Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Saling curhat


__ADS_3

"Iya, Sekarang coba kamu telpon si Mely. Tanyakan dengan sedikit basa-basi Kenapa Dia tadi miscall sampai 50 kali." Ucap Jelita, ikut sedih melihat Rival yang nampak galau itu.


Rival memutar lehernya, hingga kini mereka bersitatap. Jelita mengangguk, meyakinkan Rival, bahwa dengan menelpon Mely kembali, akan mengurangi masalah yang akan timbul.


"Aku tidak yakin, Dia tidak akan marah. Dia pasti beranggapan Aku sengaja mengabaikan telponnya. Sudahlah, biar saja. Lusa juga Aku sudah kembali. Kalau urusan kerjaan baru di kota S selesai. Saat bertemu langsung saja. Aku jelaskan padanya." Ucap Rival pasrah, Dia kembali mengusap wajahnya dengan kasar. Dan mengalihkan pandangannya kembali ke danau.


"Semoga saja istrimu masih mau menunggu. Siapa tahu Dia pergi meninggalkan kamu. Karena kamu tidak mau berkomunikasi dengan nya." Jelas Jelita.


"Aku berharap Dia masih menungguku dengan kesal, tapi sangat mengharapkanku. Pertemuan yang seperti itu, rasanya sangat mendebarkan." Ucap Rival tertawa. Ya, bertemu dan baikan setelah bertengkar. Itu rasanya sesuatu banget. Jantung pun tidak bisa dikondisikan. dag dig dug seerrr...


"Terserah kamu sajalah. Aku sudah memberi solusi padamu. Tapi, kamu seperti nya masih mikirin gengsi mu." Ketus Jelita.


"Bukan gitu, Aku sedang malas saja kalau bertengkar lagi dengannya." Rival kembali membela diri. Dia memang malas kalau berdebat di telpon dengan Mely.


"Mau lagi dong kroket nya?" Rival meraih gorengan dari tangan Jelita.


"Aku merasa Tuhan itu sengaja mempertemukan kita, tahu DIA aku sedang butuh kamu. Teman yang dari dulu selalu ngertiin." Ucap Rival dengan terseyum. Walau Rival tidak menatap Jelita. Tapi, Jelita bisa melihat senyum Rival itu.


"Iya, mungkin disinilah kita saatnya saling minta maaf." Ucap Jelita sendu.


"Minta maaf? emang kamu ada salah samaku?" tanya Rival heran. Dia melirik Jelita disebelah nya.


"Ya, Aku merasa bersalah juga samamu. Karena Aku nikahnya sama orang lain. Padahal dulu kita pernah berjanji hidup semati." Ucap Jelita tersenyum kecut.


"Tapikan kamu tidak salah, kamu dipaksa menikah. Ya wajar saja kamu mau. Suamimu kaya. Lah, Aku sudah miskin. Baru tamat sekolah lagi." Ucap Rival lembut. Dia tidak mau Jelita merasa bersalah.


"Inilah namanya tidak jodoh." Rival kembali memberi penegasan. Tidak usah disesali yang lalu.


"Iya sih." Jawab Jelita pasrah. Rival adalah cinta monyet dan cinta pertama nya. Jujur saja, Dia masih ada rasa pada mantannya itu. Tapi, Dia bukan wanita yang terlalu menuruti kemauan hati. Tanpa melihat kenyataan. Dia tidak mau memanfaatkan keadaan Rival yang lagi galau. Untuk mengusik hatinya. Akan lebih bijak, kalau Dia membantu Rival keluar dari masalah nya.


"Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Rival dengan raut wajah, yang sudah mulai rileks. Setelah mengeluarkan kegundahan hatinya kepada Jelita. Dia merasa bebannya sedikit berkurang.


"Aku sih mau buka usaha rumah makan. Tapi, masih kurang modal." Jawabnya tidak semangat.


Rival menoleh ke arah Jelita. "Kalau kamu mau, Aku akan modalin." Ucap Rival dengan senang hati. Kapan lagi Dia bisa membantu mantannya yang baik hati ini. Seumpama tadi Dia masih Single. Mungkin Dia juga mau balikan dengan jelita yang sudah jadi janda.


"Tidak usah, Aku tidak mau merepotin kamu, nanti istrimu tahu. Kalau kamu kasih modal samaku. Takutnya jadi tambah masalah baru." Tolak Jelita lembut.

__ADS_1


"Mana merepotin. Kalau kamu segan terima bantuan Aku. Kita kerja sama saja. Aku yang modalin, kamu yang jalankan usahanya. Nanti kita bagi hasil." Jelas Rival, Dia tahu Jelita sedang enggan kepadanya. Jelita memang tipe wanita yang baik hati dan jujur.


"Tidak usah, sebenarnya Aku sudah ada teman yang mau kasih modal usaha. Tapi, Aku takut juga menerima. Soalnya Dia itu ada maksud gitu samaku." Ucap Jelita hati-hati. Dia malu juga menceritakan nya. Kalau saat ini ada pria yang suka padanya.


"Kenapa takut? Kamu takut dipermainkan?" tanya Rival. Jelita mengangguk.


"Kamu dilamar?" tanya Rival penasaran. Dia senang, jika Jelita langsung dapat pengganti suaminya.


"Entahlah, apa itu namanya lamaran atau tidak. Aku kurang yakin saja." Keluh Jelita, menghela napas kasar.


"Kalau boleh tahu, siapa pria yang mendekati mu sekarang? tanya Rival hati-hati. Dia takut Jelita tersinggung.


"Kamu kenal Dia." Jawabnya tidak percaya diri.


"Siapa?" tanya Rival semakin penasaran.


Jelita melirik Rival yang tidak sabaran menunggu jawabannya yang duduk bersila disebelahnya.


"Dodi." Jawab Jelita singkat. Dia mengulum kedua bibirnya. Dia sedikit malu mengatakan nama pria itu.


"Dodi? Dodi teman kita sekolah dulu? Dodi yang tinggal di kampung sebelah, dan sekarang bekerja sebagai penanggung jawab pengutipan retribusi pasar?" tanya Rival beruntun, Dia tidak menyangka Dodi bisa dekat Kembali dengan Jelita.


"Pantesan, tadi Aku tawarin menikah kamu menolak. Ternyata kami sudah ada calon?" goda Rival yang kini berdiri dengan ekspresi pura-pura kesal kepada Jelita.


"Kamu apaan sih?" Jelita mendorong bahu Rival dengan keras. Dia kesal dengan cara Rival menggodanya.


Rival yang hendak terjatuh itu, akhirnya bisa menyeimbangkan dirinya berdiri tegak dihadapan Jelita. Dia berkacak pinggang. Kesla juga dengan Jelita yang mendorongnya dengan kuat.


"Walau Aku tidak ada calon, Aku tidak mau dibuat jadi istri simpanan. Lebih baik hidup sendiri, daripada hidup nyakitin perasaan wanita lain." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Rival tercengang mendengar ucapan Jelita. Sepertinya Dia salah ucap.


Rival Kembali mendudukkan bokongnya. Menatap Jelita yang nampak sedih.


"Aku salah bicara ya?" tanyanya hati-hati melihat Jelita yang kini menitikkan air mata.


"Tidak, tidak koq. Aku aja yang terlalu sensitif." Jawabnya dengan menyeka air matanya dengan jemarinya. Dia membuang pandangannya dari tatapan Rival yang penuh tanda tanya.


"Kamu kenapa? Ada masalah serius dengan Dodi?" tanya Rival lembut. Masih memperhatikan jelita yang berusaha menghindar dari tatapannya.

__ADS_1


"Tidak. Dia baik, kami baik-baik saja." Jawabnya sendu. Air mata terus saja mengalir deras, membasahi pipi putihnya tanpa make up itu.


Rival jadi merasa bersalah, sepertinya Jelita sedih. Karena guyonannya tentang ajakannya untuk menikah.


"Maaf Jelita, kamu jangan marah ya. Aku tadi hanya bercanda. Aku tidak mungkin lah ajak kamu menikah, kamu tahu kan Aku punya istri. Aku tu tadi bercanda. Kamu jangan tersinggung." Ucap Rival memohon kepada Jelita, dengan mengatupkan kedua tangannya.


Jelita menampilkan ekspresi kesal kepada Rival, sambil melap air matanya. Rival pun semakin takut dibuatnya. Dia sudah senang, ada teman cerita hari ini. Jangan sempat Orang yang membuatnya tenang, jadi sedih karena dirinya.


"Kamu apaan sih, kayak anak ABG aja tingkahnya minta maaf." Jelita menepis tangan Rival yang terkatup dihadapannya.


"Aku teringat aja dulu. Suami pertamaku punya istri simpanan. Itu rasanya sangat sakit sekali. Minta cerai, Aku malu dan takut kepada Ibu. Kamu tahu sendirikan bagaimana tradisi dikampung kita. Jadi janda itu, sangat tidak enak sekali. Keluarga akan malu, jika anak gadisnya jadi janda. Bisa-bisa ibu bisa meninggal. Karena malu punya anak yang janda." Jelas Jelita dengan sedih, air nta terus saja mengalir tanpa isakan.


Rival terdiam dan merasa kasihan kepada Jelita. Kenapa kisah hidup mantannya ini begitu menyedihkan. Dia pikir Jelita bahagia dengan pernikahannya. Karena menikah dengan orang kaya.


"Maaf ya, Aku beneran tidak ada maksud untuk mengungkit masa lalumu, dengan ucapanku tadi, mengajak menikah siri. Itu hanya bercanda. Tidak ku sangka, kamu ternyata pernah dimadu." Ucap Rival merasa bersalah, bingung harus berbuat apa. Tidak mungkin juga Dia memeluk Jelita, mereka bukan muhrim.


"Iya, tidak apa-apa. Itu dulu, sudah lama sekali. Saat anakku masih kecil. Kisah memilukan itu sudah ku lewati. Makanya Aku jadi bijak begini. Karena perjalanan hidupku begitu berliku-liku. Diusia yang masih muda saat menikah dulu." Jelita menyeka air matanya dengan tisu yang diambilnya dari tas selempangnya. Tempat uang hasil dagangnya. Dia juga merapikan hijabnya yang mulai tidak beraturan karena tiupan angin yang kencang.


"Terimakasih ya kamu sudah mau jadi pendengar yang baik hari ini." Ucap Rival lembut. Jelita mengangguk.


Suara deringan ponsel dan getarannya membuat mereka sama-sama menoleh ke asal suara ponsel yang tergeletak di lantai pondok dekat paha Rival.


Dengan perasaan berdebar, Dia meraih ponsel itu. Ada nama Mely yang memanggil. Rival tidak berani mengangkatnya. Dia hanya memandangi layar ponsel itu. Dimana foto Mely juga nampak dilayar.


"Kenapa tidak diangkat?" Jelita kembali bertanya dengan heran. Apa sebenarnya didalam pemikiran Rival, kenapa Dia takut bicara dengan Mely di telpon.


"Aku tidak berani. Aku takut mengeluarkan kata-kata yang nantinya membuatnya sakit hati. "Ucapnya dengan rasa takut.


"Ya tinggal angkat saja. Dari tadi Dia menelpon, siapa tahu ada hal penting." Desak Jelita, membuat Rival semakin panik. Tidak mungkin hal penting. Pasti Mely ingin memarahinya.


"Tinggal nunggu besok lusa. Kami akan bertemu. Aku akan minta maaf padanya. Kalau bicara sekarang, Aku merasa tidak siap." Jelas Rival dengan wajah bingung. Dia pun kembali memandangi ponselnya yang tidak pernah berhenti berdering itu.


"Angkat saja, nanti kamu menyesal loh." Ucap Jelita tegas, Dia pun mulai memperhatikan gorengannya yang hanya laku sedikit. Tidak mungkin Dia memaksa Rival untuk memborongnya.


"Ma, Aku mau gorengan..!" rengek pengunjung yang melintas dihadapan pondok yang ditempati Rival dan Jelita.


Rival dan Jelita yang mendengar rengekan anak itu saling pandang. "Kasih aja, Aku yang bayar." Ucap Rival terseyum, dengan menghela napas panjang, akhirnya Dia pun memberanikan mengangkat telepon Mely setelah panggilan ke enam kali.

__ADS_1


TBC


Tinggalkan jejak dengan like dan vote, gifs ❤️😍👍🙏


__ADS_2