Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Aku bukan barang mainan


__ADS_3

Dengan tubuh yang bergetar, mata yang sudah panas. Detakan jantung Rival pun tidak bisa dikontrolnya lagi. Detakannya sangat cepat. Dia sedang menahan emosi. Hatinya begitu sakit, perih seperti disayat-sayat belati dan kemudian ditetesi air jeruk. Rasanya sangat menyakitkan. Rival terus melangkahkan kakinya untuk lebih mendekat kepada objek yang sangat menyesakkan didada yang terdapat dihadapanya.


Suasana sore hari yang mendung, ditandai dengan gumpalan-gumpalan awan di atmosfer bertanda akan segera turun hujan. Awan Hitam pekat, seolah menjadi gambaran suasana hati rival saat ini. Gelap dan berkabut


Praduga-praduga negatif bermunculan yang membuat pikirannya makin kalut. Melihat tontonan dimatanya, membuat dirinya kecewa kepada istrinya. Bagaimana mungkin seorang istri bermesraan dengan pria selain suaminya.


Sesaat Rival, mengiyakan kata Ibunya. Kalau Rili selingkuh. Tapi, Rili juga sudah berterus terang kepada suaminya. Bahwa Dia mencintai pria lain. Dan Pria itu ternyata Bos nya sendiri, Yasir Kurnia.


Rival melihat Yasir begitu bahagia menggoda Rili, yang menurut Rival, istrinya itu sangat senang berpelukan dengan mantan kekasihnya itu. Lagi-lagi adegan yang dipertontonkan Rili dan Yasir. Membuat hati Rival bertambah sakit.


Rival teringat perkataan Rili, bahwa Dia mencintai pria lain dan hatinya hanya untuk pria itu. Rival terus berjalan dengan kaki gemetar, dengan tangan kirinya mengusap kasar rambutnya sampai kebelakang kepalanya. Dia berusaha menenangkan diri, dengan bernafas sedalam-dalamnya. Dia tidak ingin salah bersikap. karena, cemburu.


Sebenarnya Rili, sedang berontak minta dilepaskan oleh Yasir dari rengkuhannya. Tapi, jikalau orang tidak tahu, maka seolah-olah Rili dan Yasir, nampak sangat bahagia saat bermesraan di atas ayunan.


"Kitik....kitik....glitik.... glitik..." Ucap Yasir dengan suara yang begitu lepas dan bahagianya. Dia sedang menggelitik Rili dengan tangan kanannya yang masih merengkuh pinggang Rili.


Rili tertawa karena Yasir menggelitiknya. Tapi, Dia juga marah kepada Yasir. Rili serba salah. Setiap Dia menghindar, maka akan terjadi hal-hal yang akan membuat kontak fisik diantara mereka semakin intim.


Tap...tap...tap... langkah Rival terhenti, dengan jarak sekitar satu meter dari ayunan tempat Yasir dan Rili berada.


"Abang," ucap Yasir, Dia baru menyadari keberadaan Rival yang berada dihadapannya. Sedangkan posisi Rili, membelakangi Rival.


Rival masih berdiri dihadapan Yasir, Pria yang sedang kecewa tersebut diam seribu bahasa. Tatapan mata terlihat kosong. Mata merah dan panas. Karena, menahan sakit dihati. Bibir bergetar dan tiada senyuman yang terlihat untuk membalas senyuman yang dilemparkan Yasir saat melihat keberadaannya di tempat itu.


Rili yang mengetahui ada orang di tempat itu selain mereka berdua, akhirnya berontak agar lepas dari pelukan Yasir. Tapi, Yasir tidak mau melepas pelukannya.


"Ada orang, lepasin Aku bang." Ucap Rili pelan di dekat telinga Yasir.


"Bukan siapa-siapa hanya asisten Abang." Ucap Yasir dengan tersenyum kepada Rili dan kembali menatap Rival.


"De...ek Riii..lii!" ucap Rival dengan volume suara yang rendah dan tekanan suaranya sangat datar serta tersendat-sendat. Rival tidak menanggapi sapaan Yasir.


Deg.... Dentuman jantung Rili berdetak cepat, disaat Dia mendengar suara yang dikenalnya itu. Dengan tubuh bergetar karena ketakutan. Rili memutar tubuhnya hingga menghadap Asal suara yang memanggilnya. Saat Rili bergerak, ayunan kembali bergoyang yang membuat Rili hampir jatuh, tetapi tubuhnya ditahan Yaisr agar tetap seimbang.


"Lepaskan tanganmu dari tubuh istriku." Ucap Rival masih dalam posisi berdiri, ditempat semula Yasir melihatnya.


Dengan cepat Rili turun dari ayunan setelah tangan Yasir lepas dari tubuh Rili dan sekarang berdiri dihadapan Rival. Jangan tanya. Rili sangat ketakutan. Kaki dan tangannya masih tetap bergetar. Dan detakan jantungnya berdetak semakin cepat saja.


Dari awal Dia memang merasa bersalah, karena sebagai seorang istri tidak seharusnya Dia berada di rumah lelaki yang bukan muhrimnya. Tapi, ini bukan keinginan Dia. Keadaan yang membuat dia terperangkap Di Rumah pria yang sangat dicintainya.

__ADS_1


"Ayo kita pulang!" Rival mengulurkan tangan kanannya. Rili pun meraihnya dengan gemetar.


Yasir yang masih berada di atas ayunan. Dibuat terperangah. Matanya tidak berkedip melihat sosok pria yang sudah dianggapnya sebagai saudara.


Duaarrr..... suara gemuruh menyadarkan Yasir, dari ketercengangannya. Dia bangkit dari ayunan dan berdiri dihadapan Rili dan Rival.


Yasir syok, Mengetahui kenyataannya bahwa wanita yang sangat dicintainya, adalah istri dari asistennya yang sudah dianggapnya sebagai saudara. Dug....dug....dug..... Jantung Yasir pun mulai berdetak tidak berirama. Dia takut sekali. Rili akan meninggalkannya lagi.


"Tunggu...!" Ucap Yasir, setelah Rival meraih dan menggenggam Tangan Rili sebelah kiri. Rili hendak melangkah kan kakinya untuk bersejajar dengan Rival.


"Terima kasih karena, sudah menjaga istriku." Ucap Rival dengan tegas dan mata tajam. Dia pun mengajak Rili pergi dari tempat itu. Rili yang berjalan berdampingan dengan Rival, hanya bisa diam, dengan mata yang berkaca-kaca menatap lurus kedepan. Rival pun melakukan hal yang sama. Tatapannya lurus kedepan dengan menahan sesak di dada yang begitu menyakitkan.


Rival langsung menuju Rumah Yasir, disaat Pak Yanto, mengatakan bahwa Bos nya Yasirlah yang memerintahkannya untuk melaporkan kasus penganiayaan terhadap seorang wanita yang bernama Rili Askana.


Untuk keterangan selengkapnya, Pak Yanto tidak pernah bertanya lagi kepada Yasir. Dia hanya menjalankan apa saja yang harus dilaporkannya.


Sedangkan Rili tidak tahu menahu, bahwa Yasir membawa kasus penganiyaan yang dialaminya ke jalur hukum. Sehingga Yasir, beranggapan diawal bahwa suami Rili ikut andil dalam KDRT tersebut.


"Berhenti.....!" Ucap Yasir dengan suara lantang. Tapi, Rival tidak memperdulikannya, Dia masih terus menggenggam jemari Rili, sampai mereka keluar dari area kolam renang dan kini masuk ke arah dapur.


Yasir Berlari mengejar sepasang suami istri itu yang sudah hilang dari pandangan matanya.


Rival menghentikan langkahnya, disaat Dia hendak menarik handle pintu rumah Yasir yang megah.


"Anda tidak bisa memerintahku saat ini, kedatanganku kesini, adalah sebagi seorang suami yang akan menjemput istrinya dari jalan yang sempat tersesat." Ucap Rival, Dia pun memandang ke arah Rili dengan wajah yang begitu menyedihkan dan kecewa. Sehingga Rili yang juga sempat bersitatap dengan Rival, akhirnya menundukkan pandangannya. Sungguh perkataan suaminya itu. Membuat Rili kecewa dan malu, karena selama dua hari Dia berada di rumah pria lain.


"Rili tidak boleh pergi dari rumah ini. Dia milikku....!" ucap Yasir dengan suara lantang. Dia pun berjalan pelan dengan tubuh yang bergetar karena menahan emosi, mendekat ke arah Rival dan Rili.


Mendengar ucapan Yasir, membuat dada Rival menjadi sesak. Tangan kirinya mengepal, sedangkan tangan kanannya yang menggenggam Rili, dipererat. Sehingga Rili merasa tangannya hampir remuk. Karena Rival menggenggamnya sangat kuat.


Dimana harga dirinya sebagai suami. Dengan PD nya pria lain, mengatakan bahwa istrinya miliknya. Sudah jelas Rili adalah miliknya. Karena, Rili adalah istri sah nya.


"Saya tidak akan mengindahkan perintah dan permintaan anda. Saya kesini sebagai seorang suami, bukan sebagai bawahan Anda." Ucap Rival dengan suara bernada tegas. Dia pun kembali memengangi handle pintu dan berniat menariknya. Tetapi aksinya itu terhenti, disaat Yasir menahan tangan kiri Rival yang ingin membuka pintu rumah tersebut.


Rival yang tadinya, berusaha sabar dan tenang. Akhirnya meledak juga. Dia sangat kesal dengan Yasir, yang seolah-olah langsung mengklaim Rili adalah miliknya.


Ucapan Yasir itulah yang membuat Rival, mempertahankan harga dirinya.


"Lepaskan tangan anda, dari tanganku." Ucap Rival, Dia melototkan matanya ke Yasir yang berada disebelah kanan Rili. Ya, saat ini Rili dihapit oleh kedua pria yang sangat mencintanya itu.

__ADS_1


"Pintu ini hanya akan terbuka untuk Abang saja. Silahkan Abang keluar dari rumah ini!" Ucap Yasir, Dia pun membuka pintu rumahnya dengan selebar-lebarnya.


"Abang keluarlah, tinggalkan Rili disini. Aku akan membahagiakannya. Cukup sudah penderitaan yang sudah Abang berikan kepadanya. Abang membuatnya menderita. Silahkan keluar....!" Yasir berteriak, mukanya yang putih berubah warna menjadi pink. Dadanya berdetak sangat kencang karena menahan emosi.


Rili yang berada diantara kedua pria itu, hanya bisa menangis tersedu-sedu. Dia sangat takut. Kedua pria yang mengapitnya sangat menakutkan saat ini.


"Rili akan tetap disini bersamaku. Saya tidak akan mengizinkannya keluar dari rumah ini." Yasir menarik lengan Rili yang digenggam Rival. Genggaman itupun terlepas. Karena sesaat Rival tercengang dan terkejut mendengar ucapan Yasir. Yang membuat genggamannya melonggar.


"Kau..!" Rival kembali menarik tangan kanan Rili, sehingga Rili bergerak ke sebelah Rival. Dengan cepat Yasir menarik lengan Rili sebelah kiri.


"Dia akan Hanya menjadi milikku!" Ucap Yasir, Dia kembali menarik lengan Rili, tapi tubuhnya ditahan Rival. Akhirnya terjadilah aksi tarik menarik yang dilakukan oleh Yasir dan Rival. Tubuh Rili bergerak ke kanan dan ke kiri, karena kelakuan dua pria, yang dibakar api cemburu dan pikiran kalut. Kedua pria itu sama-sama mengklaim kepemilikan terhadap Rili


Rili seperti mainan saja yang diperebutkan. Dengan berurai air mata, Rili masih mengikuti kelakuan kedua pria yang mengisi kehidupannya dengan versi yang berbeda.


"Leepaaskan.........!" Rili menghentakkan kedua tangan pria yang memperebutkannya. Dia pun terduduk dilantai dan menangis sejadi-jadinya. Dadanya kembang kempis, menahan emosi dan juga detakan jantung yang sangat kuat dan cepat.


"Aku mulai merasa menjadi bukan seperti manusia melainkan sebongkah barang yang kalian perebutkan. Sakit..... sakit..... sakit.... Disini sangat sakit." Ucap Rili menunduk, Dia pun memukul-mukul dadanya dengan tangan kanannya. Dia pun mencoba berdiri dengan sedikit sempoyongan. Yasir ingin membantunya berdiri. Tapi, tangan Yasir ditepisnya. Sedangkan Rival, hanya bisa diam membeku.


Dia bisa mengasumsikan, bahwa Rili akhirnya akan meninggalkannya, Dan akan memilih Yasir pria kaya yang juga sangat Dia cintai. Sehingga Dia hanya bisa mematung, melihat Rili mencoba berdiri dengan sempoyongan. Dia juga memperhatikan Luka-Luka di wajah Rili.


Rili berdiri dan menghadap Yasir. Rival pun membuang pandangannya. Dia tidak sanggup melihat Rili memihak kepada Yasir.


"Kamu....kamu....kamu Abang Yasir. Aku sangat mencintaimu dari dulu sampai


,sekarang. Dan suamiku Mengetahui itu. Tapi, dengan sabar, Dia tetap menghargaiku. Ya, Aku menderita. Mungkin itulah takdirku." Ucap Rili dengan berurai air mata dan menahan sakit dihatinya. Dia pun membuat pengakuan, yang akhirnya membuat kedua pria itu terdiam.


Rili terpaksa mengatakan itu, tidak mungkin Dia memilih Yasir. Padahal Dia sudah menjadi istri seorang pria yang baik. Dia tidak tega melihat Rival kecewa, apabila Rili tidak mau ikut dengan Suaminya. Saat ini, Rili memutuskan harus berpihak kepada suaminya.


Rili memutar tubuhnya kearah Rival yang sudah membelakanginya. Dengan tangan gemetar. Rili meraih tangan Rival.


"Ayo... bang, kita pulang!"


Bersambung


Mohon beri like, coment positif. Rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.


Jangan lupa VOTE nya kak, Agar Author lebih semangat lagi dalam menulis.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2