
...Jangan abaikan yang mencintai dan peduli padamu. Jangan sampai engkau terlambat menyadari bahwa bulan telah hilang, disaat kau sibuk menghitung bintang....
Setelah sholat shubuh Rival berangkat dengan supirnya menuju kota S. Dia harus cepat menyelesaikan semua tugasnya hari ini. Termasuk mengurus simcardnya di GraPARI. Kemudian berkunjung ke pasar untuk bertemu dengan Dody untuk membayar hutangnya dan sebelum Magrib Dia harus sampai di rumah. Karena acara kenduri diadakan hari ini, tapi puncak acaranya adalah malam setelah sholat Isya. Yaitu acara tahlilan ketiga hari meninggalnya Ibu Durjanna.
"Pak Rudy, apa pagi ini ada telepon dari Mely atau Mama Maryam kepada Bapak?" tanya Rival penuh harap. Dia sempat kepikiran, kalau nomornya tidak bisa dihubungi. Setidaknya orang rumahnya berusaha menghubungi Pak Rudi.
"Tidak ada tuan." Jawab Pak Rudy dengan enggan. Rival tidak melanjutkan pembicaraan itu lagi. Kali ini pikirannya tidak lepas dari Mely dan anak-anaknya. Sebenarnya Dia ingin pulang. Tapi, semuanya serba tanggung. Acara kenduri pun belum selesai. Ditambah Dia harus meninjau usaha barunya di kota S.
Rival yang tidak tenang itu, berusaha mengistirahatkan tubuhnya dengan menyetel sandaran kursi, agar bisa tidur dengan nyaman. Semalam Dia baru bisa tidur setelah pukul tiga dini hari. Karena kurang tidur tersebut, Dia merasa tubuhnya tidak fit.
Karena mereka memulai perjalanan habis shubuh, tentunya akan mengurangi mereka berlama-lama dalam kemacetan. Sehingga tidak butuh waktu lama, dalam waktu empat jam. Mereka sudah sampai di Kota S.
"Tuan, kita sudah sampai." Rudi Akhirnya berani membangunkan Rival. Setelah menunggu Rival tertidur di mobil selama tiga puluh menit. Rival yang memang kurang tidur itu, tidak bisa dibangunkan dengan suara saja. Akhirnya Pak Rudi turun dari mobil, kemudian membuka pintu mobil sebelah Rival dan membangunkan nya dengan menepuk pelan lengan Rival. Hingga tepukan ketiga pun Rival terbangun.
Rival membuka matanya yang masih terasa berat itu, rasanya sangat berat. Seperti ditimpah batu besar saja. Dia pun bangkit dari tidurnya, merapikan pakaiannya yang sedikit kusut dibagian punggung karena terlalu lama tertekan oleh tubuhnya.
Setelah keluar dari mobil mewahnya. Rival merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Setelah itu Dia melangkah kan kakinya menuju gedung GraPARI untuk mengurus simcardnya yang hilang.
Proses mengurus simcardnya cepat selesai, karena Rival sudah menyiapkan semua yang diperlukan. Termasuk no ponsel yang sering dihubungi. Jadi Rival memberikan no ponselnya Sekar, Firman dan Rili. No ponsel Rili sendiri, didapat Rival dari Sekar.
Setelah urusan mengurus SIMcard selesai. Rival pun mendatangi counter ponsel. Dia pun membeli ponsel keluaran terbaru saat itu.
Dia juga membeli ponsel yang sama untuk Mely, tapi dengan warna yang berbeda.
"Bang, ini bonus karena membeli dua ponsel yang sama tipenya." Ucap Seseorang wanita ramah. Menyodorkan gantungan ponsel couple yang terbuat dari besi putih berbentuk love terpisah. Yang apabila disatukan maka akan menghasilkan cahaya dari boneka pria dan wanita dalam gantungan ponsel itu.
Rival memperhatikan gantungan ponsel itu dengan mata berbinar-binar. Sungguh sangat cantik dan indah disaat penjual ponsel mendekatkan gantungan ponsel yang gambarnya adalah tanda cinta yang terbelah dan di tengah-tengah ada gambar pria dan gantungan ponsel satunya lagi ada gambar wanita. Gantungan ponsel itu akan memancarkan cahaya apabila disatukan.
"Apakah Mely akan menyukainya?" ucapnya pelan yang masih bisa didengarkan oleh penjual ponsel. Ini baru pertama kalinya Dia akan memberikan hadiah kepada istrinya itu.
Sungguh, Rival memang pria tidak romantis yang tidak bisa menyenangkan hati Istrinya. Kasih hadiah saja tidak pernah.
"Gantungan ponsel couple ini sangat bagus Bang. Pasangan Abang pasti menyukai." Ucap wanita yang wajahnya Ayu itu.
Rival tersenyum, kembali memperhatikan gantungan ponsel itu yang masih dikemas dalam mika. Dia pun memasukkan ponsel dan gantungan ponsel itu ke dalam tas nya. Meninggalkan counter dengan perasaan bahagia. Dia sudah tidak sabar ingin pulang. Memeluk istrinya itu, menghadiahinya ciuman bertubi-tubi.
Tepat pukul sebelas siang, urusan Rival pun selesai di kota S. Dia langsung bertolak ke kota G. Yang terlebih dulu singgah di kota PSP. Kota yang terkenal dengan buah salaknya. Dia pun memborong salak sepuluh goni, hingga mobilnya di jok belakang supir penuh dengan salak.
"Pak Rudi, kita tidak langsung pulang. Kita singgah sebentar di pasar." Ucap Rival sembari memeriksa fitur ponsel barunya.
__ADS_1
"Iya Tuan, tapi Aku tidak tahu dimana letak pasar yang tuan katakan " Jawab Pak Rudi, melirik Rival disebelahnya.
"Nanti saya kasih petunjuk arahnya Pak. Pasarnya sebelum kampung kita." Jelas Rival mulai membuka aplikasi sosial medianya lagi, berharap Mely membalas pesannya dari mesenger yang dikirimkannya semalam melalui ponsel Sekar.
Tapi, ternyata akun istrinya itu sudah lama tidak digunakan. Rival tahu itu, Mely memang tidak terlalu aktif di dunia Maya. Rival pun mulai mencari sosial medianya Febri. Berharap Febri aktif. Dia akan menanyakan keadaan istrinya melalui Febri. Kalau Febri online. Dia juga akan meminta nomor ponsel Mely atau Mama Maryam. Bila perlu nomor ponsel Febri juga. Karena kontak di ponsel barunya masih kosong.
Lama Rival melakukan pencarian dengan nama Febri. Tapi, satu akun pun tidak ada yang menunjukkan kalau itu akunnya si Febri. Babysitter nya si kembar.
Dengan kesalnya Rival meletakkan ponselnya di dalam dashboard, Dia sudah capek mencari akun yang foto profil nya wajah si Febri. Tapi, gak ada. Mungkin si Febri menggunakan nama lain di sosial medianya.
"Tuan, sebentar lagi kita akan sampai di persimpangan mau masuk ke kampung tuan. Jalan mau ke pasar masuk ke simpang mana?" tanya Pak Rudi.
Rival yang hampir terlelap itu akhirnya, menegakkan tubuhnya. Celingak-celinguk melihat ke badan jalan.
"Simpang yang di depan belok kanan Pak." Ucap Rival menyambar botol air mineral yang ada di tempat minum, di pintu mobilnya.
Sesampainya di pasar, waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Pasar sudah mulai nampak sepi. Hanya pedagang yang nampak mulai menyusun barang dagangannya yang tidak laku dan akan dibawah pulang.
"Hai bro," teman-teman Rival di pasar itu ternyata masih nongkrong di tempat mereka mangkal. Belum ada yang pulang. Penghuni rumah makan banyak, karena Rayati yang menahan teman-teman nya Rival itu, agar jangan pulang dulu.
Dia mengatakan Rival akan datang dan bagi-bagi uang. Siapa sih yang tidak mau uang. Akhirnya banyak orang yang masih mengumpul di tempat mangkal itu. Tempat mangkal itu adalah sejenis rumah makan.
"Kamu banyak berubah Rival." Ucap Dodi, yang kini mempunyai tanggung jawab mengutip uang yang dikutip petugas dari pedagang. Termasuk Rayati, masih bekerja sebagai pengutip jasa retribusi pasar.
"Aahh, kamu bisa saja. Aku masih seperti yang dulu." Ucapnya mulai menyambar roti manis bentuk bulat yang ada di depannya yang tergeletak di meja. Sekejap Bangku kosong disekitar Rival sudah berisi. Mereka menunggu uang dari Rival. Seperti perkataan Rayati.
"Kata Rayati, kamu sudah jadi orang kaya di kota M. Dan hari ini, kamu mau bagi-bagi rezeki kan Rival. Makanya, kamu datang ke pasar ini?" Ucap Zainal, masih teman Rival di pasar itu.
Rival tersenyum, Dia tahu kawan-kawannya itu ingin mengompasnya. Maklumlah preman pasar, yang hobbynya suka memalak.
"Alhamdulillah, masih diberi kepercayaan sama Allah, Memiliki Rezeki untuk berbagi." Ucapnya tersenyum, mulai merogoh tas nya. Mengeluarkan satu ikat uang yang jumlahnya sepuluh juta.
Rival sih merasa kurang tepat untuk memberi uang kepada kawan-kawannya itu, secara kawan-kawannya itu masih sehat dan muda. Tentu masih kuat cari uang, kalau tidak malas.
Rayati datang membawa juice jeruk kepada Rival. "Benarkan apa yang Aku bilang. Abang Rival akan datang dan berbagi rezeki kepada kita." Ucapnya terseyum begitu manis. Tapi Rival tidak mau melihat wajah Rayati yang kini sudah meletakkan juice jeruk dingin dihadapannya.
"Iya, Aku tadinya tidak percaya. Tapi sekarang Aku sudah melihat dengan mata kepala ku sendiri." Ucap Buyung, yang berkulit hitam manis berambut kribo.
"Aku akan membantu Abang membagikan nya." Rayati langsung menyambar uang Rival dari tangannya. Dia tahu Rival tidak akan marah.
__ADS_1
Dengan cepat Rayati membagi uang Rival itu, setiap orang mendapatkan sebanyak lima ratus ribu. Sedangkan Dodi mendapatkan Enam ratus ribu. Karena Rival pernah berhutang seratus ribu kepadanya dulu.
Setelah mendapat uang, mereka pun pulang dengan meyalami Rival dan mengucapkan terima kasih. Rival pun tersenyum, walau uangnya habis lebih dari lima juta. Setidaknya Dia bisa berbagi. Yang Dia khawatirkan adalah, uang pemberian nya. Malah disalah gunakan untuk berjudi.
Kini tinggallah Rival, Rayati dan Dodi di rumah makan itu. Beserta pemilik rumah makan dan karyawan nya.
"Tidak disangka kamu jadi orang kaya sekarang Rival." Dodi Kembali mengungkapkan, rasa terkejut nya.
"Iya, Aku pun tidak menyangka." Jawab Rival datar. Dia dengan malasnya melihat Rayati yang dari tadi tebar pesona kepadanya.
"Aku juga tidak menyangka, kamu dan Jelita menjalin hubungan. Akhirnya cita-citamu terkabul juga untuk mempersuntingnya. Walau sudah janda."
Dodi tersenyum simpul. Ya, Dia bahagia sekali. Wanita yang lama ditaksirnya akhirnya akan menjadi ratunya.
"Iya, sekalian Aku mau kasih tahu kamu. Kami akan menikah besok malam. Dan insya Allah paginya akan berangkat umroh." Ucap Dodi dengan tersenyum, mulai menghabiskan kopi susu yang dipesannya dari tadi.
Jelita meminta tidak usah diadakan resepsi, lebih baik uangnya digunakan untuk berkunjung ke Mekkah.
"Waahhh... bulan madu di tanah suci dong?" Rival menatap Dodi dengan tersenyum bahagia. Ternyata kawan dan mantannya akan menjadi pasangan suami istri.
"Iya," Jawab Dodi. Dia menunduk, merasakan ponselnya berdering. Dia pun merogohnya, memperhatikan ada nama Jelita yang menelpon.
"Diminum juice nya Bang." Ucap Rayati yang duduk di kursi dihadapan Rival yang dibatasi oleh meja.
"Iya," Jawab Rival malas, Dia memang kebetulan haus bener. Dia pun menyedot juice itu habis sepertiga gelas.
"Rival, Aku duluan ya." Ucap Dodi, bergegas pergi menuju mobilnya di parkiran. Jelita memintanya untuk ditemani, menjemput kebayanya ke tukang jahit. Ya, Jelita hanya menjahit kan bajunya ditukang jahit. Tidak beli siap di butik.
Pernikahan mereka serba mendadak, itu karena semalam Dodi memaksa Jelita, agar mau menikah malam ini. Dan ternyata Jelita menyetujui nya. Walau nikah siri, sebelum dokumen untuk pernikahan selesai di urus.
"Iya Dodi, hati-hati. Ingat besok kamu punya tugas besar." Ucap Rival tertawa kecil, menggoda kawannya itu.
"Kalau itu aku tidak akan lupa." Teriak Dodi dengan melambaikan tangannya dan tertawa, adegan-adegan malam pertama merayap-rayap dipikiranya.
Kini tinggallah Rival dan Rayati di rumah makan itu, Sedangkan pemilik rumah makan pergi berbelanja bahan pokok masih di sekitar pasar itu, yang akan dimasak besok. Dan hanya menyisakan beberapa pegawai di dapur yang sedang bersih-bersih.
Mengetahui rumah makan jadi sepi, Rival pun berniat pulang. Dia menatap keluar, memperhatikan mobilnya yang terparkir di depan rumah makan, yang ternyata Pak Rudi sudah tidak ada di dalam mobil itu. Tadi Pak Rudi, memilih tetap di dalam mobil dengan membuka kaca mobil. Karena Rival mengatakan hanya sebentar di dalam rumah makan. Tapi, nyatanya Rival sudah lebih dari satu jam di rumah makan.
"Cepat sekali sih sayang pulangnya." Ucap Rayati manja, menarik lengan Rival yang sudah berjalan lima langkah meninggalkan tempat duduknya.
__ADS_1
"Iya Dek, kan nanti malam ada acar tahlilan Ibu di rumah." Ucap Rival dengan menguap, Dia tiba-tiba saja merasa kantuk sekali.
"Oohh.." Ucap Rayati tersenyum devil, memperhatikan Rival yang mulai memegangi kepalanya yang mulai terasa sedikit pusing.