
"Nak, tunggu Rili sadar ya. Baru kamu bawa istrimu. Kasihan Dia. Lukanya yang di wajah pun belum sembuh. Dia saat ini sangat lemah. Ayo, kita bawa ke kamar saja." Ucap Mamanya Yasir. Dengan lembut, Dia pun mengelus punggung Rival. Yang akhirnya membuat Rival, ingin mengiyakan ajakan Mamanya Yasir.
"Maaf Bu, saya akan membawanya ke klinik saja." Ucap Rival dengan napas berat. Dia masih membopong tubuh Rili ala bridal style. Yang masih berdiri, diambang pintu keluar. Sebenarnya Rival sudah sangat lelah. Tenaganya hampir habis, karena bersmackdown dengan Yasir. Bahkan luka dibibir dan dihidungnya masih mengeluarkan darah.
"Diluar hujan, ini kota kecil. kalau sudah malam angkutan tidak ada. Tadikan Dokter sudah dihubungi." Mama Yasir berusaha membujuk Rival. Agar Rili dirawat saja di rumah putranya itu.
Yasir masih berdiri mematung melihat Rival, yang begitu mengkhawatirkan istrinya. Sejenak, Yasir tersadar. Dia hanyalah masa lalunya Rili, sedangkan Rival adalah masa depannya. Jelas sudah, Rili pasti akan memilih suaminya.
Yasirpun akhirnya mendudukkan tubuhnya di sofa. Dengan wajah tertunduk. Dia hanya melihat sepatu Rival yang melewatinya, menuju kamar tamu. Mamanya Yasir, menuntun Rival memasuki kamar tersebut.
Rival membaringkan tubuh Rili yang basah kuyup, di ranjang kamar tamu, yang terdapat dilantai satu.
Mama Yasir, mendudukkan tubuhnya yang juga basah, di bibir ranjang.
"Saya akan mengganti pakaiannya. Kamu boleh membersihkan diri. Biasanya di lemari itu ada handuk dan sarung." Ucap Mama Yasir. Dia pun menunjuk lemari yang terdapat di sudut kamar tersebut. Tapi, Rival masih saja berdiri di sisi ranjang. Perkataan Mama Yasir, belum tercernanya.
"Ayo... Kamu bersihkan dirimu dulu serta luka-luka mu itu dan sholatlah. Agar pikiran tenang." Ucap Mama Yasir dengan nada keras, yang membuat Rival menoleh ke arah Mamanya Yasir.
"Iya Tante." Ucapnya, sambil berjalan cepat menuju lemari. Mengambil handuk dan sarung yang memang ada dilemari itu. Ternyata, bukan handuk saja yang ada disitu. Kaos unisex dan training juga ada. Serta pakaian dalam wanita atau pun pria lengkap masih dalam kemasan.
Rival masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamar tamu. Dengan cepat Dia membersihkan tubuhnya, serta luka-lukanya. Dimana darah dibagian hidung dan bibir sudah kering. Sedangkan Mamanya Yasir melepas semua pakaian Rili, kemudian menutupnya dengan selimut. Dengan mengeluarkan kedua tangan Rili.
Wanita yang masih nampak muda itu, keluar dari kamar tamu. Mendapati putranya, masih duduk terdiam di sofa ruang tamu, dengan wajah yang begitu frustasi dengan keadaan basah kuyup.
"Dimana pakaian gantinya Rili?" Ucap Mamanya Yasir, Dia mengelus pelan pundak anak tirinya tersebut. Telapak tangannya jadi basah. Karena, menyentuh punggung Yasir yang basah. Kemudian wanita yang menjadi Ibu ganti Yasir tersebut, mendudukkan tubuhnya yang masih basah disebelah kanan Yasir
"Ada di kamar atas ma. Atau koper yang itu pun pakaian Dia. Tapi, Rili lagi menstruasi ma. Ambilkan aja pembalutnya di kamar atas." Ucap Yasir, dengan nada datar. Dia pun menunjukkan posisi koper Rili, yang tadi sore Yasir bawa dari laundry, setelah pulang kerja.
"Tapi, Rili tidak menstruasi nak." Yasir akhirnya menoleh ke arah Mamanya dengan wajah sedikit terkejut.
"Apa? Tapi, Dia itu lagi menstruasi ma." Jawab Yasir dengan suara sedikit keras.
"Ya udah, jangan dibahas lagi. Mungkin datang bulannya sudah selesai. kamu bersihkan tubuhmu dulu. Nanti kamu sakit lagi, kelamaan memakai pakaian basah. Mama akan naik ke atas, kita perlu bicara." Ucap Mama Yasir, Dia pun menarik lengan putranya. Agar bangkit dari duduknya.
"Apa Menstruasi bisa selesai dalam dua hari ma?" Yasir menatap lekat wajah mamanya, menunggu jawaban.
"Bisa. Kalau yang sedang menstruasi setres dan tubuhnya kurang fit." Ucap Mama Yasir. Dia kembali menarik lengan putranya itu. Agar pergi membersihkan diri.
Yasir pun pergi menuju kamarnya dilantai dua. Dia berjalan dengan perasaan yang tidak tenang. Sedangkan Mamanya hendak masuk ke kamarnya Rili dengan membawa koper milik Rili warna ungu. Tapi, langkahnya terhenti disaat Dokter Fahri datang.
Mama Yasir pun menunjukkan kamar tempat Rili berada. Tentunya sudah ada Rival di dalam kamar tersebut.
Tok... tok.... tok...
Mama Yasir mengetuk pintu kamar, yang sempat ditinggalkannya.
"Iya masuk." Ucap Rival.
Dokter masuk ke kamar tersebut. Sedangkan Mamanya Yasir, pergi menuju kamarnya. Dia juga sudah kedinginan. Karena masih menggunakan pakaian yang basah.
Wajah Dokter Fahri sedikit berkerut, melihat pasien yang ditanganinya adalah sama dengan pasien dua hari yang lalu. Tapi, yang membuat Dia heran adalah. Pria yang menemani Rili, saat ini berbeda dengan dua hari yang lalu.
"Saya periksa dulu ya pak." Ucap Dokter Fahri. Dia memeriksa tekanan darah, dengan memasang manset dilengan atas Rili. Dan memompa tensi darah. Dokter juga mencek suhu tubuh Rili. Memeriksa mata dan luka-luka Rili. Rival memperhatikan dengan detail wajah istrinya yang babak belur itu.
Mata Rival, panas menahan air mata yang hendak jatuh. Bagaimana mana mungkin seorang mertua menganiaya menantunya.
Ceklek....
Mamanya Yasir, memasuki kamar tempat Rili berada. Dia pun berdiri Disebelah kiri Rili, tepatnya dekat kepala Rili.
"Bagaimana kondisinya Dok?" tanya Mamanya Yasir. Dia pun akhirnya mendudukkan tubuhnya dibibir ranjang. Dengan lembut Mamanya Yasir mengelus puncak kepala Rili.
Dan mendekatkan minyak kayu putih, ke lubang hidung Rili. Agar Rili cepat sadar.
"Ibu ini mengalami Masalah tekanan darah rendah. 80/60 mmHg. Imun tubuh juga menurun. Serta Ibu ini sepertinya tertekan bathin. Jadi, saya harap. Tolong beri kedamaian kepada Ibu ini." Ucap Dokter Fahri. Dia pun memberesi peralatan alat medisnya.
"Ini obatnya pak. Sebentar lagi pasien akan sadar." Dokter Fahri menyerahkan 4 macam tablet obat kepada Rival.
"Tante, lanjutkan terus menstimulasinya dengan mendekatkan minyak kayu putih ke lubang hidung Ibu ini. Agar cepat sadar."
"Baik Dok, Terima kasih banyak." Ucap Mamanya Yasir. Dia masih terus melanjutkan kegiatannya untuk menyadarkan Rili. Dengan menggunakan minyak kayu putih ke dekat lubang hidung Rili.
"Apa benar, Anda suami Rili?" selidik Mamanya Yasir.
__ADS_1
"Iya Tante," ucap Rival. Dia mendudukkan bokongnya di bibir ranjang tempat Rili berbaring. Dia pun memijat-mijat lengan Rili.
"Benarkah?" Mama Yasir meragukan jawaban Rival. Tapi, Dia tidak mendebat jawaban dari Rival tersebut.
"Iya Tante." Rival masih terus memijat lengan Rili dengan lembut.
"Terimakasih Ya Tante atas bantuannya. Sesudah istri saya sadar. Kami akan pergi dari rumah ini." Ucap Rival. Dia mengambil tas selempangnya. Dia pun nampak mengotak-atik ponselnya.
"Menginap aja dulu. Tunggu kondisi Rili pulih total." Ucap Mamanya Yasir. Dia pun meletakkan minyak kayu putih yang berukuran jumbo Tersebut, dia atas nakas yang terdapat di samping tempat tidur.
"Terimakasih banyak Tante. Tapi, lebih baik kami pulang secepatnya." Rival masih terus mengotak-atik ponselnya. Dan sesekali melihat ke arah Mamanya Yasir dan terseyum.
"Terserah kalian saja. Saya keluar dulu. Sekalian mau meminta pembantu. Mengantar makanan kesini. Dan itu koper miliknya Rili." Mama Yasir menunjuk koper yang dibawanya. Dia pun meninggalkan kamar dan berjalan menuju dapur.
Setelah kepergian Mamanya Yasir. Rili pun tersadar. Dia membuka matanya perlahan. Dia pun menoleh ke sebelah kanan. Dia melihat Rival tersenyum kepadanya.
"Syukurlah Adek sudah sadar." Ucap Rival dengan wajah yang begitu bahagia. Senyuman nampak jelas dibibirnya yang berwarna merah muda. Bibir Rival memang sangat menggoda. Karena Dia tidak perokok.
Rili tersenyum. Tangannya bergerak meraba tubuhnya, Dia sadar bahwa Dia belum memakai pakaian.
"Bentar ya dek. Abang ambilkan pakaian Adek dulu." Ucap Rival. Rival pun turun dari ranjang, dan berjalan menuju koper yang tergeletak di dekat lemari yang terdapat disudut kamar tersebut.
Rili mengubah posisi tubuhnya menjadi bersandar di dashboard tempat tidur. Bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri. Dia seolah mencari sesuatu. Ya, Dia sedang mencari keberadaan Yasir. Apakah ada diruangan tersebut?
Dia bernapas lega, karena Dia tidak menemukan Yasir di ruangan tersebut. Sebenarnya jauh dihati yang paling dalam. Dia sangat ingin bersama Yasir. Tapi, mana mungkin Dia bisa melakukan itu kepada Rival, suaminya yang baik hati itu.
"Dek, mau kan? sekarang kita pulang?" tanya Rival dengan wajah penuh harap. Dia menyodorkan pakaian Rili. Rili pun tersadar dari lamunannya.
Rili menerima pakaiannya tersebut. " Kita pulang ke kota S ya Bang?" ucap Rili. Dia masih memegang pakaiannya. Dia malu memakainya di hadapan Rival.
"Iya. Ayo cepat pakai Bajunya. Sebentar lagi, mobil rentalnya datang."
"Mobil Rental?" Rili memandang wajah Rival dengan penuh tanda tanya.
"Iya sayang, kita tidak mungkin naik angkutan umum ke kota S. Mana ada lagi jam segini."
"Abang balik badan dulu" Ucap Rili, dengan nada lemah.
"Abang akan pergi, Abang ambil pakaian Abang di mobil Bos Yasir dulu."
"Mungkin ini akan menjadi pertemuan kita terakhir. Aku pun tidak akan sanggup bertemu denganmu lagi Abang Yasir. Aku ini istri seseorang." Gumam Rili dalam hati.
"Masih ada pakain Abang yang bersih, yang Abang bawa saat, dinas ke luar kota." Ucap Rival. Dia mengelus pelan puncak kepala Rili.
"Sebentar ya dek." Rival pun keluar dari kamar tamu tersebut, Dia berjalan cepat menuju mobil Yasir yang diparkir di halaman rumah Yasir.
Rili pun memakai pakaiannya. Saat ini keputusan yang tepat adalah. Pergi dari rumah ini. Kedua pria yang mencintainnya. Masih mementingkan egonya masing-masing. Suaminya pria yang sangat baik. Rili tidak tega menyakitinya.
"Dek, kita berangkat sekarang ya!" ucap Rival, saat memasuki kamar tamu. Ternyata mobil yang direntalnya sudah berada di depan pagar rumah Yasir.
"Iya Bang." Ucap Rili. Dia pun turun dari tempat tidur. Dan Rival masuk ke kamar mandi, mengambil pakaian kotornya dan memasukkannya ke kantong plastik, yang dimintanya kepada pembantu Yasir.
"Kalian mau kemana?" Ucap Mamanya Yasir. Dia cepat berjalan menuju kamar tamu. Karena mendengar Rival berbicara dengan pembantunya tadi di dapur.
"Mau pulang Tante. Terimakasih banyak sudah mau menolong istriku." Ucap Rival. Dia pun memasukkan obat Rili ke tas ranselnya.
"Tapi, Rili belum sembuh total." Mama Yasir, sangat mengkhawatirkan Rili. Dia pun mendekati Rili yang masih berdiri dipinggir tempat tidur.
Mama Yasir memeluk Rili. "Semoga kamu bahagia." Dia pun mencium pipi kanandan kiri Rili, serta mengelus pelan puncak kepala Rili.
"Mommy, masih bertanya-tanya. Apa yang sedang terjadi. Suatu saat kita bisa bercerita ya? jangan sombong kepada Mommy ya sayang?" Mama Yasir kembali memeluk Rili. Dia merasa begitu dekat dengan Rili. Seperti adik kakak.
"Iya Tante."
"Jangan panggil Tante." Mama Yasir memberi kode penolakan dengan jari telunjuknya.
"Mommy....!" Rili menangis sesenggukan dipelukan Mamanya Yasir. Dia sungguh merasa sangat sedih. Kenapa semua ini terjadi.
Rival yang berdiri diambang pintu kamar. Hanya bisa diam mendengar perbincangan istrinya dengan Mamanya Yasir.
Saat ini, Dia harus bisa sabar. Agar keadaan tidak semakin panas. Dia sangat bersyukur. Dari tadi Yasir tidak menampakkan diri. Sehingga Dia bisa cepat keluar dari rumah megah itu
"Ayo Dek, Mobilnya sudah lama menunggu." Ucap Rival dengan tersenyum.
__ADS_1
Rili pun berjalan menghampiri Rival. Mereka keluar dari rumah megah itu, dimana Mamanya Yasir. Ikut menghantarkan Rili sampai masuk ke dalam mobil rental Rival. Mamanya Yasir, Memayungi Rili.
Rival dan Rili sudah masuk ke dalam mobil, tepatnya duduk di jok belakang. Karena Rival memesan Rental mobil sekalian Supir.
Mobil pun melaju. Mama Yasir, naik ke lantai dua. Begitu banyak pertanyaan dibenaknya saat ini. Dia mencari putranya dikamar. Tapi, Dia tidak menemukan keberadaan Yasir di kamar yang luas itu.
Kemudian Mamanya Yasir, mencari ke ruang kerja. Lagi-lagi Yasir tidak berada di ruang kerja. "Kemana anak itu?" Mama Yasir mengomel, Dia pun masuk lagi ke kamar Yasir.
Matanya pun akhirnya melihat sebuah pintu terbuka, di dalam kamar yang luas itu. Mama Yasir berjalan menuju ruangan tersebut. Selama ini. Dia tidak mengetahui ada ruangan khusus di kamar putranya tersebut.
Mama Yasir masuk ke ruang rahasia tersebut. Dia melihat putranya duduk di atas sofa, dengan mata berkaca-kaca. Matanya masih fokus menonton video Rili dan dirinya.
Mama Yasir, ikut duduk di sofa.
"Mama baru tahu, ada ruangan rahasia di kamar mu ini nak." Ucap Mama Yasir. Dia pun ikut menonton tayangan yang tersaji di depan matanya. Melihat tontonan itu. Mamanya ikut bersedih. Dia tahu betul, anak dari kakaknya itu. Sangat mencintai Rili. Karena, Dialah tempat curhat Yasir mulai dari kecil, hingga sekarang.
"Setelah menyaksikan semua kejadian hari ini. Akhirnya Mama sadar. Bahwa benar kata Ayah. Kamu akan menderita. Apabila terus mencintai Rili. Awalnya Mama tidak setuju, dengan pemikiran ortodoks Ayah. Tapi, melihat Rili sudah menikah. Itu tandanya. Dia bukan jodohmu nak." Mama Yasir, mengelus punggung Yasir, secara berulang-ulang.
"Aku sangat mencintainya Ma. Mama juga tahu itu." Yasir masih terus menonton video Rili.
"Tapi, lihatlah. Dia sudah menikah. Suaminya juga sepertinya baik."
"Itu Dia yang membuatku bingung saat ini Ma. Abang rival memang baik. Tapi, kenapa Rili bisa babak belur seperti itu. Tapi, lihatlah Ma. Dia lebih memilih pergi dengan suaminya." Yasir mematikan monitor. Dia pun berjalan meninggalkan kamar rahasianya.
"Kamu mau kemana?" Mama Yasir, menahan lengan kiri Yasir.
"Mau menemui Rili dan Abang Rival ma. Aku ingin membicarakan banyak hal dengan mereka.
"Mereka sudah pulang."
"Aaa....paaa? Ma..... Mama...... Kenapa dari tadi Mama tidak memberi tahu ku Ma?" Yasir nampak frustasi. Dia menarik keras rambutnya dengan kedua tangannya.
"Kamu tenang dulu nak. Jangan temuai Dia sekarang. Kalian bertiga sedang labil-labilnya. Lagian Dia sudah menikah." Yasir memutar tubuhnya menghadap Mamanya.
Mamanya menuntun Yasir, untuk duduk kembali di sofa, yang terdapat di ruang rahasia Yasir. Dia mencoba menenangkan Yasir.
"Tenangkan dirimu dulu. Jangan paksakan kehendak. Kalian bertiga, harus bisa introspeksi diri masing-masing. Kalian membutuhkan waktu, untuk berpikir jernih. Tarik napas dalam, hembuskan pelan." Mama Yasir memandu Putranya untuk merilekskan diri.
Yasirpun melakukan perintah Mamanya.
Melihat Yasir sudah mulai tenang. Dia pun memutar tubuh putranya, hingga mereka berhadap-hadapan.
"Dengarkan Mama, Allah selalu punya jalan terbaik untuk menjadikanmu bersatu jika, memang kamu baik untuk bersamanya. Allah telah menyiapkan waktu terbaik untuk bisa bertemu dengannya.
"Intinya tabahkan hatimu dalam penantian yang kamu lakukan, jangan takut, jangan khawatir dan jangan getir, karena bagaimanapun Allah telah tahu kapan kamu harus bertemu dan bersatu dengannya. Maka, tunggu saja rencana terbaik-Nya dengan sabar. Jikalau Rili adalah jodohmu. Tapi, kalau Dia bukan jodohmu. Apapun usaha yang akan kamu lakukan untuk memilikinya. Maka tetap tidak akan berhasil." Dia pun memeluk putranya itu. Dia juga merasa sedih. Melihat keadaan Yasir. Yang tidak bisa melupakan Rili.
"Aku sangat mencintainya Ma. Tujuan hidupku hanya Dia." Yasir masih memeluk mamanya.
"Tapi, Dia istri orang. Cobalah berdamai dengan hatimu nak."
"Tidak bisa ma. Kalau sekarang, itu tidak bisa kulakukan. Dia menderita Ma. Kalau benar Dia bahagia. Aku akan mencoba melepasnya. Aku ingin memberikan semua yang kumiliki untuknya. Dan di hati ini, hanya ada namanya." Yasir pun melepas pelukannya. Dia berdiri, dan mulai melampiaskan emosinya dengan menarik rambutnya kebelakang dengan jemarinya.
"Lupakan Dia. Mama kesini, mau menawarkan bisnis kepadamu. Kali ini, kamu harus mau menjalankan bisnis kita yang baru di Australia. Tiga Bulan yang lalu kamu menolaknya. Karena ingin menikahi Rili. Tapi, lihatlah Dia sudah menikah." Ucap Mama Yasir. Kedua matanya menatap lekat wajah putranya yang sedang sedih itu.
Dia juga bisa merasakan kesedihan Yasir. Tapi, kalau Dia mendukung Yasir, untuk bersedih. Itu sama saja, akan menghancurkan putranya.
"Aku tidak mau ma. Aku ingin disini saja." Yasir pun pergi dari ruangan itu. Dia berdiri di balkon yang terdapat di kamarnya.
Mamanya dengan cepat menyusul. Dia berpikiran buruk. Putranya itu, berniat untuk bunuh diri.
"Kamu jangan meloncat." Ucap Mamanya berteriak saat menyusul Yasir, ke balkon.
"Aku tidak sebodoh itu Ma." Yasir berdiri dipinggir pembatas balkon.
"Kalau kamu sadar, kamu tidak Bodoh. Ya sudah. Lupakan Rili. Kamu urus bisnis kita yang baru yang di luar Negeri. Kalau kamu tetap di Negeri ini, kamu tidak akan bisa melupakannya." Mama Yasir, menggoyang lengan putranya.
"Mama tidak akan mendukung kamu menjadi pebinor. Paham Kamu! Tapi, kalau tadi Rili masih Single. Mama akan dukung kamu untuk mendapatkannya. Dan membelamu di depan Ayah. Pikirkan itu!" Mama Yasir pun pergi meninggalkan Yasir.
"Pergilah, Jika kau ingin maka lakukanlah. Bagaimanapun nanti jika kau ingin pergi, maka pergilah. Aku akan mengalah. Maka pergilah, karena aku hanya ingin melihatmu bahagia." Yasir berteriak sekuat-kuatnya di atas balkon. Harapan tinggal harapan.
Bersambung
Mohon beri like, coment positif. Rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.
__ADS_1
Jangan lupa VOTE nya kak, Agar Author lebih semangat lagi dalam menulis.
Terima kasih.