
Sudah 3 hari Rival dan Mely di kampung. Selama tiga hari ini, mereka tidak kemana-mana. Bahkan orang tua nya yang panen padi di sawah, tidak diperbolehkan Rival ke sawah. Karena, Rival ingin Adiknya Sekar dan Mila memasak makanan yang diinginkan oleh Rival. Tentunya semua makanan yang diinginkannya adalah makanan tradisional yang bebas dari bahan kimia, seperti sakarin atau zat pemanis, pewarna dan penyedap.
Kalau makanan kesukaannya dibeli, Rival meragukan kehigienisan nya dan bahan-bahannya yang tidak alami. Ternyata makanan yang diinginkan oleh Rival, juga disukai oleh Mely.
Sedangkan Semua urusan panen kali ini diupahkan kepada orang lain, dengan bayaran upah tiga kali lipat dari upah harian yang berlaku di kampung itu.
Tentu saja banyak orang yang ikut ambil alih, kerja di sawahnya orang Rival. Karena upahnya yang tinggi.
"Adek baik-baik saja loh Mas. Sudah tiga hari Adek dikurung di rumah ini. Adek bosan loh Mas." Ucap Mely manja, mereka sedang tidur-tidur an di kamar, mengistirahatkan tubuhnya setelah melakukan kegiatan yang bisa merilekskan pikiran.
"Adek mau kemana rupanya?" ucap Rival mengelus-elus lengan Mely yang didekapnya.
"Mely mendongak, kemudian menggeser sedikit tubuhnya, sehingga tubuh mereka Kembali bergesekan.
"Terserah mau kemana. Ke air terjun yang Mas bilang kemarin dan ke Danau." Ucap Mely, dengan menepis tangan Rival yang mulai memainkan bukit kembar. Mely yang kini sangat sensitif jikalau disentuh.
"Mas, sudah jangan sentuh itu lagi." Ucap Mely manja, sungguh Mely tidak akan tahan, jikalau Rival menyentuh bagian itu. Karena jikalau suaminya itu memainkan bagian pucuk yang kini warnanya berubah semakin gelap dari biasanya itu. Maka Mely tidak tahan, untuk tidak melakukan lebih. Bahkan ingin rasanya Mely menelan Rival bulat-bulat karena gemes dan nafsunya.
"Sekali lagi ya sayang?" pinta Rival mulai memposisikan tubuhnya di atas, dengan kedua tangannya betumpu di atas kasur.
"Ini sudah jam tiga sore, Sekar dan Mila akan datang memasak ke rumah. Aku gak mau aah, mereka nanti mendengar suara-suara yang aneh." Ucap Mely mencoba menghindari suaminya yang ingin melahap bibirnya.
"Makanya jangan banyak protes, sebelum mereka datang. Kita tuntaskan cepat." Tangan Rival sudah mulai bergerilya di bawah sana. Memberi sentuhan di organ inti Mely yang lebih lembut dari biasanya. Karena aliran darah lebih lancar mengalir ke organ itu. Dia harus bermain cepat, tidak perlu lagi mengecup semua tubuh halus dan mulus istrinya itu. Karena bekas kismark semalam belum juga hilang disekujur tubuhnya.
Akhirnya penyatuan mereka pun selesai dalam waktu setengah jam. Rival pun mengecup kening istrinya itu. Dia pun mengambil tisu, yang ada di bawah tempat tidur. Rival membersihkan cairan mereka di bagian intinya Mely. Kemudian menggulingkan tubuhnya di sebelah Mely yang kini tengah memegangi perutnya bagian bawah.
Mely meringis, karena merasakan perutnya kram.
__ADS_1
"Kenapa Dek?" Ucap Rival mengubah posisinya menjadi miring ke arah Mely yang kini terbaring dan ditutupi oleh selimut.
"Perut bagian bawah Adek sedikit kram Mas." Jawabnya dengan ekspresi wajah menahan sakit.
"Apa karena kita melakukannya?" tanya Rival dengan khawatirnya. Dia pun menyibak selimut yang menutupi tubuh istrinya itu, langsung mengelus perut Mely yang masih datar itu.
"Anakku, bagaimana kabar kalian di sana? apa Ayah menyakiti kalian? tidak kan sayang? Ayah hanya memupuk kalian agar tumbuh dan berkembang dengan baik." Ucap Rival polos, masih terus mengelus perut Mely.
Ucapan Suaminya itu membuat Mely tertawa kecil. Bisa-bisanya suaminya itu membuat alasan nyeleneh seperti itu. Apa hubungannya berhubungan intim dengan perkembangan bayi dalam kandungan. Yang ada malah bisa mengganggu, apalagi dilakukan dengan tidak hati-hati.
"Mas ini, bisa saja." Kalau anaknya ingin tumbuh sehat, ya nutrisi untuk istrinya harus dipenuhi. Bukan hasratnya saja yang dipenuhi." Ucap Mely lembut, mengelus kepala suaminya yang masih menciumi perut Mely.
"Nutrisi juga kan Mas penuhi. Malah Abang tidak ingin Adek memakan makanan yang mengandung bahan kimia. Harus alami, biar anak kita tumbuh sehat.
"Apa perutnya masih nyeri?" tanya Rival menatap Mely, yang juga menatapnya.
"Sudah mendingan, mungkin tadi saat Adek pelepasan. Otot panggul Adek berkontraksi." Jawabnya, menyambut suaminya itu kepelukannya.
"Iya Mas. Adek juga kan pingin. Sore ini kita ke Praktek Dokter Obgyn itu lagi ya?! kita tanyakan apakah aman kalau kita tiap hari melakukannya, padahal Adek lagi hamil." Ucap Mely, mencoba melepas pelukan erat Rival yang dari tadi menempel di pertengahan lehernya.
"Iya sayang. Biarkan sebentar lagi, Abang meluk Adek. Tubuh Adek hangat banget. Enak banget keloninnya." Ucap Rival tidak mau melepas pelukannya dari istrinya itu.
"Tapi Adek sudah mulai susah ini napasnya." Keluh Mely, yang sudah tidak nyaman di dekap terus oleh Rival.
"Abang masih ingin seperti ini. Abang kan tidak menimpa perut Adek." Ucap Rival.
"Iya sih, tapi Adek ingin bersih-bersih. Sudah mulai tidak nyaman di bawah sana." Mely pun menggerakkan tubuhnya, protes kepada Rival yang tidak mau melepas dekapannya.
__ADS_1
"Ngidamnya Mas, aneh ya?" ucap Mely, yang kini masih berbaring di sebelah suaminya itu.
"Aneh?" Rival melirik Mely dengan menaikan kedua alisnya.
"Iya, aneh. Kenapa tadi malam, panggilannya harus di ubah jadi Mas. Biasanya juga Adek panggil Abang." Keluh Mely, merasa asing dengan tutur sapanya kepada suaminya itu.
"Entahlah, ingin sekali kalau Adek manggilnya Mas." Ucap Rival, mulai bangkit, meraih sarung nya dan memakainya.
"Panggilan Mas kan biasanya untuk suku orang Jawa. Abang kan bukan suku Jawa." Ucap Mely, Dia pun akhirnya mendudukkan tubuhnya. Kemudian Rival memakaikan baju istrinya itu kembali.
"Iya, Mas juga heran. Kenapa Mas inginnya seperti itu. Adek harus biasakan memanggil Mas kepada suamimu yang baik, Sholeh dan tampan ini." Ucapnya terkekeh, yang membuat Mely sewot, karena Suaminya itu terlalu percaya diri, menuju diri sendiri.
"Sudah, kita mandi di sungai saja. Sebelum penghuni rumah pada berdatangan." Ucap Rival, turun dari ranjang menuntun Mely, yang merasa perutnya masih nyeri.
"Apa beneran nyeri?" Rival menilik, Mely yang berdiri di sebelah nya.
"Sedikit." Keluh Mely.
Rival pun membenahi sarungnya yang hendak melorot.
"Mas suka sekali pakai sarung. Jangan pakai sarung, kita kan mau ke sungai. Nanti ikatan sarungnya lepas, bagaimana?" ucap Mely memperhatikan suaminya itu mengencangkan ikatan sarungnya.
"Tidak akan, Mas sudah terbiasa pakai sarung." Jawabnya dan langsung membopong tubuh Mely yang masih ramping itu. Saat keluar kamar, terdengar suara wanita mengucap salam yang tidak lain adalah Sekar.
Rival tidak berani memandang Adiknya Sekar yang sudah berada dihadapan mereka, karena Dia masih menggendong Mely, ala brydal stile. Dia buru-buru berjalan menuju dapur. Karena mereka akan ke sungai melewati pintu dapur.
"Apa kakak ipar sakit? kenapa digendong?" ucap Sekar, mengekori Rival ke arah dapur.
__ADS_1
"Iya."Jawab Rival cepat, dengan menahan malu. begitu juga dengan Mely. Tiga hari ini, Rival sangat memanjakannya. Semoga selamanya seperti itu.
TBC