
"Windi----! kamu apa kabar--?" suara semangat Rili, cukup menyita pengunjung Restorant. Dia sedikit berteriak kesenangan seperti dapat lotre miliyaran rupiah saat mendapat telepon dari sahabatnya itu.
"Aduuhhh Makbun suaranya melengking banget. Buat kuping ku sakit." Ucap Windi dari sambungan telepon.
"Iya, Aku senang banget, akhirnya kamu nelpon juga. Aku nungguin kamu kasih kabar. Karena katamu sebulan yang lalu, tidak boleh Aku yang hubungi duluan. Kamu sekarang jadi sombong." Ucap Rili, merajuk. Dia cemberut. Entah apa gunanya cemberut Windi saja tidak bisa melihat wajahnya. Maklum pada saat itu belum ada video call.
"Iya, baru dibolehin sama si Ucup megang ponsel." Jawabnya malas. Si Ucup super overprotektif kepada istrinya itu. Tidak diperbolehkan megang ponsel karena akan mengganggu kesehatan Windi. Dia tidak mau Windi, kena radiasi.
"Iya, Aku tahu pasti si Yusuf perhatian sekali samamu. Sesekali kamu balas dong cintanya. Sudah nikah setahun lebih masak kamu gak bisa merasakan cintanya?" ucap Rili dengan lembut.
"Iya bawel, masak sudah tiap hari bersama gak cinta juga. Cinta itu datang karena seringnya bersama." Jawab Windi.
"Kapan kalian pulang kampung?" tanya Rili lagi.
"Besok lusa. Ini Aku lagi di kota M. Check up terakhir."
"Apa? kamu di kota M? kalian nginap di mana? tungguin Aku. Nanti malam kita jumpa di kota M. Aku rindu banget samamu sayang. Sudah satu tahun lebih kita tidak jumpa." Ucap Rili sedih, Dia hampir saja menangis. Temannya itu yang paling pengertian.
Windi pun mengatakan di mana mereka menginap.
"Ok, see you." Panggilan pun diputus oleh Rili. Dia sudah tidak sabar untuk menjumpai Yasir. Dia ingin mengajak Yasir pulang cepat. Dan Dia akan mendesak Yasir, agar cepat menyelesaikan kerjaannya.
Setelah Rili memutus panggilan Windi. Dia langsung menelpon suami nya Yasir.
"Yachay, Aku ke ruang kerjamu sekarang." Ucapnya manja, Kalau Dia ngomongnya manja, Yasir tahu, Istrinya itu ada maunya.
"Tidak usah kesini. Nanti kamu capek jalan. Abang saja yang turun." Ucap Yasir lembut. Dia sudah mengalihkan semua kerjaannya ke pegawai nya. Saatnya ajak Rili keliling kota Berastagi dan naik kuda.
Dasar Yasir aneh, istri hamil masak di ajak naik kuda.
🌄🌄🌄
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, saat Dokternya dan perawat datang ke ruangan Mely untuk memeriksa keadaannya. Saat itulah Mely terbangun dari tidurnya yang lebih dari sepuluh jam.
"Dok, Tolong sembuhkan Aku. Rasanya sakit sekali. Aku ingin pulang." Ucapnya setelah Dokter selesai memeriksa kesehatannya.
"Kita lihat perkembangan Ini sampai nanti sore. Kalau tekanan darahnya sudah normal dan Ibu sudah tidak merasakan sakit yang luar biasa lagi di rahimnya. Ibu bisa dirawat di rumah." Ucap Dokter yang berjenis kelamin wanita itu dengan ramah.
"Iya Dok, terimakasih." Ucap Mely, Dia menelan ludahnya yang rasanya pahit itu.
"Baiklah Bu Mely. Saya akan melap tubuh Ibu sekarang, kemudian makan dan minum obat." Ucap Perawat wanita yang seperti nya masih muda. Di name tag nya tertulis Dewi Ratna.
__ADS_1
"Iya Dek." Jawab Mely. Padahal belum tentu, perawat itu lebih muda dari Mely.
"Bi Ida mendekati Bed tempat Mely berbaring. Dia membawakan baju ganti ganti Mely dan air di dalam baskom untuk melap tubuh Mely.
Saat Perawat melap tubuh Mely, perawat memintanya duduk. Jikalau Mely merasa sanggup. Ternyata Mely lebih merasa agak enakan disaat duduk dari pada berbaring.
Saat perawat membersihkan tubuh Mely. Firman membantuMama Maryam untuk sarapan dan minum obat. Sedangkan Rival tertidur di sofa dengan mulut menganga dan masih bersandar di sofa. Posisi Rival membelakangi Mely. Hanya kepala yang nampak kalau melihat dari arah Mely.
"Bi, itu siapa yang duduk di sofa?" tanya Mely lemah, Dia merasa malas bicara. Apalagi mulutnya terasa kaku. Mely hanya melihat kepala seorang laki-laki, walau sebenarnya Dia seperti mengenali kepala itu. Tapi, ia ingin kepastian.
"Oohh itu tuan Rival, Non." Jawab Bi Ida, pelan. Dia tahu perang dunia ketiga sedang terjadi pada pasangan itu.
Mendengar Bi Ida, mengatakan bahwa itu adalah Rival suaminya. Hati Mely langsung berdetak. Tidak dipungkiri Dia sangat merindukan pria itu. Dia juga begitu mencintainya. Tapi, Dia tidak bisa menerima pengkhianatan. Rasa cinta dan rindu kini berubah jadi benci dan kesal.
"Apa Bapak itu suami Ibu?" tanya perawat sok ramah. Dia heran saja, sudah dua hari Mely dirawat. Baru kali ini, suaminya datang. Mungkin sibuk, begitulah pemikiran perawat, yang pertanyaannya tidak dijawab oleh Mely.
"Kapan Dia datang Bi Ida?" tanya Mely, Dia penasaran juga, sejak kapan Suami nya itu disini.
"Sekitar pukul tengah lima gitu Non, kalau gak salah." Jawab Bi Ida hati-hati.
"Apa Dia datang kesini hanya untuk tidur?" ucap Mely spontan. Dia kesal, bukannya suaminya itu harusnya menemaninya, menjaganya di dekat bed ini.
Bi Ida, tidak menanggapi ucapan Mely. Bi Ida tidak berani Cerita. Kalau sejak kedatangan nya. Tuannya itu sudah sangat mengkhawatirkan Istrinya Mely. Tapi, Mama Maryam dan Firman yang melarangnya dekat dengan Mely.
"Iya Bu. Itu memang harus diganti." Aku ingin dibersihkan pakai air mengalir." Ucap Mely lirih.
"Iya Bu. Tentu. Ayo, biar saya bantu Ibu berjalan ke kamar mandi." Ucap perawat, Mely pun mengiyakan kata perawat. Saat kakinya hendak turun ke lantai. Dia merasa kepalanya jadi sedikit pusing dan Dia lemah sekali.
"Oohh tunggu sebentar Bu." Perawat berjalan ke arah Rival yang tertidur duduk dengan mulut menganga itu. Rival seperti tidak diinginkan di ruangan itu. Padahal ada dua bed kosong. Kenapa malah tidur di sofa. pikir Perawat.
Perawat tidak tahu, bahwa Rival sedang dimusuhi keluarga nya sendiri. Perawat ingin Rival menggendong Mely ke kamar mandi.
"Pak, Bapak--" perawat menyentuh tangan Rival. Saat perawat menyentuh tangan Rival yang hanya mengenakan kaos lengan pendek itu. Dia merasakan tubuh Rival panas sekali. Makanya Rival melepas jaketnya. Dia merasa makin gerah.
"Pak, Bapak--!" semua penghuni ruangan kini perhatiannya teralih kepada perawat yang membangunkan Rival. Ada apa dengan Rival?
Perawat meletakkan punggung tangannya di kening Rival, terus turun ke lehernya.
"Bapak ini demam tinggi." Ucapnya, masih memeriksa suhu tubuh Rival dengan tangannya. Saat itu juga Rival terbangun.
Mely yang mendengar ucapan Perawat dibuat panik. Dia kasihan juga melihat suaminya yang ikutan sakit. Tapi, Dia menampilkan ekspresi biasa saja.
__ADS_1
Rival mengucek matanya, menyelaraskan penglihatannya dengan cahaya lampu yang masih menyala, dicampur cahaya matahari yang masuk ke jendela yang ada dihadapannya.
Melihat perawat dihadapannya. Rival membenarkan posisi duduknya. Saat itu juga, Dia merasa tubuhnya sakit semua. Ditambah tubuhnya terasa panas. Sendi-sendi nya terasa mau lepas.
"Apa Adek memanggil saya? maaf saya ketiduran." Ucap Rival mencoba bangkit dari tidurnya. Menyembunyikan rasa sakitnya. Dia pun berjalan ke arah Mely, yang masih memakai sarung untuk mengganti celananya.
Mely terkejut, melihat Rival berjalan cepat kepadanya. Dia belum mau berkomunikasi dengan suaminya itu. Bayang-bayang perbuatan mesum Rival, masih terputar diotaknya. Hatinya sakit, dadanya sesak.
"Adek sudah sadar?" Ucap Rival dengan terseyum, setidaknya istrinya itu. Tidak langsung teriak dan marah saat melihatnya. Itu sudah membuatnya hatinya sedikit lega.
Berarti Mely bisa diajak bicara baik-baik.
Mely hanya melongok, tanpa penolakan saat Rival mendaratkan punggung tangannya di kening istrinya itu.
"Panas, Adek demam?" tanyanya saat Dia merasa tangannya panas saat menyentuh kening Mely. Padahal Dia sendirilah yang demam. Mely tidak demam. Hanya kurang tenaga. Dan masih merasa pusing, karena tekanan darah nya naik.
Perawat menghampiri mereka. "Yang demam itu Bapak. Bukan Ibu." Sebaiknya bapak istirahat di bed. Nanti akan saya daftarkan Bapak untuk diperiksa kesehatannya juga." Ucap Perawat menarik lengan Rival agar menjauh dari Mely. Sepertinya suaminya itu, tidak bisa diandalkan. Karena sakit juga.
Rival tidak bergeming dari tempatnya. Masih mematung, tidak bergerak dari tarikan perawat.
"Bapak istirahat saja. Ayo Bu, saya papah." Ucap perawat kepada Mely. Mely pun menurunkan kakinya. Dia berjalan dipapah oleh perawat dan Bi Ida.
Rival yang tidak tega melihat Mely berjalan lemah itu. Akhirnya menggendong Mely dengan paksa.
"Lepaskan, biar perawat saja yang membantuku." Mely berontak kecil. Tapi, Rival tidak menggubris Dia malah mempercepat langkahnya menuju kamar mandi. Yang diikuti oleh Bi Ida dan perawat.
Sedangkan Mama Maryam dan Rival. Hanya menonton, apa yang terjadi.
Mely juga merasakan panas tubuh Rival yang sangat tinggi, dalam dekapan Suaminya itu. Mely sedikit terharu, walau suami nya itu sakit. Masih mau menggendong nya.
❤️❤️❤️
"Tadi katanya mau ngomong. Adek mau ngomong apa?" tanya Yasir, kini mereka sudah berada di tempat yang sangat indah namanya Bukit Kubu.
Mereka sedang duduk di gazebo yang disediakan resort itu. Rili yang baru pertama ke tempat itu, merasa terpana dengan pemandangan alam yang asri dan memang cocok sekali untuk tujuan piknik keluarga. Rili melihat pengunjung ada yang berkeliling naik delman, bermain layangan dan main mobil dengan remote control.
"Disini sangat menentramkan." Ucap Rili, Dia sudah lupa ingin membahas pertemuannya dengan Windi.
"Adek suka tempat ini?" tanya Yasir, meraih Rili dalam dekapannya. Dia pun mencium puncak kepala Rili. Aroma rambut Rili sungguh wangi. Maklum lah Rili, hampir tiap hari Keramas.
"Suka banget, pingin deh tinggal di Kota Berastagi, sejuk banget udaranya. Beda dengan kota S. Panasnya pooll....!" ucapnya tanpa sadar mengagumi keindahan yang ditawarkan kota dekat kota Medan ini.
__ADS_1
"Serius Adek mau tinggal disini? apa Adek ikhlas meninggalkan kota kelahiran Adek?" tanya Yasir penuh semangat, pasalnya Dia juga sudah punya rumah disini, selain baru saja membangun hotel. Tapi, Dia belum mengatakan nya kepada Rili. Secara di kota ini, mayoritas adalah umat Kristiani. Dia sempat ragu, Rili tidak menyukainya.
"Iya, Adek suka banget. Kalau Abang tidak punya uang untuk bangun rumah disini. Dulu kan Abang pernah bilang mau kasih mahar Adek 16 M. Ya udah uang itu aja pakai untuk bangun rumahnya." Ucap Rili becanda.