
...❤️****SATU TAHUN KEMUDIAN ❤️...
Tin tin....tin tin... tin..tin... Suara klakson mobil terdengar nyaring terdengar disekitar pekarangan rumah dan masih terdengar jelas sampai ke dalam rumah.
Nampaklah sebuah mobil Merk Honda Jazz warna merah memasuki gerbang.
"Mama--Mama----!" suara anak kecil yang berjenis kelamin perempuan, selalu terdengar nyaring ditelinga. Suara khasnya yang centil saat memanggil Mamanya, membuat setiap orang yang mendengar jadi gemes. Karena anak perempuan itu paling semangat disaat , melihat kedatangan mobil Mamanya.
Melihat Mamanya keluar dari mobil, anak kecil itu, Meronta-ronta dari gendongan Baby sitter nya. Dia sudah tidak sabar untuk memeluk dan menciumi Mamanya serta minta Nennen (Menyusu pada ibunya) yang seharian ini tida nampaknya.
Anak kecil itu mengoceh tidak jelas. Karena, Babysitter nya masih menahan tubuhnya yang berontak dari gendongannya. Anak perempuan kecil itu, ingin berlari menghampiri Mamanya yang berjalan ke arahnya.
Saat ini mereka sedang berdiri di beranda rumah. Baby Sitter itu, Mengajak anak perempuan kecil itu bermain, sebelum mereka pergi ke Mall.
"Lepaskan aja Dia Feb!" Suara Ibu dari anak perempuan itu terdengar sedikit keras. Karena jaraknya dengan anaknya masih jauh. Dia masih mengambil barang-barang nya dari mobil yang sudah terparkir di bawah kanopi.
Kukek---Kukek--kukek---- Begitulah suara sepatu anak perempuan kecil itu terdengar jelas disaat kaki mungilnya melangkah. Dia berlari dengan cepat, sudah tidak sabar berada didekapan Mamanya. Setelah Baby sitternya melepasnya. Yang kemudian diekori Babysitternya yang bernama Febri.
"Mammaa----mama---!" ucap Anak kecil itu lagi. Mamanya kini berjongkok dihadapannya, merentangkan kedua tangannya untuk menyambut buah hatinya yang cantik dan menggemaskan itu.
Anak gadis kecil itu langsung memeluk Mamanya. Menghadiahi ciuman di pipi kanan dan pipi kiri, serta Dia tidak akan melewatkan mencium bibir Mamanya.
"Nen---Nen-- Ma, Men nen Ma." Ucap Anak Batita itu, sambil mencoba membuka kancing kemeja yang dipakai Mamanya. Sungguh putri kecilnya itu. Tidak sabar, untuk menyusu kepada Mamanya, yang seharian ini tidak d
nampaknya.
"Sabar sayang, kita Nen nya di dalam kamar saja ya?" ucap Ibu si anak, Dia meraih tangan mungil anaknya yang berusaha membuka kancing kemejanya di bagian dada. Tapi, namanya anak-anak tidak akan berhenti, kalau keinginannya tidak terkabul.
Akhirnya Ibu si anak, berhenti di sebuah gazebo halaman depan rumahnya. Dia duduk dipojokan sambil memangku anaknya. Mulai menyusui putri kecilnya itu, yang tidak sabar untuk menunggu masuk ke dalam rumah.
"Aaauuwww... Sayang, kenapa digigit, Nen Mama?" Ibu si anak heran kelakuan putrinya. Seminggu terakhir ini, putri kecilnya itu, sering menggigit puti*ng Ibunya tersebut. Disaat Ibunya protes, maka si anak akan tertawa, kemudian melanjutkan kegiatannya menyusu. Sambil menghentakkan kakinya. Dia suka sekali menggoda Mamanya.
"Kalau Nona mau, Raina diberhentikan saja menyusunya. Dia juga sudah makan dengan lahap Non." Ucap BabySitter si anak. Dia sedang berdiri menutupi tubuh majikannya, agar tidak terlalu jelas nampak sedang menyusui.
"Gak apa-apa lah Feb, tunggu sampai mereka berusia dua tahun saja." Ucap Ibu si anak. Dia sedang menahan jari mungil anaknya, yang selalu memegang hidungnya. Disaat menyusu. Hal itu kadang membuat Ibu si anak sedikit jengkel, Karena tingkah putri kecilnya itu.
"Rai,,, uah shantikaa memaapuna keong singsungsengity emnuuaahah arah ahh.." Ucap anak itu dengan semangatnya, menggunakan bahasa planet. Setelah Dia selesai menyusu kepada Mamanya. Dia berdiri dihadapan Ibunya. Bergoyang dan berputar-putar, kedua tangannya, menyentuh pakaian yang dikenakannya. Dia sedang memakai gaun warna pink. Yang membuat Anak kecil perempuan itu semakin cantik saja. Dia ingin memamerkan gaun barunya. Yang baru dibelikan oleh Neneknya.
Mamanya yang mengerti semua apa yang diucapkan putri kecilnya itu. Kembali memeluk putrinya, setelah Dia merapikan kemejanya.
__ADS_1
"Iya sayang, bajunya cantik. Putri Mama semakin cantik saja." Ucap Ibu Si anak. Walau bahasa yang diucapkan anak itu adalah bahasa planet. Tapi, orang yang mendengar nya akan mengerti. Maksud ucapan si anak. Karena Dia bicara sambil menggerakkan tubuhnya.
Anak kecil itu kembali menciumi pipi Mamanya. Karena, Ibunya memintanya menciumnya lagi. Tanpa mereka sadari, sejak dari tadi ada sepasang mata sedang memperhatikan mereka dari luar pagar rumah dengan mata sendunya. Pagar rumah yang terbuat dari kayu dan tingginya hanya satu meter, membuat aktivitas di beranda rumah dan taman belakang jelas terlihat dari jalan lintas depan rumah mereka.
"Princes Mama cantik banget hari ini?" ucap Ibu dari anak perempuan kecil itu, membalas ciuman putrinya dan mengusap lembut gaun putrinya pada bagian perut buncit gadis kecil itu. Bobot tubuhnya yang sudah 12 kg itu membuatnya nampak gemesin.
Dia pun membawa putrinya ke dalam rumah dalam gendongannya. Selama perjalanan menuju ke dalam rumah, putri kecilnya itu tidak berhenti mengoceh. Sungguh putri kecilnya itu sangat cerewet. Sepertinya kelakuan anaknya itu menurun dari Ibunya.
"Pung---pung---!" teriak putri kecil itu, dalam gendongan Mamanya. Dia ingin diraih dalam dekapan Ompungnya juga. Karena melihat Ompungnya mengejar-ngejar Abangnya, yang dalam keadaan polos. Karena setelah mandi. Tidak mau memakai bajunya.
Suasana rumah nampak ramai dan kacau karena tingkah si kembar.
"Mely, kenapa kamu lama sekali pulangnya? kamu sudah tahu kan sore ini kita mau ajak si kembar main ke Mall." Ucap wanita yang melahirkan Mely itu. yang tak lain adalah Mama Maryam.
Mama Maryam yang sedang duduk di sofa dengan perut buncitnya. Memegang pakaian cucunya Raynan. Yang dari tadi tidak bisa dipakai. Karena si Raynan, selalu berlari kesana kemari. Setelah selesai mandi. Itulah kebiasaan anak kecil itu, setelah pandai berjalan. Diusianya sepuluh bulan, anak itu sudah pandai berjalan. Sedangkan adik perempuannya, diusia 9 bulan sudah bisa berjalan.
Walau anak kembar itu, ada yang menjaganya. Tapi, kedekatan antara Maryam, Firman dan kedua cucunya sangat lengket. Apalagi Raynan dengan Firman. Raynan begitu senang bermain dengan Firman Ompungnya. Firman merangkap jadi dua peran yaitu sebagai Kakek dan Ayah untuk cucunya.
Firman dan Maryam, yang berasal dari suku Batak. Memilih cucunya memanggil mereka dengan sebutan Ompung. Padahal, Rival adalah keturunan Melayu bercampur Banglades dari nenek moyang Pak Ali.
Raina putri kecil yang gemesin itu, karena bobot tubuhnya yang padat. Kini sudah berada di gendongan Ompung Dolinya yaitu Firman. Mereka sedang mengejar-ngejar Abangnya Raynan, yang tidak mau pakai baju itu. Sehingga anak itu lelah dan akhirnya tersungkur juga di pangkuan Ompung Borunya yaitu Mama Maryam.
"Ayo kamu mandi, anak-anak sudah tidak sabar untuk keluar." Ucap Maryam, menatap putrinya Mely. Yang nampak lelah sedang menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Mely disini saja Ma. Mely capek banget, seharian ini meninjau perkebunan strawberry yang akan kita buka. Badan Mely rasanya capek banget." Ucapnya malas, memijat pelipisnya dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya sambil menguap.
"Kamu selalu begitu, selalu tidak ada waktu untuk bermain ke luar bersama si kembar." Ucap Mama Maryam, Dia pun beranjak dari tempat duduknya. Mengambil tas nya dari kamar.
"Iya Ma. Ini semua kan Mely lakukan untuk masa depan si kembar. Untuk kehidupan baru kita yang indah, tanpa air mata." Ucapnya lemah, berusaha menutupi hatinya yang kesepian. Kini purltrinya berjalan ke arahnya. Dia pun mengangkatnya ke pangkuannya.
"Pa...pa...Pappa...papappa...!" anak itu berceloteh lagi. Mendengar kata itu keluar dari mulut mungil itu, membuat hati Mely sedih. Putrinya itu sering mengatakan kata itu setelah berusia enam bulan. Entah siapa yang mengajari. Perkembangan putrinya itu memang sangat luar biasa. Di usia enam bulan, Dia sudah mengerti dimarahi, mengerti dicueki dan sangat pandai mengambil hati.
"APa sayang? Papa, papa?" ucap Mely dengan mata berkaca-kaca. Dia kasihan melihat anak-anaknya yang tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang Ayah itu. Tapi, mau bagaimana lagi. Karena keegoisan hati yang dituruti. Anak-anaknya akan kehilangan figur seorang Ayah.
"Yaa..ya.. Papa---papa---!" ucap Raina lagi dalam rengkuhan Mamanya.
"Iya, iya sebentar lagi kamu akan punya papa baru. Ayo sayang, Pung gendong." Maryam langsung meraih Raina dari atas pangkuan Mely. Kemudian Dia menyerahkannya kepada Febri.
Kini Febri sudah berada di beranda rumah. Memperhatikan mobil pick up yang dari dua jam lalu terparkir di depan pagar rumah mereka.
__ADS_1
"Nyonya, itu mobil siapa ya? dari tadi, nangkring terus disana?" ucap Febri kepada Mama Maryam yang duduk di kursi sambil memegang si Raynan.
Semua mata tertuju kepada mobil pickup yang dimaksud Febri. Mobil Pickup yang baknya terbuka itu. Nampak seperti pengangkut barang.
"Paling juga, mobil yang mau angkut sayur kol dan wortel milik kebun sebelah." Ucap Mely, kini anak laki-laki nya sudah berada di gendongan nya. Anak itu kembali meraba-raba dada Mely. Meminta menyusu.
"Nanti malam saja ya Nak Nen nya. Kalian kan mau main bum bum---!" ucap Mely penuh dengan kasih sayang, sambil mencium pipi anaknya yang tembem. Kedua anak kembarnya tumbuh subur. Yang membuat Mely merasa berat kalau terlalu lama menggendong nya.
Mereka sedang menunggu Ompung Firman mengeluarkan mobil dari garasi.
"Ayo.... Come On....!" ucap Firman dari dalam mobil, sambil membunyikan klakson. Yang membuat kedua anak kecil itu, berontak dari gendongan Mamanya, serta Febri. Mereka ingin berlari masuk duluan ke dalam mobil. karena akan berebut, untuk mendapatkan posisi dibelakang kemudi. Karena anak kecil itu, sangat senang memegang setir dan menganggu Ompungnya nyetir.
Akhirnya mereka pun pergi, meninggalkan Mely sendirian di rumah, karena pembantu mereka saat ini pun Sedang membantu pekerjaan, di perkebunan strawberry yang baru Mely buka.
Mely kembali memperhatikan mobil pickup yang Febri bilang. Dia heran juga, mobil itu sepertinya bukan mobil pengangkut barang. Tapi, Dia tidak mau ambil pusing. Dia merasa sangat lelah Dia Ingin mandi, agar tubuhnya kembali segar, dan Dia mengistirahatkan tubuhnya sebentar menunggu waktu Magrib tiba.
Tin nong tin nong tin tin....nong--
Suara bel rumah terdengar sangat jelas di dalam rumah itu. Saat ini Mely baru saja keluar dari dalam kamar mandi dan Dia hanya mengenakan jubah mandi.
Tin nong tin nong tin tin--- nong--
Suara Bel rumah yang berbunyi tidak sabaran itu, mengurungkan niatnya untuk berganti pakaian. Jadilah Dia keluar kamar dengan mengenakan jubah mandi.
Walau merasa sedikit tidak enak an menjumpai tamu dengan jubah mandi. Tapi, bel yang berbunyi terus, membuatnya bingung. Pakai baju atau tidak? Sehingga Dia memutuskan melihat tamu dengan pakai jubah mandi. Tentunya Dia akan mengintip sila tamunya itu dari kaca berbentuk bulat di tengah pintu rumahnya yang kokoh dan lebar itu.
Tin nong--tin nong-tin---nong
Suara bel rumah semakin keras terdengar, karena saat ini Mely sudah sampai di ruang tamu.
"Iya, sebentar." Ucapan Mely, membuat si tamu menghentikan aksinya menekan tombol bel.
Mely membuka kunci pintu rumah.
"Iya, sebentar---!" ucapannya ramah dan melupakan rencananya untuk melihat siapa tamu yang datang, dari lubang kaca pintu itu.
Blushhhh brakk...
Pintu terbuka setengah.
__ADS_1
TBC