
Rival yang menerima serangan mendadak itu, dibuat membatu. Bibir kenyalnya seolah menjadi candu buat Mely. Ini ketiga kalinya Mely melakukan serangan mendadak tanpa ada perlawanan dari Rival.
Jujur perlakuan Mely itu, membuat hormon testosteron Rival merontah. Ada niatan untuk membalas Luma*Tan Mely disaat Mely memperdalam ciumannya dengan menekan kepala Rival. Mely seolah ingin melahap bibir Rival. Dia gemes melihat Rival seperti bayi yang tidak suka diciumin.
Perlakuan Mely itu sontak membuat Rival terkejut dan tersadar. Dia menjauhkan wajah Mely dengan mendorongnya. Mely melawan, akhirnya dengan sekuat tenaga Rival kembali mendorong tubuh Mely hingga ciuman itu pun terlepas.
Rival langsung memalingkan wajahnya. Dia malu sendiri dengan tindakan wanita yang disebelahnya, sedangkan Mely yang kepalang basah itu, ya udah basah aja sekalian. Rasa malunya pun dikesampingkannya, yang penting rasa rindu yang terpendam selama tiga bulan terlampiaskan.
Mely memegang pundak Rival yang tidak mau melihat kearahnya. "Apa Aku begitu menjijikkan? sehingga Abang memalingkan wajah begitu?" ucap Mely dengan terisak, Dia juga sebenarnya malu dengan tingkahnya. Tapi, jujur sejak mencium bibir Rival di bus. Ciuman itu selalu membekas dihati dan pikirannya. Karena baru kali itu Dia melakukannya.
Memang diawal, Dia kesal karena akan dinikahkan. Tapi, seiring berjalannya waktu. Yang ada dipikirannya hanya lah Rival. Apalagi sejak kejadian kecelakaan itu.
Rival tidak menjawab pertanyaan Mely, tangan Mely yang dipundaknya juga dibiarkannya. Bisa-bisa makin banyak dosa Dia kalau bersama dengan wanita ini. Kira-kira begitulah pikiran Rival saat ini. Karena Rival merasa pernikahan mereka yang di kantor polisi tidak sah.
"Abang Rival, jangan begini. Jawab!" teriak Mely, Dia semakin terisak. Mendengar Mely semakin terisak Rival pun tidak tega. Dia harus tegas kepada gadis yang lagi labil ini. Dia pun berbalik, sehingga Mely melepas tangannya dari pundak Rival.
"Yang Adek lakukan itu tidak benar. Itu dosa."
"Dosa? dosa apa? kita sudah menikah. Abang yang berdosa mengabaikan ku. Kalau dihitung mulai dari kejadian di kantor polisi, Aku ini sudah enam bulan jadi istrimu." Ucap Mely dengan menatap sendu kepada Rival. Dia seperti istri yang terabaikan saja, yang minta kasih sayang dari suaminya.
"Pernikahan di kantor polisi itu tidak sah." Ucap Rival mencoba memberi pengertian kepada Mely
"Tidak sah? apanya yang tidak sah? saksi saja mengatakan sah." Ucap Mely dengan menyeka air matanya sendiri dengan tisu yang diambilnya dari dashboard mobil.
Rival diam, tidak ada gunanya berdebat dengan Mely yang labil ini. Dia pun menyalakan mesin mobil.
__ADS_1
"Aku tidak mau kuliah." Ucap Mely dengan cepat Dia membuka pintu mobil, Dia keluar dengan menangis. Rival mematikan kembali mesin mobilnya. Keluar dari mobil dan mencoba mengejar Mely yang sudah berjalan di trotoar menjauh dari tempat Rival berada.
Karena memang Rival belum bisa berjalan cepat atau pun berlari. Akhirnya Dia hanya melihat kepergian Mely yang menjauh darinya. Dia pun mendudukkan bokongnya di trotoar tersebut. Menghela napas dalam dan mengusap wajahnya dengan kasar sampai kebelakang kepalanya.
Sedangkan Mely menggerutu dalam hati. Dia benci sekali dengan dirinya. Kenapa Dia bisa suka kepada Rival. Padahal Dia anti untuk jatuh cinta. Dia suka kebebasan bahkan temannya rata-rata pria. Tapi, Rival sukses mengaduk-aduk hati dan pikirannya.
"Pria macam apa Dia itu, Aku merajuk bukannya disusul, dikejar kek terus dipeluk dari belakang. Ini Aku dibiarin pergi." Ucapnya dengan menangis tersedu-sedu sambil menendang apa saja yang ada dihadapannya. Tanpa Mely sadari Dia menendang botol minuman kaleng dan mengenai kepala orang di depannya.
Prang.. kemudian Mely pun menoleh juga, setelah Dia mendengar suara orang mengaduh kesakitan dan memegangi kepalanya. Sontak mata Mely membulat penuh, disaat Dia merasa nyawanya terancam. Karena pria yang seperti preman itu berjalan ke arahnya dengan ekspresi wajah siap menerkam.
"Tiga.....Lari....!" teriak Mely Dia berbalik dan berlari kencang ke arah Rival yang masih duduk di trotoar dekat mobil.
"Bang Rival hidupkan mobilnya, cepetan.... buka pintunya juga. Cepetan....!" teriaknya sambil memberi kode kepada Rival bahwa Dia sedang dikejar-dikejar preman.
Rival ingin tertawa melihat kelakuan Mely, tapi ditahannya. Dia tidak seperti Mely yang sikapnya ceplas-ceplos. Mely yang sudah duduk di kursi mobil dengan tidak tenang itu, hanya bisa menarik napas dalam. Karena memang lari cepat yang dilakukannya menguras tenaga.
Rival belum berani komentar, Dia membawa mobil ke arah kantornya. "Suamiku yang cuek, kenapa malah jalan ke arah kantor?" tanya Mely dengan melihat ke arah Rival.
Rival yang dipanggil dengan sebutan suami diam saja. Dia malas beradu argument dengan Mely. Jadi terserah kepada Mely lah mau manggil Dia apa. Di protes pun nanti Mely banyak sekali jawabannya.
"Abang belum tahu jalan ke kampus mu? apa memang masih mau ke kampus?" tanya Rival, kali ini Dia melirik ke arah Mely.
"Putar lagi bang, Aku harus ke kampus ini mau jumpai dosen pembimbingku. Hari ini Aku mau revisi skripsi. Biar bisa Minggu depan ikut sidang." Ucap Mely dengan nada serius.
"Tapi, Abang sudah telat mau ke kantor. Kamu sih tadi pakai Acara kabur segala."
__ADS_1
"Sudah tahu kabur, kenapa tidak dikejar?" Mely sewot dan gondok. Ekspresi wajah Mely sangat lucu Dimata Rival. Diapun tertawa kecil.
"Ayah tidak akan marah itu, cepat sedikit. Iya... itu simpangnya." Ucap Mely dengan memberi petunjuk arah kepada Rival. Hanya butuh lima menit mereka pun sudah sampai di parkiran fakultas Mely.
"Kenapa tadi Abang tidak menyusulku?" ucap Mely, Dia masih mau membahas kenapa Rival tidak mengejarnya. Rival tertawa dalam hati. Melihat sikap Mely yang memang tidak bisa menutupi apa yang dirasakannya. Beda sekali dengan mantan istrinya. Yang selalu menyimpan rasa gundah gulana ya sendirian.
"Bagaimana Abang mau menyusulmu. Kaki Abang belum sembuh total. Bisa berjalan dan membawa mobil saja Abang sudah bersyukur." Ucap Rival menatap serius wajah Mely yang merajuk itu. Ingin rasanya Mely kembali meluma*t bibir Rival yang ada dihadapannya. Tapi, Dia takut Rival akan menjauh lagi darinya.
"Oohh, kirain Abang tidak peduli denganku." Ucapnya dengan perasaan malu. Sungguh tingkah Mely memang memalukan.
"Nanti kalau sudah saatnya pulang. Kabari, Abang akan jemput." Ucap Rival tersenyum.
"Baiklah suamiku." Jawab Mely dengan cengir kuda. Rival pun tidak mempermasalahkannya lagi. Mau dipanggil suami, om, Abang terserah Mely saja. Toh dibilangin pun anaknya tidak bisa dikasih tahu.
"Mana tangannya..!?" seru Mely yang membuat Rival bingung.
"Tangan apa Dek?" wajah Rival makin nampak bingung, melihat ekspresi Mely ingin marah, Karena Rival tidak mengerti maksud Mely.
"Mana punggung tangan Abang. Adek mau cium punggung tangan suamiku." Ucap Mely dengan tertawa kecil dan langsung menarik tangan Rival dan menjabatnya serta mencium punggung tangannya yang membuat Rival mematung ditempat. Bahkan setelah Mely menutup pintu mobil pun Rival masih mematung dan akhirnya tangannya terjatuh dan Dia pun tertawa.
TBC.
Mampir juga ke novel ku yang berjudul
Dipaksa menikahi Pariban
__ADS_1