
Rival telah selesai dengan acara makannya, sedangkan Mely masih belum selesai juga. Rival meletakkan bekas makannya di tempat sampah, kemudian berjalan ke kamar mandi, mencuci tangannya di wastafel. Dia memperhatikan wajahnya yang terpantul di cermin yang ada di atas wastafel tersebut.
Kedua bola matanya membelalak, melihat kismark sudah berjejer di lehernya. Dia melepas satu lagi kancing kemejanya, memeriksa lehernya lebih detail. Ya ampun leher Rival benar-benar berubah warna jadi merah keunguan, gara-gara aksi Mely yang nafsuan itu. Pantesan tadi di mushollah banyak mata yang melihatnya dan tersenyum aneh kepadanya. Ternyata, orang-orang memperhatikan bekas cu*pang di leher Rival. Dimana yang kebetulan kancing kemeja atasnya saat itu tidak dikancingnya.
Tadi setelah Dia pelepasan Dia buru-buru mandi besar, tanpa memperhatikan tubuhnya di cermin. Dia sangat malu kepada Mely. Tidak disangka Mely membuatnya begitu dipuja. Entah dari mana wanita itu, bisa melakukan seperti itu. Rival menggoyangkan kepalanya. Membuyarkan pikirannya yang masih disisi oleh aksi Mely yang begitu lihainya memainkan juniornya.
Mely yang juga selesai makan dan ingin mencuci tangannya, walau Dia makan pakai sendok. Menunggu Rival agar keluar dari kamar mandi. Tapi, tidak kunjung keluar. Sehingga Dia pun menyusul Rival dengan diam-diam. Mely memperhatikan Rival dari ambang pintu kamar mandi yang tidak dikunci itu, sedang memeriksa lehernya, sambil tersenyum.
Melihat Rival asyik dengan kegiatannya, tiba-tiba saja Mely memeluknya dari belakang. Dan kedua tangan Mely berada di atas wastafel.
"Hidupkan kran nya sayang.!" titah Mely dan memasrahkan kepalanya di punggung Rival. Rival Pun menghidupkan kran, sehingga air membasahi tangan Mely yang putih dan jari-jarinya sangat lentik. Walau Dia Suka olahraga.
"Cuciin dong!" Mely merengek, masih menempelkan kepala nya di punggung Rival. Sungguh Rival seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Manut aja dengan titah Mely.
Rival mencuci tangan Mely dengan sabun cair dan membilasnya. Dan melapnya dengan handuk kecil yang tergantung di atas wastafel.
Setalah tangannya bersih, Mely meminta Rival untuk berbalik badan, sehingga mereka bersitatap dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Pulang yuk?" ucap Mely masih memeluk Rival dan memandangi wajahnya.
"Pulang?"
"Iya."
"Abang masih banyak pekerjaan. Dokument yang mau diperiksa juga masih banyak. Adek pulang duluan saja ya..!?" ucap Rival masih menatap lekat wajah istrinya selalu buat hatinya kacau tersebut.
__ADS_1
"Aaahh malas, tidak ada orang di rumah. Aku disini saja nungguin Abang siap kerjaannya." Mely membenamkan kepalanya di dada Rival.
"Aaduuuhhh.... kalau Mely disini. Kerjaaanku tidak akan beres. Dia pasti banyak tingkahnya." Rival membathin. Dengan wajah yang mulai setres. Kebingungan jelas terlihat diwajah Rival.
Mely mendongak, Dia merasa Rival tidak suka kalau Dia berada di ruang kerjanya. Itu jelas terlihat dari ekspresi wajah Rival.
"Aku tidak akan mengganggu, Aku nanti tidur saja di ruang istirahat. Aku kantuk banget, mulut ku kram, efek kelamaan em*ut pisang." Ucapnya apa adanya, yang membuat Rival syok dan sangat terkejut. Dia sampai melepaskan tangan Mely yang membelit perutnya.
Rival berjalan cepat menuju meja kerjanya, sungguh mengingat aksi Mely terhadap benda pusakanya membuat Rival malu, entahlah Dia pun tidak tahu lagi mengungkapkan perasaannya sekarang. Dia suka dengan cara Mely menyentuhnya. Tapi, mungkin karena belum biasa. Rival jadi salah tingkah, grogi bercampur aduk jadi satu.
Mely pun keluar dari kamar mandi dengan kesal, karena pelukannya dilepaskan Rival dan tanpa aba-aba meninggalkan di kamar mandi.
Mely masuk ke ruang istrirahat yang ada di ruang kerja Rival tersebut. Ada Bed ukuran 4 kaki dan satu lemari pakaian, kursi dan meja hias di ruangan itu. Mely langsung membaringkan tubuhnya tak butuh waktu lama Dia pun tertidur.
Rival nampak serius memeriksa dokumen yang harus ditandatanganinya. Karena Pak Ali ke luar Negeri, sehingga Dia lebih sibuk dari biasanya.
Dia merenggangkan otot-ototnya dengan menggeliat dan menekuk jari-jarinya yang kaku, sehingga menimbulkan bunyi. Dia akan pulang, Dia sungguh lelah.
Setelah sampai di basment Dia memasuki mobilnya dan melajukannya. Dia sungguh melupakan Mely yang tertidur di ruang kerjanya. Setalah berkendara setengah perjalanan, Dia baru teringat kepada Mely. Sehingga Dia pun putar balik, dan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Setelah sampai di parkiran, Dia terlebih dahulu mencari mobil Mely yang tadinya terparkir tak jauh dari mobilnya. Tapi, mobil Mely sudah tidak ada di parkiran tersebut. Dengan langkah lebarnya Dia masuk ke gedung dan menekan tombol lift ke ruangannya. Sesampainya di ruangannya Dia langsung menuju kamar yang ada di ruangan tersebut. Tapi, Mely sudah tidak ada di situ.
"Apa Dia sudah balik? kenapa Dia tidak menghubungiku. Aduh, kenapa Aku melupakan Dia?" Rival berbicara sendiri sambil mondar-mandir di ruangannya. Waktu sholat Maghrib pun tiba. Sehingga Dia memutuskan sholat di kantor.
Setelah selesai sholat, Rival menghubungi no ponsel Mely. Tapi, no ponsel Mely sedang tidak aktif. Dengan perasaan takut dan sedikit was-was. Karena Dia takut Mely akan memarahinya Rival melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumahnya.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Dia tidak menemukan Mely di rumah itu. Dia mencari ke seluruh ruangan. Dia kembali mencoba menghubungi no ponsel Mely. Kali ini aktif tapi tidak diangkat.
Rival dengan tergesa-gesa berlari menuju pos satpam.
"Pak Budi, apa Mely sudah pulang?" tanya nya dengan penuh kekhawatiran. Dia Sungguh tidak sabar menunggu jawaban dari Pak Satpam tersebut.
"Sudah tuan, tapi Nona keluar lagi dengan naik motor." Ucapnya dengan ramah.
"Emang ada apa tuan?" tanya Pak Satpam. Rival mengibaskan telapak tangannya sebagai jawaban tidak ada.
Rival masuk kembali ke dalam rumah dengan perasaan kacau dan sangat merasa bersalah. Apa Mely marah kepadanya? kenapa ponselnya tidak diangkat.
Tidak mau larut dalam pikiran khawatirnya. Karena berulang kali Rival menghubungi Mely. Tapi, tidak diangkat juga. Akhirnya Dia memutuskan untuk mandi dengan air hangat.
Setelah mandi, Dia kembali ke beranda rumah. Dia menantikan Mely pulang. Tapi, setengah jam sudah Dia menunggu. Tanda-tanda kedatangan Mely tidak ada.
Dia kembali menghubungi no ponsel Mely. Aktif tapi tidak diangkat.
"Dia kemana? kenapa tidak memberi kabar." Ucap Rival masih hilir mudik di beranda rumah mereka yang besar.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Mely tidak kunjung pulang. Rival semakin khawatir saja. Apa Dia sudah mempunyai rasa kepada istrinya itu. Sehingga Dia setakut ini.
"Kamu dimana? kemana Aku akan mencarimu?" ucapnya, masih terus menghubungi no ponsel Mely.
TBc.
__ADS_1
Mohon beri like, coment dan vote ya kak.🤗😍