Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Extra chap Modus


__ADS_3

Ujian sering kali datang dalam bentuk yang tak menyenangkan. Sebisa mungkin, jangan menyerah. Yang namanya tantangan, kamu pasti akan mendapatkan reward atau hadiah setelah menaklukkannya.


Tepat pukul 05.00 Wib. Rival terbangun. Dia membuka matanya, karena merasa Mely tidak lagi dalam pelukannya. Dia menoleh ke sebelahnya, dilihatnya istrinya dalam posisi miring membelakanginya. Dia pun mendekat, mengendus aroma tubuh Mely di tengkuknya. Yang membuat Mely menggerakkan bahunya, karena kegelian.


"Apa anak-anak kita akan menyusu di jam segini?" tanya nya memperhatikan putrinya Raina yang matanya melotot melihatnya, sambil menyusu. Sepertinya putrinya itu melihat orang asing di kamar mereka.


"Iya Mas," jawab Mely berusaha tenang saat Rival menggesek-gesek knalpotnya yang hangat itu di bokong Mely. Sungguh tingkah Rival membuatnya jadi panas dingin. Apalagi tangan Rival sudah bergerak memainkan gundukan Mely yang menganggur.


"Rayan belum bangun." Ucap Rival mencari keberadaan putranya yang ternyata ada dibelakangnya. Dia pun menghentikan aksi mesumnya menggoda Mely. Mengganggu putranya yang tidur nyenyak dengan menciumi pipinya.


"Jangan dibangunin dulu. Adek sebentar lagi mau sholat. Kalau Raynan bangun. Tidak cukup untuknya tiga puluh menit untuk menyusu." Ucap Mely penuh penegasan. Masih menyusui putrinya Raina. Sempat Rayan bangun, Dia akan kesiangan untuk sholat subuh.


"Iya sayang." Ucap Rival, akhirnya Dia hanya mengusap lembut puncak kepala anaknya itu sambil bersholawat. Rival merasa bahagia sekaligus bangga sekali kepada Mely. Ternyata Mely banyak sekali berubah. Jadi taat beribadah, makin dewasa dan lebih sabar. Mely benar-benar jadi istri Sholehah.


Mereka pun akhirnya melakukan sholat shubuh berjemaah. Kemudian Mely kembali disibukkan dengan menyusui Raynan yang sudah terbangun. Sedangkan Rival yang lagi bahagia itu, langsung menuju dapur. Ingin memasak untuk keluarga besarnya. Dia bahkan mengerti cara membuat makanan yang ditim untuk anaknya itu.


Bi Ida yang ikut dengan Mama Maryam, menemani Rival memasak. Wanita itu menangis, karena terharu. Dia senang Rival kembali bersatu dengan Keluarga kecilnya.


Tepat pukul delapan pagi, Rival dan Mely sedang berada di perjalanan menuju kota M. Dia akan menemani Rival chek up. Sedangkan kedua anak-anaknya masih di kota B. Rival memutuskam untuk tinggal satu Minggu di rumah Mama Maryam. Dan akan mengajak Mely dan anak-anaknya kembali ke kota M. Ke rumah mereka.


"Ini amazing sekali Pak Rival, kesehatan Bapak cepat sekali peningkatannya. Semuanya sudah normal Pak Rival." Ucap Dokter yang menangani Rival tidak percaya.


"Syukur Alhamdulillah Dok. Ini karena Aku sudah menemukan obat yang sebenarnya." Ucap Rival mendekati Mely, setelah turun dari bed. Dia tersenyum, merangkul Mely dengan sayangnya.


"Sebenarnya kuncinya Pak Rival kita jangan setres. Karena setres bisa mendatangkan berbagai macam penyakit. Mulai dari penyakit jantung, kolesterol, pencernaan bahkan alzaimer. Selama ini Bapak setres Akut, makanya penyakitnya lama sembuh, syukur sumsum tulang belakang Bapak tidak busuk. Sempat seperti itu, bisa tidur selamanya Pak Rival." Ucap Dokter dengan ramah, walau Rival dinyatakan sehat, Dokter itu masih memberikan resep vitamin yang harus dikonsumsinya.


"Iya Dok." Ucapnya ramah, melirik Mely dalam dekapannya. Entahlah, Rival ingin terus memeluk istrinya itu. Berpisah satu tahun, membuatnya sadar, bahwa Mely adalah cinta sejatinya.


🌻🌻🌻


Matahari bersinar cerah. Langit terlihat biru bersih tanpa gumpalan awan. Panasnya hawa udara kota M siangnya, nyatanya tidak berpengaruh kepada Rival, karena Dia begitu bahagia. Bisa bersatu kembali dengan Mely.


Kini mereka sedang diperjalanan pulang menuju kota B. Rumahnya Mama Maryam. Tapi, mereka singgah dulu di rumahnya Yasir. Yang ternyata tetangganya Mama Maryam.


Sepanjang perjalanan Rival selalu memeluk Mely dan tangan keduanya saling bertaut. Sesekali Rival menciumi jemari Mely yang bertaut dengan tangannya. Memandang Mely penuh dengan cinta.


"Terimakasih Mas cincinnya." Ucap Mely lembut, menatap Rival yang juga menatapnya.


"Iya sayang. Adek suka?" tanya Rival dengan terseyum.


"Suka, suka banget. Makanya Adek milih model ini." Jawab Mely dengan hati berbunga-bunga.


"Iya sayang, itu belum seberapa. Maaf selama kita menikah. Mas jarang memberimu hadiah. Malah Mas sering menyakiti perasaan Adek dengan sikap Mas. Terimakasih masih mau menerima Mas kembali." Ucap Rival dengan penuh penyesalan, meraih wajah Mely dan mendaratkan satu ciuman di keningnya.


Mely mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Iya benar, mereka yang menikah karena insiden dan tidak saling kenal. Menyebabkan banyaknya masalah yang datang silih berganti. Tapi, ternyata masalah yang datang itulah yang membuat mereka jadi saling jatuh cinta. Walau Rival telat menyadarinya, karena rasa bersalahnya kepada Rili. Yang dianggapnya rasa cinta.


"Tuan, maaf kita sudah sampai." Ucap Pak supir, mengangetkan pasangan yang sedang bertukar Saliva itu. Akhirnya keduanya pun tersadar. Mely malu dibuatnya. Sedangkan Rival cengir kuda.


"OHH ini rumahnya Abang Yasir?" tanya Mely memperhatikan rumah megah dihadapannya yang pagar rumahnya tidak tinggi itu. Maklum, Yasir walau orang kaya raya. Tapi, karena punya istri orang kampung. Jadinya rumahnya itu seolah terbuka untuk orang lain. Walau begitu penjagaan tetap ketat.


"Iya sayang." Jawab Rival menggandeng Mely masuk ke dalam rumah.


Sementara di dalam kamar, Yasir yang sedang mengganggu Rili menyusui anaknya, dikejutkan dengan ketukan pintu kamar mereka.


"Tuan ada tamu." Ucap ART mereka yang berjenis kelamin laki-laki.


Rili menatap Yasir, mengangkat kepalanya sebagai kode, menanyakan kira-kira siapa tamu mereka siang bolong begini. Rili pun melanjutkan menyusui anaknya dengan duduk.


"Abang gak tahu sayang." Jawab Yasir mencium pipi gembul anaknya.


"Sebentar ya Alr, Ayah keluar dulu. Nanti kita lanjut lagi, berebut bongkohan es yang lembut ini." Ucap Yasir, kembali meremas pelan sebelah buah dadanya Rili. Yang membuat Rili menepis tangan Yasir sambil berdecak kesal.


Suaminya itu selalu pulang kerja di siang hari. Selalu makin siang bareng sama istrinya. Karena Dia ingin menemani Rili juga memberikan Asi pada putra mereka yang kini sudah berumur 8 bulan itu.


Yasir nongol di ruang tamu, setelah keluar dari lift, dari lantai dua. Karena ingin cepat sampai. Yasir menggunakan lift rumahnya.

__ADS_1


senyumnya Langsung merekah melihat Rival dan Mely duduk di sofa Empuknya.


"Waahhh--- Abang Rival, angin apa gerangan yang membawa pasangan yang lagi kasmaran ini menyempatkan langkahnya ke rumah kami yang sederhana ini." Ucap Yasir ramah, langsung menjulurkan tangannya kepada Rival dan Mely.


Kedua pria baik hati itu pun bersalaman dan berpelukan. Kemudian Yasir menyalami Mely yang nampak canggung.


"Maaf Yasir, kalau kedatangan kami mengganggu waktu istirahatnya." Ucap Rival sedikit enggan.


"Apasih Bang, siang bolong gini. Kita mana istirahat. Kita harus kerja. Kalau istirahat terus itu namanya pemalas." Ucap Yasir bercanda. Mereka pun tertawa bersama.


Pelayan pun datang membawa minuman. "Bi, siapkan makan siang, tamu terhormat kita ini, harus makan siang disini." Ucap Yasir rmaah kepada ARTnya.


"Baik tuan." Ucap ART dan berbalik badan.


"Bi, bilangin kepada Rili, agar turun. Kita kedatangan tamu istimewah." Ucap Yasir melirik Rival dan Mely yang nampak tercengang dengan sikap ramahnya Yasir.


Bagaimana Yasir tidak baik kepada Rival. Yasir itu berhutang nyawa kepada Rival. Kalau Rival tidak menolongnya saat di hutan, atas perampokan bajing loncat. Mungkin saat ini Yasir sudah tenang di surga.


"Dodi dan Jelita sudah pulang?" tanya Rival.


"Iya Bang, selesai sarapan mereka langsung pulang. Tapi, katanya masih ingin liburan di kota ini. Tapi, Dia tidak mau menginap di rumah. Ehmmm--- sombong juga si Dodi itu." Ucap Yasir dengan bercanda. Dia memang menawarkan, agar Dodi dan keluarga kecilnya menginap saja di rumahnya. Tapi, Dodi menolak. Akhirnya Yasir merekomendasikan untuk menginap di hotelnya. Mengunakan voucher diskon 70 %.


"Tidak disangka ya Abang Yasir, kita ternyata tetanggaan. Tapi, setahu saya, rumah ini lama ditinggal pemiliknya. Hanya ada ART di rumah ini. Begitu cerita yang saya dengar dari Mama." Ucap Mely mulai ikut nimbrung, sekaligus penasaran, kenapa rumah milik Yasir ini lama tidak ditempati mereka.


Yasir duduk dengan menghilangkan kakinya. "Iya, Rili memilih stay di kota M, dan baru tiga hari lalu kami kembali kesini." Ucap Yasir dengan tersenyum.


Yasir tidak menyangka, keluarga Rival selalu dekat dengannya. Padahal Yasir pernah kepikiran untuk memutus hubungan silaturahmi dengan Rival. Karena hubungan masa lalu Rili dan Rival. Tapi, nyatanya mereka malah tetanggaan.


Suara ribut ocehan anak laki-laki terdengar nyaring, sehingga menyita perhatian Rival dan Mely. Saat itu juga muncullah Rili di ruang tamu itu, mengendong anaknya yang sangat montok.


Rili sedikit terkejut dan tercengang melihat tamu yang datang. Dia tidak menyangka Rival dan istrinya akan bertamu secepat itu ke rumah mereka, padahal Yasir baru tadi malam ikut mendamaikan pasangan itu.


Selain terkejut, Rili merasa sedikit enggan. Secara Rival adalah mantan suaminya. Dan Mely selalu cemburu kepada Rili. Tentu saja, Rili merasa tidak nyaman, saat bersama dengan pasangan suami istri itu.


Walau merasa sedikit tidak enak dihati, Rili tetap bisa menampilkan ekspresi wajah tenang dan bersahabat. Sangat berbeda dengan Mely, yang langsung nampak pucat dan kikuk. Karena merasa bersalah kepada Rili.


Yasir langsung meraih putranya yang lucu dan tampan itu.


"Iihh,, gemesnya, jadi kangen Raynan." Ucap Mely menampilkan wajah gemesnya. Memandang anak Yasir dan Rili dengan terseyum. Dia pun akhirnya tidak tahan, untuk tidak menggendong anaknya Yasir.


Mely refleks bangkit dari duduknya, bergerak ke arah Yasir. Meraih anaknya Yasir dalam dekapannya. Yasir pun dengan senang hati memberikan anaknya itu kepada Mely.


Mely yang senang dengan anak-anak, tidak tahan untuk tidak menggendong anaknya Yasir. Anehnya anaknya Yasir, nyaman dalam dekapan Mely. Padahal, biasanya anaknya itu, sangat susah akrab dengan orang yang belum pernah dilihatnya.


"Gantengnya, manis banget. Mau gak nanti sama putrinya Tante." Ucap Mely bercanda, mencium gemes pipi tembemnya.


"Mau dong!" jawab Yasir, mengikuti candaan Mely.


"Ayah dan Ibu tidak berjodoh, setidaknya anak-anaknya berjodoh." Celetuk Yasir, menggoda Rili, dengan menyenggol bahu istrinya yang duduk di sebelahnya.


"Jangan mulai deh. Nanti ada yang tidak tahan diledekin." Ucap Rili pelan, tapi masih terdengar oleh Rival dan Mely, menatap Yasir geram.


Mely terseyum. "Jodoh koq Bang Yasir, tapi sebentar. Habis itu ada pria yang tidak bisa move on." Ucap Mely dengan ekspresi masam, menatap Rival yang nampak malu. Karena dibuat bahan ledekan.


"Udah dech, jangan dibahas. Takutnya nanti, ada yang cemburu." Ucap Rival tak mau kalah, saat dibully oleh Yasir dan Mely. Dia pun mendekati Mely yang menggendong anaknya Yasir.


"Namanya siapa Yasir?" tanya Rival, mengusap pelan puncak kepala anak Yasir yang anteng dalam dekapan Mely. Sepertinya anaknya Yasir mau tidur.


"


"Alridge Rezvan Yasir." Ucap Yasir ramah dan tersenyum. Menatap ke arah Mely dan Rival yang berdiri dihadapannya.


"Dipanggil Baby Al dong?" tanya Mely.


"Sekarang bolehlah dipanggil Baby Al, nanti jadi Abang Al. Iya kan sayang?" Yasir kembali menggoda Rili, dengan mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


"Apa sudah ada calon debay lagi?" tanya Mely tidak percaya. Tidak mungkin Rili hamil, sedangkan anaknya masih kecil.


"Rencana, tunggu Baby Al satu tahun. Baru dech cetak lagi." Ucap Yasir keceplosan. Rili langsung menepuk paha Yasir. Dia kesal, melihat suaminya yang tidak ada sopan itu.


Rival dan Mely pun pura-pura tidak respon. Tapi, Rival membisikkan sesuatu di telinga Mely. "Pulang dari sini, kita buat lagi karya ketiga kita ya sayang!?" Mely langsung melototkan kedua bola matanya. Menatap tidak percaya suaminya itu.


"Ayo bisik apaan sih?" ucap Yasir, Rival tersenyum, sedangkan Mely menyerahkan Baby Al kepada Rili yang sudah tertidur pulas.


"Sepertinya Anakku Al, sudah nyaman dengan Ibu mertua?" ucap Yasir, tersenyum.


" Iya ya? kira-kira Ibu mertuanya nanti galak gak ya?" tanya Rili bercanda. Mereka pun tertawa secara bersama-sama. Yasir mengajak Rival dan Mely makan siang di rumahnya yang mewah dan megah itu.


❤️❤️❤️


Sore harinya, Yasir sedang mandi di kamar mandi mewahnya. Sedangkan Rili, baru saja selesai mandi dan sedang berhias di depan cermin.


Yasir berteriak dari dalam kamar mandi, membuat perhatian Rili tersita.


"Richay---- sayang---!" kamar mandi yang luas, mengharuskan Yasir mengeluarkan suara keras, agar didengar Rili. Walau pintu kamar mandi tidak di kunci.


"Ya sebentar, Rili berdiri di dekat pintu kamar mandi. Melihat suaminya masih berada di balik kaca transparan dibawah shower.


"Ambilin handuk sayang---!" perintah Yasir, kali ini dengan suara lembut.


Rili masuk ke dalam kamar mandi, memperhatikan tempat gantungan handuk yang kosong. Padahal seingat Dia ada handuk dan bathrobe di gantungan itu. Tapi, kenapa sekarang tidak ada?


Rili pun dibuat bingung, tapi Dia tidak mempermasalahkannya. Memilih masuk ke kamar dan mengambil handuk dari dalam lemari.


Dia pun kini masuk kembali ke kamar mandi. Ingin menggantung handuk di tempat gantungan nya. Tapi, Yasir memberi perintah, memberikannya langsung kepadanya.


Yasir membuka pintu kaca pembatas itu, meraih handuk dan tangan Rili yang terjulur. Menariknya, sehingga Rili kini berada dalam dekapan Yasir yang basah kuyup.


"Apaan sih? modus-- selalu modus--- lepasin--!" Rili berontak dalam rengkuhan Yasir, yang langsung menyerang titik sensitif Rili di ceruk lehernya.


"Salah siapa? kenapa tadi tidak menunggu Abang. Biasanya juga mandi bareng." Ucap Yasir di sela-sela aktifitas nya memberi kenikmatan di leher istrinya itu.


"Adek sudah gerah, Abang sih, kelamaan olah raganya." Rili berontak dari sentuhan Yasir. Dia tidak mau mandi untuk kedua kalinya.


"Buat anak yuk--!"? ucap Yasir, kini Dia menatap Rili dengan mengibah.


Rili terkejut, Dia kapok melakukan di kamar mandi. Sesekali sih asyik, mencari suasana berbeda. Tapi, kali ini Dia tidak tertarik melakukannya di tempat itu. Walau Yasir menariknya ke dalam Bathup sekalipun. Dia tidak akan mau.


"Gak mau ah, disini tu tempatnya dingin. Tidak ada tempat yang empuk. Ogah---!" Rili berontak, tapi aksi berontaknya langsung berubah jadi suara-suara aneh. Karena, Yasir tahu titik sensitif nya Rili. Jadilah hal yang diinginkan keduanya terjadi juga.


End---❤️ Beneran, seriusan.🤧


Cus merapat ke novelku yang berjudul Dipaksa Menikahi Pariban. *Ceritanya dijamin seru gays. BAPER habis. Klik profil ku, agar lebih mudah menemukan novelnya. Dan langsung favoritkan ❤️ ya say.


Pelajaran yang dapat diambil dari kisah Rival dan Mely adalah. Bahwa dalam suatu hubungan itu kita harus


👉 Memahami pasangan kita


👉Hindari mengungkit masalah-masalah yang lalu yang dapat memicu suami istri bertengkar.👉 Jangan salahkan pasangan


 👉 memahami pasangan kita.


Tentunya menekan rasa ego, dan ciptakan komunikasi yang baik.


Ya, namanya manusia. Tentu, kekhilafan akan selalu menyertai setiap insan. Jadi, kalau sudah merasa bersalah. Meminta maaflah kepada pasangan kita. Para suami, tidak perlu merasa rendah harganya dirinya. Apabila meminta maaf duluan kepada istri. Karena hanya orang yang berani meminta maaf duluan yang mempunyai hati dan jiwa yang besar.


Intinya, kalau Jodoh Tak kan kemana coy..!


Salam Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan/Duda Tapi Perjaka)


Maaf kalau ada salah kata, untuk para reader tersayang. Jangan lupa tinggalkan jejak like, coment positif tentang Novel ini. Vote juga masih diharapkan.

__ADS_1


Thank you so much.❤️😊🙏


__ADS_2