Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Video tersebar


__ADS_3

"Kamu itu menyebalkan sekali. Seenaknya saja membuat wajahku bermasker kan **** mu itu. Syukur wangi lavender." Ucap Dodi polos, yang membuat Rival terkejut dengan ucapan teman nya itu. Begitu juga dengan Jelita, yang menatap Dodi dari kaca spion. Dodi pun membalas tatapan Jelita dengan cengir kuda.


"Apa? aku melakukan itu, maaf ya kawan. Kamu sudah banyak membantu saya." Ucapnya dengan ekspresi wajah merasa bersalah. Rival jadi enggan kepada Dodi, sekaligus merasa berhutang budi.


"Iya, tidak apa-apa." Dodi tersenyum. Sepertinya wajahku akan mulus setelah ini." Kedua pria itu saling pandang dan akhirnya tertawa bersama.


Setelah sampai di rumah Dodi. Rival duduk di teras rumah Menunggu Pak Rudi datang menjemput. Dodi sudah menawarkan Rival untuk masuk ke dalam rumahnya. Tapi, Dia menolak, memilih duduk di teras rumah. Dia perlu menghirup udara segar. Agar otaknya kembali normal.


"Setelah supirmu datang, kami baru akan pergi. Kamu tenang saja." Ucap Dodi, menatap Rival yang nampak sungkan itu. Sedangkan Jelita sedang membuat teh di dapur.


Malam ini, Dodi akan ke rumah orang tuanya Jelita yang kampungnya dekat kampung Rival. Sebenarnya bisa saja sih, Rival ikut nebeng dengan Dodi. Tapi, keluarga Rival akan bertanya-tanya nantinya, apabila Rival pulang dengan orang lain. Apalagi malam ini, sedang diadakan malam kenduri Ibu Durjanna.


Saat menikmati angin malam, dan indahnya taman depan rumah Dodi. Ponsel Rival berdering. Tapi, hanya sebentar dan panggilan itu pun terputus. Kemudian masuk Bunyi tanda pesan masuk.


Mengetahui ponselnya berdering, Rival senangnya bukan main. Dia beranggapan yang menghubungi nya adalah istrinya atau Mama Maryam.


Dengan tidak sabarannya Rival merogoh ponselnya dari saku celananya. Hanya ponsel itu yang tersisa. Sedangkan dompet beserta isinya sudah diambil Rayati.


Rayati memang pencuri. Dulu juga Dia mencuri dompet Rili. Saat dirinya dan Almarhumah Ibu Durjanna mengusir Rili dari rumah di malam hari.


Rayati mencuri dompet Rival. Karena menyadari aksinya untuk menguasai Rival tidak akan berhasil. Jadi, rencana keduanya pun dilancarkannya. Yaitu memeras Rival.


Dengan semangat empat lima Rival membuka pesan multimedia itu. Dia yakin, pesan itu berisi video kebersamaan anak dan istrinya.


Tapi, ekspresi wajah Rival langsung berubah jadi tegang, disaat membuka pesan itu. Begitu banyak gambar potongan dirinya, sedang mencumbu Rayati. Bahkan digambar itu jelas terlihat bahwa Rival yang agresif bermain.


"Kalau kamu tidak ingin, videonya sampai ke tangan istrimu. Berikan Aku uang. Ini no rekening nya." isi pesan Rayati kepada Rival.


Membaca pesan itu membuatnya takut. Debaran jantung rasanya berdetak lebih cepat dari biasanya. Rival geram, berani sekali Rayati menerornya. Ini masalah besar. Dia tidak mau Mely mengetahui, bahwa dirinya sedang bersama seorang wanita.


Istrinya itu pasti akan sangat marah dan cemburu besar. Saat Dia melihat video itu. Dirinya yang tidak sadar menyebut nama Rili saja, sudah dipermasalahkan oleh Mely. Apalagi kalau Dia melihat video dirinya dengan Rayati, pasti tamatlah Riwayatnya.


"Kamu kenapa Rival?" tanya Dodi penasaran, melihat Rival yang sampai mengepalkan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya masih memegang ponselnya. Pancaran amarah jelas terlihat di wajahnya yang putih, sehingga berubah jadi merah padam.


"Rayati benar-benar ingin mati." Ucapnya, menghapus foto dirinya yang sedang grepe-grepein Rayati. Rival merasa perutnya jadi mual. Dia ingin muntah. Sepertinya penyakit nya yang dulu akan kambuh. Karena melihat fotonya yang tidak punya malu itu, membuatnya setres.


"Maksudnya apa?" tanya Dodi lagi, Dia yakin ada yang tidak beres dengan apa yang dilihat Rival di ponselnya.


"Rayati mengambil video saat kami di kamar." Ucapnya frustrasi, mengguyur rambutnya dengan kasar sampai kebelakang dengan jemarinya. Rival berdecak kesal. Meninju pahanya sendiri dengan kuat, walau terasa sakit. Itu tidak sebanding dengan sakitnya. Dijebak oleh Rayati.


"Nekat juga itu wanita gila." Ucap Dodi, ikut kesal, mendengar penjelasan Rival.


"Tenang saja, Aku akan membantumu. Besok aku temani kamu ke kantor polisi." Ucap Dodi mencoba memberi dukungan kepada Rival.


"Aku akan memberi kesaksian. Kita jebloskan Dia ke penjara." Ucap Dodi. Menarik napas dalam. Dia juga kesal banget dengan Rayati.


"Aku rencananya akan pulang malam ini. Aku tidak boleh berdiam diri disini. Aku merasa sesuatu yang gawat telah terjadi di rumahku." Ucapnya, kembali menghapus foto dirinya bersama Rayati sedang pelukan, ciuman. Bahkan Rival sedang menghisap puti*ng bukit kembarnya Rayati.


"Astaghfirullah... apa ini benar Aku? Aku yang mencumbu Rayati ini?" kali ini Rival menyodorkan ponselnya kepada Dodi. Karena selain foto, video dirinya dengan Rayati sudah masuk ke ponselnya. Dengan cepat Dodi menyambar ponsel dari tangan Rival.


Dia tidak sabar untuk melihat video itu. Dia tertawa, melihat Rival yang ekspresi wajah menampilkan ekspresi mesum itu. Rival memang nampak menikmati permainan nya dengan Rayati. Jelas saja Rival menikmatinya. Saat itu, Dia merasa sedang melakukan nya dengan istrinya Mely. Wanita yang sangat dirindukannya.


Kedua mata Dodi melotot dan hampir keluar dari tempatnya, saat melihat video Rival yang sedang grepe-grepein Rayati.


"Kamu agresif sekali di video ini. Kamu benar-benar menikmatinya loh Rival. Kalau video ini disebar disitus porn*o, pasti banyak vierws nya." Ucap Dodi, dengan terseyum kecut. Sungguh Dia prihatin juga melihat kawannya itu.


"Ayo diminum dulu kopinya." Tawar Jelita.


"Terimakasih sayang." Ucap Dodi menatap Jelita yang tersenyum.


Sedangkan Rival langsung menyambar ponselnya dari tangan Dodi.


Suasana hening, hanya suara jangkrik dan kodok yang terdengar, maklumlah rumah Dodi di dekat perkebunan sawit warga. Dodi tinggal sendiri di rumah itu. Karena orang tuanya sudah meninggal. Sedangkan Dia hanya anak satu-satunya.


Selain bekerja di pengutipan jasa retribusi pasar. Dodi juga sebagai toke sawit. Dikampung itu. Tak heran Dia sudah punya rumah dan mobil serta tabungan yang gemuk di bank.

__ADS_1


"Diminum Rival kopinya." Tawar Dodi, Dia lagi menyeruput kopi buatan Jelita yang rasanya pas dan nikmat.


"Tidak, Aku tidak berani. Ini saja, Aku sudah mau muntah. Jangan sampai penyakitku kambuh." Ucapnya melihat ke gerbang rumah Dodi. Kenapa supirnya lama sekali datangnya.


"Kamu punya penyakit serius? tanya Dodi penasaran.


Rival Mengangguk, Aku tidak boleh terlalu setres. Bisa-bisa aku akan muntah kering dan badan tidak berdaya." Jelasnya, sambil menghapus video yang dikirim Rayati.


"Sebaiknya kita makan malam saja. Kamu jangan menolak lagi. Kamu bilang mau pulang malam ini. Jangan sampai kamu masuk angin dan sakit." Ucap Dodi, Dia khawatir juga kepada Rival. Sedangakan Jelita langsung meninggalkan teras rumah dan bergegas ke dapur.


"Tidak usah repot-repot. Nanti bisa makan di rumah makan atau di rumah." Tolak Rival, Dia harus cepat pulang. Setidaknya ke apotik membeli obat anti defresi dan mual.


"Tidak repot, ayolah." Dodi menggerek tangan Rival, hingga mau tak mau. Rival pun masuk ke dalam rumah Dodi yang megah dan mewah itu. Pantas saja Jelita mau menerima Dodi. Toh Dodi sudah mapan.


Saat makan, ponsel Rival berdering. Yang Menelpon adalah Pak Rudi.


"Tuan, Aku kesasar. Maaf, Aku tidak hapal jalan ke sana." Ucap Rudi gugup. Dia takut kena marahin Rival.


"Bapak dimana sekarang?" tanya Rival balik. Menghentikan sejenak acara makannya.


"Aku di persimpangan mau ke kampungnya tuan." Jawab Pak Rudi masih merasa ketakutan.


"Ya sudah, tunggu Bapak Aku disitu.$ Rival langsung mematikan ponselnya.


Dia yang tidak selera makan, harus bersusah payah memasukkan nasi ke mulut nya dengan dibantu minum banyak.


Acara makan pun selesai, Dodi mengantar Rival ke persimpangan mau masuk ke kampungnya yang terlebih dulu mereka singgah ke apotik untuk membeli obat Rival.


"Apa benar kalian akan berangkat umroh setelah ijab kabul?" tanya Rival kepada Dodi. Kini kedua pria itu sedang berdiri di depan mobilnya Dodi. Sedangkan Jelita masih duduk di dalam mobil.


"Iya. Emang kenapa?" tanya Dodi penasaran. Dia memasukkan kedua tangannya ke saku jaketnya, karena cuaca dingin.


"Aku akan meminta orang mengurus si Rayati. Kalau kamu diperlukan sebagai saksi nantinya Kamu mau kan?" tanya Rival, menatap Dodi yang menyanggupi permintaan temannya itu.


"Baiklah terimakasih banyak atas bantuan kalian. Kalau tidak ada Kalian, tamatlah riwayat ku." Ucap Rival meraih Dodi kepelukannya.


"Ya tamatlah, pasti wanita gila itu, minta dinikahi." Ucap Rival kesal. Memukul udara didepannya.


Dodi ketawa, "Kan bagus punya banyak istri." Goda Dodi, mata Rival melotot.


"Aku tidak ada bakat seperti itu. Aku ini setia." Terang Rival, memuji dirinya.


"Setia, (setiap tikungan ada)" Dodi Kembali meledek Rival.


"Sudah, kalian pulanglah. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih." Ucap Rival dengan pelan, Dia memeluk Dodi.


"Oh ya, Aku minta no ponsel yang bisa aku minta tolong, urusin si Rayati." Ucap Rival. Dia sudah kehilangan semua kontak temannya. Karena ponselnya hilang.


"Ada, Aku kasih nomor ponsel si Benny saja. Dia saja nanti yang kamu mintain tolong." Ucap Dodi. Benny adalah orang berpengaruh di kampung itu. Setiap Masalah yang ditanganinya akan beres.


"Terimakasih kasih banyak ya Dod." Ucap Rival.


"Semoga kalian bahagia. Dijauhkan dari masalah. SAMAWA." Ucap Rival, melepas pelukannya dari Dodi. " Cepat kirim no si Benny." Ucap Rival.


Dia pun berjalan ke arah mobilnya Dodi. "Kamu beruntung Jelita, dapat suami seperti Dodi. Masih perjaka. Dijamin." Ucap Rival. Jelita hanya tersenyum menanggapi nya. Dia tahu Rival hanya bercanda.


Tapi, Dia jadi minder, mendengar ucapan Rival. Secara Dia janda beranak satu.


Dodi dan Jelita pun meninggalkan tempat itu, sedangkan Rival masuk ke dalam mobilnya. Mereka akan pulang ke rumah. Mungkin sesampainya di rumah, acara takziah malam terakhir sudah selesai.


Rival juga langsung menghubungi Benny. Dia akan menyerahkan semua urusan Rayati kepada pria itu. Bila perlu, Rayati dapat hukuman penjara 15 tahun, karena banyak pasal yang dilanggarnya.


Rival menyandarkan tubuhnya di sandaran mobil. Dia lelah sekali. Tapi, Dia harus pulang malam ini. Dia merasa dipanggil-panggil untuk segera pulang.


Saat bersandar, Dia membuka aplikasi FB nya. Ingin melihat apakah istrinya itu online atau tidak. Dia menghela napas, ternyata istrinya itu tidak pernah online.

__ADS_1


"Mely sayang Istriku, Aku sangat merindukanmu. Tidak pernah ku rasakan rindu semembuncah ini. Rasa rindu ini seribu kali lipat, dari rasa rindu yang ku rasakan saat kamu meninggalkanku selama empat bulan.


"Kita menikah karena terpaksa. Menjalani biduk rumah tangga tanpa ada rasa. Mungkin beginilah caranya, Allah membuat skenario rumah tangga kita, agar lebih baik lagi. banyak masalah yang kita lalui. Agar kita bisa mengenal karakter satu sama lain." Rival membathin, Dia menyusun kata-kata itu, yang akan diucapkannya kepada istrinya itu. Saat mereka akan Bertemu.


Dia juga akan meredam semua emosinya, jikalau nanti Mely kembali mengeluarkan kata-kata yang akan menyulut emosinya.


Saat online di FB, sempat Dia membaca status di FB. Curahan hati seorang wanita.


...Perempuan: Marahnya Diam, Cerewetnya Peduli dan Bencinya Pergi....


Dia tidak mau sesampainya Dia di rumah, Istrinya itu mendiamkannya apalagi pergi dari rumah, seperti yang dilakukan Mely empat bulan yang lalu.


Saat melamun tersebut ponsel Rival kembali berdering. Dia masih memegang ponselnya. Deringannya hanya sekali, kemudian langsung mati, dan disusul dengan pesan yang masuk.


Saya tunggu dalam tiga puluh menit. Kalau kamu tidak kirimkan uang Rp.100.000.000. Video ini akan sampai kepada istrimu. Kalau kamu tidak mau itu terjadi turuti kemauanku.


Isi pesan singkat Rayati. Rival menghela napas kasar. Dia kesal bukan main. Kenapa Dia harus berurusan lagi dengan Rayati.


Dia mengabaikan pesan itu dan langsung menghubungi Benny.


"Assalamualaikum Ben, apa kamu sudah bertindak?" tanya Rival penuh kekalutan.


"Sudah, saya bahkan sudah melapor ke kantor polisi. Ini Polisi akan menangkap Rayati." Terdengar suara Benny meyakinkan di sambungan telepon.


Rival tercengang dengan apa yang dikatakan Benny. Apakah secepat itu prosesnya? Pantas saja bayarannya mahal.


Mendapat pesan dari Rayati itu, Rival sudah yakin. Video dirinya bersama Rayati sudah disaksikan oleh Mely istrinya. Jadi tidak ada gunanya lagi. Melayani Rayati. Sekarang ini yang harus dilakukan nya adalah. Cepat pulang, mengakui semua kesalahan, menjelaskan apa yang terjadi. Meminta maaf kepada istrinya itu. Walau Dia seorang suami, Dia tidak akan malu dan gengsi untuk meminta maaf terlebih dahulu. Yang penting semua nya kembali membaik.


Dia yakin, Mely akan memaafkannya. Karena Mely begitu mencintainya. Palingan Mely hanya akan marah sebentar. Dan akan memaafkannya.


Semoga apa yang diharapkan Rival terjadi. Mely memaafkannya dan mereka bersatu. Rival tidak tahu, nyawa Istrinya sedang sekarat saat ini. Pendarahan karena infeksi rahim itu adalah pemicu, banyaknya angka kematian Ibu yang baru saja melahirkan.


"Tuan, sudah sampai." suara Pak Rudi, membuyarkan lamunan Rival. Dia sampai tidak menyadari kalau mereka sudah sampai di depan rumah.


Benar saja, keadaan rumah sekitar sudah sunyi dan sepi. Sepertinya acara sudah selesai.


Dengan cepat Rival turun dari mobil. "Pak, kita pulang ke kota M, malam ini. Bapak cepat sedikit beres-beres nya." Ucap Rival, berjalan cepat menuju rumah.


Di dalam ruang tamu. Masih ada Keluarga besar dari Ibu Durjanna yang berkumpul dengan raut wajah kecewa. Rival terseyum, menyapa keluarga nya sekilas dan masuk ke kamar untuk beres-beres. Dia tidak tertarik untuk lama bertanya kenapa wajah keluarga nya bantet semua. Saat Dia masuk ke rumah.


"Abang, pulang malam ini?" tanya Sekar, yang kini sedang berdiri di dekat ranjang." Dia menampilkan ekspresi sedih dan kecewa.


"Iya Dek, Masih banyak urusan Abang " Jawab Rival sambil memasukkan barang-barang ke tas koper warna hitam yang ukurannya sedang itu.


Rival menatap Sekar yang menangis. "Kamu kenapa menangis?" tanya Rival. Dia beranggapan Sekar tidak ingin Dia kembali ke kota M.


Sekar masih menangis. "Abang harus pulang. Kalau kamu kangen dengan Abang, Mely dan si kembar. Kamu bisa berkunjung kapan pun. Asal tidak mengganggu kuliahmu." Jelas Rival menatap sendu Adiknya itu.


"Bukan karena itu Aku menangis. Tapi, Aku kecewa kepada Abang. Teganya Abang, mengkhianati Kak Mely." Ucap Sekar masih menangis.


"Apa maksud mu?" tanya Rival bingung. Dia memegang bahu Sekar.


Sekar menggerakkan bahunya, hingga tangan Rival terlepas dari bahu Sekar.


"Ini, Abang lihat saja sendiri." Sekar memberikan ponselnya kepada Rival. Di ponsel itu sudah ada foto Rival sedang mencium bibir Rayati dan bagian sensitif lainnya.


"Abang lebih memilih selingkuh. Daripada mengikuti acara tahlilan Ibu. Sekar kecewa." Sekar pergi dari kamar Rival dengan menangis.


Sepeninggalannya Sekar, Rival terduduk lemah tak berdaya di atas ranjangnya. Masalah ini benar-benar sudah merembes kemana-mana. Dasar Rayati Gila, tidak punya urat malu.


Setelah memberesi semua barang-barangnya. Rival keluar dengan menyeret kopernya. Tepat di ruang tamu, Dia membuka suara.


"Saya dijebak, hanya itu yang bisa saya katakan." Rival pun menyalami Ayahnya yang duduk di lantai beralaskan ambal itu. Dia pun keluar dari rumah. Pak Rudi, sudah menunggunya di beranda.


Tidak ada gunanya lagi menjelaskan semuanya . Itu hanya akan membuang-buang waktu saja. Saat ini yang perlu penjelasan adalah Mely istri nya. Dia yakin seratus persen, istri nya itu sudah menonton video itu.

__ADS_1


TBc.


Tinggalkan jejak dengan like coment dan vote ❤️😊😍


__ADS_2