gak Pak goloknya diturunkan. Kami tidak ada niat mencuri. Saya akan ganti semua kerugian Bapak." Ucap Yasir minta negosiasi.
Orang-orang kampung datang berkerumum.
"Ayo kita bawa ke kantor polisi. Hewan saja yang merusak ladang, bisa dibunuh. Ini manusia koq bisa merusak ladang seenaknya." Seorang pria muda berusia sekitar 22 tahun memprovakasi keadaan.
"Tenang.... kami tidak ada niat mencuri. Kalau kami mau mencuri untuk apa saat hari masih terang begini. Lagian kalian tidak lihat penampilan saya dan istri saya. Apa ada tampang mencuri." Jelas Yasir membela diri.
"Kalau tidak mencuri apa namanya? sudah ketahuan ngeles lagi." Ucap Anak muda yang ternyata anak yang punya kebun.
"Berapa kerugainnya, saya akan bayar semua. Bahkan ladang kalian ini bisa saya bayar." Yasir mulai panik dan naik pitam. Kenapa orang-orang dihadapinya tidak bisa diajak berdamai. Mau main keroyok saja.
"Pandai ngeles, ayo bantu kami. Kita bawa ini pasangan ke kantor polisi." Anak tukang kebun pandai sekali jadi provokator
TBC
Mampir ke novelku yang berjudul
Dipaksa menikahi Pariban
Guru Disabilitas Itu Suamiku.
__ADS_1