Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
couple


__ADS_3

Sesampainya di rumah mereka, Rili sangat terkejut melihat ada orang lain di ruang tamu mereka selain orang tuanya.


"Ma, ada apa ini? kenapa banyak sekali saudara kita yang kumpul disini?" tanya Rili pelan setelah Dia duduk disebelah kiri mamanya.


Ternyata di rumah Rili sudah berkumpul sanak family dari keluarga ayahnya. Ada paman, bibi, tokoh masyarakat juga Tante Mirna.


"Yang ditunggu sudah datang, jadi kita mulai saja acara musyawarah ini." Ucap Ayah Rili.


"Kepada saudara/i ku dan Bapak Somad serta pak Ahmad selaku tokoh masyarakat yang dituakan dan dihormati di komplek kita ini. Kami dari keluarga Ridwan Askan ingin mengundang Saudara/i dan tokoh masyarakat agar sudilah kiranya meluangkan waktunya datang lagi ke rumah ini dalam rangka acara lamaran serta serah-serahan yang akan dilaksanakan pada hari Rabu besok sekitar jam 14.00 Wib."


Ucap Ayah Rili.


Rili yang mendengar pernyataan ayahnya tersebut dibuat kaget. "Kenapa prosesnya dipercepat, bukannya tadi pagi mama bilang Minggu depan acara lamarannya?" Ucap Rili pelan berbisik ke telinga mamanya.


Mama Rili hanya menanggapi putrinya tersebut dengan meletakkan jari telunjuk kanan dibibir. Memberi kode agar putrinya itu diam.


Acara untuk hari Rabu lamaran Rili pun akhirnya dibahas oleh keluarga besar dari pihak ayah Rili dan tokoh masyarakat. Sedangkan keluarga dari mamanya Rili tidak ada yang hadir, karena semua saudara mamanya Rili berada jauh dikampung, jadi tidak bisa datang hari ini. kemungkinan keluarga besar dari mamanya Rili akan hadir di hari H.


Mama Rili menyuruh Rili menyiapkan minuman dan cemilan ke dapur. Diapun membuatnya dan menyajikan keseluruhan tamu.


Acara musyawarah pun selesai. Sanak family dan tamu lainnya sudah pulang ke rumah masing-masing.


"Ma, kenapa acara lamarannya dipercepat?" tanya Rili dengan sedihnya. Dia belum siap dengan pernikahan ini.


"Tadi nak Rival menghubungi mama saat berada di rumah Tante Mirna. Kata nak Rival, keluarga mereka bisa datang melamarmu hari Rabu besok. dan hari pernikahan jatuh pada hari minggu, dua pekan lagi." Ucap mamanya sambil meluruskan kakinya berselonjor.


"Apa ma? kenapa begitu mendadak? mana bisa semuanya disiapkan dalam dua Minggu!" ucap Rili dengan kesal.


"Apa ini semua tidak mencurigakan ma? kenapa mama begitu percaya dengan Abang Rival. Padahal, kita belum tahu bagaimana orang tua dan kondisi rumahnya ma! jangan korbankan kebahagian putrimu ini ma!" ucap Rili sambil menangis dan pergi meninggalkan orang tuanya di ruang tamu tersebut.


Rili berjalan cepat menuju kamarnya. Rili langsung melempar tubuhnya ke ranjang empuknya. Tak lama kemudian mamanya datang menyusul ke kamarnya.


Mama Rili duduk di sisi ranjang putrinya itu.


"Mama yakin, hati mama tidak salah menilai. Hati mama bilang nak Rival adalah suami yang pas untukmu. Soal keluarga dan kondisi rumahnya, kamulah orang baru yang harus pandai-pandai mengambil hati seluruh keluarga nak Rival." Ucap mamanya dengan hanya melihat punggung putrinya yang membelakanginya.


"Ikhlaskan nak, lihatlah semua kejadian ini dari sisi positif. Agar kamu bisa melihat kebaikan dihati nak Rival. Masih banyak yang harus kita siapkan untuk acara hari Rabu. tinggal dua hari lagi. Tolong, dewasalah nak." Ucap mamanya dan pergi meninggalkan Rili yang sedang menangis tersebut.


Bicara mengenai jodoh, kita tidak pernah tahu bagaimana misterinya. Urusan jodoh, sekuat apapun kamu mengejar dan usaha, jika memang sosoknya tak tertulis untukmu, kalian tak pernah menyatu. Sebaliknya, sekuat apapun kamu menolak dan menjauh dari sosok yang kamu benci, kalau memang ia tertulis sebagai jodohmu, ia akan tetap menjadi pendamping hidupmu sebagai jodohmu.

__ADS_1


🌹


🌹


🌹


Rabu, 21 Juli 2010. Adalah waktu diadakannya lamaran. Nampak rumah Rili sudah ramai karena kedatangan saudara dan tetangga yang diundang oleh orang tua Rili untuk menyaksikan acara lamaran putrinya itu. Suasana di dalam rumah dan pekarangan rumah begitu bahagia, canda tawa dan senyum bahagia nampak jelas di wajah orang-orang yang berada di kediaman Rili tersebut.


Hanya satu orang saja yang sedang bersedih yaitu Rili. Dikamar, Rili sedang dihias oleh penata rias. Sedangkan Windi yang juga berada dikamar itu hanya tidur-tiduran memandang sahabatnya yang sedang dirias.


"Itu muka apa tidak bisa jangan cemberut seperti itu?" tanya Windi, yang masih setia dalam posisi tiduran di ranjang Rili sambil bermain handphone.


"Iya kak, senyum dikit dong!" ucap perias Rili yang jenis kelaminnya tidak jelas itu. Alias Waria.


"Sepertinya kakak dipaksa menikah ya?" tanya si bencon*ng.


"Gak usah banyak tanya kamu makhluk jadi-jadian. Cepat selesaikan tugasmu." Ucap Windi becanda.


"Idih... si kakak, ngomongnya gak usah gitu kali!" ucap si makhluk jadi-jadian.


Rili hanya diam saja. Dia saat ini hanya bisa pasrah. Setiap unek-unek dan saran yang di bilangnya tidak berterima di kedua orang tuanya. Seperti saat ini, Dia meminta tidak usah disewa tukang rias. Dia sendiri bisa merias wajahnya. Tapi, mamanya tetap saja menyewa jasa makhluk jadi-jadian ini.


"eemmmuaachh.... gemes dech," ucap si waria dan mentoel hidung Rili.


"Udah sana, udah siapkan?" ucap Rili kesal. Dia mau muntah melihat tingkah si bencon*g tersebut.


Si makhluk jadi-jadian pun meninggalkan kamar Rili.


"Kamu cantik banget loh Rili," ucap Windi.


"Udah tahu."


"GR loe...!" ucap Windi kesal.


"Sepertinya keluarga pihak laki-laki sudah datang." Ucap Windi dengan tersenyum.


Ya benar, keluarga pihak laki-laki sudah memasuki rumah Rili, acara akan segera dimulai, karena semua keluarga, tetangga dan tokoh masyarakat yang diundang sudah berada di tempat acara.


Mama Rili masuk ke dalam kamar putrinya dan meminta Windi untuk membawa Rili ke ruang tamu tempat acara lamaran.

__ADS_1


Deg.....


Rival yang sedang duduk bersila di ruangan tersebut, nampak begitu nervous disaat Dia melihat Rili keluar dari kamarnya.


Dag...Dig ...dug... seerrr... darahnya berdesir disaat Rili semakin dekat dengan tempat Dia duduk sekarang.


Semua orang yang berada diruang tersebut, memuji kecantikan Rili. Bisik-bisik pun terdengar. Calon mempelai wanita cantik banget, tapi calon mempelai pria juga tampan sekali ya?" begitulah suara-suara sumbang terdengar.


Rili yang duduk di dekat mamanya dan Windi tersebut hanya diam dan menunduk. Beda dengan Rival yang selalu menatap Rili tanpa berkedip.


Acara pun dimulai karena seluruh keluarga sudah berkumpul dan berhadap-hadapan. Salah satu perwakilan dari pihak laki-laki mengatakan maksud dan tujuan kedatangan rombongan dan kemudian dijawab oleh perwakilan dari pihak wanita.


Lanjut ke acara selanjutnya adalah penyerahan serah-serahan. Penyerahan serah-serahan dari pihak pria kepada pihak wanita harusnya diserahkan oleh ibu calon mempelai pria. Tapi, karena ibunya Rival tidak ikut dalam acara tersebut, maka penyerahannya diwakilkan oleh Tantenya Rival. Tantenya Rival menyerahkan serah-serahan kepada mamanya Rili.


Setelah acara serah-serahan selesai harusnya masuk ke acara tukar cincin. Tapi, acara tukar cincin tidak dilakukan. Karena pemasangan cincin akan dilaksanakan saat akad nikah saja.


Lanjut ke acara selanjutnya adalah acara perkenalan antar keluarga setelah itu acara doa dan acara makan bersama dan acara foto bersama antara kedua belah pihak dan sanak famili.


Rili yang memang tidak senang dengan pernikahan ini, nampak sekali dari bahasa tubuhnya dan raut wajahnya yang sedikit masam. Beda dengan Rival yang nampak fresh dan selalu tersenyum, sehingga menambah daya tarik pria tersebut. Banyak sekali terdengar bisikan-bisikan yang mengatakan bahwa calon mempelai pria sangat tampan.


Tibalah saatnya acara dokumentasi. Kini Rili dan Rival akan difoto bersama dan juga dengan keluarga besar.


Nampak Rival dan Rili sekarang berdiri dengan bersebelahan. Kedua pasangan itu nampak kaku.


Rili yang menggunakan kebaya berbahan brokat dipadu dengan rok lilit batik ternyata sangat matching dengan kemeja batik warna maroon yang dikenakan Rival. Mereka seperti janjian saja.


Rival yang berada disebelah Rili akhirnya mengeluarkan suara.


"Baju kita seperti couplean, Padahal kita tidak ada janjian sebelumnya." Ucap Rival tersenyum dan melihat ke arah Rili.


Rili yang dipandangin oleh Rival, hanya diam saja. Dia sekilas melirik Rival yang disebelahnya. Benar kata Rival. Pakaian yang mereka gunakan seperti couplean.


Si tukang potret memfoto pasangan kaku tersebut, karena setiap instruksi yang dikatakan si tukang foto tidak diindahkan Rili.


Bersambung..


Mohon beri like, coment, vote dan rate serta jadikan novel ini sebagai favorit.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2