Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Menceraikan wanita hamil


__ADS_3

Setelah merasa agak baikan, Rival berusaha untuk berdiri tegap yang dibantu oleh Sari. Keringat sebiji jagung menghiasi kening dan pelipis Rival. Dia juga merasa tubuhnya sangat dingin.


"Abang masuk angin. Ayo Dari bantu untuk istrirahat di sofa." Ucap Sari khawatirnya, Dia yang memang memendam rasa kepada Rival tidak tega melihat keadaan pria itu yang sangat memprihatikan seperti saat sekarang ini.


Rival berjalan pelan, yang dibantu oleh Sari dengan memapah tubuh Rival yang kekar. Ponsel Rival yang ada di tas kerjanya yang tergeletak di atas meja kerja Pak Ali, terus saj berdering dan bergetar.


"Ponsel Abang berbunyi terus." Ucap Sari, Dia masih memapah Rival menuju sofa yang ada di ruang kerja Pak Ali itu.


"Iya Sari." Jawab Rival lemah, Dia masih merasakan perutnya sakit dan seperti di aduk-aduk. Rasa sakitnya sangat luar biasa. Ditambah Dia juga mengidam.


Dengan pelan-pelan Sari membaringkan Rival di Sofa yang berukuran panjang, yang terlebih dahulu Dia meletakkan bantal sofa, sebelum kepala Rival mendarat di Sofa itu.


Ponsel Rival terus saja berdering. "Coba ambilkan ponsel Abang Sari." Ucapnya lemah, sambil kesusahan menelan ludah nya yang terasa pahit dan sedikit masam itu. Rival juga merasa napasnya sangat sesak.


"Siapa yang menelpon?" tanya Rival melirik Sari yang kini sudah berdiri dihadapannya.


"Nona Mely Bang." Ucap Sari sedikit menampilkan ekspresi wajah tidak sukanya. Karena Dia merasa Mely adalah saingannya.


Rival yang masih syok dan tubuhnya masih lemah. Dia tidak ingin berkomunikasi dengan istri nya itu. Dia merasa tidak ada tenaga nantinya, menjawab pertanyaan Mely. Jikalau Dia menjawab dengan terbata-bata dan menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya.


"Biarkan saja," Rival menarik napas dalam berulang kali, berusaha menenangkan dirinya. "Letakkan saja di atas meja ponsel Abang. Tolong buatkan teh manis buat Abang." Ucap Rival, melirik Sari yang nampak begitu mengkhawatirkan nya.


Rival pun kembali menenangkan dirinya, Dia memejamkan kedua bola matanya. Walau berusaha untuk tenang, tapi fakta yang didapatkan nya hari ini tidak bisa membuatnya tenang.


"Apa yang harus ku lakukan, harus kah Aku men test DNA ku dan mencocokkan dengan DNA Pak Ali? jikalau Aku ini benar adalah anaknya. Bagaimana dengan Mely. Dia adalah Adikku sendiri, kami satu darah. Pantesan, Aku sangat sulit menerima nya di hatiku. Ternyata ini jawabannya. Aaarrgghh.....!" Rival pun akhirnya berteriak, rasanya kepala nya mau pecah memikirkan nasibnya.


Sari yang berada di dapur, mengajak kakaknya Bi Ina, untuk masuk ke ruang kerja Pak Ali. Dia menceritakan kepada kakak nya itu, bahwa tuan muda mereka sakit.


Kedua ART itu pun berjalan cepat menuju ruang kerja Pak Ali. Sari nampak meletakkan teh manis panas di atas meja. Sedangkan Bi Ina, membawa cemilan berupa roti kering.


Rival mencoba untuk mendudukkan tubuhnya di atas Sofa yang dibantu oleh BI Ina. Sari membantu Rival meminum teh manis panas itu dengan sendok teh.

__ADS_1


"Sari, tolong hubungi Dokter pribadi kita. Aku harus cepat ditangani. Besok Aku harus bekerja." Ucapnya lemah, setalah Rival menghabiskan setengah gelas teh manis itu. Dia pun kembali membaringkan tubuhnya di sofa.


Ponsel Rival kembali berdering. " Bi Ina, coba lihat siapa yang menelpon." Ucap Rival melirik Bi Ina dengan mata yang memerah dan wajah yang pucat.


"Nona Mely tuan." Ucapnya dan menyodorkan ponsel itu kepada Rival.


"Letakkan kembali ponselnya di atas meja Bi." Ucap Rival dengan lirih. Kini matanya yang berkabut, sudah siap mengeluarkan cairan bening itu.


"Apa penyakit tuan parah, sehingga keadaan tuan sangat memprihatikan Bibi lihat." Ucap Bi Ina, Dia melap keringat yang muncul di kening Rival.


"Iya Bi Ina, sakit... rasanya sangat sakit, disini Bi." Ucapnya menyentuh dadanya yang terasa sesak dan nyeri itu. Bi Ina, tercengang mendengar ucapan tuan mudanya itu. Kenapa tuan mudanya nampak lemah dan sangat melankolis?


"Di sini sakit Bi, tapi tidak berdarah. Sakitnya menjalar ke seluruh tubuhku. Rasanya otakku tidak bisa berfikir lagi. Tidak bisa mencerna semua masalah ini. Bagaimana caranya keluar dari rasa sakit ini." Ucap Rival, kini air mata yang dari tadi mengenang itu, Akhirnya jatuh dari sudut matanya.


Bi Ina merasa ada yang tidak beres, tapi Dia tidak berani untuk terlalu ikut campur dengan masalah tuannya.


"Sabar tuan, apa yang terjadi berarti itulah yang memang yang terbaik dan harus dijalani. Semua masalah yang datang ada hikmah di dalamnya." Ucap Bi Ina, melihat Sari yang kini datang menghampiri mereka.


"Iya Bu, Aku ke kamar saja. Tapi, di kamarku yang dulu saja ya. Jangan di kamar Mely." Ucap Rival, entah kenapa Dia merasa tidak akan tenang berada di kamar saudara perempuan nya. Di kampung saja, Rival tidak pernah masuk ke kamar Sekar. Karena begitu lah adab nya diajarkan Ayah mereka.


"Tapi, pakaian Abang tidak ada lagi di kamar itu. Pakaian Abang adanya di kamar Non Mely. Itupun hanya sedikit. Karena pakaian Abang kan sudah dibawa ke rumah yang baru." Ucap Sari.


"Iya, di kamar ku saja. Kamu nanti bisa ambilkan pakaian ku di kamarnya Mely. " Ucapnya yang membuat Sari dan Bi Ina, heran.


Sari dan kakak nya Bi Ina, memapah Rival menuju kamarnya yang dulu pernah ditempati nya. Setelah mereka membaringkan Rival di tempat tidur. Tak lama Dokterpun datang. Sedangkan Sari mengambil pakaian Rival ke kamarnya Mely.


Dokter pun mulai mencek tekanan darah dan suhu tubuhnya Rival. "Tekanan darah Bapak sedikit turun. Suhu tubuh normal." Ucap Dokter pribadi mereka.


"Syukurlah , kalau tidak ada yang serius. Tapi, kenapa tuan muda muntah, tapi tidak ada yang keluar dari perutnya." Ucap Sari yang baru datang, setelah mengambil baju Rival di kamar Mely. Dia langsung menanggapi ucapan Dokter yang di dengarnya di Balik pintu.


"Apa Abang Rival merasa stress, cemas, panik, dan gugup yang terlalu berlebihan?" tanya Dokter, menilik keadaan Rival yang keringat dingin.

__ADS_1


"Iya Dok." Jawabnya lemah, Dia masih mual tapi ditahannya.


"Perasaan mual hingga ingin muntah yang dirasakan seseorang ketika panik dan cemas berlebihan kemungkinan besar karena produksi hormon serotonin yang meningkat. Hormon serotonin sendiri merupakan hormon yang sering ditemukan pada sistem pencernaan manusia. Hormon ini juga ikut berperan untuk menjaga agar sistem pencernaan bisa tetap sehat dan berfungsi dengan baik. 


"Namun apabila kadar hormon serotonin berlebihan maka produksi asam lambung ikut meningkat. Selanjutnya batang otak akan mengaktifkan sinyal mual sehingga Anda akan langsung merasa mual. Meski tidak semua orang merasakannya, namun hal tersebut wajar terjadi pada orang-orang yang merasa panik, cemas, serta gugup secara berlebihan." Terang Dokter pribadi mereka panjang lebar.


Rival hanya diam mendengarkan penjelasan Dokter itu.


"Ini obat untuk pereda mual dan vitamain untuk menstabilkan tekanan darah Abang." Dokter memberikannya kepada Bi Ina.


"Abang cobalah untuk tenang, Menghindari hal-hal yang membuat emosi semakin buruk. Kurang istirahat atau kurang tidur juga bisa membuat kita setres. Jadi malam ini Abang harus istirahat yang cukup. Bung pikiran negatif." Ucap Dokter, dan pamit pulang.


Di Rumah baru mereka, Mely nampak grasak-grusuk, di atas tempat tidurnya. Sudah lebih dua puluh kali Dia menghubungi no ponsel Suami nya itu. Tapi tidak pernah diangkat.


"Kenapa tidak diangkat juga. Aku tidak bisa istirahat kalau begini. Katanya tadi hanya sebentar. Hanya ambilkan dokument. Tapi, ini sudah pukul sebelas malam. Kenapa Mas Rival tidak pulang. Mana Aku sudah terbiasa dipijat olehnya baru bisa tidur." Ucapnya menatap layar ponselnya, yang masih menghubungi Suami nya itu.


"Sayang, mungkin Ayah kalian benar-benar lagi sibuk. Kita bobo aja yuk..!" ucapnya mengelus perutnya yang masih datar. Mengajak anaknya yang belum ditiupkan ruh nya itu bicara.


*


*


*


Di rumah Pak Ali, Rival terus saja berusaha untuk bisa tidur. Walau matanya sudah berat, efek obat tidur yang diberikan oleh Dokter. Tapi, Dia tidak kunjung bisa untuk tidur.


Dia sedang memikirkan kelanjutan hubungannya dengan Mely. Dia tidak mungkin bisa bersandiwara menjadi suami untuk saudara perempuan nya sendiri. Mereka harus berpisah. Dia tidak mau menambah dosa dengan menggauli saudaranya sendiri.


"Tapi, Mely sedang mengandung anakku. Mana bisa wanita hamil diceraikan." Ucapnya frustasi, yang membuat perutnya kembali seperti di aduk-aduk.


"Ya Allah, bagaimana nasib anak-anak ku. Aku akan jadi Ayah sekaligus paman mereka." Rival membathin, Dia pun tidak tahan lagi untuk tidak ingin muntah.

__ADS_1


__ADS_2