
Pagi menyapa, sinar matahari menyelinap masuk kedalam sela sela jendela hingga membuat seseorang bangun dalam mimpi indahnya. Dia adalah Mely. Dia mulai membuka kelopak matanya secara perlahan, berharap yang pertama dilihatnya adalah Rival.
Tapi, keinginannya itu tidak terwujud. Karena disaat Dia membuka mata, Dia tidak melihat Rival disisinya. Padahal semalam Rival tidur dengannya berbagi ranjang. Rival menolak tidur di ranjang Mely. Karena merasa Mely akan tidak nyaman berbagi ranjang yang. Tapi Mely memaksanya. Sehingga Rival tidur miring menghadap Mely.
Dengan tidak semangat nya, Mely menyoroti ruang rawat inap itu. Dia hanya melihat Ayahnya, minum teh sambil membaca koran.
"Mana Mama dan Abang Rival Ayah?" ucap Mely masih dalam keadaan berbaring dan melirik ke arah Ayahnya yang nampak santai itu.
"Mama, keluar jalan-jalan pagi. Katanya Dia ingin menghirup udara segar. Sedangkan Rival keluar cari sarapan." Jawab Ayahnya masih sibuk membaca koran tanpa menoleh ke arah Mely.
Mely pun menghela napas dalam, Dia pun turun dari ranjang. betapa terkejutnya Dia mendapati lengannya sudah banyak perubahan, bahkan sakitnya sangat berkurang.
🌻🌻🌻🌻
Di ruang rawat inap kelas ekonomi.
Mama Mely nampak mengintip dari kaca jendela sebuah ruang rawat inap yang di dalamnya begitu banyak terdapat pasien, setidaknya ada 10 pasien di ruangan itu. Yang pembatasnya hanya disekat dengan tirai.
Susana ruangan itu cukup ramai pagi ini. Selain Dokter dan perawat yang datang memeriksa pasiennya. Ada juga sebagian keluarga penghuni ruangan itu yang berkunjung.
Tidak semua penghuni ruangan menutup tirai pembatasnya. Bahkan rata-rata pasien tidak ada yang menutup tirai mereka.
Mama Mely menyoroti ruangan itu. Dia sedang mencari sosok pria yang diceritakan putrinya itu. Deg,... deg.... deg.... Akhirnya kedua matanya mendapati sosok yang diceritakan Mely. Terbaring lemas, dengan wajah bengkak dan memar dan di infus. Tidak ada yang menemani Firman di ruangan itu.
Dengan mata berkaca-kaca, Dia yang masih mengintip dari balik jendela. Menggelengkan kepalanya.
Dia tidak tahan melihat keadaan pria yang menolong Mely yang nampak terluka parah. Tapi, Dia tidak sanggup untuk mendekati pria itu. Sehingga dengan perasaan kacau, Mamanya Mely meninggalkan bangsal itu dengan berurai air mata.
Karena berlari dengan menangis dan tidak melihat jalan. Mamanya Mely menabrak seorang wanita di koridor rumah sakit.
__ADS_1
"Lihat jalan gak sih?" ucap wanita muda kepada Mamanya Mely dengan ketus. Yang membuat Mamanya Mely terperangah dan meminta maaf. Karena Dia merasa tidak perlu berdebat dengan wanita yang ditabraknya.
Mamanya Mely terus berlari menuju taman yang ada di Rumah Sakit tersebut. Dia ingin menenangkan dirinya yang syok itu. Dia duduk di bangku beton yang dinaungi oleh pohon Chaesalpinia Phulcherima. Yang kini sedang berbunga dan sangat cantik dipandang mata.
🌻🌻🌻
Rival masuk ke ruang rawat inap Mely dengan menenteng empat kresek. Dia membawa banyak makanan kesukaan Mely. Ada lontong sayur extra pedas, mie gomak, sate ayam bumbu kacang, nasi, ayam goreng dan rendang daging sapi. Serta tidak lupa Dia membeli buah lengkeng dan juga buah manggis. Yang kebetulan sedang musim. (Ini selera Mely atau selera authornya yang wong Deso?)
Rival sangat menyukai buah manggis. Selain rasanya manis dan daging buahnya lembut.
khasiatnya sangat luar biasa.
"Adek sudah bangun? bagaimana tangannya?" tanya Rival, Dia meletakan makanan di atas meja yang ada di dekat sofa. Kemudian Dia berjalan ke arah Mely.
"Sudah banyak perubahan Bang." Jawab Mely tersenyum.
"Syukurlah, nanti Abang pijat lagi. Sekarang kita sarapan dulu." Rival membantu Mely turun dari bed nya. Dan mendudukkan istrinya itu di hadapan Pak Ali, sedangkan Rival duduk di sebelah Kiri Mely.
"Makanan dari rumah sakit ini enak juga loh Dek." Ucap Rival, memeriksa makanan untuk Mely tersebut. Pak Ali dan Mely melirik ke arah makanan yang disediakan pihak rumah sakit.
"Iya sepertinya enak. Ngomong-ngomong Mama mu koq belum pulang ya? tumben Dia rajin olah raga. Biasanya juga Dia malas." Ucap Pak Ali datar. Dia pun mengambil ponselnya Yanga da di meja tersebut. Dia pun menghubungi istrinya itu.
Mamanya Mely yang sedang melankolis itu, dikejutkan dengan getaran ponselnya di saku baju piyama . Di pun mengangkatnya, yang terlebih dahulu menghela napas dalam.
"Kamu di mana sayang?" Pak Ali nampak mengkhawatirkan istrinya itu. Itu jelas terlihat dari ekspresi wajahnya yang cemas sekarang.
"Ma..ma lagi di taman Ayah. Kan tadi sudah izin mau jalan-jalan pagi. Ayah sih tadi tidak mau ikut." Mamanya Mely berusaha menjawab seceriah mungkin, menyembunyikan masalahnya. Padahal Dia sengaja ajak suami nya itu jalan-jalan, yang jelas Mamanya Mely mengetahui suaminya itu malas diajak olah raga.
"Iya, cepat pulang. Sarapan dulu."
__ADS_1
"Iya Sayang." Mama Mely memutus panggilan. Dia pun berjalan menuju ruang inap Mely yang terlebih dahulu, diriinya mengintip Si Firman.
Dari balik kaca, Mamanya Mely kembali memperhatikan Firman. Saat ini Firman ingin duduk. Tapi, tidak ada yang membantunya. Karena perawat sedang kosong di ruangan itu.
Firman berusaha untuk duduk dengan bersandar di dash board tempat tidur. Dengan menelan ludah secara kasar Mamanya Mely memperhatikan Firman. Dia ingin membantu. Tapi itu tidak mungkin dilakukannya.
Dengan langkah berat, Mamanya Mely pun berjalan pelan menuju ruang Mely dirawat.
Dia membuka pintu dengan berusaha tersenyum. "Akhirnya Mamanya Mely pun, mengajak Rival untuk makan.
Susana saat makan hening. Rival dengan sayangnya menyuapi Mely. Sedangkan Mama nya Mely tidak semangat sama sekali.
"Mama kenapa?" tanya Pak Ali dengan penuh selidik dan bingung. Dia heran dengan istrinya yang tiba-tiba berubah jadi pendiam sejak tengah malam.
"Tidak apa-apa Ayah. Mama hanya sedih mengingat kejadian yang menimpa Mely" Ucap Mamanya Mely sedikit berbohong. Padahal Dia bersedih karena perjalanan hidupnya yang memilukan terlintas lagi di otaknya.
Dia pun menyantap makanan yang ada di atas meja tersebut. Dengan mata memerah, karena habis menangis.
"Sayang, bagaimana keadaanmu." ucap Mamanya Mely kepada putrinya itu.
"Sudah banyak perubahan Ma. Bahkan lengan Mely sudah bisa digerakkan." Ucap Mely tersenyum. Rival merangkul Mely.
"Syukurlah. Mama ingin kita cepat keluar dari rumah sakit ini. Mama ingin kita pulang ke rumah." Ucapnya dengan menunduk.
"Iya Ma. Mely juga ingin kita pulang. Disini tidak asyik, cuacanya sangat dingin."
"Baiklah, kalau Dokter datang. Kita tanyakan apa kamu sudah boleh pulang." Ucap Pak Ali.
"Iya Ayah. Sungguh air liur Abang Rival sangat mujarab."
__ADS_1
TBC