
Hari Kamis Pukul 08.00 Wib. Di lapas kota G. Rival sedang membesuk Ibunya. Sejak ditahan, Ibunya tidak mau bertemu dengannya. Rival pun tidak tahu apa penyebab Ibunya tidak mau dibesuk selama 3 hari itu. Padahal Dia sangat mengkhawatirkan keadaan Ibunya. Tapi, hari ini Ibunya mau dijeguk oleh Rival.
"Ibu, Rival bawain makanan kesukaan Ibu." Meletakkan rantang 3 susun yang terbuat dari plastik, di atas meja yang menjadi perantara Rival dan Ibunya.
Ibu Rival menatap tajam kepada putranya tersebut. Tatapan Ibunya itu sampai membuat Rival takut sekaligus khawatir. Dia sangat takut Ibunya setres.
"Ibu sehatkan?" Rival berdiri dari tempat duduknya. Dia mencondongkan tubuhnya ke arah Ibunya. Tangannya bergerak untuk menyentuh kening Ibunya. Dia ingin mengetahui keadaan Ibunya, Apakah demam atau tidak.
"Jangan sentuh, Aku bukan Ibumu." Menepis tangan Rival, kemudian memalingkan wajahnya dari tatapan Rival.
Sikap dan ucapan Ibunya itu sukses membuat Rival terkejut. Kenapa Ibunya menjadi kasar kepadanya. Sampai tidak mengakui Rival anaknya.
"Bu, kenapa Ibu bicara seperti itu. Maafkan Anakmu ini, jikalau ada salah." Rival meraih tangan Ibunya yang tergeletak di atas meja. Dia ingin mencium, tangan Ibunya Itu. Hatinya sangat sakit, Dia tidak bisa membebaskan Ibunya dari tahanan.
"Aku bukan Ibumu...!" Ibunya Rival berteriak, dan kembali menepis tangan Rival.
"Ibu kenapa berkata seperti itu. Aku ini anakmu Bu." Mata Rival, sudah mulai berkaca-kaca. Hatinya sakit mendengar ucapan Ibunya. Segitu bencinya Ibunya kepada Dia, sehingga tidak mengakui Dia anaknya.
"Kamu bukan anakku. Kalau kamu Anakku, kamu pasti berusaha, agar Ibu tidak dipenjara. Darahmu tidak berontak, melihat Ibu dipenjara. Kepedihan yang Ibu rasakan. Tidak kamu rasakan." Ucap Mama Rival, dengan menangis tersedu-sedu. Dia menatap lekat mata Rival.
"Jangan berkata seperti itu Bu. Aku sudah berusaha. Tapi, buktinya kejahatan yang Ibu lakukan sangat kuat."
"Diam... Diam mulutmu. Kalau kamu tidak menikahi wanita sialan itu. Semuanya ini tidak akan terjadi."
Rival beristighfar dalam hati. Sungguh Ibunya belum sadar-sadar juga, atas sikapnya yang sudah mencelakai orang.
"Kamu bukan Anakku. Mulai saat ini. Kamu tidak perlu menjegukku."
__ADS_1
"Apa maksud Ibu?" dengan hati was-was dan takut. Rival tidak sabar menunggu penjelasan Ibunya.
"Kamu bukan Anakku...! Tidak ada darahku mengalir di tubuhmu. Sehingga kamu tega melihat Ibu menderita disini. Seharusnya, Ibu tidak usah menolongmu 32 tahun yang lalu." Menghapus air mata dengan jemarinya. Mencoba menghirup udara disekitar untuk merilekskan diri.
"Kamu bukan Anakku..!" Berteriak sambil mengacak-acak rambut. Akhirnya Ibunya Rival defresi.
Petugas membawa Ibunya Rival Kembali ke ruang tahanan. Sedangkan Rival, menjumpai petugas lapas. Dia ingin Ibunya diperlakukan baik. Dia pun memberi sejumlah uang kepada petugas lapas.
Dengan perasaan yang kacau, hati yang hancur. Jiwa yang tidak tenang. Pernyataan Ibunya yang mengatakan bahwa Dia bukan Anaknya, membuat jiwa Rival terpukul.
Dengan cepat Dia mengenderai motornya menuju rumah. Dia ingin menanyakan semuanya kepada Ayahnya.
Rival memarkir motornya dihalaman rumah mereka. Dengan cepat Dia masuk ke kamar ornag tuanya. Dia melihat Ayahnya terbaring di atas tempat tidur. Ayahnya tidak ke ladang. Karena, Ayahnya kurang sehat, Pria tua itu belum bisa menerima kenyataan istrinya masuk penjara.
Rival mendudukkan tubuhnya di sisi ranjang, tempat Ayahnya berbaring. Dia memijat-mijat kaki Ayahnya.
"Ayah, tadi sudah minum obat?" Menatap Ayahnya dengan mata berkaca-kaca dan perasaan yang was-was.
"Sudah Nak. Ibumu sehat?" ucap Ayah Rival dengan pelan, lidahnya terasa keluh saat bicara. Wajah tuanya nampak pucat. Tulang rusuk nampak jelas terlihat, disaat pria tua itu menarik napas. Sungguh Rival tidak sanggup menanyakan kebenaran dari ucapan Ibunya. Tapi, Dia harus berani menanyakannya langsung kepada Ayahnya.
"Ayah, Apa benar Aku ini bukan Anak kandung kalian?" dengan mata berkaca-kaca, Rival tidak sabar mendengar jawaban Ayahnya.
Ayah Rival memutar lehernya, hingga kini pria tua itu menatap langit-langit kamar yang tidak berasbes tersebut.
"Apa Ibumu sudah memberitahumu?" Rival tidak tahan melihat ekspresi Ayahnya saat ini. Wajah yang ototnya sudah keriput itu, nampak sangat menyedihkan dengan mengalirnya cairan bening dari sudut mata Pria yang sudah dianggapnya sebagai Ayah.
"Jadi benar, apa yang dikatakan Ibu Ayah?" Akhirnya cairan bening jatuh membasahi pipi Rival. Kejutan-kejutan yang membuat sport jantung, datang silih berganti. Istri yang dikejar-dikejar mantan, Ibunya dipenjara, Ayahnya sakit. Dan fakta bahwa dirinya adalah anak yang dipungut, menambah luka di hatinya.
__ADS_1
"Ayah dan Ibu, menemukanmu terdampar di tepi sungai. Saat itu Ayah dan Ibu sedang mencari ikan. Tubuhmu penuh dengan luka-luka, wajahmu pucat. Kondisimu saat itu sudah seperti mayat. Tapi, Ayah kembali memeriksa denyut nadimu. Ternyata kamu masih hidup.
"Ibumu sangat senang, saat menemukanmu. Karena, 5 tahun pernikahan kami belum juga dikaruniai keturunan. Setelah kondisimu pulih, kamu tumbuh menjadi anak yang sangat pintar, baik, dan sangat tampan." Ayah Rival menceritakan semuanya, yang membuat kedua pria itu tidak henti-hentinya menangis.
"Dulu sebelum kami menemukanmu. Kehidupan kami jauh dari kata layak. Rumah Ayah dan Ibu hanya terbuat dari bambu yang terletak dikebun orang tempat Ayah Menderes. Di malam Hari, Ayah dan Ibu pergi ke sungai mencari ikan. Untuk dijual esok pagi. Tapi, sejak kami merawatmu. Rezeki mulai datang. Akhirnya Mila pun lahir ke dunia. Ayah juga bisa membangun rumah, walau dari papan.
"Ibumu yang memang punya sifat yang kurang baik, selalu memanfaatkanmu. Kamu disuruh Ibu kerja sejak duduk di bangku SD. Kamu tidak pernah menolak. Kamu selalu membantu Ayah dan Ibu. Sudah saatnya kamu mengetahui semuanya." Ayahnya berusaha untuk duduk. Rival dengan cepat melingkarkan tangannya dipunggung Ayahnya. Dia pun mendudukkan Ayahnya.
"Nak, tolong ambilkan kaleng yang di atas lemari itu." Ayah Rival menunjuk kaleng bekas roti yang berbentuk seperti kubus.
Dengan tubuh yang lemas, Rival berjalan gontai mengambil kaleng. Dia pun memberikannya kepada Ayahnya.
"Ini kalung milikmu. Saat kami menemukanmu. Kalung ini masih menggantung dilehermu. Ambillah Nak." Rival meraih kalung emas putih dari tangan Ayahnya. Dia langsung memeluk tubuh kurus Ayahnya dengan berurai air mata.
"Maafkan Ayah dan Ibu, yang telah membuat hidupmu susah." Ayah Rival menangis dalam pelukan Rival.
"Jangan bicara seperti itu Ayah. Aku yang harus minta maaf. Gara-gara ku Ibu dipenjara."
"Kamu tidak salah nak. Ibu memang pantas mendapat hukuman tersebut. Agar Dia jera dan semoga sifatnya bisa berubah." Ayahnya melerai pelukan. Dia pun menyeka air matanya dengan kain sarung yang berada disebelah kanan tempat tidurnya.
"Ayah, Abang Rival." Mila yang tadinya menguping dibalik kamar. Akhirnya menerobos masuk ke kamar Ayah mereka. Sungguh Dia sangat terkejut mendengar cerita Ayahnya.
Bersambung..
Besok disambung lagi ya kak. Tetap dukung Novel ini dengan memberi like, coment vote dan rate 🌟. Maaf part ini hanya tentang Rival.
Terimakasih
__ADS_1