
Akhirnya Rili pun diboyong ke kampung Rival setelah pukul 5 sore, kalau tidak ada halangan di jalan maka, mereka akan sampai di kampung Rival sekitar pukul 21.00 atau 22.00Wib.
Suasana di dalam mobil hening. Yang membawa mobil pengantin kali ini adalah adiknya Rival yang bernama Firman, Dia baru saja lulus kuliah dan langsung mendapat pekerjaan di salah satu perusahaan perkebunan sawit dikota R.
Rili dan Rival duduk di barisan kedua jok mobil tersebut, sedangkan ketiga bibinya Rili duduk di jok belakang dan anak gadis yang merupakan sepupu Rili duduk disamping pak supir yaitu Firman.
Setelah menempuh perjalanan 60 menit, Rival membuka suara di dalam mobil yang hening tersebut.
"Eehhmmmm.... Apa tante-tante sudah pada lapar? atau adik Rina, udah lapar apa belum?" Ucap Rival dengan memutar kepalanya ke arah belakang untuk melihat bibi RIli.
"Kami belum lapar nak," ucap salah satu bibi RIli.
"Kalau kamu dek?" tanya Rival kepada Rili dan memegang tangan Rili spontan.
Rili yang merasa tangannya dipegang, refleks menjauhkan tangannya dari Rival.
"Aku tidak lapar!" jawabnya cepat dan menatap keluar jendela.
Rival yang mendapat sikap cuek dari istrinya tersebut, tidak diambil hati oleh Rival. Rival memang nampak lebih dewasa, karena bisa menguasai emosinya.
"Kamu dek Rina, lapar gak?" tanya Rival kembali dengan tersenyum.
"Lapar bang, lapar banget malah. Oh ya bang, masih jauh gak rumah Abang?" tanya Rina dan memutar tubuh dan lehernya menghadap kebelakang.
"Masih jauh banget dek," jawab firman.
"Oohh..." ucap Rina yang nampak membulatkan bibirnya dan kemudian mengembangkan pipinya.
Kini Firman nampak berhenti disebuah rumah makan, dimana di rumah makan tersebut sudah lengkap dengan mushollahnya.
Rombongan pengantin nampak memasuki Rumah makan tersebut.
Rili sebenarnya malas untuk keluar, Dia lebih memilih untuk di mobil saja. Tapi, itu tidak mungkin. Karena sholat magrib sudah tiba.
Setelah sholat magrib, mereka nampak makan malam di Rumah makan tersebut. Rili duduk bergabung dengan tante-tantenya. Sedangkan Rival bergabung dengan rombongan pengantin dari kampungnya.
Perjalanan dilanjutkan kembali. Melihat penumpang mobil yang pada diam. Maka Firman pun mengajak penumpang di dalam mobil untuk menebak teka-teki.
"Siapa yang bisa menjawab teka-teki dari saya?" ucap Firman dengan tersenyum.
"Hadiahnya apa, kalau Rina bisa jawab bang?" tanya Rina sok akrab terhadap Firman.
"Hadiahnya, nanti Abang kasih buah mangga satu kg." Ucap Firman dengan ramah sambil tetap fokus nyetir.
" Satu kg, itu mah dikit banget," ucap Rina.
"Ya udah, nanti Abang kasih satu karung."
"Apa dikampung kalian banyak mangga nak Firman?" tanya salah satu bibi RIli.
"Banyak Tante, nanti kita suruh Abang Rival yang manjat pohonnya." Ucap Firman.
"Iya kan bang?" tanya Firman.
Rival diam saja, karena apabila Dia ladeni adeknya yang gaul ini, maka aslinya akan keluar. Rival tidak enak hati kepada bibi RIli nantinya.
"Kak Rili, Abang Rival jago manjat loh." ucap Firman.
Rili yang mengkhayal dan menatap keluar jendela yang gelap karena sudah malam diam saja, Dia tidak mendengar jelas perkataan Firman. Dia hanya mengingat kata manjat.
"Kak Rili..... !" panggil Firman.
Lagi-lagi Rili tidak mendengar dengan jelas dan akhirnya Rival menepuk pelan paha Rili.
Mendapat perlakuan begitu dari Rival. Akhirnya Rili sadar dari lamunannya.
"Kak Rili.,"
__ADS_1
"Iya, apa dek?
"Kak Rili tidak dengar ya?"
"Dengar koq dek," ucap Rili mencoba berbaur dengan lainnya.
"kak dengar apa?"
"Abang Rival pandai memanjat...a...ku. Aku dengarnya itu dek." ucap Rili sedikit gugup. Saking gugupnya susunan kalimat dan cara ucapnya bisa disahkan artikan orang.
"Hahahhaha... kalau itu pasti Abang Rival bisa kak!" ucap Yusuf dengan tertawa lepas.
"Firman, jaga sikapmu." Ucap Rival dengan tegas.
"Apa aku salah dengar ya?" tanya Rili.
"Gak koq dek," ucap Rival dan memegang tangan istrinya tersebut yang berada di paha Rili.
Kemudian Rili menarik tangannya dengan pelan dan mengalihkan pandangan keluar jendela.
Rival hanya bisa bersabar dengan sikap dingin istrinya tersebut. Dan kembali duduk menghadap ke depan.
"Teka-tekinya mana bang?" tanya Rina.
"Ok, dengar ya!" ucap Firman dengan ramahnya.
"Apa bedanya sepatu sama jengkol?"
"Kalau itu gampang, jawabannya Kalo sepatu disemir, kalo jengkol disemur." Ucap Rina dengan semangat. Nampak sekali dari gerakan tangan dan kepalanya yang tidak bisa diam.
"Waahhh.. kamu hebat dek Rina," ucap Firman sambil mengacungkan jempol.
"Kamu pasti suka jengkol ya?" goda firman, dengan menatap Rina dan tertawa.
"Suka banget." ucap Rina.
"Ayam apa yang bisa bertelur di gunung, di lembah, di kandang macan, pokoknya di semua tempat?" ucap Firman.
"Hening, tidak ada yang menjawab. Setelah dua menit Rival menjawab.
"Ayam betina." jawab Rival.
"Yup... benar bang.!
Ayo Tante, keluarkan teka-tekinya?" ucap Firman.
"Baiklah.... Apa persamaannya uang dan rahasia?" ucap salah satu bibi Rili yang bernama Rukyah.
Rili yang mendengar teka-teki bibinya tersebut, dibuat terkejut. Dia yang lagi mengkhayal akhirnya terbatuk-batuk.
Kemudian dengan cepat Rival memberi Rili air minum.
"Kamu kenapa dek?" tanya Rival dan menatap wajah Rili yang nampak lelah.
Rili tidak menjawab, Dia hanya diam saja.
Lagi-lagi Rival mendapat sikap dingin dari Rili. Tapi, bukan Rival namanya, kalau Dia tidak bisa menghidupkan suasana.
"Aku tahu jawabannya." kata Rival dengan begitu semangat. Dia lagi menyemangati sendiri dirinya.
"Apa nak?" tanya bibi Rukyah.
"Sama-sama susah dipegang." Jawab Rival.
"Iya nak benar." ucap bibi Rili.
"Sekarang aku yang buat teka-teki." Kata author febriliani.
__ADS_1
"Ada ayam lima, dikali dua. Berapa semuanya?" tanya author.
"Mohon dijawab ya readers teka-tekinya."
🏵️🏵️🏵️
Di kampung Rival, tepatnya pukul 10 malam. Kini rombongan pengantin sudah tiba di depan Rumah Rival. Nampak kampung yang biasanya sepi itu dikala malam menjadi ramai. Karena, adat dikampung tersebut setiap ada pengantin yang datang, maka seluruh warga akan datang dan berkumpul di rumah yang punya acara, untuk melihat pengantin wanita.
Rili, tante-tantenya serta Rina adik sepupunya kini sudah turun dari mobil.
Salah satu wanita paruh baya yang merupakan keluarga dari Rival langsung menyambut Rili dan memandunya untuk masuk ke rumah Rival yang terbuat dari kayu dan model rumah panggung tersebut.
Disaat Rili melangkah menuju rumah Rival, langkahnya dihentikan ibu tua.
"Ini kenapa rok yang kamu pakai naik sedikit, kenapa tidak seimbang bagian bawahnya, nampak jelek. Pakai rok koq gak becus." Ucap wanita tua itu dengan sangat kesal sambil memegang rok Rili yang seperti bergulung dan berlipat ke dalam itu.
Orang-orang yang mendengar ucapan ibu tua itu langsung matanya tertuju kepada Rok Rili yang naik seperti bergulung itu. Memang songket yang dipakai Rili berbahan kaku. Entah kenapa disaat Rili berjalan. Roknya seolah nampak bergulung kedalam.
Rili sangat malu, karena semua mata tertuju padanya. Dia menunduk.
"Udah kak, menantu baru datang dan belum masuk ke rumah sudah direpetin." Ucap ibu tua yang menuntun Rili untuk menaiki tangga kayu menuju pintu masuk rumah Rival.
Rili yang mendengar ucapan ibu tua itu, dibuat terkejut. "Inikah ibu mertuaku?" gumam Rili dalam hati dan kini matanya melihat dengan jelas wajah ibu mertuanya yang berada di depannya tepatnya di depan pintu.
"Kaki kanan duluan yang melangkah ya nak, terus ini pelepah pisang kamu pijak dan kemudian kamu melangkah terus ke ruang tamu dan jangan melihat kebelakang lagi." Ucap Ibu tua yang ternyata adalah adik perempuan ayah nya Rival, yang menuntun Rili berjalan tadi.
Rili diam saja, hatinya sangat bingung sekarang. Hanya badannya saja yang ditempat itu. Pikirannya melayang kemana-mana.
"Kalau orang tua itu ngomong dijawab, jangan diam saja." Ucap mama Rival.
Duarrr..... Rili merasa jantungnya sekarang sudah meledak, sakit....nyeri. Badannya terasa mau ambruk. Ternyata mertuanya mempunyai mulut yang pedas. Beda sekali dengan anaknya Rival.
Dia lelah, lelah sekali. Mendapati ibu mertua seperti itu membuat Dia makin terpuruk.
Kini Rili didudukkan di ruang tamu yang bersandar ke dinding rumah papan, dan Rivalpun sekarang nampak duduk disebelah kanan Rili.
Sudah tradisi dikampung Rival setiap ada anak yang menikah di rumah itu, maka seluruh warga akan berkumpul menyambut pengantin baru dan akan makan bersama. Setelah itu, para tokoh masyarakat memberi wejangan mengenai kehidupan rumah tangga.
Suasana hati Rili sekarang sangat kacau, pikirannya jauh menerawang. Bagaimana kelanjutan pernikahannya yang tidak dilandasi cinta dan mendapati mertua yang sepertinya menyebalkan.
Selama acara perkenalan mempelai wanita ke semua warga, yang dilakukan Rili kebanyakan diam. Mulutnya mengeluarkan suara, jika ada pertanyaan yang dilontarkan padanya.
Acara penyambutan pengantin pun telah selesai, warga sudah pada pulang ke rumah masing-masing. Yang tinggal di rumah Rival sekarang hanyalah beberapa saudara dari ayah dan ibu Rival yang memilih menginap di rumah Rival, karena besok pagi masih ada acara makan bersama bersama orang sekampung.
Waktu menunjukkan pukul 00.30 wib. Kini nampak Rili, tante-tantenya dan Rina nampak memasuki sebuah kamar, yang katanya kamar yang akan ditempati Rili.
Kamar itu sangat sempit. hanya berukuran 2x2,5 m. Dikamar itu ada lemari kayu satu pintu dan ranjang terbuat dari kayu yang berukuran 6 kaki. Tempat tidur itu saja sudah memenuhi kamar tersebut. Jadi sisi tempat tidur itu sudah mentok ke dinding kamar. Ruangan yang tersisa hanya sedikit saja, di dekat pintu masuk kamar.
Tante Rukyah memeluk Rili yang sedang duduk di atas tempat tidur.
"Sabar ya nak, sudah takdirmu seperti ini. Ikhlas, Tante berdoa untuk kebahagiaanmu." Ucapnya dengan begitu sedihnya. Nampak air mata jatuh dari mata tantenya tersebut.
"Iya Tante, Rili mohon. Jangan ceritakan hal-hal yang buruk mengenai keadaan disini. Rili, takut ayah dan mama jadi sedih." Ucap Rili dan masih memeluk tantenya. Air mata jatuh ke pipi indahnya, tapi tidak ada isakan. Hatinya sangat sakit.
Kedua Tante Rili lainnya dan sepupunya Rina juga nampak sedih, mereka tidak menyangka bahwa ibu Rival bisa bersikap seperti itu di awal pertemuan, bagaimana nasib Rili kedepannya.
"Kak Rili, Rina mau pipis nih. Temenin ke kamar mandi yuk?" ajak Rina.
"Ayok, kak juga sekalian mau berwudhu." Jawab Rili.
Kini Rili dan Rina keluar dari kamar menuju dapur. Saat mereka keluar kamar, mereka melihat orang banyak.
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan like, coment, vote, rate dan jadikan novel ini sebagai favorit.
Terima kasih
__ADS_1