Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Mely meragukan perasaan Abang Rival


__ADS_3

Rival yang tadinya Speechless, dengan kejutan yang diberikan oleh Pak Ali. Akhirnya tertawa dalam hati mendengar ucapan Sari yang kelewat Percaya diri itu. Ingin Rival meluaskan tawanya, tapi Dia enggan kepada yang lainnya, sehingga Dia hanya senyum-senyum tidak jelas. Sungguh Sari sangat menghibur.


Sedangkan Mely sudah sangat geram kepada Sari. Berani nya Dia menawarkan diri jadi istri kedua Rival. Begitu juga dengan Mama Maryam, Dia tidak kalah kalutnya sekarang. Suaminya sendiri, tega mengatakan mencarikan istri kedua untuk suami putrinya.


"Saaarii...!" teriak Mely, yang membuat Pak Ali terlonjak kaget dan memengangi dadanya. Rival langsung melihat ke arah Ayahnya dan merangkul Ayahnya tersebut.


"Ayah baik-baik saja." Rival begitu mengkhawatirkan Ayahnya itu. "Iya Nak, hanya terkejut saja mendengar suara Mely yang melengking." Ucap Pak Ali dengan raut wajah kesal. Mama Maryam langsung menghampiri suaminya dan ikut menenangkan suaminya itu. Walau ada rasa kecewa dihatinya, atas ucapan Pak Ali. Tapi, Mama Maryam tahu Pak Ali punya maksud yang baik dengan perkataan nya itu.


Mendengar Mely meneriakinya. Akhirnya Sari menghentikan kegiatannya, memotong-motong kue dan memindahkan nya ke piring kecil, Dia tak sengaja menjatuhkan pisau kue yang masih dipegangnya. Karena melihat Mely dengan muka merah padam menghampirinya. Sepertinya Dia akan diterkam oleh macan betina.


"Apa maksud ucapan mu itu Sari?" ucap Mely dengan mendorong bahu Sari dengan kuat, sehingga Sari hendak terjatuh. "Itu mulut sudah rusak saringannya, haahhh...! mau bersaing dengan saya." Suasana sudah mulai panas. Tapi, semuanya masih menonton tontonan yang disuguhkan Mely.


"Saayya hanya menang..gapi ucapan Tuan besar Non." Sari sudah takut, itu jelas terlihat dari suaranya yang bergetar dan terbata-bata. Baru kali ini Dia melihat Nona mudanya itu, marah besar.


"Dasar bocor halus. Jangan pernah ada niatmu untuk jadi pelakor." Ucap Mely menunjuk-nunjuk Sari. Sari yang ketakutan itu, akhirnya tidak bisa menahan air mata yang dari tadi ditahannya. Sehingga air mata itu tumpah juga membasahi pipi putihnya.


Mamanya Mely langsung menghampiri Mely yang lagi mengamuk itu. "Sudah sayang, Sari hanya becanda." Mama Maryam, meraih tangan Mely menariknya pelan, agar menjauh dari Sari.


Mely tidak bergeming. Kedua bola Matanya melotot menatap Sari yang kini sudah menunduk.


"Sari hanya bercanda. Iya kan Sari?" Mama Maryam menoleh ke arah Sari yang kini sudah gemetar di sebelah Bi Siti dan putrinya. Sedangkan ART lainnya yang akan tinggal di rumah baru mereka hanya menguping dan mengintip dari balik dinding ruang keluarga.


"Iya nyonya. Mana mungkin Abang Rival mau kepada saya. Saya hanya becanda Nona." Ucap Sari gugup, Dia masih menundukkan kepalanya.


"Mama selalu belain Sari. Yang jadi Putri Mama itu Aku atau Dia sih? kemana-mana juga bawa Dia." Meli mendengus kesal. Dia menoleh ke arah Pak Ali dan Rival yang kini diam dan bengong duduk di sofa yang ada di ruang keluarga tersebut.

__ADS_1


Mely meninggalkan ruangan itu dengan menghentakkan kakinya dengan wajah cemberut. Dia sekarang merasa jadi orang asing. Ayahnya tega sekali berkata seperti itu. Mamanya juga malah seolah tidak menyalahkan Sari. Bahkan Suaminya dari tadi senyum-senyum sendiri.


.


Melihat Mely naik ke lantai dua, Mama Maryam hendak menyusulnya. Tapi, Pak Ali melarangnya.


"Biarkan Dia pergi Ma." Ucap Pak Ali mengajak istrinya duduk di sofa tepat di sebelahnya.


Setelah sampai di lantai dua. Dengan perasaan dongkol, Dia mondar-mandir menyusuri lantai dua rumah mereka sambil menggerutu menyumpahi semua penghuni rumah. Dia yang sudah merasa lelah berusaha membuka semua ruangan. Tapi, ruangan di lantai dua tersebut semuanya terkunci. Bahkan, Dia tidak tahu dimana kamarnya.


Dia menuruni anak tangga dengan cepat, sambil menangis sesenggukan. Dia memilih akan keluar saja dari rumah itu. Toh Ayahnya juga sudah mewariskan semua hartanya kepada Rival. Dan Ayahnya juga berencana mencarikan istri kedua buat Rival. Akan lebih baik Dia pergi saja dari rumah itu. Begitulah Mely, tidak berubah juga, selalu mengambil keputusan dengan gegabah.


Mely berlari melewati orang tuanya yang kini sedang duduk di sofa. sedangkan Rival yang sedang berdiri menatap penuh kekhawatiran kepada istri nya itu. Mely membalas tatapan Rival dan kedua orangtuanya dengan sinis.


Kenapa semua menyalahkannya. Kenapa semuanya menuntutnya untuk berubah.


Rival sangat khawatir melihat tatapan Mely itu. Dia pun mengejar Mely yang berlari menuju pintu depan.


"Adek mau kemana?" Rival meraih tangan kanan Mely, hingga Mely menghentikan langkahnya. Mely terdiam dengan tubuh yang bergetar. Dia merasa menjadi manusia paling tidak diinginkan. Ayahnya dengan terang-terangan mengatakan akan mencarikan lagi istri untuk suaminya. Ayah macam apa itu?


"Mau pergi, agar Abang bisa menikah lagi dengan istri pilihan Ayah." Ucap Mely dengan nada tegas dan keras, yang perkataannya jelas didengar oleh Ayahnya. Dia pun berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Rival.


Pak Ali yang mendengar perkataan Mely, dibuat geleng-geleng kepala. Sungguh putrinya itu, tidak bisa memahami situasi. Mana mungkin Dia akan mencarikan istri lagi kepada Rival. Pak Ali mengatakan itu, agar Mely bisa berfikir. Bahwa menjadi seorang itu tidak main-main. Dia harus berubah jadi lebih dewasa lagi. Agar Rival merasa nyaman.


"Ma, sana urus putrimu. Hari ini harusnya menjadi momen yang membahagiakan, tapi lihat sikap Mely, yang kekanak-kanakan itu. Semuanya jadi kacau. Kenapa Dia malah menanggapi ucapan si Sari." Ucap Pak Ali prustasi, Dia menghela napas berat dan menyandarkan punggungnya di sofa. Kemudian Mama Maryam berlari kecil menyusul Rival yang kini tengah berusaha menenangkan Mely.

__ADS_1


"Mely sayang, kamu mau ke mana?" Mama Maryam nampak begitu sedih. Dia sungguh kasihan melihat putrinya itu. Walau Mely barbar, tapi Dia itu sangat baik.


"Mau pergi dari kehidupan kalian. Aku benalu kan di keluarga ini. Ayah tidak menyukaiku. Abang Rival juga tidak mencintaiku." Ucapnya menangis, Dia masih berusaha melepas genggaman tangan Rival. Sesaat kemudian Rival memeluknya.


"Kenapa Adek meragukan perasaan Abang. Dari kemarin itu saja yang kamu katakan." Rival mengelus punggung istrinya itu dengan lembut. Sungguh Rival sudah bosan membahas itu-itu saja.


"Kenapa hati ini tidak yakin." Ucapnya masih menangis tersedu-sedu dalam dekapan Rival.


Rival diam, Dia tidak tahu lagi bagaimana cara meyakinkan Mely. Mama Maryam mengelus puncak kepala Mely yang masih dipeluk Rival itu. "Sayang, putriku Mely jangan lagi kamu perdebatkan perasaan Rival kepadamu. Rival yang mau menikahiku, sudah jadi bukti bahwa Dia mencintaimu." Ucap Mama Maryam lembut. Masih mengelus kepala Mely.


Mely mendongak melihat wajah suaminya itu. Dia ingin melihat jawaban dari kedua bola mata Rival. Entah kenapa Dia belum mendapatkan jawaban yang Dia mau dari ekspresi wajah Rival. Walau Rival menatapnya dengan tersenyum.


Mely pun akhirnya mengurai pelukannya dari Rival. Kini Dia menatap Mamanya.


"Mely putriku, kalau kamu merasa Rival tidak mencintai mu. Buatlah Dia jadi mencintaimu." Ucap Mama Maryam lembut. Mely jadi malu terhadap Rival. Dia pun menoleh kearah suaminya itu. Rival tersenyum.


"Itu hanya perasaan Mely saja Ma. Aku mencintai nya. Kalau tidak cinta mana mungkin kita masih bersama. Sudah ya, ayo masuk. Minta maaf sama Ayah." Ucap Rival, mengelus pipi istrinya itu yang kini wajahnya memerah dan mata sudah bengkak karena menangis.


"Ogah, Aku malu." Ucapnya menunduk, sambil melap ingusnya dengan baju yang menempel di lengannya.


"Makanya, jangan gegabah menanggapi sesuatu. Sabar dan tenang jangan mudah terpancing. Masak kamu mau dipancing sama si Sari. Apa kamu merasa satu level dengan si Sari. Sehingga kamu ngegas itu mendengar ucapan Si Sari. Apa kamu merasa Sari saingan berat, sehingga kamu mengalah begitu." Ucap Mama Maryam tersenyum. Rival yang dari tadi ingin tertawa, akhirnya Dia meluaskan tawanya juga.


Mana mungkin Dia mau menjadikan Sari istri kedua. Satu istri saja Dia sudah pusing, apalagi kalau ditambah satu lagi jenis wanita seperti si Sari. Bisa mati muda Dia.


TBC

__ADS_1


__ADS_2