
"Ayo... bang, kita pulang!" tangan Rili meraih jemari Rival sebelah kanan. Rival pun memutar lehernya hingga menghadap Rili. Rival menatap lekat mata Rili. Dia ingin melihat kesungguhan Rili karena memilih pergi dengannya. Padahal jelas, istrinya itu tidak mencintainya.
Rili menundukkan pandangannya saat Rival menatapnya. Jelas memilih pergi dengannya bukan keinginan istrinya itu. Tapi, karena istrinya itu menjaga Marwah suaminya.
Rival terharu dengan keputusan Rili yang memilih dirinya. Sehingga perasaan kasihan kini menyelimuti hatinya. Wanita sebaik ini, haruskah menderita dengannya. Baru menikah 12 hari, tapi Rili sudah babak belur dibuat Ibunya.
Rili dan Rival berjalan berdampingan, keluar dari pintu rumah Yasir yang lebar. Saat berjalan Rili sedikit sempoyongan, yang membuat Rival dengan cepat memapah tubuh Rili saat berjalan, melintasi halaman depan Rumah Yasir yang luas.
Yasir masih terdiam dengan posisi berdiri menatap punggung wanita yang sangat dicintainya itu. Untuk ketiga kalinya Dia akan kehilangan wanita yang merupakan tujuan hidupnya. Mereka meninggalkan Yasir masih dalam keadaan berdiri ditempat, Yasir syok. Ternyata wanita yang sangat dicintainya itu lebih memilih suaminya, yang jelas baru menikah saja Rili sudah menderita. Tubuh Yasir bergetar, mulutnya menganga dan Dia berulang kali menggelengkan kepalanya. Dia menyaksikan Rili dan Rival berjalan hampir menuju pagar rumah.
Dia tidak menyangka, bahwa pertemuannya dengan Rili kembali, ternyata hanya akan menambah kepedihannya saja. Dia sudah mengikhlaskan Rili, karena kata Ibunya Rili. Putrinya itu bahagia. Tapi, ternyata Rili sangat menderita. Dan Dia tidak akan bisa hidup tenang, mengetahui Rili tidak bahagia.
Tujuan hidup Yasir adalah, hanya untuk membahagiakan Rili. Apakah dengan Dia mengikhlaskan ketiga kalinya Rili pergi dari hidupnya. Adalah keputusan yang tepat.
Ketika seseorang membuat Anda menjadi orang yang paling bahagia dan orang paling menyedihkan pada saat yang sama, itulah saat yang nyata. Itu adalah sesuatu yang berharga. "Kamu wanita yang sangat berharga buatku, setelah Bunda meninggalkanku untuk selama-lamanya." Gumam Yasir dalam hati.
Yasir melihat suasana sore hari yang hampir menjelang magrib itu, berubah menjadi gelap. Karena, ditutupi oleh kabut hitam pekat. Sepertinya akan turun hujan.
"Aku tidak akan mengizinkannya pergi dari rumah ini. Dia belum sembuh total." Yasir berteriak dari dalam rumah dan berlari dengan cepat, menyusul Rival dan Rili. Saat Rival meminta Pak Satpam membuka gerbang, sekaligus Rival menyerahkan kunci mobil Yasir.
Rili masih bersandar dibahu Rival, kondisi fisik dan mentalnya langsung down. Akibat persiteruan kedua pria yang memperebutkannya.
Rival tidak menjawab perkataan Yasir. Dia menatap tajam pak Satpam, agar membuka gerbang. Pak Satpam yang tidak mau membuka gerbang. Membuat Rival menjadi emosi.
"Buka gerbangnya..!" teriak Rival, Dia sangat gusar. Dia ingin cepat membawa Rili dari rumah itu. Kemarahan Rival semakin menjadi. Disaat Yasir, mencoba mengambil alih tubuh Rili yang tidak berdaya dalam pelukan Rival, tepatnya bersandar di dada Rival. Dan tangan kanan Rival melingkar merengkuh tubuh Rili, agar tetap seimbang.
Duaarrr... duar... duar..... Suara petir saling bersahutan menambah suasana semakin mencekam dan mengerikan.
Saat Yasir ingin mengambil alih tubuh Rili dari rival. Paaaakkkk...! Rival menendang tulang kering Yasir. Yang membuat Yasir meringis kesakitan. Tendangannya sangat sakit. Tapi, sakitnya tidak sebanding dengan sakit hati yang dirasakan Yasir.
Ternyata, ujung sepatu pentofel Rival yang agak runcing dan keras itu, sukses membuat Yasir menunduk dan memegangi tulang keringnya yang terasa sakit itu.
__ADS_1
"Jangan pernah menyentuh istriku!" ucap Rival dengan tegas, tangan kirinya menunjuk ke arah Yasir, yang masih berjongkok dihadapan keduanya.
Rili yang masih memiliki kesadaran. Tapi, tidak bertenaga. Tidak bisa berbuat banyak. Saat ini Dia ingin Yasir, mengerti keadaannya. Tidak mungkin, Dia bersama pria yang bukan muhrimnya.
"Bang Yasir, izinkan kami pergi. Bukannya Abang bilang, sudah mengikhlaskan Aku." Ucap Rili dengan lemas. Mulutnya terasa sakit dan keluh saat kata-kata itu keluar dari mulutnya.
"Iya. Tapi, kamu menderita Dek. Abang akan ikhlas jikalau kamu benar bahagia." Ucap Yasir, masih berjongkok dihadapan Sepasang suami istri itu.
"Aku bahagia menikah dengannya." Sebelum Rili melanjutkan ucapannya. Yasir dengan cepat berdiri dan menarik Rili dari dekapan Rival. Saat Yasir berniat membopong tubuh Rili yang sudah diraihnya dari Rival.
Buugghh.... Rival menghadiahkan satu tonjokan ke pipi Yasir, yang keras kepala itu. Akhirnya Rili pun terjatuh dilantai halaman.
Dug....dug...dug..... Amarah Yasir pun akhirnya meledak. Kedua pria itu sudah tersulut emosi. Ya, keduanya sudah tidak bisa mengontrol emosinya lagi.
Yasir, memutar lehernya yang sempat bergerak karena ditonjok Rival. Kedua pria itu tidak memikirkan Rili yang terkapar terbaring dilantai. Mereka asyik dengan keegoisannya. Sama-sama mempertahankan kepemilikannya atas Rili.
Buugghhh... bughhh.... Yasir membalas tonjokan Rival, menghantam pipi kiri dan kanan Rival. Saat Yasir ingin melanjutkan aksinya menonjok perut Rival. Maka Rival menangkisnya. Dengan cepat tangan Rival kembali menonjok pipi Yasir.
Pak satpam berusaha merelai keduanya. Tapi, usaha Pak Satpam tidak bisa menengahi persiteruan antara Yasir dan Rival. Pak Satpam pun bingung. Sehingga Dia memutuskan untuk memeriksa keadaan Rili yang terbaring di halaman.
Asyhadu allaa illaaha illallaah. (2x)
Suara Adzan Magrib pun berkumandang, ditemani hujan yang sangat deras. Tapi, keduanya tidak menghentikan perkelahiannya. Kedua pria itu sudah sukses dihasut oleh setan.
Tin....tinn....tin.... Suara klakson mengalihkan perhatian Pak Satpam. Yang akhirnya membuka pintu gerbang dan meninggalkan Rili yang masih terbaring dilantai, dibawah guyuran hujan yang deras. Sedangkan Yasir dan Rival. Masih menyalurkan emosinya masing-masing dengan berduel.
Ternyata yang datang adalah Mamanya Yasir. Saat pak satpam, membuka gerbang. Mata Mamanya Yasir hampir lepas dari tempatnya, melihat tontonan yang disuguhkan oleh Yasir dan Rival sangat menegangkan.
Mamanya Yasir langsung turun dari mobil mewahnya, tanpa menunggu Mobil tersebut masuk kedalam pekarangan rumah Yasir.
Wanita yang masih seumuran Rival tersebut berlari cepat, dibawah guyuran hujan. Dia pun melerai pertengkaran antara Yasir dan Rival. Awalnya Mamanya Yasir tidak bisa melerainya. Malah Mamanya Yasir, terpental ke arah Rili yang tergeletak di halaman rumah Yasir. Saat Yasir menepis tangan Mamanya yang berusaha menarik tubuhnya yang berada di atas tubuh Rival.
__ADS_1
"Hentikan.....!" Ucap Mama Yasir dengan berteriak. Yang membuat Yasir menghentikan aksinya menghajar Rival. Saat Yasir lengah. Rival mendorong kuat tubuh Yasir. Dia pun berlari ke arah Rili yang sudah berada di dekapan Mamanya Yasir.
"Ayo bawa Dia ke dalam." Perintah Mamanya Yasir. Yang entah kenapa langsung dituruti oleh Rival. Rival pun berlari cepat masuk kedalam rumah, sambil membopong tubuh Rili. Sedangkan Yasir, masih berdiri mematung dibawah guyuran hujan.
Dia pun akhirnya melap darah yang berada di sudut bibirnya. Dengan tubuh basah. Yasir menyusul masuk ke dalam Rumah.
Dia melihat Rili dibaringkan di atas sofa yang terdapat di ruang tamu. Dimana Rival berusaha menyadarkan istrinya itu, dengan menggoyang tubuh Rili dan memanggil-manggil namanya.
Dengan perasaan yang kacau, Yasir mendekati ketiga orang tersebut. Dia lelah, Dia juga merasa bodoh. Karena keegoisannya. Wanita yang seharusnya mereka lindungi. Akhirnya menderita. Karena, ulah kedua pria tersebut.
"Cepat hubungi Dokter Fahri!" Ucap Yasir kepada Rival. Entah kenapa Rival mengiyakan perintah Yasir. Ternyata ponsel Rival masih berada tas selempangnya. Sedangkan tas selempang Rival, masih berada di dalam mobil Yasir. Rival berlari dengan tergesa-gesa menuju mobil Yasir yang terparkir dihalaman. Dia pun meminta kunci mobil Yasir kembali, kepada Pak satpam.
Setelah mengambil Tas nya dari dalam mobil Yasir. Dia pun berlari cepat masuk ke dalam Rumah. Rili masih berbaring di atas sofa. Dimana Mamanya Yasir, ikut duduk dipinggir sofa itu. Rival pun langsung menghubungi Dokter keluarga Yasir yang bernama Dokter Fahri.
"Nak Yasir, Rili jangan dibaringkan disini. Ayo angkat Dia ke kamar saja. Dan ganti pakaiannya." Ucap Mama Yasir dengan gugup sekaligus cemas kepada putranya itu
Mendengar ucapan Mamanya Yasir. Rival pun akhirnya geram. "Dia istriku, Kalau tidak karena ulah anakmu yang tidak tahu diri ini. Istriku tidak akan pingsan." Ucap Rival. Dia pun membopong tubuh Rili hendak keluar dari rumah itu.
Mama Yasir, tercengang mendengar ucapan Rival.
"Ada apa ini nak?" Yasir tidak menjawab pertanyaan Mamanya. Dia malah heran melihat tingkah Rival yang hendak membawa Rili keluar dari rumah itu.
"Bang.... Abang Rival. Tolong jangan bawa Rili keluar dari rumah ini. Kumohon, jangan bahayakan nyawa Dia." Ucap Yasir, dengan suara yang seperti mengibah. Sehingga siapapun yang mendengarnya akan tersentuh.
Rival menghentikan langkahnya setelah mendengar ucapan Yasir. Mamanya Yasir pun, mendekati Rival.
"Nak, tunggu Rili sadar ya. Baru kamu bawa istrimu. Kasihan Dia. Lukanya yang di wajah pun belum sembuh. Dia saat ini sangat lemah. Ayo, kita bawa ke kamar saja." Ucap Mamanya Yasir.
Bersambung
Mohon beri like, coment positif. Rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.
__ADS_1
Jangan lupa VOTE nya kak, Agar Author lebih semangat lagi dalam menulis.
Terima kasih.