
"Lepasin, jangan meluk-meluk. Iiihhh... apaan sih dorong-dorong. Badan Mas itu Gede, keras lagi. Main dorong-dorong aja dan nyosor. orang sudah beringsut, tetap ada dicecar." Mely merepet, sambil mendengus kesal. Menjauhkan tangan Rival dari pinggangnya.
Semakin dijauhkan, tangan itu akan kembali dengan cepat membelit perut Mely. Dan Rival mendorong organ bagian bawahnya tepat ke bokong Mely, yang membuat Mely geram dan semakin kesal saja. Mely yang dalam keadaan miring itu, menggeser tubuhnya. Saat itu juga Rival akan semakin mendekatkan tubuhnya ke bagian belakang Mely. Karena Mely saat ini membelakangi Rival.
"Biarkan seperti ini Napa sayang, Mas itu kangen banget sama Adek. Please.... Biarkan Mas memelukmu." Ucap Rival dengan lembut di telinga Mely yang membuat Mely bergidik, karena kegelian.
"Aku itu baru dua hari melahirkan Mas. Dan badanku rasanya sakit semua. Tolong menjauh sana, Aku ingin bebas. Mas menempel begini, bisa membuat aliran darahku macet." Ucap Mely sedikit kesal. Dia merasa badannya semakin pegal saja dan tidak bisa tidur. Rival memeluknya terlalu erat, tangannya seperti sulur-sulur lengan gurita yang menempel kuat di pinggangnya. Sampai Mely susah napas. Megap-megap seperti ikan mas yang terdampar di daratan.
Mely berkata jujur. Dia merasa badannya sakit semua. Terutama bagian sela*ngkangnya. Mungkin efek dari melahirkan yang membuka paha selebar-lebarnya.
"Benarkah sakit sayang?" tanya Rival mulai mengkhawatirkan Mely. Dia lu melepas pelukannya
"Iya," jawabnya dengan menguap. Mely pun mengubah posisinya jadi terlentang. "Lagian Mas itu belum Adek maafkan, kenapa sudah peluk-peluk segala." Ucapnya Kembali menguap. Dia menutup mulutnya dengan punggung tangannya.
Rival tidak menjawab pertanyaan Mely. Tapi tangannya sudah beraksi.
"Mau apa? kenapa malah meraba kancing bajuku?" tanya Mely semakin kesal saja. " Jangan macem-macem ya.!" Menepos tangan Rival yang sudah melepas dua kancing baju Mely.
"Katanya badannya sakit semua. Biar Abang pijitin Adek ya!?" Rival terus saja melepas pakaian Mely bagian atas sampai terlepas semua.
Mely pun tidak bisa berontak, karena memang keadaan Dia yang tidak bisa bergerak banyak.
"Sebentar, Mas ambilin minyak urut dulu." Ucapnya dengan begitu semangatnya, meloncat dari ranjang dan berlari menuju laci meja tempat minyak urut, yang namanya minyak Karo. Rival seperti pendekar Saolin saja. Meloncat dan melompat kegirangan. Rival begitu bahagianya, Mely tidak marah-marah kepadanya. Walau Mely mengatakan belum memaafkan dirinya.
Rival pun mulai memijat tengkuk Mely. "Kata si Febri, agar ASI lancar Tengkuk Adek harus dipijat." Ucapnya, tangan kiri masih tetap memijat tengkuk, tapi tangan kanannya sudah mulai sampai ke bukit kembarnya Mely.
__ADS_1
Puk... Mely menampar tangan nakal itu.
"Moduss...!" ucap Mely, menarik selimut menutupi dadanya dan sebagian punggungnya.
Rival terkekeh. "Dulu Adek memohon-mohon agar Abang memainkannya. Sekarang kenapa jadi tidak boleh?" tanya Rival, kini tangannya sudah serius memijat punggung Mely yang seputih salju dan sehalus tepung kanji itu.
"Dulu ya dulu. Sekarang ya sekarang. Dulu dan sekarang sudah berbeda. Dulu Aku cinta sama Mas. Sekarang gak lagi." Ucapnya kesal, sekaligus malu. Dia teringat tingkahnya yang dulu, yang begitu liar menggoda Rival.
Rival terdiam, ucapan Mely membuatnya sadar. Bahwa istrinya itu masih kesal kepadanya. Dia pun konsentrasi memijat punggung Mely, yang akhirnya membuat Mely tertidur.
Melihat istrinya itu sudah terlelap. Rival pun menghentikan kegiatannya memijat Mely.
Lama Dia memandangi wajah Mely yang nampak semakin cerah itu. "Kenapa Dia semakin cantik dan sexy begini?" Ucapnya memuji kecantikan Mely, yang kini bobot tubuhnya bertambah. Mungkin tambah sekitar lima kilo.
"Apa karena kangen banget ya? sehingga si Ucok ini, bangun terus." Ucapnya pelan, menatap bagian bawahnya yang tertutupi cel*ana itu.
Puas memandangi wajah Mely, Dia pun mendaratkan kecupan singkat di bibir Mely yang membuat Mely terbangun dengan mata melotot. Tiba-tiba saja, Dia merasa kepalanya didorong.
"Adek belum tidur?" tanya nya malu, terduduk di sebelah Mely.
"Bagaimana mau tidur, Mas ngoceh terus." Ucap Mely kesal bercampur malu-malu mau.
"Maaf, ya sudah Adek tidur lagi. Mas lihat si kembar sebentar di kamar sebelah." Ucapnya kikuk. Malu sendiri dengan aksinya yang tidak disukai Mely. Padahal Dia berharap sekali Mely membalas ciumannya.
"Iya, bantuin pakaikan bajunya." Ucap Mely manja. Dia minta Rival pakaian kan bajunya, padahal Dia bisa sendiri. Entahlah, sebenarnya Mely sangat merindukan suaminya itu. Tapi, Dia gengsi menunjukkannya.
__ADS_1
Dengan senang hati, Rival Kembali memakaikan pakaian bagian atas Mely. Dengan senyam-senyum. Dia sudah membayangkan besok Dia akan berebut dengan si kembar mengemut pucuk buah dada istrinya itu.
"Mas keluar sebentar, Adek tidur saja ya sayang." Ucap Rival dengan tersenyum dan menyelimuti istrinya itu. Mely mengangguk.
Rival memasuki kamar anaknya. Betapa terkejutnya Dia mendapati, bahwa semua ART nya memilih tidur di kamar itu, beralaskan karpet bulu yang empuk.
Dia melewati kumpulan manusia yang terbaring itu dengan pelan-pelan untuk sampai di ranjang bayinya. Ternyata bayinya sedang tidur pulas. Rival mengecup pipi bayi kembarnya, sembari mengucap syukur. Akhirnya keluarga bersatu. Dia yakin seratus persen Mely sudah memaafkannya.
🌛🌛🌛
Di ruang kerjanya. Rival yang duduk di kursi kerja empuknya sedang berpikir bagaimana caranya menghadirkan Rili me rumah mereka.
Lama berpikir akhirnya Dia memutuskan untuk menghubungi Yasir. Diangkat atau tidak, itu urusan belakangan. Setidaknya Dia harus mencoba menghubunginya.
Tut...Tut....! panggilan pun langsung tersambung.
"Assalamualaikum Abang Rival?" tanya Yasir, masih dengan suara yang nyaring. Sepertinya Yasir belum mengantuk.
"Walaikumsalam. Maaf mengganggu malam-malam. Ku pikir kamu tidak akan mengangkatnya." Ucap Rival dengan perasaan sedikit tidak enakan.
"Tidak apa-apa Bang. Aku lagi mengecek email, belum bisa tidur. Karena habis olah raga." Ucapnya tertawa, yang membuat Rival juga tertawa di sebrang sana. Kenapa ya laki-laki kalau bahasannya arah kesitu, pasti bawaannya mau tertawa.
"kalian sudah di kota S?" tanya Rival. Dia menggelinjang. Mendengar Yasir baru olah raga. Dia juga jadi pingin oleh raga malam. Tapi apa daya, Lawan main dalam olah raga sedang turun mesin. Lagi di booring.
"Belum bang, rencana besok pagi akan pulang ke kota S." Jawab Yasir, sambil mengelus-elus pipi Rili yang sudah tertidur lelap disebelahnya. Pasca insiden mual karena ikan gabus. Setelah tubuh Rili dipijat, Dia tertidur. Setelah bangun, mereka makan malam lagi dengan menu lain. Bukan pakai kangkung lagi.
__ADS_1
"Eehhmmm... Begini. Besok malam kan? kami adakan acara tujuh hari Ayah meninggal. Jadi kalau kamu dan Rili ada waktu. Saya mau undang kalian, datang besok. Sekalian Mely ingin mengucapkan terimakasih langsung kepada Rili." Ucap Rival dengan begitu menyakinkan. Dia berharap Yasir mau datang bersama Rili.
"Iya bang Tapi, saya diskusikan Rili dulu. Soalnya Dia sudah pingin sekali pulang ke kota S." Jawab Yasir dengan tidak enak. Karena memberi jawaban yang belum pasti.