
Kini tibalah mereka harus melewati jalanan yang terjal tersebut. Saat berjalan, karena tidak hati-hati dan memang hari masih nampak gelap maka Rili terpleset dan berguling-guling dan akhirnya amblas ke dasar sungai.
Bruggghhhh.... Tubuh Rili tercebur ke sungai dengan posisi badannya telungkup dan kakinya saling bertautan. Sebelum jatuh ke dasar sungai ternyata kaki Rili terbentur ke batang kayu besar yang sudah di tebang. Kayu tersebut terletak dipinggir sungai dengan posisi horizontal.
Sungai itu tidak dalam, kedalamannya sekitar 50 cm, dan dasar sungai kebanyakan pasir. Sangat sedikit batu di sungai tersebut.
Sekar dengan cepat menyusul kakak iparnya dengan berlari menuruni tangga-tangga yang dibentuk agar lebih mudah turun, tapi tangga itu belum di semen, masih tanah yang disangga dengan kayu dipinggirnya.
Rina juga ikut berlari untuk menolong kakak sepupunya itu. Entah kenapa yang tadinya Dia sesak ingin BAB, malah sekarang Dia tidak pingin BAB lagi.
Rili cepat-cepat bangkit dari dalam sungai tersebut. Saat Dia menggerakkan kakinya. Dia merasakan sakit yang luar biasa. Dia kembali ambruk di dalam sungai. Dia sama sekali tidak bisa berjalan.
"Auuww... sakit sekali kakiku!" ucap Rili. Tidak terasa air mata sudah membanjiri wajah putihnya.
"Ma,..... mama...Aku ingin pulang.... Aku tidak mau disini...!" ucapnya dengan berurai air mata sambil memukul-mukul air sungai, dimana air itu muncrat lagi ke wajahnya. Dia terus saja memukul-mukul air tersebut dimana dirinya dalam keadaan terduduk di dasar sungai tersebut.
Rili nampak frustasi sekali. Ucapan mamanya yang mengatakan bahwa Rival akan bisa membuatnya bahagia, mungkin hanya angan ibunya semata.
Rili terus saja menangis dalam keadaan duduk di dalam sungai itu.
Rina dan Sekar juga sudah masuk ke dalam sungai yang tidak dalam itu.
Sekar dan Rina mencoba membantunya berdiri, tapi Rili tidak bisa memijakkan kakinya sebelah kanan. Sepertinya kakinya terkilir parah.
"Aauuwww.... aauuwww.... kakiku sakit sekali, aku tidak bisa berjalan." Ucap Rili dengan menangis. Entah kenapa Rili nampak cengeng.
"Kak, apa bener kak tidak bisa berjalan?" tanya Rina.
"Untuk apa kak bohong dek, kaki kakak benar-benar sakit sekali." ucap Rili sambil menangis.
Rina dan Sekar memapah Rili. Akhirnya Rili bisa keluar dari sungai yang tergolong kecil itu, bahkan airnya tidak deras sama sekali.
Kini Rili duduk di atas pasir di tepi sungai tersebut bersama Rina.
"Tunggu sebentar ya kak, Sekar panggilkan Abang Rival dulu." Ucap Sekar dan berniat berjalan menuju rumah mereka.
"Tunggu, untuk apa panggilkan Dia?" tanya Rili kesal. Ya, setiap mendengar nama Rival, entah kenapa Rili tidak suka. Dia merasa hidupnya apes setelah bertemu dengan Rival.
"Untuk bantuin kak pergi dari sini, kak ipar gak bisa jalan, Aku tidak bisa mengendong kak." Ucap Sekar.
"Apa digendong?" tanya Rili dengan sedikit bingung dan terkejut
"Iya kak." Jawab Sekar.
"Gak usah panggilkan Abang Rival, kak bisa jalan dengan bantuan kalian berdua." Jawab Rili. Dia tidak mau digendong Rival.
"Tidak bisa kami memapah kak sampai ke atas, ini jalannya tanjakan dan sempit tangga-tangganya sempit kak, karena tangganya masih tanah." Ucap Sekar.
"Tidak usah panggilkan Dia, ayo bantuin kak jalan!" ucap Rili.
Kini Rina dan Sekar memapah Rili. Rili menahan sakit di mata kaki kirinya, yang ternyata juga ikut terkilir, tapi lebih parah sebelah kanan. Baru menaiki satu tangga dengan kaki kirinya. Rili ambruk. Kaki kirinya tidak bisa dibuat sebagai penopang tubuhnya lagi.
Rina dan Sekar mencoba menahan tubuh Rili yang ambruk ke tanah.
"Kak," ucap Rina. Dia menangis. " Maafkan Rina kak! coba kalau Rina tidak pingin BAB, tentu kak tidak celaka seperti ini." Ucapnya dengan menangis dan dalam posisi memapah tubuh Rili.
"Ini tidak salahmu, kakak aja yang tidak lihat jalan, cepat sana kamu BABnya." Ucap Rili yang sekarang Dia sudah terduduk di tanah. Bajunya juga sudah kotor.
"Aku sudah tidak ingin BAB lagi, terkejut perutku mungkin, sehingga Dia tidak mau keluar lagi." Ucap Rina asal.
"Alaaahhh... kamu ini buat susah orang saja." Jawab Rili.
Tidak Rili ketahui, ternyata Sekar sudah pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Apa Sekar sudah pulang?" tanya Rili.
"Iya kak, Dia mau minta bantuan." Jawab Rina.
Rili yang terduduk di tanah, mencoba memijit-mijit mata kakinya yang sudah bengkak dan merah.
Tak terasa air mata jatuh lagi dipipi indahnya.
"Tidak ada gunanya disesali, karena beginilah mungkin jalan hidupku, semakin Aku tidak berterima dengan ini semua, hatiku akan semakin sakit." Gumamnya dalam hati.
Saat Dia melamun, Dia tidak menyadari bahwa Rival sudah berada di depannya dan langsung memeriksa kaki Rili.
Rili baru tersadar, disaat Dia merasa tangan kokoh menyentuh mata kakinya. Dia tersentak dan menggerakkan kakinya kuat. Sehingga tangan Rival lepas dari kaki Rili.
"Kamu bisa tahan sedikit dek? Abang akan coba menyembuhkan kakimu." Ucap Rival dengan melihat wajah Rili yang sudah dibanjiri oleh air mata. Dia merasa sedih dan tidak tega melihat kondisi istrinya saat ini.
Rili diam saja. Dia malah mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Rival nampak mengambil sedikit air ludahnya, dan mengoleskannya ke mata kaki Rili dan memijatnya, Rival menarik dan memutar ke kiri dan ke kanan mata kaki Rili.
"Aauuuuwww....... Sakit.... sakit..... Lepaskan kakiku, Apa kamu ingin membunuhku?" ucap Rili kesal, matanya nampak melotot ke arah Rival. Sedang Sekar dan Rina yang juga berada disitu, dibuat heran dengan sikap Rili yang sedikit kasar terhadap suaminya itu.
Rival yang sudah sadar, kalau Rili tidak menyukainya dan tidak menginginkan pernikahan ini, tidak terlalu mengambil hati ucapan Rili.
"Adek tenang ya, percayakan kepada Abang, kita harus cepat sampai ke rumah. Sebentar lagi acara akan dimulai." Ucap Rival sambil berjongkok di hadapan Rili, dengan posisi satu kaki di tekuk ke tanah.
"Abang akan menggendongmu, jadi tenangkan dirimu, agar Abang sanggup gendong tubuhmu yang besar ini." Ucap Rival dengan sedikit berseloroh.
"Apa? kalau gak sanggup, tidak usah sok-sokan menawarkan diri untuk menggendongku. Aku tidak mau jatuh berguling-guling lagi." Ucap Rili ketus.
"Iya, maka dari itu, adek jangan banyak gerak nanti, saat Abang gendong ya?" ucap Rival.
Rili pun menundukkan kepalanya tanda setuju.
Saat Rili sudah berada di gendongan Rival, Rival menatap lembut wajah istrinya. Kedua mata mereka bertemu. Rili tidak mau berlama-lama menatap suaminya, sehingga Dia mengalihkan pandangannya lurus menatap pohon-pohon disekitar sungai tersebut.
Dug....dug...dug.... Rili bisa mendengar dan merasakan detakan jantung Rival saat berada didekapan Pria yang sudah menjadi suaminya itu.
Mungkin Rival sangat menyukai Rili, walau dapat perlakuan cuek. Rival tidak mempermasalahkannya. Bisa menggendong Rili saat ini, merupakan suatu kebahagian buatnya.
"Jangan melihat Aku terus, Abang lihat jalannya. Nanti kita jatuh lagi. Aku tidak itu terjadi." Ucap Rili tanpa melihat Rival.
"Tidak usah khawatir dek, Abang sudah sangat hapal jalan ini. Walau dengan menutup mata, Abang bisa melewatinya." Ucap Rival tersenyum.
"PD banget ini cowok." gumam Rili dalam hati
Tangga demi tangga dengan mudah dilewati Rival, Dia tidak merasa lelah dengan menggendong Rili, istrinya itu seperti kapas saja di dekapannya.
Rina dan Sekar takjub melihat Rival.
"Abang Rival kuat ya? lihatlah kak Rili yang digendong Abang Rival. Apa Abang Rival tidak merasa capek? ini saya lihat Abang Rival malah tersenyum bukannya ngos-ngosan." Ucap Rina kepada Sekar.
"Abang Rival udah biasa bekerja keras kak. Dodos sawit dan melangsir sawit dengan berat hampir 200 kg. Kalau kak Rili mah ringan buat Abang Yasir. Palingan berat badan kak Rili 45 kg." Jawab Sekar.
Sekar dan Rina nampak mengikuti Rival dari belakang.
Kini Rival sudah berada di tempat yang datar, hanya 50 M lagi, mereka akan sampai di rumah Rival.
Saat Rival melewati pekarangan belakang rumah, dimana disitu juga banyak ibu-ibu yang sedang memasak. Maka semua mata tertuju kepada pasangan suami istri tersebut. Adegan romantis itu menjadi perbincangan, yang membuat Rili malu dan akhirnya Rili menyembunyikan wajahnya di dada bidang Rival.
"Ya ampun, istrimu kenapa Rival, kenapa digendong? aduuhhhh... romantis banget ya cara menggendongnya, seperti adegan di film India saja!" ucap seorang ibu-ibu yang ternyata tetangga Rival.
Rival hanya tersenyum menanggapi godaan ibu-ibu tersebut.
__ADS_1
Melihat ribut-ribut di pekarangan belakang rumah, maka ibu Rival keluar marah-marah.
"Rival, turunkan istrimu. Di tempat kita ini tidak boleh bersikap seperti itu di khalayak ramai. Ayo, turunkan istrimu!" ucap ibu Rival.
Rili nampak berontak, agar Rival menurunkannya. Tapi, Rival tidak mengindahkan perintah ibunya itu.
"Kaki istriku sakit Bu, Dia tidak bisa berjalan." Jawabnya singkat dan langsung membawa Rili ke kamar.
Ternyata tindakan Rival yang menggendong istrinya itu salah dihadapan sebagian warga kampung. Ibu-ibu menganggap tindakan itu norak dan tabu. Dimana memamerkan kemesraan suami istri di depan umum itu dianggap tidak berakhlak.
Kebiasaan dikampung Rival, suami istri tidak boleh nampak mesra di depan umum. Hanya dikamar saja itu boleh dilakukan. Bahkan sekedar becanda gurau pun tidak boleh. Begitulah primitifnya pemikiran orang-orang dikampung tersebut.
Padahal Rival tidak ada niat untuk memamerkan kemesraan, tetapi tindakan itu akhirnya menjadi cacat buat Rili Dimata ibu mertuanya.
Rili sudah selesai mengganti pakaiannya, Dia juga sudah memakai sarung yang dililitkan sehingga mirip rok dan bagian atasnya kebaya brokat warna merah tanpa swaroski. Dia juga sudah memoles wajahnya dengan make up. Mulai dari berpakaian dan ber make up, Rina nampak membantu Rili.
"Kak, udah bagaimana kaki kak, apa masih sakit?" tanya Rina.
"Sudah baikan dek, bahkan kak udah bisa menapakkan kaki kak. Lihat lah." Ucap Rili sambill Dia berdiri dengan kedua kakinya.
"Koq bisa cepat sembuh gitu?" tanya Rina bingung.
"Iya ya?"
"Abang Rival bisa memijat berarti kak, tapi tadi ku lihat Abang Rival mengoleskan ludahnya ke kaki kak. Apa ludahnya itu berkhasiat?" ucap Rina.
"Entahlah," kak sebenarnya sedikit jijik saat Abang Rival mengambil ludahnya dan mengolesnya ke kaki kakak." Ucap Rili sambil mengedikkan bahunya.
"Alahhh... nanti juga air ludah Abang Rival bakal tiap hari kak cicipi" Ucap Rina cekikikan.
"Rina, kamu udah berani ya? apa kamu sering ya icip-icip ludah orang?" tanya Rili dengan mata melotot kepada Rina.
"Gak sering sich, tapi pernah." Ucap Rina.
Tok....tok...tok...
"Assalamualaikum dek, Abang boleh masuk?" tanya Rival dari balik pintu kamar Rili.
"Ayo bukakan dek!" ucap Rili kepada Rina.
"Iya kak."
Rina nampak membuka pintu kamar tersebut.
Kemudian Rival masuk ke dalam kamar, sedang Rili duduk di atas tempat tidur.
"Kak, Rina keluar bentar ya?" ucapnya dan hendak keluar.
"Rina, tunggu. Kamu jangan keluar." Ucap Rili. Dia takut kalau berduaan dengan Rival.
"Iya dek Rina disini aja, Abang bentar koq. Hanya mau memijat kaki kakakmu sebentar." Ucap Rival.
"Abang pijitin kakinya lagi ya dek, biar cepat sembuh."Ucap Rival.
Rili nampak mengiyakan permintaan Rival.
Akhirnya Rival memijit mata kaki Rili yang terkilir tersebut. Seperti tadi pagi. Rival mengambil ludahnya sedikit sebelum memijat kaki Rili.
Bersambung..
Mohon beri like, coment positif, vote dan rate bintang 5 serta jadikan favorit ya kak.
Terima kasih
__ADS_1