
"Aku seperti pernah melihat kalung seperti ini." Ucapnya dengan penuh tanda tanya dan rasa penasaran. "Tapi, dimana ya Aku pernah melihatnya?" Mely nampak berfikir keras mengingat dimana Dia pernah melihat kalung itu. Tidak kunjung mendapatkan petunjuk. Mely pun kembali memasukkan Kalung itu ke dalam kotak plastik tersebut.
Dia pun menyimpan kembali tas ransel Rival di tempat semula. Dengan lesunya Mely kembali duduk di atas ranjangnya Rival.
"Aku sangat benci dengan diriku, yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa Abang Rival belum bisa melupakan istrinya. Sepertinya Aku harus menunggu, kalau Dia benar-benar menginginkanku. Mungkin selama ini sifatku seperti murahan, sehingga Dia tidak tertarik kepadaku. Haruskah Aku kalem seperti mantan istrinya?" Mely berbicara sendiri, dengan intonasi suara yang pelan. Dia menarik napas dalam dan menghembuskannya kasar. Dia pun berjalan menuju garasi. Dia akan merilekskan diri nya di salon.
🌛🌛🌛
Waktu sudah menunjukkan pukul 19.45 Wib. Mely nampak duduk di atas ranjangnya dengan mengotak-atik laptop dihadapannya. Dia sedang fokus menatap layar datar itu. Mengedit skripsinya yang salah.
Ceklek....
Seorang wanita cantik, masuk ke kamar Mely dan mendudukkan bokongnya di sisi ranjang. Dia adalah Mamanya Mely.
Dengan tersenyum Mamanya memperhatikan dengan seksama Putrinya itu yang nampak serius dengan aktifitas nya. Mamanya Mely sangat senang melihat perubahan positif yang banyak terjadi kepada putrinya itu setelah mengenal Rival.
"Mama penasaran, hubunganmu dengan Rival sudah seperti apa?" Ucap Mama Mely dengan nada lembut. Mely tidak menanggapi ucapan Mamanya, Dia masih fokus dengan benda pipih dihadapannya.
"Mely, kamu dengar gak Mama ngomong?" ucap wanita yang melahirkan nya itu dengan nada sedikit kesal. Dari tadi saat makan malam, Mely mencueki dirinya dan suaminya.
"Apa sih Ma, Aku lagi sibuk ini. Aku ingin cepat lulus dan cari kerja." Ucapnya berdecak kesal, dari tadi saat makan malam. Mamanya membahas Rival terus. Karena memang Rival ada acara makan malam dengan klien. Jadi Dia belum pulang sampai saat ini.
"Mama senang, kamu sudah banyak berubah. Setidaknya Mama tidak akan mengkhawatirkan mu lagi. Jika Mama sudah tidak ada." Ucap Mamanya dengan sedih. Mely melihat ke arah Mama nya dengan tatapan bingung.
"Jangan bicara begitu dong Ma. Mama masih muda sudah mau masuk neraka saja." Ucapnya dengan terseyum kecil, yang membuat Mamanya kesal dan memukul lengan Mely.
__ADS_1
"Dasar anak edan, Doain Mamanya masuk neraka. Mama jamin nantinya akan masuk surga. Karena Mama ini baik dan sangat dermawan. Dan Mama juga rajin ibadah. Kalau kamu iya, jelas akan masuk neraka karena durhaka." Ucap Mama Mely dengan kesalnya. Dia sampai menaikkan bibirnya sebelah kiri dan melototkan matanya kepada putrinya itu.
Mely tertawa mendengar ucapan Mamanya itu.
"Idihhh si Mama muji-muji diri sendiri. Apa Mama yakin amal Mama itu sudah diterima Sang Pencipta. Baiklah Mama banyak pahalanya. Sehingga malaikat penjaga surga terlalu kencang menendang Mama, sehingga surga terlewati dan masuk ke Neraka." Ucapnya cekikan, Dia merasa sangat lucu. Sedangkan Mamanya geram.
"Dasar kamu. Emang mau masuk surga di tendang. Orang yang bertakwa itu, Allah berikan delapan pintu surga. Kita akan masuk ke surga dengan langkah tenang bukan di tendang. Tapi, kalau kamu anak bandel, sebentar lagi akan ditendang Rival." Ucap Mamanya dengan emosinya, Dia sampai bangkit dari tempat duduknya. Dan ingin meninggalkan Mely.
Tapi, langkah Mamanya terhenti, disaat Mely menahan lengan Mamanya itu.
"Apa maksud Mama?" tanya Mely dengan heran dan bingungnya. Kenapa pula Mamanya mengatakan Rival akan menendangnya.
"Awas, lepasin tanganmu. Makanya jadi anak harus bener. Ngomong sama orang tua tidak ada sopannya." Mamanya menepis tangan Mely.
Mely pun beranjak dari ranjangnya mensejajarkan dirinya dengan Mamanya yang kini berdiri di dekat ranjangnya.
"Tadi sengaja Mama tanyain hubunganmu dengan Rival. Karena posisimu sekarang sudah terancam di rumah ini." Ucap Mama Mely menatap lekat wajah putrinya yang bingung itu.
"Terancam? maksudnya apa Ma? jangan membuatku tambah pusing deh." Ucapnya dengan frustasi, Dia menarik tubuh Mamanya agar kembali duduk di ranjang.
"Dengar baik-baik dan cerna, serta gunakan otakmu dengan benar. Ayah akan mewariskan semua hartanya kepada Rival. Kemungkinan besok Ayah akan memberikan semua dokumennya kepada Rival suamimu. Jadi, mulai dari sekarang, kamu harus bisa membuatnya benar-benar tunduk kepadamu. Jangan sampai Dia dilirik gadis lain dan meninggalkanmu. Maka tamatlah riwayatmu." Ucap Mama Mely dengan tegas. Mely sangat geram mendengar ucapan Mamanya itu.
"Mama koq gitu ngomongnya. Aku putri di keluarga ini. Mama berkata, seolah Aku ini bukan anak Mama." Mely cemberut, Dia memalingkan wajahnya dari Mamanya. Kenapa Mamanya malah membela Rival.
"Kamu memang putri di keluarga ini. Tapi kamu tahunya hanya buat onar dan kerusuhan. Ayah tidak bisa mengandalkan mu. Ayah tidak mau Dia bangkrut. Makanya Dia akan mewariskan semua harta kita kepada Rival. Jadi, Mama mohon kamu berubah lah. Tunjukkan kepada Ayah, kalau kamu punya potensi. Agar Ayah mengurungkan niatnya untuk memberi hartanya kepada Rival." Ucap Mamanya dengan menatap wajah Mely yang bingung serta ketakutan itu.
__ADS_1
Bagaimana mungkin Ayahnya akan memberikan semua hartanya kepada orang yang tidak dikenalnya. Ini sungguh aneh, walau memang Abang Rival itu orang baik. Tapi, aneh saja jika memberikan semua harta kepada orang asing.
"Itu tidak akan terjadi Ma. Aku tidak akan membiarkannya." Ucap Mely dengan ekspresi takutnya. Dia sampai memegangi kedua bahu Mamanya guna meyakinkan dirinya, bahwa ucapan Mamanya itu tidak benar.
"Itu yang akan terjadi. Ayah sudah menyiapkan semua berkasnya. Maka untuk itu, kamu harus baik sama Rival, buat Dia menyukaimu. Agar kamu jadi Nyonya Rival. Tentunya kamu juga akan mendapatkan kekayaan yang diberikan Ayah." Mama Mely meyakinkan putrinya itu.
"Kalau semua diwariskan kepada Abang Rival, terus Mama dapat apa? Mama kan istri Ayah." Ucap Mely dengan wajah tidak percaya.
"Mama juga masih dapat bagian dari harta Ayah. Tapi, jauh banyak dari yang diberikan kepada Rival. Karena Mama memang tidak rakus dengan harta. Jadi Mama terima-terima aja keputusan Ayahmu. Yang Mama khawatirkan itu kamu." Mengelus bahu putrinya yang nampak bingung dan terkejut itu.
"Ayah koq seperti itu sih? Aku harus menemui Ayah sekarang." Mely beranjak dari duduknya dan ditahan oleh Mamanya.
"Tidak ada gunanya kamu protes. Kata Ayah harta Rival nantinya ya hartamu juga. Makanya kamu harus cepat hamil dari anak Rival. Biar kalian ada ikatan. Buat Dia suka kepadamu. Kamu jangan banyak tingkah, yang akan membuatnya ilfeel dan meninggalkanmu." Ucap Mama Mely. Dia kasihan juga melihat putrinya itu. Tapi, keputusan suaminya sudah bulat.
Mata Mely berkaca-kaca mendengar ucapan Mamanya itu. Dia kembali duduk lemas di atas ranjangnya. Ketakutannya bertambah besar, Dia takut ditinggalkan oleh Rival. Apalagi Dia semalam menghina Rival, dengan mengatakan Rival orang miskin. Dan sekarang hanya dalam waktu dua hari, Rival akan menjadi pewaris perusahaan raksasa AliTop Group.
"Akankah Aku akan menjadi gembel?" gumamnya dalam hati. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Itu tidak boleh terjadi.
"Sudah, kamu tenang Mama akan bantuin kamu, agar Rival selalu bersamamu." Ucap Mamanya menatap wajah putrinya yang sudah kusut itu.
Ceklek....
Mely dan Mamanya melihat ke arah pintu, mereka terkejut karena ada yang membuka pintu. Ternyata Ada Rival diambang pintu berdiri dengan senyuman yang begitu manis.
TBC
__ADS_1
Tinggalkan jejak dengan like coment positif dan Vote. Jadikan NOVel ini sebagai favorit