Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Kenyataan yang begitu menyakitkan


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA CERITA KISAH CINTA RIVAL.


"Menikah Dengan Adik Sendiri"



Pria mana yang sanggup melihat istrinya bersama dengan mantan kekasihnya. Itulah kenyataan pahit pertama yang dirasakan seorang pria baik dan Sholeh yang bernama Rival Youman.


Dia Patah hati, dikhianati, merasa ditinggalkan, karena istri yang sangat dicintainya bersama dengan mantan kekasihnya. Istrinya itu bahkan berada satu rumah dengan mantan kekasihnya. Bisa dikatakan mereka seperti kumpul kebo.


Tapi, apa daya Rival. Dia yang sudah terlanjur sangat mencintai istrinya itu, hanya bisa bersabar dengan kenyataan pahit yang di dengarnya dari mulut istrinya itu. Istrinya mengaku masih mencintai mantannya. Sehingga Dia belum siap menerima Rival sebagai suaminya. Rival sabar, Dia juga selalu berdoa agar istrinya membuka hati kepadanya.


Rival merasa seperti mendapat peluang besar, disaat pengakuan istrinya tidak mencintainya. Tapi, istrinya masih mau bersamanya dan berjanji akan mencoba membuka hati kepadanya. Rival sangat bahagia mendengar pernyataan istrinya itu. Hingga masalah baru pun muncul kembali.


Disaat hatinya belum sembuh total, dari pengakuan istrinya yang masih mencintai mantannya. Dia mendapat kenyataan pahit yang kedua. Wanita yang sangat dihormati dan disayanginya mengaku, bahwa Dia bukan Anaknya. Dia adalah anak yang dipungut. Kenyataan itu semakin menambah kesedihan hati Rival.


Hatinya hancur berkeping-keping. Dua wanita yang sangat berarti buatnya. Mengeluarkan kata-kata yang membuatnya berhenti bernafas, hatinya luka tapi tidak berdarah. Istri dan Ibunya, sukses membuatnya Down. Dia sangat hancur, Dia tidak punya tubuh untuk bisa dipeluknya, meluapkan kesedihan dihatinya.


Kedua wanita yang sangat spesial buatnya, secara bersamaan menoreh luka di hatinya.


"Ibu, izinkan Aku untuk selalu menganggap mu wanita yang melahirkan dan membesarkan. Istriku, Aku ingin berkeluh kesah kepadamu. Aku sedang hancur. Aku bukan anak dari orang tua yang membesarkanku. Tolong... peluk Aku, kuatkan Aku." Rival menjerit dalam hati. Betapa Dia sangat membutuhkan istrinya. Tapi, lagi-lagi hatinya semakin hancur. Dia melihat istrinya dibawa mantannya ke Hotel.


Dengan berderai air mata, dada yang begitu terasa sesak dan sakit. Detakan jantung yang cepat, karena menahan emosi, amarah dan rasa kasihan kepada diri sendiri. Dia meninggalkan Kota S, setelah berjam-jam merenung di pinggir jembatan kembar.


Sempat terlintas pikiran bunuh diri, dengan meloncat dari jembatan. Tapi, kalau tidak mati bagaimana. Kalau kakiku patah dan tubuh cacat. Tentulah diriku semakin tidak berharga. Begitulah pemikiran Rival saat berada di pinggir jembatan kembar.


Ada niat di hati Rival, bertanya kepada istrinya. Kenapa istrinya masih mau jalan dengan mantannya, bahkan Sampai masuk ke dalam kamar Hotel. Tapi, lagi-lagi hatinya yang sedang hancur itu karena masalah yang kompleks. Tidak akan sanggup mendengar jawaban dari istri yang sangat dicintainya itu.


Rival menduga-duga, pasti istrinya akan mengatakan bahwa Dia masih mencintai mantannya dan akan minta cerai kepadanya. Sehingga Dia tidak akan sanggup mendengar kalimat itu dari mulut istrinya.


Berjam-jam merenung di jembatan kembar, di bawah cahaya bulan ditemani suara jangkrik dan kodok, terus digangguin nyamuk-nyamuk nakal. Akhirnya Rival memutuskan meninggalkan kota S dan kota tempat tinggalnya. Dia akan merantau ke Kota M. Yang merupakan ibukota provinsi Sumatera Utara itu.

__ADS_1


🌿🌿🌿


"Nak, apakah keputusanmu sudah bulat untuk merantau?" tanya Ayah Rival dengan suara lemah. Karena memang Ayah Rival belum sembuh total.


Rival saat ini sedang meminta izin kepada pria tua yang tubuhnya kurus itu. Pria tua ini, adalah pria yang menemukan Rival dan membesarkannya.


"Iya Ayah, maafkan Rival yang tidak bisa menjaga Ayah, padahal Ayah masih sakit. Rival ke kota ingin mencari kerja Ayah. Kalau sudah dapat uang, Rival akan kirim buat Ayah." Ucap Rival dengan sedihnya. Dia nampak memijat-mijat kaki Ayahnya itu.


"Apa kamu sudah izin sama istrimu?" ucapan Ayah Rival membuat jantung Rival berdetak cepat. Mendengar kata istri, membuat Rival mengingat Rili bersama Yasir. Hatinya sakit, melihat Yasir menggandeng tangan Rili masuk ke dalam Hotel.


"Sudah Ayah, Rili sudah memberi izin. Lagian kalau anakmu ini tidak bekerja, istriku nanti mau dikasih makan apa Ayah." Ucap Rival dengan mata berkaca-kaca. Dia mengalihkan pandangannya. Tidak berani menatap mata Ayahnya yang rabun dekat itu. Dia sedang berbohong.


"Apa tidak lebih baik, kerja di kota S aja nak?" ucap Ayah Rival.


"Pingin sih Ayah, tapi Ayah sendiri tahukan adat di kampung kita. Bahwa seorang suami itu tidak berharga Dimata masyarakat, apabila merantau ke tempat tinggal istri. Dimana-mana istri yang harus ikut suami." Jawab Rival mencari alasan yang masuk akal. Sebenarnya pemikiran Rival sudah modern. Dia tidak keberatan, untuk mengikuti istrinya.


"Baiklah nak. Tapi, kenapa kamu berangkatnya dari sini. Kenapa tidak dari tempat tinggal Nak Rili?" ucap Ayah Rival. Banyak sekali hal ganjil menurutnya, atas keputusan mendadak Anak yang dibesarkannya itu.


Kenyataan pahit yang dirasakannya begitu menyakitkan, sampai Dia merasa tidak bisa menghadapinya. Dia ingin menenangkan diri. Mencoba berdamai dengan kenyataan yang begitu menyakitkan itu. Setelah merasa tenang, Dia akan kembali. Dia akan menemui istrinya itu.


Membahasnya pun dengan istrinya, akan membuatnya emosi. Dia takut melakukan hal yang akan disesalinya disaat Dia berbicara dengan Rili, masih dalam keadaan emosi. Dia tidak tega menampakkan wajah garang dan frustrasi nya dihadapan Rili. Dia tidak sanggup berdebat dengan Rili. Jikalau Dia menanyakan kenapa Rili menjumpai Yasir secara diam-diam. Padahal Dia sedang di kampung.


"Bang, sudah pukul 5 sore, jam berapa Abang ke terminalnya. Biar dianterin Abang Amrin." Ucap Mila yang tiba-tiba nongol dibalik pintu kamar yang ditempati Ayah mereka.


Rival menoleh ke arah Mila. "Jam enam sore Dek. Apa Amrin sudah pulang dari sawah?" tanya Rival dengan tidak semangat.


"Sudah, itu Dia sudah menunggu Abang di halaman, duduk di balai-balai." Ucap Mila, kini Dia duduk disisi ranjang tempat Ayahnya berbaring. Dia memijat kaki Ayahnya.


Rival mencium kening Ayahnya. Dia merasa sangat berat meninggalkan Ayahnya yang masih sakit itu. Dia juga mencium punggung tangan Ayahnya dan memeluk Ayahnya yang masih berbaring itu.


"Ayah Doa kan, semoga langkahmu kali ini mendatangkan kesuksesan. Bawalah kalung yang pernah Ayah berikan itu." Ucap Ayah Rival dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Rival mengangguk, Dia kembali memeluk Ayahnya. Air mata menetes di wajah tampannya. Rival meninggalkan kamar Ayahnya, berjalan lesu ke kamarnya, mengambil tas ransel yang berisi beberapa helai pakaiannya. Berjalan menuju halaman rumah. Di balai-balai Amrin tersenyum kepadanya.


"Mari kita berangkat." Ucap Yasir, setelah Dia mengenakan jacket lie dan sepatu sneakersnya. Mereka meninggalkan kampung menuju terminal dengan naik motor, penampilan Rival sangat tampan kali ini. Orang yang melihatnya tidak akan menyangka Dia sudah berumur 36 tahun.


Kepergian Rival kali ini, sangat berbeda dirasanya. Dia merasa seperti akan terjadi hal besar. Tapi, Dia menepis anggapan itu.


Sesampainya di terminal. Rival pamit kepada Adik iparnya itu. Kedua pria itu berpelukan.


"Jaga Ayah, Ibu dan baik-baik lah kepada Mila." Ucap Rival tersenyum. Amrin hanya mengangguk menjawab ucapan Abang Iparnya itu.


Rival memasuki Bus yang tiketnya sudah ditangannya. Dia mencari tempat duduknya, dari no tiket yang ada ditangannya.


Bus yang ditumpangi Rival tergolong besar dan Kelas Ekonomi AC non Toilet, seat bangku 2-2 dengan jumlah bangku 45.


Ternyata penumpang sudah pada naik, dan sebentar lagi, bus akan jalan. Karena mesin mobil Bus sudah menyala. Ternyata Bus hanya menunggu Rival. Semua kursi sudah terisi. Hanya kursi sebelah Rival yang kosong. Rival duduk dekat jendela mobil.


Perlahan-lahan Bus pun berjalan pelan, meninggalkan terminal.


Sementara dibelakang Bus, nampak seorang wanita sedang berlari dan berteriak.


"Tunggu...tunggu....!" teriaknya seperti sedang melarikan diri dari kejaran hantu.


Kerneck yang melihat wanita itu berlari, akhirnya memberi kode kepada Pak supir dengan memukul koin ke besi yang ada di bus tersebut, agar bus berhenti. Bus pun berhenti. Wanita itu naik ke Bus dengan deru napas yang tersengal-sengal bola mata nya bergerak cepat mencari tempat kosong, dan akhirnya Dia pun duduk disebelah Rival. Karena hanya bangku sebelah Rival yang kosong.


TBC


Tetap dukung ya kak novel ini. Dengan like, coment, rate 🌟 5 dan jadikan favorit.


Sumbangkan lah Vote hadiah dan vote rekomendasi seikhlasnya ya kak.😊


Mampir juga ke novel ku yang berjudul

__ADS_1


"Dipaksa menikahi Pariban"


__ADS_2