
"Dek," Rival menatap sendu kepada Rili. Sungguh Dia tidak punya malu saat ini.
"Aku minta maaf, kalau Aku ada salah selama bersama Abang dan maafkan juga sikapku saat ini. Ku mohon, setelah Abang melangkahkan kaki dari rumah ini. Aku harap kita jangan melihat kebelakang lagi. Tidak usah kasihani diriku. Dan tolong Abang bawa Amplop ini." Rili mengambil Amplop yang tergeletak di meja dengan tangan gemetar, Dia masih berusaha tegar, walau hatinya benar-benar hancur saat ini.
Pria masa lalu dan pria masa depannya sukses membuatnya terpukul. Dia memberikan amplop warna coklat itu kepada Rival. Dia melirik Yasir dengan tatapan penuh kekecewaan, dengan tidak bisa menahan diri lagi, Dia masuk ke kamarnya dan menguncinya.
Dia melorotkan tubuhnya dibalik pintu kamarnya. Dia menangis sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Rasa sakit di dalam dadanya begitu menyesakkan dada. Perih dan nyeri, seperti daging yang tersayat dan ditetesi air asam.
Rival melihat ke arah Yasir. Kedua pria itu saling bersitatap, dengan mata berkaca-kaca. Ada penyesalan mendalam yang dirasakan mereka berdua. Karena ulah mereka Rili kembali menderita.
Usaha Rili untuk pulih selama satu tahun ini sia-sia. Sepeninggalannya Rival, Yasir hendak menyusul Rili ke kamarnya. Dia menekan handle pintu kamar Rili, tapi terkunci.
"Sayang, buka pintunya!" ucap Yasir dengan lembut, mencoba merayu agar Rili membuka pintu. Tapi, Rili tidak menggubris permintaan Yasir, Dia belum siap untuk dicerca pertanyaan. Dia ingin sendiri.
"Sayang, buka pintunya. Abang minta maaf!" ucap Yasir frustasi, Dia menggedor dan mendobrak pintu kamar Rili yang membuat Rili semakin ketakutan. Dia jadi teringat kejadian di kampung Rival. Ibu mertuanya begitu memaksanya untuk membuka pintu kamar, seperti yang dilakukan Yasir saat ini.
"Sayang, jangan buat Abang sedih dan marah. Buka pintunya...!!" Yasir benar-benar panik, Dia sangat mengkhawatirkan Rili yang berada di dalam kamar. Karena suara tangisan Rili begitu menyedihkan didengar.
"Tidak, tidak, pergi kau.... Pergi....!" teriak Rili sambil meraung-raung. Dia benar-benar kehilangan akal sehat. Dia berhalusinasi, Dia merasa akan diserang oleh Ibu mertuanya yaitu Ibu angkatnya Rival.
Mendengar Rili berteriak dan mengusirnya, membuat Yasir makin panik dan kalut. Dia terus menggedor pintu yang membuat Rili di dalam kamar berteriak sambil menangis.
"Dek, kamu kenapa?" Yasir begitu mengkhawatirkan Rili. Dia masih terus berusaha menggedor pintu kamar Rili. Merasa tidak direspon Dia berlari cepat ke depan Rumah. Dia berteriak-teriak dari luar kaca jendela kamar Rili yang ditutupi gorden. Dia berharap Rili mendengarnya dan membuka pintu untuknya. Tapi, usahanya tidak digubris oleh Rili.
Rili merasa tubuhnya panas dan dingin, kepalanya juga menjadi pening. lubang hidung, sudah mampet karena ingus yang sudah mulai memenuhi rongga hidungnya. Dia merasa telapak kakinya dingin, keringat bercucuran dari kening dan pelipisnya.
"Aku kenapa Ya Allah...?!" gumamnya dalam hati. Dia merasa tubuhnya sakit, terutama dibagian perut bagian bawah. Dia sudah tidak tahan lagi, Rili membaringkan tubuhnya di ranjang dan menyelimuti tubuhnya sampai dada.
Yasir yang berteriak di luar jendela kamarnya tidak digubrisnya. Melihat Rili tidak kunjung membuka pintu. Dia langsung menelpon Asisten Jef.
__ADS_1
"Cepat bawakan tukang kesini!" ucapnya tegas.
"Tukang apa Bos?" tanyanya dengan polosnya.
"Tukang yang bisa membobol pintu kamar dan memperbaikinya kembali." Ucap Yasir dan mematikan ponselnya.
Di kamar Rili berusaha untuk bisa istrirahat, padahal ini sudah mau Magribh. Dia merasa lemas sekali. Terlalu emosional, membuat energinya habis.
Sedangkan Yasir di ruang tamu bolak balik, seperti orang gila, mengacak-acak rambut dan memijat tengkuk yang sudah terasa panas. Rili benar-benar marah kepadanya. Yasir akhirnya tahu, ternyata sifat Rili berani juga. Mengingat ekspresi Rili yang seperti kecewa kepadanya, membuatnya kesal. Bisa-bisanya Dia menyakiti hati wanita yang sangat dicintainya.
Sementara Rival langsung memacu mobilnya, menuju Hotel tempat Dia menginap. Tentunya bukan di Hotel miliknya Yasir. Dia tidak menyangka, sikap jujurnya kepada Rili tentang perasaannya, malah membuat masalah baru.
Tidak ada niatnya mengusik Rili. Dia hanya ingin menumpahkan semua uneg-uneg dihatinya selama satu tahun ini. Dia juga ingin membayar kewajibannya. Karena Dia tidak menafkahi Rili saat Dia meninggalkan Rili. Dulu Dia belum punya uang. Sekarang Dia sudah bergelimang harta.
Dia seolah mau mencari pembelaan diri, agar Rili tidak membencinya. Ternyata sikap jujurnya dan niat baiknya memberi uang kepada Rili, malah menjadi sebuah masalah.
Setiap rangkaian cerita itu pasti ada penyesalan, di situlah kita bisa ambil maknanya arti sebuah kehidupan.
Setengah jam kemudian, pintu kamar Rili sudah bisa terbuka. Yasir langsung berhambur mendekati Rili yang meringkuh dibalik selimut. Dia benar-benar lemas. Kepalanya juga sangat sakit. Karena kebanyakan menangis.
Yasir memeriksa kondisi istrinya itu, yang memang tidak nampak baik itu. Dia mencek suhu tubuh Rili dengan punggung tangannya. Mulai dari puncak kepala sampai jari kaki tak luput dari sentuhan tangan Yasir.
"Tubuhmu panas sayang." Ucapnya dengan paniknya, sembari menciumi kening Rili. Rili memang yang tidak berdaya itu. Hanya bisa diam dengan perhatian suaminya. Kedua mata indahnya masih terpejam. Rasanya untuk membuka kelopak matanya saja begitu berat.
"Jef, cepat panggilkan Dokter." titah Yasir kepada Asistennya dengan paniknya.
Sembari menunggu Dokter, Yasir tidak henti-hentinya meminta maaf. Dia memijat-mijat telapak dan jari-jari kaki Rili yang terasa dingin itu. Dia ingin memberi kehangatan. Terkadang Dia menciumi puncak kepala Rili.
Perlakuan Yasir membuat Rili semakin ingin menangis. Tapi, Dia masih saja menutup matanya.
__ADS_1
Haruskah Dia bertahan dengan Yasir. Jujur kalau ditanya dari hati kecilnya. Dia tidak percaya diri menjadi pendamping hidup Yasir. Perbedaan Mereka antara bumi dan langit. Hati kecilnya bicara, Yasir berhak mendapat wanita yang sama derajatnya.
"Silahkan Dokter." Ucap Yasir, Dia memberikan ruang dan waktu kepada Dokter yang bernama Dokter Afifah itu untuk memeriksa Rili.
Dokter memeriksa tekanan darah, denyut nadi dan bagian perut. Rili masih merasa kesusahan membuka matanya. Dokter juga memiringkan tubuh Rili, Dia menyingkap dres yang digunakan Rili.
"Mau apa Dok?" tanya Yasir dengan paniknya. Karena Dia melihat Dokter Afifah menyingkap dres Rili.
"Ibu harus diinjeksi Pak." Jawabnya.
"Keluar kamu Jef." Titah Yasir lantang. Jef pun keluar dari kamar Rili.
"Aauuwww...!" Rili meringis kesakitan. Dia memang sangat takut disuntik.
"Syukurlah sayang, akhirnya kamu mengeluarkan suara juga." Ucap Yasir, Dia membantu Dokter Afifah merapikan pakaian Rili.
"Bagaimana Dok?" tanya Yasir dengan paniknya, setelah Dokter memberesi alat medisnya.
"Tidak ada yang serius Pak. Hanya Ibu ini tekanan darahnya rendah, dan seperti tertekan bathin nya." Ucapnya serius, dan memandangi wajah Rili yang seperti orang tidur, padahal Rili tidak tidur.
"Tertekan bathin?" tanya Yasir dengan mimik sedih. Dia mendekati Rili dan mengelus puncak kepalanya.
"Iya Pak, senangkan hati ibu ini." Ucap Dokter Afifah, Dia pun keluar meninggalkan pasutri itu menuju ruang tamu dan memberikan secarik kertas kepada Asisten Jef. Yaitu resep obat.
TBC.
Mampir juga ke novel terbaruku ya kakak2 cantik. Yang berjudul PARIBAN I HATE YOU
Happy reading
__ADS_1