Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Extra chap Merasa bersalah


__ADS_3

Kini Mely dan anak kembarnya sudah naik ke atas ranjang. Sedangkan Rival masih duduk di tepi ranjang. Dia memperhatikan istrinya yang nampak malu kepadanya. Wajar rasa malu dan canggung ada. Secara mereka berpisah cukup lama.


"Ma--- ma--- Mamma----!" rengek Raina menunjuk-nunjuk susu gantung Mely yang masih ditutupi piyama tidurnya. Mely saat ini sedang bersandar di head board tempat tidur. Dia merasa malu, untuk berbaring dan mulai menyusui kedua anak kembarnya.


Mely selalu menyusui anak kembarnya secara bersamaan. Karena bisa menghemat waktu. Walau sudah berumur satu tahun, Mely masih menyusui anaknya. Apalagi malam hendak mau tidur. Dia ingin menguatkan ikatan bathin dengan kedua anaknya. Apalagi, kedua anaknya tidak dapat kasih sayang seorang Ayah.


"Mamma---- Mamma----!" kali ini kedua anaknya mulai menangis secara bersamaan. Karena Mely tak kunjung membaringkan tubuhnya dan mengeluarkan susu cap nyonya itu.


Rival kini merangkak mendekati istri dan anaknya. Berusaha meraih Raina untuk digendong dan didiamkan. Tapi, Raina tidak mau. Dia malah memeluk Mely dengan erat.


"Dek, anak-anak kita kenapa?" ucap Rival begitu khawatirnya. Melihat anaknya nangis lagi secara bersamaan.


"Apa mereka lapar atau haus? Abang akan buatkan susu untuk mereka kalau begitu." Ucap Rival menatap Mely yang masih nampak enggan kepadanya.


"Iya mereka lapar dan haus." Ucap Mely pelan merangkul kedua anaknya yang Memeluknya.


"Mas akan buatkan susu untuk mereka." Rival pun bergerak turun dari tempat tidur. Dia akan ke dapur membuat susu formula untuk anaknya itu.


"Tidak usah, kalau malam begini mereka tidak mau sufor. Kecuali Aku tidak sedang bersama mereka." Ucap Mely masih berusaha menenangkan anaknya yang sudah menyerundukkan kepalanya ke bukit kembarnya Mely.


"Kalau begitu Mas akan buatkan makanan untuk mereka." Ucap Rival, Dia harus bisa membantu Mely untuk membuat anaknya diam. Sebenarnya Rival bisa mengurus anak kecil. Karena dulu Ibu Durjanna, selalu meminta Rival untuk menjaga adik-adik angkatnya.


"Tidak usah Mas." Jawab Mely. Rival jadi bingung dibuatnya.


"Mereka masih menyusui." Ucap Mely lagi, mencoba menenangkan Raina dengan mencium pipinya.


"Kalau begitu, kenapa Adek tidak susui?" tanya Rival bingung. Menatap Mely dengan heran.


"Baiklah, tapi Mas keluar dulu." Ucapnya pelan, tidak mau menatap Rival. Dia terus saja menatap kedua anaknya yang merengek. Bahkan Raina sudah mentoel-mentoel payudara Mely. Sudah tidak sabar untuk mimik susu.


Sudut bibir Rival tertarik, Dia merasa Mely sangat menggemaskan. Sudah wajahnya makin cantik dan ayu. Tubuhnya juga semakin sexy saja.


Rival kembali duduk di tepi ranjang dengan terseyum. "Kenapa Mas harus keluar. Sudah cepat susui anak kita mereka sudah haus dan mengantuk." Ucap Rival lembut, menatap Mely dengan gemes.


"Iya, tapi Mas keluar dulu. Atau ke kamar mandi sana. Cukur brewok dan kumisnya juga." Ucap Mely ketus. Mulai membaringkan tubuhnya. Dan kedua anak kembarnya langsung merengek di atas dadanya.


"Kirain Adek suka, kalau Mas brewokan." Ucap Rival, mengedipkan sebelah matanya. Mely cemberut.


"Aku gak suka." Jawabnya ketus.

__ADS_1


"Baiklah, Mas cukuran dulu." Dia merangkak cepat. Mencium kepala kedua anaknya dan dengan cepat mencium kening Mely.


Dengan tertawa kecil, Rival masuk ke kamar mandi. Sedangkan Mely tersenyum. Mulai mengeluarkan kedua gunung kembarnya. Yang langsung disambar anak kembarnya. Ya anak kembarnya mulai menyusu dengan berbagai gaya. Ada tengkurap di dada Mely, menungging dan bahkan terduduk. Sedangkan Mely pasrah terlentang, sambil mengusap-usap kepala anak kembarnya. Sekaligus bersholawat.


Saat kedua anaknya asyik menyusu, sedangkan Mely pikirannya menerawang. Memikirkan hubungan nya dengan Rival kedepannya. Rival keluar dari kamar mandi dan mengejutkan Mely. Refleks Mely bangkit dan membuat kedua anaknya Kembali menangis. Karena aktifitas menyusui mereka terhenti.


"Kenapa keluar, janggutnya kan belum selesai dicukur." Ucap Mely kaget. Saat itu juga kedua anak-anaknya kembali meraih pabrik yang memproduksi ASi menggantung itu. Mengambil jatah masing-masing. Sehingga kini Mely menyusui anaknya dalam keadaan duduk.


Rival tersenyum, kenapa istrinya itu menjadi malu kepadanya. Rival merasa bahagia sekali.


"Krim cukurnya habis. Mana bisa Mas cukuran." Ucapnya masih tersenyum penuh kebahagiaan. Dia kini kembali duduk didekat istri dan anaknya.


"Apa mereka setiap hari menyerangmu begini?" tanya Rival gemes. Dia juga jadi pingin ikut menyusu. Tapi, melihat saingannya ada dua dan susu gantung pun tak ada yang tersisa. Jadilah Rival sabar, menunggu giliran.


Mely diam, menunduk menatap anaknya yang menyusu kepadanya. Melihat anaknya Raynan sudah ingin tertidur. Mely pun membaringkan tubuhnya terlentang. Dia pun mencoba merilekskan tubuhnya yang tegang karena masih merasa malu kepada Rival.


Rival pun tahu, kalau Mely malu kepadanya. Dia pun tidak banyak bertanya lagi. Dia membaringkan tubuhnya dengan posisi miring menghadap Mely. Mengusap-usap punggung putranya yang sudah menutup matanya. Tapi mulutnya masih mengisap pu*ting Mamanya.


Sembari mengusap-usap punggung Raynan. Rival mengajak bicara Raina yang masih menyusu dengan lasaknya. Bahkan Dia menaik ke atas perut Mamanya. Sembari memukul-mukul kepala Abangnya yang sudah tertidur.


Akhirnya Rivalpun menjauhkan Raynan dan Raina. Putranya itu sudah tertidur lelap. Bahkan putranya itu tidak terusik. Saat Rival menjauhkannya dari Mely.


Karena Raynan sudah tertidur. Mely langsung berbalik badan. Memiringkan tubuhnya dan fokus menyusui putrinya Raina. Saat ini, Rival masih membenarkan posisi putranya Raynan. Kepinggir. Agar dirinya bisa berada tepat disebelah Mely. Tak lupa, Rival menaruh guling dipinggir ranjang. Sebagai pembatas. Takut Putranya itu terjatuh ke lantai.


"Mas," ucap Mely dengan pelan. Merasa terganggu dengan kelakuan Rival, yang menggodanya. "Jangan ganggu, Adek lagi menidurkan Raina." Ucapnya lagi, menggerakkan tubuhnya sebagai aksi protes.


"Mas kangen," ucap Rival dengan suara berat di ceruk leher Mely yang membuat wanita itu kegelian.


Mely menarik napas dalam, untuk menenangkan debaran jantungnya yang cepat. Jujur Dia juga sangat merindukan Rival. Akhirnya Dia pasrah saja dengan kelakuan Rival. Yang melepas pengait Bra nya. Dan membuka semua kancing piyama nya. yang tadinya hanya terbuka tiga kancing, saat menyusui.


Tangan Rival pun kembali bergerak pelan dan lembut mulai dari pinggang, perut dan kini sudah menangkup satu bukit kembar Mely yang sedang menganggur. Mely protes, disaat Rival melakukan message lembut di gundukan kenyal itu.


"Mas, jangan mengganggu."Ucapnya mulai menarik tangan Rival dari gundukan itu.


"Mas tidak mengganggu, hanya memijatnya. Agar otot-ototnya rileks." Ucap Rival, tiba-tiba saja Dia meremasnya keras, karena gemes. Sehingga keluarlah air mancur dari put*ingnya Mely. Tingkah Rival itu sontak membuat Mely kaget. Karena air susunya mengenai wajahnya.


Puukkkk.. Mely memukul keras paha Rival yang bisa dijangkau tangannya. "Mas apaan sih? kurang kerjaan banget." Ucap Mely pelan dengan gigi yang dirapatkan. Bisa-bisanya suaminya itu melakukan hal konyol seperti itu. Menyebalkan sekali.


Rival terkekeh, "Mas beruntung sekali punya istri kamu sayang. Adek begitu ikhlas merawat anak kita. Mas kira, Adek tidak akan menyusui anak kita sampai umur satu tahun." Ucapnya menghentikan aksinya meremas-remas gunung kembar Mely. Tapi, kini Rival malah memilin-milin pucuk gundukan kenyal itu. Yang membuat Mely mulai seperti cacing kepanasan.

__ADS_1


"Eehhmmm---.." Jawab Mely singkat. Mulai membenarkan posisi putrinya Raina yang sudah tertidur.


Rival menatap wajah putrinya yang cantik saaat tertidur. Dengan menopang dagu di bahu Mely yang masih miring.


"Putriku sangat cantik, sama seperti Mamanya." Ucapnya, kini memaksa Mely untuk berbalik menghadapnya.


Mely malu dan tak berani menatap Rival.


"Kenapa malu sayang, hei--- lihat Mas." Rival meraih dagu Mely. Hingga mereka bersitatap.


"Tadi saja, Adek tidak malu dan sangat menikmati permainan kita." Ucap Rival menggoda Mely. Kini tangannya sudah mulai kembali beraksi. Mencari area favoritnya.


"Benarkah kita melakukannya. Aku hanya merasa seperti bermimpi." Ucap Mely pelan, kini Dia menatap wajah Rival yang penuh brewok itu. Dia tidak suka pria brewok.


"Benar kita melakukannya sayang. Bahkan tadi Mas sempat kselek." Ucap Rival tertawa kecil.


"Keselek?" tanya Mely bingung, tapi menikmati sentuhan tangan Rival yang sudah bergerilya di pahanya. Bahkan celana tidur Mely sudah melorot setengah.


Rival mengangguk. "Keselek karena tidak sengaja. Mas pikir ini tidak ada ASinya Ucap Rival gemes sambil meremas pelan bukit kembar Mely kembali.


Mely terdiam, sentuhan-sentuhan Rival yang sudah lama tak dirasakannya, membuatnya begitu menikmatinya. Tapi, Dia tidak menampakkan ekspresi rindu itu, Dia malu.


Rival merangkum wajah Mely. Tatapan merasa bersalah di manik mata keduanya jelas terlihat. Rival merasa bersalah, karena tidak bisa menjadi sukai yang baik untuk istrinya. Sehingga istrinya itu, kabur dua kali dari hidupnya.


Sedangkan Mely merasa bersalah karena tidak bisa menjadi istri yang sabar dan meninggalkan suami nya dalam keadaan sakit.


"Maafkan Mas?!" ucap Rival menatap Mely dengan wajah memelas. Mely mengangguk. Entah sudah berapa kali suaminya itu meminta maaf sejak tadi.


Rival pun kembali memeluk erat Mely. Membenamkan wajah Mely di ceruk lehernya dan mencium kepalanya bertubi-tubi.


"Besok, temenin Mas chek up ya sayang?" ucap Rival lembut, masih menciumi puncak kepala Mely. Mely mengangguk.


"Habis checkup, temani Mas berkunjung ke rumah Yasir. Mas mau berterima kasih." Mely mendongak mendegar suaminya itu mengucapkan nama Yasir. Rival pun membalas tatapan bingung istrinya itu.


"Yasir yang memberitahu Mas. Kalau kalian ada di kota ini. Mas sudah mencari mu kemana-mana. Mulai dari ke kota Parapat dan menyusuri pulau Samosir dan Danau Toba. Bahkan Mas menyewa orang mencari kalian ke kota-kota besar bahkan kecil di negara ini. Tapi, hasilnya nihil.


"Please---- jangan tinggalin Mas lagi. Kalau ada masalah kita bicarakan baik-baik. Jangan main kabur lagi ya? Ya saynag--!?" ucap Rival menatap sendu Mely. Melihat ekspresi Rival Seperti itu, membuat Mely merasa lucu sekaligus kasihan.


"Iya Mas juga, harus memikirkan perasaanku. Jangan ingat mantan lagi. Jangan abaikan aku." Ucap Mely menangis. Dia teringat Rival yang meninggalkannya dan menemui Rili.

__ADS_1


Rival kembali menarik Mely dalam dekapannya dengan erat. "Tidak, hanya kamu yang Mas cintai. Kita jangan ungkit kesalahpahaman itu lagi. Dan jangan mengait-ngaitkannya dengan Rili. Dia sudah bahagia bersama Yasir. Kita juga harus bahagia. Apalagi kita punya anak kembar yang begitu tampan, cantik dan sehat." Ucap Rival dengan mata berkaca-kaca.


Mely terisak dalam dekapan suaminya itu. "Adek pasti lelah, tidurlah. Walau Mas masih ingin. Mas akan tahan. Ini sudah terlalu larut malam." Ucap Rival, mengatakan jujur keinginannya. Yang membuat Mely terseyum. Akhirnya mereka pun tidur dengan damai sambil berpelukan. Kedua anak kembarnya tidur disebelah kiri dan kanan mereka.


__ADS_2