
Rival menghela napas kasar, Dia bangkit dari kursi santai empuk yang didudukinya, berjalan malas kembali ke pembatas balkon. Dia malas membahas mengenai Rili. Karena Dia juga merasa susah sekali menjabarkan apa yang dirasakannya kepada Mantan istrinya itu.
"Kenapa diam?" tanya Mama Maryam yang kini sudah ikut berdiri disebelah Rival. "Kalau kamu diam begini, berarti yang kamu katakan mencintai Mely adalah pernyataan palsu belaka. Kamu benar-benar tidak mencintainya dan masih mencintai mantan istrimu kan? walau mantan istrimu itu sudah menikah, kamu tidak bisa melupakannya. Itu tidak adil buat Mely." Ucap Mama Maryam, menatap Rival yang pandangannya lurus ke depan.
Rival kembali menghela napas. Dia merasa susah bernafas kalau membahas mengenai Rili. Rasanya begitu sesak, tak ada yang memahami perasaan nya.
"Sudah cukup kebodohan yang kulakukan Ma. Tidak ada yang bisa mengerti bagaimana sakit nya perasaanku, jikalau membahas mantan istriku. Bukan karena Aku mencintai nya lagi. Tapi, rasa bersalah kepadanya dan penyesalan mendalam, yang membuatku masih kepikiran dengannya.
"Setelah Mely hamil, Aku sudah melupakannya. Karena Aku sudah merasa sangat bahagia bersama Mely. Tapi, saat kita adakan resepsi di Australia. Fakta mengejutkan mengenai mantan istriku Rili, terkuak Ma." Ucap Rival dengan perasaan frustasi, dan nada bicaranya sedikit keras. Sehingga Mely masih bisa mendengarnya dari tempat Dia berbaring.
Mama Maryam tercengang melihat ekspresi Rival yang menurutnya terlalu berlebihan saat membicarakan mantan istrinya.
"Fakta apa?" tanya Mama Maryam penuh penasaran nya.
"Fakta, bahwa Dia tidak bersama dengan pria yang sangat dicintainya. Padahal Aku rela melepasnya agar Dia kembali kepada kekasihnya yang sekarang menjadi suaminya. Yasir Kurnia."
"Maksudnya apa ini? bukannya mereka pasangan suami istri?" Mama Maryam mulai bingung.
"Aku akan menceritakan semuanya. Tapi, ku mohon Ma. Setelah Aku bercerita. Jangan pernah pisahkan Aku dengan istri dan anak-anak ku ya!?" ucap Rival memohon seperti anak kecil sambil menggenggam tangan Mama Maryam.
"Aku mencintai Rili dan sangat sayang padanya. Ternyata, Dia menikah denganku. Karena keinginan orang tuanya. Saat itu, suaminya yang sekarang putus kontak dengannya. Kami adalah pasangan suami istri, tapi kami tidak pernah menjalani hubungan layaknya pasangan suami istri.
"Singkat ceritanya Ma, yang membuat aku semakin bersalah kepada Rili. Ibu yang dikampung menghajar Rili sampai babak belur, saat itu Aku sedang dinas di luar kota. Dan yang menyelamatkan Rili adalah suaminya sekarang, yang tiba-tiba muncul lagi. Dan Ibu yang di kampung dijebloskan Yasir ke penjara.
"Aku yang tidak berdaya ini, tidak bisa membebaskan Ibu dari penjara. Sehingga Ibu murka kepadaku dan mengatakan bahwa Aku ini bukan anaknya. Saat itu hatiku begitu terpukul mengetahui fakta itu.
"Kekecewaan ku tentang takdir yang mempermainkan ku tak Sampai disitu. Aku kecewa kepada Rili. Karena secara diam-diam, Dia menjumpai lagi kekasihnya. Padahal Dia sudah mengambil keputusan untuk memilihku.
"Secara bersamaan masalah itu datang. Yasir yang memintaku untuk melepaskan Rili, tapi Aku menolaknya. Ditambah fakta yang baru ku ketahui bahwa Aku ini adalah anak pungut. Membuatku semakin defresi.
"Aku pun memutuskan untuk menghindar dari masalah itu. Menunggu otak dingin dan pikiran ku tenang. Tapi, saat itu juga masalah semakin banyak saja berdatangan sejak Aku bertemu dengan Mely di Bus.
__ADS_1
"Yang membuat Aku semakin tidak bisa melupakan Rili adalah keputusanku mengikuti kemauan Ayah untuk menceraikan nya. Padahal saat itu Aku masih mencintainya.
"Satu hal yang ku harapkan, setelah Aku menceraikannya. Berati Dia bebas dariku dan tentunya Dia akan Kembali kepada Yasir. Dia pasti bahagia dengan Yasir. Tapi, nyatanya Dia tidak kembali kepada Yasir. Selama satu tahun Dia menyendiri.
"Saat mengetahui fakta itu. Aku jadi linglung dan bingung Ma. Tiba-tiba saja Aku rasa ada sesuatu yang menyeruak dihati ini. Saat itu Aku menyimpulkan belum bisa melupakannya dan masih mencintainya.
"Pikiranku semakin berkelana, menyimpulkan dan menebak-nebak sendiri. Kenapa Dia tidak kembali kepada Yasir setelah ku ceraikan. Hingga otakku dan perasaan ku menyimpulkan Dia masih menungguku. Sehingga terbersit niat dihati untuk membahagiakannya. Karena sekarang Aku memiliki harta yang bisa kuberikan kepadanya. Karena saat menjadi suaminya dulu, Dia menderita bersamaku."Rival menjelaskan semuanya, tapi Mama Maryam dibuat semakin bingung dengan ceritanya Rival.
"Kamu lemah dan plin plan." Ucap Mama Maryam.
"Tidak Ma, Aku tidak plin plan Ma." Rival mencoba membela diri.
"Kamu plin plan, sikapmu ini yang membuat orang disekelilingmu tersakiti.
"Tidak Ma, Aku tidak plin plan, Aku hanya merasa terlalu jahat kepada Rili. Setelah menikah denganku Dia menderita. Dulu Aku miskin, tidak bisa berbuat banyak."
"Kalau begitu, kenapa tidak langsung kamu lepaskan Dia, saat kekasihnya memintanya kepada mu? dan disaat Dia memilihmu, kenapa kamu malah meninggalkannya." Cercah Mama Maryam, geram dengan sikap Rival yang tidak bisa tegas.
"Baiklah, sampai disini Mama sudah mengerti. Kamu tidak mencintai Rili lagi, tapi kasihan kepadanya. Kamu merasa bisa memberikannya kebahagiaan, karena kamu ternyata konglomerat, yang dulunya kolongmeralat. Iya kan?" Mama Maryam bicara sampai-sampai menunjuk-nunjuk Rival.
Rival manggut-manggut. "Karena Dia belum menikah, kamu beranggapan. Dia menunggu mu. Sehingga kamu datang untuk menjumpai nya. Tanpa memikirkan perasaan istrimu." Rival kembali manggut-manggut, merespon ucapan Mama Maryam.
"Saat kamu mengetahui Dia masih sendiri dan tidak kembali kepada kekasihnya. Apa ada niat dihatimu untuk kembali kepadanya? Padahal kamu sudah punya istri yaitu Mely." Rival kembali mengiyakan ucapan Mama Maryam dengan menganggukkan kepalanya.
"Kenapa kamu ingin kembali, padahal kamu sudah beristri." tanya Mama Maryam yang membuat Rival gelagapan menjawabnya.
Dia menatap lekat mata Mama Maryam yang menampilkan ekspresi kesal kepadanya.
"Aku khilaf, Aku salah Ma. Saat itu, Aku seolah tidak melihat Mely dan tidak merasakan keberadaannya. Aku hanya ingin membuat Rili bahagia. Karena Aku sudah sangat membuatnya menderita selama hidup denganku." Jawabnya sendu. Menyadari, Dia kembali salah dalam mengambil keputusan.
"Tapi, nyatanya Rili sudah menikah." Ucap Mama Maryam.
__ADS_1
"Iya, ternyata saat itu juga, Yasir langsung pulang ke tanah air dan menikahinya hari itu juga." Jawabnya dengan menunduk, Rival malu kepada mertuanya itu.
"Seumpama Rili belum menikah dengan Yasir. Apa kamu yakin Dia menerima mu lagi?" tanya Mama Maryam.
"Sepertinya iya Ma. Dia pasti mau rujuk denganku. Karena Aku sudah punya segalanya." Jawabnya polos.
Mama Maryam tertawa sekencang-kencangnya. Ini menantu nya umurnya berapa. Kenapa Dia tidak bisa melihat situasi. Kerja jago, otak pintar. Tapi, kenapa berhubungan dengan wanita jadi bloon.
"Percaya diri sekali kamu Rival. Bisa Mama tebak, seumpama Dia tidak menikah pun, Dia tidak akan mau menerima kamu lagi." Mama Maryam menepuk bahu Rival.
Rival pun tersenyum getir. Sepertinya memang begitu. Gumamnya.
"Apa kamu mau kehilangan istri lagi?" tanya Mama Maryam menatap Rival dengan menahan tawanya. Kisah Rival yang menyedihkan seolah berubah rasa buat Mama Maryam, karena sikap menantunya yang polos itu.
"Tidak Ma." Jawabnya ketakutan.
"Ya sudah kamu usaha ambil hati Mely lagi. Bilang sama Dia kamu khilaf. Karena merasa bersalah yang teramat kepada Rili. Sehingga berniat untuk membahagiakannya. Tapi nyatanya Rili sudah mendapatkan kebahagiaan dari pria yang dicintainya." Ucap Mama Maryam.
"Aku sudah bilang begitu Ma. Aku juga mengaku salah. Tapi Mely tidak mau memaafkanmu Ma" Rengek Rival.
"Makanya kalau sudah punya uang jangan menganggap uang itu bisa membahagiakan orang. Tidak semua kebahagiaan bisa dibeli dengan uang. Walau uang memang bisa buat kita bahagia." Jawab Mama Maryam, Dia berniat meninggalkan balkon yang udaranya semakin dingin saja. Tapi, gerakannya dihentikan Rival.
"Jadi bagaimana dong Ma. Mely sepertinya tidak mau bersama ku lagi." Ucapnya dengan sedih.
"Kalau Mely tidak mau lagi bersamamu. Kamu nikah lagi. Uangmu kan banyak." Ucap Mama Maryam berseloroh, wajah mengejek mendominasi.
"Aahhhkk Mama, koq malah ngeledek Aku sih." Rival kesal.
"Habis, tadi kamu bilangnya sudah kaya. Maka sudah saatnya membahagia Rili." Mama Maryam kembali menertawakan Rival.
"Ma, serius Aku Ma. Bantu Rival bujuk Mely." Ucapnya memohon dengan mengatupkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Iya, Iya Mama akan bantu. Mama ke kamar si kembar dulu. Jagain cucuku yang ganteng dan cantik itu. Malam ini kamu manfaatkan kesempatan untuk membujuk Mely ya?!" ucap Mama Maryam, kembali tersenyum dan menahan tawanya. Dia merasa Rival terlalu polos.