Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Di Rukyah


__ADS_3

Mendengar suara Sekar berteriak. Penghuni rumah yang mendengarnya, berlari ke asal suara yang ternyata dari kamar utama. Termasuk Yasir, posisi Dia lebih dekat ke kamarnya Mely. Membuatnya orang pertama kali sampai di kamar.


Saat sampai diambang pintu, Dia melihat Rili sedangan didekap seorang anak gadis yang Yasir tidak tahu namanya, yaitu Sekar.


"Rili...." Yasir berlari, tidak memperhatikan Mama Durjanna yang berdiri di dekat ranjang. Matanya fokus hanya kepada istrinya itu yang sudah pingsan.


Tak berselang lama, Rival, Ayah angkat Rival, Amrin, Firman Adiknya Rival, Mama Maryam dan Febri. Sudah berada di kamar dengan ekspresi wajah yang macam-macam. Ada yang kaget dan terkejut, kenapa menantunya yaitu Rili ada disini?


Sedangkan Mama Maryam dan Febri, sudah sangat khawatir melihat Rili yang pingsan.


Dengan paniknya Yasir langsung meraih Rili dari rangkulan Sekar. Dia tidak memperdulikan penghuni kamar itu yang bertanya apa yang terjadi. Yang harus dilakukannya sekarang adalah membawa Rili ke Rumah Sakit.


Febri yang bekerja menjadi seorang perawat, langsung mengekori Yasir dari belakang. Dia seolah lupa dengan tugasnya menjaga si kembar. Yang memang kebetulan masih tidur.


"Pak, Biar Aku yang jaga istri Bapak." Febri langsung membuka pintu mobil belakang supir. Dia duduk dan meminta Yasir membaringkan Rili dengan beralaskan pahanya.


"Basah, kenapa tanganku basah?" ucapnya memeriksa dan mencium tangannya yang basah. Yasir semakin panik saja. Tidak mungkin istrinya itu ngompol.


"Cepatlah Pak, mungkin cairan ketubannya merembes. Cepat Pak..!" desak Febri dengan panik dan khawatirnya.


Sikap Febri itu semakin membuat Yasir kalut dan panik. Dia sampai tidak bisa memasukkan kontak mobilnya ke lubangnya. Karena tangannya yang bergetar selalu menjatuhkan kunci itu. Hingga ketiga kalinya kunci itu pun bisa menyalakan mesin mobilnya Yasir.


Di kamar Mely.


"Apa yang terjadi, kenapa Rili pingsan...?" tanya Rival dengan intonasi suara naik satu oktaf. Dia sangat takut terjadi sesuatu kepada Rili. Yang akhirnya akan semakin membuatnya merasa bersalah.


Semua penghuni ruangan diam. Ayah angkat Rival memilih duduk di kursi dekat jendela. Dia yang masih lemah, harus menyaksikan ketegangan ini.


"Siapa yang bisa menjelaskannya?" tanya Rival masih dengan ekspresi kesal dan kecewa. Menatap Mely, Ibu angkatnya dan Sekar.


Tak kunjung ada yang buka suara. Mely masih menangis sesunggukan. Sedangkan yang lainnya sudah merasa tidak nyaman lagi di kamar itu. Sehingga Amrin dan Firman memilih pergi dengan memapah Ayah mereka keluar dari kamar itu. Toh mereka tidak tahu apa-apa. Untuk apa mereka disitu.


Sedangkan Mama Maryam, duduk di sebelah Mely. Mencoba menenangkan putrinya itu.

__ADS_1


Rival mendudukkan bokongnya di ranjang tepat dihadapan istrinya itu.


Dia yang melihat Mely menangis, jadi tidak tega. Sehingga Dia mencoba lembut untuk bertanya. Menahan emosi dan kesalnya.


"Apa yang terjadi Dek? kenapa Rili pingsan?" tanyanya lembut. Dia harus bisa tenang. Istrinya lagi labil.


Mely semakin mengencangkan tangisannya.


"Kenapa Mas begitu mengkhawatirkannya. Jadi benarkan kamu masih mencintainya." Ucap Mely dengan berurai air mata.


Pertanyaan Mely itu membuat Rival melototkannya matanya. Sungguh Dia sangat kesal dengan pertanyaan istri nya itu. Cinta... cinta... cinta saja yang dibahas.


Rival mengusap wajahnya kasar. Mely tidak mau disalahkan dan malah kembali menyudutkannya dengan pertanyaan bodoh dan konyol. Kalau pun Dia mencintai Rili, apa salahnya. Yang penting, Dia setia kepada Mely. Lagian Rili sudah sangat bahagia bersama Yasir. Kenapa Mely selalu mempermasalahkan hal itu.


"Kamu tidak berubah, Mas sudah melakukan semuanya agar kita bisa baikan. Tapi, melihat sikap mu ini. Membuat Mas pusing dan tidak tahu harus bersikap apalagi. Terserah, Adek menilai Mas masih mencintai Rili. Berapa kali dijelaskan selalu tidak nyambung. Lihat karena ketidakpuasan hatimu itu. Nyawa dua orang terancam. Kalau Rili dan janinnya kenapa-kenapa. Mas tidak akan memaafkanmu." Ucap Rival menatap kesal istrinya yang menangis itu.


Dia pun bangkit dari duduknya dan berniat meninggalkan ruangan itu. Tapi Mama Durjanna menahannya.


"Kenapa kamu memarahi Mely Nak. Dia tidak salah, Rili yang salah karena membuat Mely menangis. Saat kami masuk ke kamar, Rili sedang berdebat dengan Mely. Dia sampai memegang kedua bahu Mely." Ucap Mama Durjanna mengatakan apa yang dilihatnya.


"Iya kan Nak Sekar?" tanya Ibunya menatap Sekar yang kini juga bersama Mama Maryam, berusaha menenangkan Mely.


"Sekar tidak tahu apa yang terjadi Bu." Ucapnya menatap Mely yang seperti ketakutan.


Rival membalik badannya menghadap Mely.


"Jelaskan apa yang terjadi." tanya Rival kepada Mely. Sekar pun melepas pelukannya dari MeLy.


Hanya Mama Maryam yang memeluk putrinya itu.


"Kak Rili meyakinkanku, kalau Dia tidak mencintai Mas. Tapi, Dia memuji-muji Mas. Pujiannya itu membuatku menangis, karena Adek mikirnya Dia membohongi perasaannya. Tiba-tiba saja hatiku sakit membayang kan kalau kalian saling mencintai." Ucapnya polos, mengatakan apa yang dirasakannya. Mely yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta. Tidak bisa menerima, kalau cintanya tidak berbalas.


"Egois... Kamu egois Dek, memikirkan perasaan mu dan keinginanmu saja. Kamu perlu di rukyah. Sepertinya setan sudah banyak mengalir di aliran darahmu itu." Ucap Rival, Dia ingin keluar dari kamar itu. Tapi lagi-lagi tangan Rival ditahan oleh Mama Durjanna.

__ADS_1


"Kenapa kamu malah memarahi Mely. Dia istrimu dan Ibu dari anak-anakmu. Ibu lihat kamu lebih berpihak kepada mantan istrimu itu." Ucap Mama Durjanna sedikit kesal. Sudah hukum alam memang orang yang kita benci selalu kota sudutkan.


"Bu, kalau tidak tahu masalahnya apa. Tidak usah ikut campur. Kehadiran kesini mau acara tujuh hari kematian Ayah. Bukannya untuk memantik kebencian. Apa salah Rili dari dulu? Ibu selalu membencinya. Ibu ternyata tidak berubah." Ucap Rival sedih melihat Ibunya ternyata masih dendam kepada Rili.


"Dia tega memenjarakan Ibu." Ucap Ibu Durjanna menangis.


Mama Maryam dibuat terkejut melihat sikap wanita tua dihadapannya. Ada orang yang dendam berkarat dan tidak introspeksi diri. Harusnya kalau sudah berumur dan bau tanah. Lebih banyak sabar dan muhasabah diri.


Rival menggelang-gelengkan kepalanya, menatap ibah kepada Ibu yang membesarkannya itu. Wanita Tua ini benar-benar tidak berubah. Berarti selama ini Dia baik kepada Mely. Karena Dia beranggapan Mely anak orang kaya.


"Ibu sama saja dengan Mely. Egois.!" Rival melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu.


Dia memasuki kamar anaknya. memperhatikan dengan sendu anaknya yang lagi tertidur pulas itu.


Kenapa Dia punya istri seperti Mely. Dia mendudukkan bokongnya di ranjang yang ada di kamar itu. Merogoh saku celananya, untuk mengambil ponselnya.


Dia berniat menghubungi Febri. Saat itu juga Febri menghubunginya.


"Pak, temanku yang datang dari kampung Sudah sampai di terminal. Dia minta dijemput Pak." Ucap Febri sedikit panik. Dia lupa mengabari Rival, kalau sebenarnya temannya sudah lama menunggu di terminal.


"Iya Feb. Oh ya, Di Rumah Sakit Mana sekarang kalian berada?" tanyanya merasa bersalah kepada Yasir. Sehingga Dia tidak berani menghubungi Yasir.


Febri pun mengatakan nama Rumah Sakit tempat Rili dirawat.


Rival keluar dari kamar anaknya, kemudian kembali ke kamar mereka. Dia menghampiri Mama Maryam.


"Ma, Aku ke Rumah Sakit. Nanti dari Rumah Sakit, Aku langsung ke rumah Ayah. Sekar ajak Ibu istirahat ke kamar tamu." Ucap Rival, pergi dari ruangan itu tanpa mengajak Mely bicara.


"Kamarnya yang mana Bang? Oh ya Bang, tunggu Sekar. Sekar Ikut ya ke Rumah Sakit lihatin Kak Rili. Sekar juga kangen banget sama Kakak Rili." Ucapnya dengan menitikkan air mata.


"Baiklah, kamar kalian ada di lantai dua." Jawab Rival, kemudian matanya beralih kepada Mila dan Anak-anaknya yang baru datang dari taman.


"Mila, antar Ibu istrirahat." Ucapnya dan menunjukkan kamar untuk Ibunya.

__ADS_1


Sekar pun mengekori Rival, menuju garasi. Mereka akan ke rumah sakit.


Beberapa orang terlalu berlebihan memberikan cintanya kepada orang lain, hingga tak ada yang tersisa untuk mencintai dirinya sendiri. (Mely Anisah Ajib)


__ADS_2