Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Gara-gara ayam


__ADS_3

"Udah dari tadi Bou siap. Ayo jalan!" ucap Ibu mertua Rili dengan menepuk punggung Rili yang membuat Rili terkejut. Dia nampak memengangi dadanya saking terkejutnya.


Rili mengendarai sepedanya dengan gugup, Dia begitu takut melakukan kesalahan yang akan membuat mertuanya marah.


Setelah setengah perjalanan Rili dibuat terkejut dengan mertuanya yang menepuk kembali punggung Rili.


"Aauuwww.... !" Rili histeris karena terkejut. Dia takut sekali. Sepeda yang dikendarainya oleng hilang keseimbangan, tapi masih bisa dikendalikan oleh Rili. Sempat mereka terjatuh, habislah Dia di amuk oleh Bou nya yang gak punya perasaan itu.


"Kamu udah masak?" tanya Bou Rili dengan suara keras.


"Iii..yaaa Bou," jawab Rili gugup dan kembali fokus melihat jalan.


"Baguslah, kita langsung ke ladang. Bantuin Bou panen sayur. Besok mau dijual ke pasar." Ucap Bou Rili.


Karena saking takutnya sama mertua, Rili menjawab pelan permintaan Bou nya tersebut. Yang membuat Bou nya emosi kembali.


"Kamu dengar kan?" ucap Bounya dengan kesal.


"Punya parumaen, tapi tukkikon!" umpat Bou nya Rili. ( punya menantu, tapi tuli ) Tukkikon itu adalah sejenis penyakit infeksi pada saluran telinga yang berisi nana. Biasanya kalau sudah seperti itu. Pendengaran pasti terganggu.


"Iya Bou." Jawab Rili lembut.


Rili dan mertuanya sudah sampai di rumah, Dia memarkir sepedanya disamping rumah, dan Bou nya meletakkan kadangannya di bale-bale dihalaman rumah mereka dan mereka berjalan ke kebun sayur Rival.


Rili nampak cekatan dan cepat membantu mertuanya memanen sayur kangkung, bayam, 🍆, kacang panjang, cempoka, cabe rawit. Sedangkan Bou nya bertugas mengikat sayur-sayuran tersebut.


Kyeukkkk....kyeukkkk...kyeuk....


Rili seperti mendengar suara monyet. Dia menoleh ke asal suara yang berasal dari pohon kapas yang berada di depan Rili sekitar 5 m dari tempatnya berdiri. Dia kembali mendengar suara monyet tersebut yang ternyata sedang menggantung di dahan pohon kapas.


Monyet tersebut meloncat kesana-kemari, setelah Rili mengetahui keberadaannya.


monyet itu akhirnya berdiri di dahan paling bawah, Monyet itu menatap Rili dengan lamat-lamat. Rili gemetar. Dia sangat takut melihat monyet itu, seolah-olah monyet tersebut mengintainya.


Karena ketakutan, Rili berlari terbirit-birit meninggalkan kebun tersebut. Bou nya yang memanggil-manggilnya tidak dihiraukannya lagi.


Bruugghhh.....


Rili menabrak Rival yang sedang bertelanjang dada, dengan handuk melilit di pinggang dan tangan kanannya menenteng tempat sabun. Rival ingin mandi ke kamar mandi umum. Jadi saat Dia keluar dari pintu dapur. Rili datang berlari dari belakang rumah.


Karena Rili yang berlari terlalu kenceng, sehingga Rili hampir terpental karena bertabrakan dengan tubuh Rival yang kekar. Tapi, Rival menahan tubuh Rili dengan tangannya dengan cepat, sehingga tempat sabun terjatuh di tanah. Dan Rival menangkap tubuh Rili dan memeluknya.


Ternyata kejadian tersebut membuat Ibu mertuanya Rili berang. Dia beranggapan Rili tidak tahu malu dan tidak tahu tempat, kenapa Dia harus berpelukan di tempat terbuka.


"Rili...!" bentak Ibu mertuanya yang datang dari arah kebun.


Rival dan Rili menoleh ke arah suara, tetapi Rival belum melepas pelukannya dari Rili.


"Apa-apaan kalian ini, kalau dilihat orang bagaimana? lepaskan suamimu?" ucap Ibu Rival dengan suara keras dan memberi kode dengan tangannya agar mereka melepas pelukannya.


"Yang memeluk bukan Aku, kenapa pula harus Aku yang melepaskannya. Semua salah terus dimata mertuaku ini." Gumam Rili dalam hati sambil menoleh ke arah mertuanya yang masih berdiri dibelakangnya, kemudian Rili menatap Rival suaminya. Dia berontak kecil, sehingga Rival melepaskan pelukannya, dimana kedua tangannya membelit pinggang Rili.


"Bu, Dia istriku. Kalau ada orang yang lihat ya tidak apa-apa lah Bu." Jawab Rival sambil memungut tempat sabun yang sempat terjatuh, dimana sebagian isi dari tempat sabun itu keluar dari wadahnya.


"Ini kampung nak, tidak bagus dilihat orang kelakuan kalian tadi. Kalau mau bermesra-mesraan hanya boleh diruangan yang hanya ada kalian berdua." Ucap Mama Rival dengan berkacak pinggang.


"Udahlah Bu, hal sepele seperti itupun di ributkan. Udah ah, Aku mau mandi." Ucap Rival sedikit kesal dan berjalan menuju kamar mandi umum. Dia yang sudah lelah pulang kerja, Mamanya masih saja marah-marah yang membuat mood jadi rusak.


Rili masuk ke dalam Rumah. Melalui pintu dapur, Dia melihat Amangboru nya sedang berdiri di depan meja makan. Seperti sedang membuat minuman.


"Amangboru mau buat apa?" tanya Rili tersenyum sambil berjalan mendekat ke Amangboru nya.


"Mau buat Teh manis." Ucap Amangboru Rili yang kini nampak sedang mengambil gula.

__ADS_1


"Aku aja yang buatin ya Amangboru!?" pinta Rili.


Amangboru nya hanya tersenyum menjawab permintaan menantunya tersebut. kemudian pria tua itu. Keluar rumah dari pintu dapur menuju balai-balai bambu yang terdapat dihalaman rumah Rival.


Rili membuatkan 2 gelas teh manis. Dia berjalan menuju balai-balai. Rili berpapasan lagi dengan Rival yang sudah selesai mandi. Rival tersenyum kepada istrinya yang membawa 2 gelas minuman tersebut diatas nampan.


"Ini Amangboru silahkan di minum," ucap Rili dan ikut duduk di balai-balai Dia duduk agak jauh dari Amangboru nya.


"Iya maen, terima kasih ya!" jawab Amangboru Rili lalu meniup-niup pelan teh manisnya. Kemudian menyeruputnya sedikit karena masih panas.


"Amangboru mau makan mie?" tanya Rili dan melihat ke arah Amangboru nya.


"Iya, kebetulan Amangboru agak lapar." Jawabnya dengan tersenyum.


"Bentar ya Amangboru." Rili berjalan menuju dapur masuk dari pintu samping.


Sebelum masuk ke dalam dapur, Rival memanggilnya dan meminta diambilkan juga mie goreng buatnya.


Rili melihat ke arah suaminya dan mengganguk.


Rival kini duduk disebelah kiri Ayahnya. Rival nampak fresh dan sangat tampan. Dia memakai kaos berwarna putih lengan pendek, dan memakai sarung yang dibelit di pinggangnya.


Ya, kebiasaan mereka sebelum dapat waktu sholat magrib. Mereka akan menikmati sore hari duduk-duduk di balai-balai di halaman rumah.


Kini Rili membawa dua piring mie goreng ke balai-balai. Amangboru dan suaminya menerima piring tersebut.


"Terima kasih ya dek. Sepertinya enak sekali." Puji Rival dengan memberi senyuman yang begitu manis.


"Iya bang.," Rili kembali duduk di balai-balai, dengan jarak sekitar setengah meter dibelakang Rival. Sedangkan Rival dan Ayahnya duduk dipinggir balai-balai menghadap jalan.


"Enak banget Maen mie nya." Puji Amangboru Rili. Rili pun tersenyum menanggapi pujian mertuanya itu.


"Nak, coba kamu buat lamaran ke perkebunan yang kalian dodos tadi." Ucap Ayah Rival dan melihat ke arah anaknya yang lagi menikmati mie goreng buatan Rili.


"Emangnya kenapa Ayah?" tanya Rival dan tetap menyantap mie gorengnya tanpa melihat Ayahnya.


"Dek, Abang boleh gak minta nambah mie nya?" tanya Rival dan menatap ke arah Rili.


"Oohh.. iya bang," jawab Rili, tangannya bergerak mengambil piring dari tangan Rival bekas mie Rival yang sudah ludes. Rilipun berjalan ke dapur.


"Tidak ada gunanya jatuhkan lamaran kerjaan disitu Ayah. Mana mungkin Rival diterima. Pasti syaratnya itu nanti minimal harus S-1, umurnya pun ditentukan. Dari syarat yang dua itu aja Rival udah kalah. Biasanya yang begituan pakai nepotisme juga itu Ayah." Ucap Rival sambil mengangkat kaki kanannya dan diletakkan di atas kaki kirinya sambil menggoyang-goyangkannya.


"Tadi Ayah dapat infonya di kedai kopi, saat Ayah baru pulang Menderes. Katanya pemilik perkebunan itu akan melakukan tes nya hari Kamis. Jadi kalau kamu mau besok masih diterima surat lamarannya." Ucap Ayah Rival mencoba menyakinkan putranya.


"Gak usahlah Ayah, toh Rival kan kerja juga di perkebunan itu memanen sawitnya."


"Iya, tapi kamu bukan karyawan di perkebunan itu. Kalian kan pekerja lepas." Ucap Ayah Rival.


"Terus info yang beredar, pemilik perkebunan itu ternyata punya usaha perhotelan dan Pariwisata juga di kota Sib*lga. Bukannya kota itu kota asalnya nak Rili nak?" tanya Ayah Rival.


Rili nampak datang membawa mie pesanan Rival.


"Koq lama dek?" tanya Rival. Dia meraih mie gorengnya dari tangan Rili.


"Tadi ibu minta dibuatin teh susu telor Bang, makanya lama." Ucap Rili dan kembali duduk di balai-balai.


"Nak Rili kota kelahirannya di Sib*lga kan?" tanya Amangboru nya dengan menatap Rili.


"Iya Amangboru, emang kenapa Amangnoru?" tanya Rili dengan wajah sedikit bingung. Alisnya nampak tidak seimbang karena mata Rili sebelah kiri sedikit naik ke atas.


Percakapan ketiganya berhenti, setelah Bou nya Rili mengingatkan bahwa waktu sholat Maghrib sudah tiba.


"Dek, sholat berjamaah di Mesjid aja ya?!" ajak Rival. Dia pun berjalan menuju Mesjid disamping rumahnya. Rival pun mengumandangkan suara Adzan yang begitu merdu dan syahdu. Sedangkan Rili mengambil mukena ke dalam kamar.

__ADS_1


Setelah selesai sholat Maghrib. Rili nampak menata makanan di atas tikar yang digelar dilantai ruang dapur.


Ternyata Adik Rival yang bernama Mila datang berkunjung satu keluarga. Dia punya anak kembar, yang berusia sekitar 9 tahun, tapi wajah kedua anaknya yang kembar itu sedikitpun tidak ada kemiripan. Yang namanya Farhan kulitnya putih, tinggi dan nampak ganteng dan yang namanya Fahrin kulitnya hitam, kepala peyang, tubuhnya pendek, tapi punya kepribadian yang menyenangkan. Dan suami Mila namanya Amrin yang tak lain tuturnya Rili harus manggil Opung Bayo kepada suami Mila.


Mereka duduk dengan melingkar. Rili duduk disebelah kanan Rival.


Akhirnya mereka makan dengan khidmat. Mungkin karena masakan Rili yang enak semuanya jadi terlena. Akhirnya Fahrin anaknya Mila mengeluarkan suara.


"Enak banget semur ayam Nantulang." Puji Fahrin dan tersenyum kepada Rili. Rili pun tersenyum menanggapi pujian berenya itu.


"Aku ada teka-teki nich Nantulang!" ucap Fahrin kepada Rili.


"Apa itu bere?" tanya Rili tersenyum.


"Kalau makan jangan bicara." Ucap opung si Fahrin yang tak lain Bou nya Rili.


"Aku dan Nantulang udah siap makan opung, jadi kami bisalah cerita. Iyakan Tulang?" tanya Fahrin kepada Rival.


"Iya boleh." Jawab Rival sambil melanjutkan makannya.


"Ayam, Ayam apa yang bikin galau?" tanya Fahrin kepada Rili.


Rili berpura-pura berpikir dengan menunjuk-nunjuk kepala dengan jarinya.


"Eehhmmmm... Apa ya?" ucap Rili. Dia memang tidak tahu jawabannya.


"Ada yang tahu?" tanya Fahrin dan menatap seluruh anggota keluarga yang sedang makan malam.


Semuanya nampak diam. Termasuk Mila, Anaknya satu ini agak konyol. jadi tidak ada gunanya menegurnya untuk diam.


"Ayam, ayam apa yang bikin galau?


Jawabnya.. Ayam, sorry ku tak kan love you lagi" ucap Fahrin menirukan lagi salah satu band favoritnya.


Semuanya ketawa kecil, kecuali Bou nya Rili.


"Baiklah, karena tulang sudah selesai makan. Maka tulang akan kasih teka-teki buat Nantulang kalian. Kalau Nantulang kalian tidak bisa jawab. Maka yang bisa jawab, Tulang kasih uang jajan untuk besok." Ucap Rival dengan tersenyum kepada Rili yang disampingnya.


"Teka-tekinya adalah...


"Ayam, ayam apa yang bikin bahagia?" tanya Rival kepada Rili.


Rili diam saja, Dia memang tidak tahu jawabannya.


"Aaaa..ku tidak tahu bang." Jawab Rili gugup karena Bou nya sedang menatapnya tajam. Rili pun akhirnya menundukkan kepalanya.


"Kamu Fahrin bisa jawab?" tanya Rival.


Fahrin menggeleng. "Gak ada yang bisa jawab ya? baiklah Tulang akan menjawabnya." Ucap Rival sambil melihat ke arah Rili yang menunduk. Rival meraih dagu Rili hingga Rili bisa menatap mata Rival.


"Ayam falling in love with you!" ucap Rival dengan menatap lekat mata Rili.


Rili sangat terkejut mendengar ucapan Rival. Hingga ia terbatuk-batuk. Dia pun menepis tangan Rival dari dagunya.


"Haihaaihai..... Sok romantis Tulang ini, kami disini jadinya mau muntah lihat tingkah Tulang." ucap Fahrin yang kocak sambil tertawa.


Jelas saja, ada dua orang yang mukanya sekarang seperti setan bertanduk yang siap menyeruduk yang tak lain adalah Bou dan Eda nya Rili.


Bersambung..


Mohon beri like, coment positif, vote, rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.


Author akan sangat senang dan semangat menulis jika dapat Vote.

__ADS_1


Dan gabung ke group chat author ya kakak2 Tersayang. Di group kita bisa saling sharing.


Terima kasih


__ADS_2