Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Menyesal


__ADS_3

Ucapan Mely benar-benar merusak mood Rival. Sepanjang perjalanan Dia sudah bisa senang dan bahagia nya, bisa berlibur dengan istrinya itu. Tapi mungkin kebahagiaan itu tidak akan terwujud.


Rival tidak mengikuti Mely masuk ke kamar yang telah dipesan Pak Ali. Sedangkan Pak Budi dan Sari sudah meninggalkannya mematung di ruang Loby tersebut. Masuk ke kamar masing-masing.


Dengan perasaan yang berkecamuk dan pesimis, Rival memilih untuk menikmati keindahan pinggir Danau Toba yang bisa dilihat di sekitar Hotel tempat mereka menginap.


Dia memilih duduk di bangku beton dekat Danau. Yang dinaungi oleh tumbuhan Pinus yang memang tempat itu dibuat pihak Hotel sebagai taman.


Semilir angin yang sejuk, ternyata bisa mendinginkan hatinya yang sakit itu. Sampai kapan Mely akan terus merendahkannya. Selalu mengungkit bahwa Dia berasal dari orang tidak punya. Tak terasa air mata Rival seketika terjatuh. Kilas balik kehidupannya kembali terputar. Dia merindukan suasana kampungnya. Dia juga merindukan Ayah, Ibu dan saudaranya yang sudah dianggapnya keluarga seutuhnya.


Dia juga merindukan Rili. Wanita yang menurutnya sangat baik. Rili tidak pernah merendahkannya. Padahal Rili juga masih tergolong orang mampu, walau tidak kaya.


Sesaat Dia menyesali, telah mau mengikuti saran Pak Ali untuk menceraikan istrinya itu.


Lamunannya terhenti, disaat ada seseorang menepuk bahunya, yang tidak lain adalah Pak Budi. Supir pribadi mereka.


"Tuan disini?" ucap Pak Ali. Menatap heran raut wajah Rival yang kusut dan sedih itu.


"Iya Pak, lagi menikmati indahnya ciptaan Yang Maha Kuasa." Ucapnya tanpa mau menoleh ke arah Pak Budi. Rival lagi menyembunyikan wajah sedihnya.


"Tuan besar mencari tuan. Kita harus makan siang. Dan katanya akan berangkat menyebrang ke Pulau Samosir." Pak Budi, masih memperhatikan wajah Rival dengan saksama.


"Iya Pak, mari." Ucap Rival dengan menghela napas berat. Dia pun beranjak dari duduknya, mengekori Pak Budi menuju Restoran.

__ADS_1


Sesampainya di Restoran, semua anggota keluarga sudah duduk di kursi meja makan bentuk oval tersebut. Pak Ali duduk bersebelahan dengan istrinya. Ada Mely duduk dihadapan orang tuanya. Dan Pak Budi serta Sari duduk berhadapan diujung meja makan.


Dengan perasaan tidak enak hati, Rival akhirnya duduk disebelah Mely yang masih cemberut. Pak Ali dan istrinya Kembali bertanya-tanya. Ada apa dengan anak-anaknya. Bukannya sepanjang perjalanan mereka sudah menampakkan sikap berdamai.


Semua jenis makanan pun tersaji Di meja makan. Mulai dari jenis makanan khas suku Batak, seperti ikan mas arsik, Naniura, sambal Tuktuk. Atau kuliner cita rasa manca negara. Siap santap dihadapan masing-masing.


Rival tetap makan dengan khusuk dan menikmatinya, apalagi makanan yang ada dihadapannya adalah makanan yang sesuai dengan selera kampungannya, seperti yang dikatakan Mely.


Hanya Sari yang nampak heboh dengan menu makanan yang tidak pernah dicobanya. Dia sampai banyak bicara kepada pelayan yang melayani mereka. Pelayan hanya tersenyum menanggapi ocehan Sari. Sedangkan Mely dibuat gondok melihat sikap sari yang kampungan itu.


"Sari, kalau kamu tidak bisa diam, kamu lebih baik pulang saja." Ucap Mely ketus, yang membuat Pak Ali, dan Mamanya menegur putrinya itu. Sedangkan Rival hanya diam, mengisi perutnya.


Acara makan siang pun selesai. Kini mereka akan memulai perjalanannya sampai nanti sore ke pulau Samosir. Tentunya tujuan pertamanya adalah tomok


Pak Ali yang punya jiwa sederhana itu memilih menaiki kapal Fery untuk menyebrang ke Pulau Samosir. Karena dengan kapal besar itu, mobil mereka akan ikut diangkut.


Sebenarnya untuk menyeberang ke Pulau Samosir, ada banyak pilihan transportasi, ada kapal khusus membawa penumpang pariwisata, boat, ada juga yang tertarik dengan kapal nelayan. Bisa juga menyewa kapal nelayan sambil berburu lobster. Spedboot yang bisa dinaiki langsung dari Hotel tempat kita menginap. Tapi, Pak Ali lebih suka naik kapal Fery, dimana penumpang didalamnya beraneka ragam. Ada tourise ada masyarakat setempat yang memang tinggalnya di Pulau Samosir.


Suasana bising dipelabuhan Ajibata, tidak menyurutkan semangat Pak Ali dan istrinya untuk menaiki kapal Fery tersebut. Sangat kontras dengan Mely dan Rival yang kini suasana hati keduanya sedang tidak baik.


Pak Ali dan istrinya sudah masuk ke kapal Fery, begitu juga dengan Pak Budi dan Sari. Kemudian Mely dan Rival menyusul. Mereka mencari tempat duduk yang dikira nyaman.


Karena penumpang membludak yang disebabkan akan diadakannya besok Festival Danau Toba. Sehingga tempat duduk pada penuh. Hanya ada dua tempat duduk yang sekiranya bisa di duduki oleh Rival yaitu tempat duduk disebelah Mely dan tempat duduk di sebelah Sari.

__ADS_1


Rival berniat untuk duduk di sebelah istrinya itu. Tapi saat Rival hendak mendudukkan bokongnya. Mely mendengus kesal dan membelakanginya. Sehingga Rival juga yang lagi sensitif itu, tidak jadi duduk di sebelah Mely.


Melihat Rival tidak duduk, maka Sari melambaikan tangannya agar Rival duduk disebelahnya. Tapi Rival menolak. Sehingga Dia memilih naik ke atas kapal


Kapal feri menyediakan ruang terbuka dua lantai. Di lantai atas bisa menikmati pemandangan Danau Toba lebih leluasa, tetapi harus sedikit merasakan terik matahari. Sementara itu, di bawah lebih tertutup, dan ruang gerak wisatawan terbatas.


Rival yang kini sedang berada di ruang terbuka di lantai dua kapal fery menikmati keindahan Danau Toba, di atas kapal lebih menyenangkan. Karena, bisa merasakan sensasi di tengah danau yang luas sambil terayun-ayun sesekali karena ombak.


Karena cuaca yang sangat cerah dan panas, akhirya Rival kembali ke lantai dasar. Dia melihat Mely sedang sibuk berselfi begitu juga dengan Sari. Sari yang melihat kedatangan Rival, akhirnya meminta tolong kepada Rival untuk mengambil fotonya. Karena sebentar lagi kapal akan mendarat.


"Abang Rival, tolong ambilkan fotoku dong!" ucap Sari dengan tersenyum. Rival pun mengiyakannya. Walau sebenarnya Dia sangat malas untuk melakukannya.


Jefret...jefret...jefret....


Rival mengambil banyak foto Sari dan mengembalikan ponselnya. Melihat foto yang diambil Rival lumayan bagus, Sari langsung meng uploadnya ke media sosialnya.


Sari tersenyum bahagia, disaat foto yang diupload ke media sosialnya. Banyak dikomentari oleh temannya yang dikampung. Yang juga ternyata aktif di dunia Maya.


Mely semakin geram saja melihat Rival yang begitu baik dan ramahnya kepada pembantunya itu. Dia kesal, kenapa Rival tidak menjaga imagenya.


Walau Mely menampilkan wajah cemberut, Rival akhirnya kembali duduk disebelah Mely. Dia menutup kedua bola matanya, menyandarkan kepalanya di badan kursi, serta melipat kedua tangannya di atas perutnya.


Mely yang masih dibakar api cemburu kuadrat itu, masih berusaha bersikap dingin kepada Rival. Walau sebenarnya Dia sangat ingin bermanja-manja dengan Rival saat ini. Apalagi Mely juga iri melihat pasangan kekasih dihadapannya yang begitu mesra.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2