Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Wanita sulit dimengerti


__ADS_3

Sudah tiga kali Sari menghubungi no ponsel Rival, tapi tidak kunjung diangkat. Sari yang yang jantungnya sedari tadi berdebar karena menghubungi no ponsel Rival, dibuat terkejut disaat Kakaknya Bi Ina, menepuk pundaknya.


"Astaghfirullah...copot-copot...!" ucap Sari latah sambil berusaha menangkap ponselnya yang terjatuh dari tangannya, saking terkejutnya karena Bi Ina menepuk pundaknya.


"Alhamdulillah... syukur ketangkap, sempat jatuh dan rusak, emang kakak mau ganti." Sari nampak kesal sama kakaknya itu, wajahnya berubah menunjukkan kekesalan.


"Kamu sih lama kali menelponnya." Bi Ina, tak kalah kesal, pasalnya Dia sudah semakin takut melihat Mely yang semakin mengamuk.


"Abang Rival tidak mau mengangkat telponnya." Ucap Sari berdecak. Dia kembali mengintip Mely yang sudah mulai terduduk dan bersandar di ranjangnya.


"Kak, lihat tuch Nona Muda sudah mulai tenang. Mungkin Dia sudah capek yang marah-marah tidak jelas itu." Ucap Sari cekikikan, Dia merasa tingkah Mely lucu.


"Kamu kenapa tertawa, cepat hubungi lagi Abang Rival. Nanti kalau Jumat lagi, tidak ada orang yang bisa bantuin kita." Ucap Bi Ina, Dia menyudahi acara mengintip Mely. Mereka bertiga akhirnya duduk di lantai di depan kamar Mely. Sari kembali menghubungi no ponsel Rival.


Setelah panggilan ke empat kali, akhirnya Rival pun mengangkatnya.


"Assalamualaikum...." Ucap Rival dengan suara berat, dan menahan kantuk. Baru setengah jam tidur, ponsel yang diletakkannya di meja dekat ranjanganya bergetar terus. Dia lumayan terganggu dengan panggilan ini.


"Walaikumsalam Abang Rival." Jawab Sari dengan lembut dan merdunya, senyum mengembang di wajahnya membuat Bi Ina dan putrinya geleng-geleng kepala.


"Ini siapa?" ucap Rival, Dia mengubah posisinya menjadi duduk bersandar di head board tempat tidur.


"Ini Sari Bang." Raut wajah Sari berubah jadi kecewa. Kenapa Rival tidak men save no ponselnya.


"Saari?" tanya Rival, berusaha mengingat siapa itu sari.


"Iya Sari, yang kerja di rumah Pak Ali." Sari semakin kesal saja, benci dech pria yang disukainya tidak mengingat nya.


"Oohh, ada apa Sari?" tanya Rival tidak bersemangat, Dia masih kantuk dan kepalanya sedikit berat, karena baru tidur harus bangun terpaksa.


"Kenapa Abang tidak pulang? ini sudah larut malam?" tanya Sari yang membuat Bi Ina kesal dan menepuk paha Sari. Bukannya langsung menyampaikan berita tentang Mely, malah banyak cerita.


"Iya, saya tadi lembur jadi mau istirahat di kantor saja." Ucap Rival dengan menguap.


"Abang matikan ya, kalau tidak ada yang penting.Selamat malam Sari." Ucap Rival, Dia pun memutus panggilan dari Sari. Meletakkan ponselnya di tempat semula dan berniat tidur kembali.


"Bagaimana..?" tanya Bi Ina dengan tidak sabaran.


"Dimatikan." Sari nampak sedih dan menunduk kan wajahnya.


"Sini kak saja menelpon, kamu sih banyak an basa-basi. Jangan bilang kamu suka sama Abang Rival. Jangan mimpi kamu, kita tidak akan diliriknya. Nona muda saja, dimarahi nya. Kamu ingat tidak saat Non Mely membawakan sup padanya dulu. Non Mely keluar nangis-nangis dari kamarnya." Bi Ina mengambil ponsel dari tangan Sari.

__ADS_1


"Iya sich, tapi kemarin-kemarin saat kita gabung sama Abang itu di taman, Dia welcome." Jawab Sari, Dia tidak ingin mengetahui fakta bahwa Rival tidak menyukainya.


"Abang Rival itu baik dan ramah. Jangan Baper kamu, mentang-mentang Dia mau berbaur dengan kita, kamu langsung baperan." Ucap Bi Ina kesal, Dia pun menghubungi no ponsel Rival.


Rival yang mulai terpejam itu, Kembali terbangun karena ponselnya bergetar. Dia bergerak dan berusaha menjangkau ponselnya. Dia melihat sari kembali menghubungi nya.


"Ada apa Sari?" ucap Rival, sambil mengucek matanya yang kantuk berat itu.


"Ini Bi Ina, Abang Rival." Bi Ina menghentikan ucapannya. Dia melirik adik dan anaknya yang duduk dihadapannya.


"Ya, ada apa Bi Ina?"


"Iiituuu Bang, Non Mely mengamuk-amuk di kamarnya. Kami tidak berani masuk untuk menenangkannya. Kalau boleh


minta tolong Abang Rival pulang sebentar ya!" ucap Bi Ina dengan sedikit rasa was-was dan takut.


Rival yang mendengar berita tentang Mely, dibuat kaget dan penuh kekhawatiran. Dia pun langsung mematikan ponselnya. Memakai celana panjang kainnya keluar dari kantor, berlari menuju lift. Sesampainya di basment. Dia dengan cepat memasuki mobilnya dan melajukannya kencang.


Sepanjang perjalanan Rival tidak tenang, kenapa pula Mely bisa mengamuk di kamar. Apa Dia punya masalah serius.


Atau jangan-jangan Dia menghilang selama satu Minggu ini, karena bertengkar dengan pacarnya. Apa pria yang mengantarnya semalam adalah kekasihnya. Sangat wajar Mely mempunyai kekasih, Dia cantik dan dari keluarga kaya.


Sesampainya di rumah, dengan langkah lebarnya Dia berjalan ke arah kamar Mely. Nampak di depan kamar Mely para ART terduduk di lantai sambil menahan kantuk.


Melihat Rival datang, Sari langsung berdiri dan tersenyum.


"Ada apa?" tanya Rival bingung dan was-was. Pasalnya saat ini rumah tenang, dan tidak ada suara dari kamar Mely.


"Tadi Non Mely mengamuk. Tapi, sekarang sudah tidak lagi. Kami tidak tahu apa yang terjadi di dalam, kenapa Non Mely tiba-tiba diam, atau jangan-jangan." Ucapan Bi Ina terhenti, Dia menutup mulutnya dengan tangannya.


"Atau jangan-jangan apa?" Rival semakin panik, Dia langsung berfikiran Mely melakukan hal yang bisa menghilangkan nyawanya.


Rival langsung masuk ke kamar Mely yang diikuti oleh para ART. Mereka melihat Mely terbaring di lantai dekat tempat tidurnya.


"Bang Rival, apa Non Mely sudah meninggal?" tanya Sari dengan takutnya. Dia tidak mau jadi saksi kepada pihak berwajib jikalau kematian Mely di bawa ke jalur hukum.


Rival berjongkok dihadapan Mely dengan perasaan tidak enak, jantungnya berdebar karena takut. Dia memeriksa nadi dan pernapasan Mely. Ternyata Mely masih hidup.


"Dia masih hidup. Sari coba pasangkan seprei." Ucap Rival, Dia tidak habis pikir kamar bisa berantakan seperti ini.


Sari dengan cepat memasang seprei, Rival mengangkat tubuh Mely ke atas ranjang dengan hati-hati. Sedangkan ART lainnya, memberesi kamar Mely yang seperti kapal pecah. Pas bunga hancur di mana-mana, cermin rias Mely pun pecah.

__ADS_1


Saat para ART membersihkan kamar Mely, Rival mengira Mely pingsang, Dia pun mendekatkan minyak kayu putih ke hidung Mely yang kebetulan minyak itu ada di kamar Mely.


Dengan sayangnya Rival berusaha membangunkan Mely. Perlakuan Rival itu membuat para ART bengong dan menghentikan aktifitasnya. Cara Rival menyentuh Mely itu seolah mereka adalah pasangan suami istri. Para ART saling sikut, mereka ingin mengkomentari perlakuan Rival, tapi kemudian Mely terbangun.


Mely yang melihat Rival dihadapannya langsung memeluknya dan menangis.


"Kenapa mengabaikan ku. Aku benci kamu." Ucapnya terisak dalam pelukan Rival. Para ART yang melihat sikap Nona Muda mereka itu melototkan matanya. Apalagi Sari, hatinya sakit melihat pria yang ditaksirnya memperlakukan Mely dengan sayangnya.


Rival bingung dengan ucapan Mely, kenapa pula Dia yang dikatakan mengabaikan. Padahal dari tadi pagi, Dia sudah menekan egonya dan berusaha bersikap semanis mungkin, agar tidak menimbulkan masalah, karena Rival juga kesal, Mely menghilang selama satu Minggu.


Karena tidak ingin memperpanjang masalah, Rival pun mengalah.


"Iya, Abang minta maaf." Ucapnya berusaha menenangkan Mely. Tapi, nyatanya ucapannya itu malah membuat Mely semakin kesal. Pasalnya Mely merasa Rival memang sengaja menghindar.


"Itu kan kamu tidak menyukaiku, kamu tidak mencintai ku." Ucapnya masih terisak dalam pelukan Rival.


Tidak tahan melihat tontonan di hadapan mereka para ART memutuskan meninggalkan kamar itu dengan penuh tanda tanya di hati dan pikiran mereka. Terutama Sari, Dia langsung putus asa. Saingannya berat.


Kini tinggallah pasangan suami istri itu dikamar, dengan perasaan kacau dan tidak tenang. Diakibatkan salah paham.


Rival mengurai pelukan Mely, Dia menghapus air mata Mely yang sudah membasahi pipinya dengan jemarinya.


"Apa yang Adek lakukan ini? Apa gunanya mengikuti bisikan setan, sehingga barang-barang banyak yang rusak." Ucap Rival, mencoba memperhatikan manik mata Mely yang disembunyikannya karena menunduk.


Mely sadar kelakuannya ini salah, tapi Dia tidak tahan lagi karena Rival mengabaikannya. Dia ingin cari perhatian, benar saja akhirnya kini Rival bersamanya.


"Ini gara-gara Abang!" ucapnya dengan menangis, Dia memalingkan wajahnya dari tatapan Rival.


Rival semakin bingung, kenapa pula gara-gara Dia. Harusnya Dia yang marah, istri main kabur saja. Pulang dianterin sama laki-laki.


"Kenapa gara-gara Abang, coba ceritakan lebih jelas. Abang tidak merasa berbuat salah. Bahkan Adek kabur selama satu Minggu, dan tidak mengangkat telpon Abang, sampai tadi pagi Abang masih berusaha sabar dan memakluminya." Ucap Rival lembut, Dia meraih pundak Mely agar menatapnya.


Mely menepis tangan Rival dari pundaknya. Dia kesal sekali sama Rival, Jikalau Dia mengingat saat Rival menyebut nama mantan istrinya itu.


"Dasar pria, semuanya berengsek." Mely histeris kembali menepis kuat tangan Rival, Dia berusaha turun dari ranjang, tapi aksinya ditahan Rival.


TBC


Tinggalkan jejak dengan like coment rate 🌟 5 dan vote.


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2