
"Kak Rili... Kak Rili...!" Suara Sekar yang tak sabaran, membuat Yasir semakin mempercepat langkahnya. Dia membuka pintu kamar yang tidak dikunci itu dengan menguap berulang kali. Pasalnya Yasir baru saja tertidur, karena ada insiden penggantian Bed dengan ukuran yang lebih besar, dari bed yang ada di kamar itu.
Yasir yang begitu mengkhawatirkan Rili, meminta agar istrinya dirawat selama satu hari lagi, padahal Rili sebenarnya sudah boleh pulang.
"Maaf Bang mengganggu, boleh kah Aku bertemu dengan kak Rili?" Sekar langsung mengatupkan kedua tangannya, memohon kepada Yasir, sebelum ada penolakan. Dengan mata yang sembab, karena menangis.
Kening Yasir berkerut, mendengar ucapan Sekar. Ada keperluan apa Dia malam-malam begini dengan istrinya. Dengan ekspresi wajah yang begitu menyedihkan.
"Rili sudah tidur, ada perlu apa rupanya Dek?" Yasir yang begitu mengkhawatirkan istrinya itu. Tidak mau Rili diganggu. Kalau tidak urusan penting.
Rili yang mendengar percakapan Yasir dan Sekar, hanya diam dan merasa heran. Kenapa mantan Adik iparnya itu mencarinya malam-malam begini.
"Tolonglah kami Bang." Ucapnya memelas masih mengatupkan tangannya. Yasir sungguh tidak tega melihatnya.
"Ayo, kamu masuk dulu!" Mendapat tawaran masuk, membuat Sekar sedikit legah. Semoga Rili mau Bertemu dengan Ibunya.
Sekar dan Yasir duduk di sofa yang berbeda yang tak jauh dari Bed tempat Rili berbaring. Saat berjalan menuju Sofa. Sekar bisa melihat kalau Rili sudah bangun.
Sekar merasa sangat gelisah dan takut, jika permintaannya tidak dikabulkan. Dia meremas-remas jemarinya. Bingung, bagaimana caranya mengatakan kepada pasangan suami istri ini.
"Ada perlu apa Dek? kenapa datang kesini saat larut malam begini?" Yasir kembali bertanya, Dia sungguh penasaran. Kenapa Adiknya Rival ada di rumah sakit dan menemui mereka.
"Ibu, Ibu saya ingin bertemu dengan Kak Rili." Ucapnya dengan terbata-bata. Menatap Rili yang kini sudah duduk di atas Bed, dengan raut wajah mulai panik dan ketakutan. Dia tidak mau melihat Ibu Durjanna, saat ini. Ibu Durjanna sudah menjadi momok yang sangat menakutkan buatnya.
"Kalau Adek meminta itu, Abang tidak bisa mengabulkannya. Adek Sekar tahu sendirikan bagaimana perlakuan Ibu kalian kepada istri saya. Saya tidak mau istri saya terganggu kesehatannya karena berjumpa dengan Ibu kalian." Ucap Yasir tegas, menatap lekat Sekar yang menampilkan ekspresi wajah penuh harap.
Yasir menghela napas dalam, menahan gejolak emosi yang siap meledak. Dia yakin, Rili pingsan tadi siang, ada hubungannya dengan Ibu Durjanna. Dia tidak mau ambil resiko lagi dengan mempertemukannya dengan wanita tua yang menyebalkan itu.
Bahkan Yasir akan menjauh dari keluarga Rival. Dia tidak mau membuat istrinya setres dengan bayang-bayangan masa lalu saat hidup bersama Rival.
__ADS_1
Seharian ini Yasir sudah memikirkan semuanya. Hubungan kerja sama dalam usaha mereka pun setelah habis kontrak. Yasir tidak mau memperpanjang nya lagi dengan perusahaan Rival.
Yasir bukan mau memutus tali silaturahmi. Tapi, akan lebih baik, jika Rili tidak pernah bertemu lagi dengan mantan suami dan semua keluarganya.
Air mata Sekar kembali jatuh, Dia berjalan ke arah Yasir yang duduk dihadapannya. Dia bersimpuh memohon kepada Yasir, agar membawa Rili bertemu dengan Ibunya.
"Tolong Bang, Ibu saya sangat menderita. Ibu saya sedang sakratul maut. Ibu sudah tidak bisa bicara lagi, mungkin menahan sakitnya ruh akan lepas dari badan. Tapi, anehnya nama kak Rili keluar dari mulut Ibu. Jadi kami simpulkan. Kalau kak Rili mau bertemu dengan Ibu. Maka Dia akan lebih muda melewati sakratul mautnya." Ucap Sekar sambil menangis sesunggukan bersimpuh dihadapan Yasir.
Yasir meminta Sekar untuk berdiri, tapi Sekar tidak mau. Sehingga Yasir merasa tidak enak hati.
"Yachay.... kita ke ruangan Bou sekarang." Ucapnya dengan suara menahan tangis. Rili langsung turun dari bed nya. Yasir dengan cepat menghampiri istrinya itu. Dia menahan gerak langkah Rili.
"Richay, kondisi mu sedang lemah. Abang tidak mau, kamu nantinya kenapa-kenapa." Yasir memegang kedua lengan istrinya. Menatap wajah Rili yang sendu itu. Menolak keinginan Rili untuk menjumpai Ibu Durjanna.
"Adek kuat Yachay, Adek tidak mau. Bou mengalami sakit selama itu. Biarlah kami saling bertemu dan maaf memaafkan." Ucapnya langsung memeluk Yasir. Dengan berurai air mata.
Yasir pun akhirnya menyerah, Dia tidak bisa menahan Rili untuk tidak bertemu dengan Ibu Durjanna.
"Tidak usah digendong. Adek masih bisa jalan." Rengek Rili. Dia malu kepada Sekar, karena tingkah Yasir yang selalu ingin menampilkan sikap ramah dan peduli sekali kepada istrinya.
Rili melirik Sekar, yang tidak berani menatapnya. Sekar merasa enggan kepada Yasir dan Rili.
"Baiklah, Adek pakai kursi roda saja." Yasir langsung bergerak, mendorong kursi roda yang ada di dekat kamar mandi.
*
*
*
__ADS_1
Sesampainya Rili di ruang rawat inap Ibu Durjanna. Rival sedang menuntun Ibunya itu melakukan syahadat, melewati proses sakratul maut, yang katanya sangat sakit. Saat kepedihan pencabut nyawa menyerang ruh, rasanya akan menenggelamkan semuanya.
Ruhlah yang ditarik dari badan. Dicerabut dari tiap urat badan, ditarik perlahan dari urat saraf, dari sendi-sendi, dari pokok setiap rambut dan kulit dari ujung kepala hingga tapak kaki. Tergambar betapa menyakitkannya.
Sungguh kematian itu lebih sakit daripada pukulan dengan pedang, gergajian dengan gergaji, dan guntingan dengan gunting."
Ibu Durjanna tetap menutup mulutnya dengan mata melotot ke atas. Dia tidak bisa mengikuti bisikan Rival yang melafazkan syahadat itu. Dia terlalu menikmati proses menyakitkan sakratul maut itu.
Rili berjalan dengan tubuh gemetar dan perasaan yang kacau. Karena rasa iba dan sakit hati bercampur menjadi satu. Rili sudah memaafkan Ibu Durjanna. Tapi, melupakan kejadian pahit dan menyakitkan itu, rasanya sangat sulit.
."Bou--!" ucapannya terhenti, Dia menatap Ibu Durjanna. Yang matanya melotot ke atas dengan mulut terkatup.
Ibu Durjanna menoleh ke asal suara yang dinantikan nya dari tadi.
"Riiilii-- Maafin Bou..!" Ibu Durjanna yang merasa mulutnya susah digerakkan. Akhirnya bisa juga mengeluarkan kata itu.
Rili mengangguk, sebagai jawaban permintaan maaf Ibu Durjanna. Rili menatap lekat wajah Ibu Durjanna yang meneteskan butiran air yang jumlahnya tak sedikit itu.
"Maafin Rili juga ya Bou.!?" Rili memeluk Ibu Durjanna, yang terbaring lemah itu.
Rival pun akhirnya beringsut dari bed ibu Durjanna, berjalan kesebelah Yasir.
Pemandangan yang tersuguh dihadapan mereka terlalu menyedihkan sehingga ruangan itu mendadak hening. Sepertinya manusia yang ada di ruangan itu, sedang menarik dirinya masing-masing memposisikan saat detik-detik ajal menjemput.
Maka bersyukurlah mereka yang meninggal dengan cara mendadak. Jadi Dia tidak merasakan lama proses menyakitkan sakratul maut.
Suasana semakin hening saja di dalam kamar itu. Bahkan Rili yang masih Memeluk Ibu Durjanna, tidak merasakan pergerakan atau hembusan napas tersengal-sengal lagi. Dia pun mengurai pelukannya. Betapa terkejutnya Dia, melihat Ibu Durjanna sudah menutup mata.
Mampir juga say ke novelku yang berjudul
__ADS_1
❤️Suami Pengganti
❤️ Dipaksa menikah Pariban