Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Menghindar


__ADS_3

Sinar matahari pagi menyusup melalui celah gorden yang tidak menutupi jendela dengan rapat. Terpaan cahaya yang terik begitu menyilaukan mata, membuat sosok Rival yang tidur menghadap ke arah jendela menjadi terganggu. Matanya mengerjap-ngerjap menyesuaikan sinar cahaya matahari yang menerpa tubuhnya.


Rasa kantuk masih menyelimuti, sehingga Dia sangat enggan untuk turun dari ranjangnya. Sakit di seluruh badan baru terasa, karena Dia yang kekurangan waktu istirahat. Ya, Rival baru bisa memejamkan mata jam tiga dini hari. Karena tidak bisa tertidur, Sehingga Dia pun melewatkan sholat Shubuhnya.


Terlalu banyak memikirkan kelanjutan hubungannya dengan Mely, sungguh membuat energi Rival terkuras. Dengan malasnya Dia membuka matanya guna melihat jam yang bertengger di kamar itu. Ternyata sudah pukul tujuh pagi.


Rival menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Bangkit dari ranjang, meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku dan ngilu. Dia pun turun dari ranjang, berjalan lemas ke kamar mandi.


Rival yang sudah siap berangkat untuk kerja. Mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja kerjanya. Ternyata ponselnya kehabisan baterai.


Rival berjalan lemah ke ruang makan, Dia harus mengisi perutnya, agar obat yang akan diminum nya bereaksi tepat guna.


"Abang Rival, sudah baikan?" tanya Sari, yang kini melayani Rival sarapan.


"Sudah baikan Sari, walau rasa mual dan pening masih ada. Tapi, masih bisa ku tolerir." Ucapnya meminum obatnya setelah menghabiskan sarapannya.


"Oh ya, Apa kamar tuan besar di kunci?" tanya Rival kepada Sari. Dia ingin mencari sesuatu di kamar Pak Ali.


"Kuncinya ada sama saya Bang. Karena walau tuan besar dan nyonya tidak disini. Kami setiap hari membersihkan nya." Jawab Sari dengan sedikit heran. Ada keperluan apa Abang Rival ke kamar tuan besar.


"Aku minta kuncinya Sari. Ada tambahan dokument yang mau Abang ambil, disimpan Ayah di kamarnya." Ucap Rival dengan penuh keyakinan.


Sari pun berjalan ke arah dapur. Mengambil kunci kamar majikannya di tempat gantungan kunci khusus semua ruangan di rumah itu.


Setelah mendapatkan kunci kamar Pak Ali, Rival berjalan lemah dengan debaran jantung yang tidak normal. Dia merasa seperti pencuri saja yang ingin mengambil barang berharga di kamar Pak Ali itu.


Setelah masuk ke dalam kamar Pak Ali, Dia pun mencari benda yang diinginkannya. Berupa sikat gigi Pak Ali. Tapi, karena sikat gigi di kamar mandi itu ada dua. Kemungkinan Sikat gigi Mama Maryam, sehingga Rival mengambil keduanya.


Dia juga, mencari helaian rambut yang tercecer di ranjang Pak Ali. Tapi sialnya Dia tidak menemukan satu helai rambut pun di kamar itu.


"Si Sari terlalu bersih menyapu kamar ini. Masak satu helai rambut pun tidak ada yang tertinggal." Ucap nya masih mencari di setiap sudut kamar Pak Ali. Mulai dari ruang ganti, kamar mandi, Sampai ke balkon. Tapi, satu helai rambut pun tidak ada. Rival mendengus kesal keluar dari kamar itu.


"Setidaknya Aku dapat sikat gigi ini." Ucapnya pelan dan memasukkan sikat gigi itu ke Tas kerjanya.


Rival memacu mobilnya menuju kantor. Dia ingin memastikan kepada sekretaris nya, kapan jadwal pertemuan dengan relasi bisnis itu diadakan. Karena, semuanya sudah di atur sekretarisnya tersebut.


"Pertemuannya jam dua siang. Sebaiknya Aku ke Rumah Sakit dulu. Aku harus mentest DNA ku dan Pak Ali." Ucapnya, meninggalkan ponselnya di meja kerjanya.


Rival pun melakukan test DNA, ternyata rumah sakitnya yang sama dengan sewaktu Pak Ali juga melakukan test DNA.

__ADS_1


"Hasilnya bisa keluar hari ini Pak?" ucap Rival dengan tidak sabarannya.


"Kalau hari ini tidak bisa Pak. Test DNA itu paling cepat keluar satu Minggu."


"Lama sekali, Aku ingin kepastian secepatnya. Itu sangat ku butuhkan." Ucap Rival, mulai tidak tenang. Dia mana bisa menunggu selama itu. Dia harus punya bukti yang kuat, kalau dia juga anak Pak Ali. Setelah Test DNA keluar, Dia akan mengatakan nya kepada Mely.


"Begitulah prosedurnya Pak." Jawab petugas medis.


"Besok harus saya dapatkan. Saya akan bayar berapa pun." Ucap nya dengan tegas dan menatap tajam petugas medis dihadapannya.


*


*


*


Siangnya Rival pun menghadiri pertemuan itu. Walau tubuh kurang fit, serta perasaan yang gundah gulana. Rival masih bisa bekerja dengan profesional. Sehingga pertemuan itu mendapatkan kesepakatan bisnis yang bagus.


Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Rival baru sampai di kantornya. Dengan lelahnya, Dia melemparkan tubuhnya di atas ranjang yang ada di ruang kerjanya itu.


Tangannya, bergerak meraih ponselnya di saku celananya. Yang dari tadi pagi di non aktifkan nya.


Baru saja on, ponsel Rival tidak henti-hentinya berdering. Ada banyak pesan yang masuk. Mulai dari istrinya Mely, Pak Ali dan Ridwan Adiknya yang di kampung.


Dengan tangan sedikit gemetar, Rival meletakkan ponselnya itu di atas tempat tidurnya. Dia sangat takut, untuk menerima panggilan itu.


Dia belum siap untuk mendengarkan, banyaknya ocehan istrinya itu nanti. Karena dari semalam Mely menghubunginya. Tapi tidak pernah diangkatnya. Bahkan satu harian ini, Dia menonaktifkan ponsel nya. Karena ketidaksiapannya menghadapi istrinya itu.


Ponsel nya itu terus saja berdering yang membuatnya jadi frustasi. Akhirnya Rival Kembali mematikan ponselnya. Berusaha memejamkan matanya yang memang sudah berat, tapi dia tidak bisa memejamkan matanya itu. Karena otaknya masih berfikir terus.


Sehingga dengan mencoba rileks dan membuang semua praduga-praduga negatif. Akhirnya Rival tertidur. Karena memang tubuhnya butuh istirahat.


*


*


*


Di rumah Ayahnya, Mely nampak mengamuk kepada semua ART. Dia yang tidak bisa berkomunikasi dengan Rival mulai dari semalam. Memutuskan untuk mendatangi rumah orang tua nya itu siang tadi.

__ADS_1


Awalnya Dia tidak ada niat untuk marah-marah, hingga Sari masuk ke kamarnya, membawa juice alpukat yang dimintanya.


"Non, Abang Rival semalam tidur disini. Apa Non tahu itu?" tanya Sari, berdiri disisi ranjangnya Mely memegang nampan dengan tersenyum sinis. Dia memang jadi kurang sreg kepada Nona mudanya itu. Karena, Dia menyukai Rival.


"Iya tahu. Suami saya kesini, mau ambil dokument di ruang kerja Ayah." Ucapnya mulai menyedot juice alpukat nya.


"Abang Rival sakit apa ya Non?" tanya nya dengan penasarannya.


"Sakit..?" ucap Mely lebih bingungnya lagi.


"Iya, semalam Abang Rival muntah-muntah, sampai lemas tidak bertenaga." Ucap Sari bergidik ngeri. Dia teringat keadaan Rival yang memprihatinkan. Bahwa tubuh Rival penuh keringat. Tapi suhu tubuhnya dingin.


Mely memutar bola matanya, sejenak Dia tersenyum. Dia baru ingat, kalau Dia lagi hamil dan yang ngidam parah adalah suaminya itu.


Kenapa Nona muda malah tersenyum, disaat Aku mengatakan kalau Abang Rival sakit. Apa Nona senang ya. Kalau Abang Rival koit." Ucapnya asal.


Mely melototkan matanya. "Kamu memang ya tidak tahu diri banget Sari. Bisa-bisanya kamu mendoakan Mas Rival seperti itu." Mely mulai kesal kepada pembantunya yang memang tidak tahu diri itu.


"Ya maaf Nona, Aku heran saja. Kenapa Non tidak sedih atau khawatirkan keadaan Abang Rival." Jawab Sari melongos, Dia tidak terima dikatakan orang yang tidak tahu diri.


"Mas Rival sudah biasa seperti itu, sejak Aku mengandung. Sudah kamu sana, siapkan makan malam. Aku akan menunggu Mas Rival disini saja. Aku yakin Dia akan kesini, sebelum pulang ke rumah." Ucap Mely, mengusir Sari yang sok akrab itu dengan mengibas ibaskan tangannya.


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, tapi Rival tidak pulang juga ke rumah Pak Ali. Mely juga sudah menghubungi pembantu di rumah mereka menanyakan, apakah Suaminya pulang ke rumah mereka. Tapi, jawab nya Rival tidak pulang ke rumah mereka.


Rival yang tidak kunjung datang, membuat Mely khawatir sekaligus kesal. Ada apa dengan suaminya itu. Ponselnya pun tidak aktif-aktif dari semalam. Sungguh Mely begitu khawatirnya, Kecemasan menyelimuti hatinya.


"Kenapa dengan mu Mas, kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi?" ucapnya sambil mondar-mandir di beranda rumah orang tuanya.


"Aku tidak bisa diam terus disini. Aku yakin ada sesuatu yang tidak beres. Aku akan mencarinya ke kantor." Ucapnya dengan meremas-remas jemarinya. Berjalan cepat ke kamarnya, untuk mengambil tas nya.


Mely pun meminta Pak supir mengantarnya ke kantor. Gedung yang menjulang tinggi itu sudah nampak sepi, walau Pak Satpam dan pegawai yang lembur masih ada di gedung itu, dan sebagian pegawai yang lembur sudah ingin pulang.


Dengan langkah tergesa-gesa, Mely meminta Pak Budi menemaninya menuju ruang kerja Rival.


Dari luar, ruangan Rival nampak terang, yang bisa dilihat dari pintu kerjanya Rival yang sebagiannya adalah kaca. Mely yakin suaminya itu masih di ruangan itu.


"Pak, tunggu di basment saja ya!" seru Mely, Pak Budi pun meninggalkan Mely di depan pintu ruang kerja Suaminya itu.


Mely menekan handle pintu. Karena pintu tidak dikunci, Mely dengan mudah membukanya. Dia tidak melihat Rival di kursi meja kerja atau pun di sofa. Sehingga kaki melangkah ke ruang istirahat yang ada di Sudut ruang kerja tersebut.

__ADS_1


Samar-samar Mely mendengar suara pria dan wanita. Suara pria dan wanita itu seperti kelelahan dan bicara dengan nafas yang tersengal-sengal.


Mely sangat penasaran, sehingga Dia mempercepat langkahnya. Karena Dia mengenal betul suara laki-laki itu. Saat berada di ambang pintu, betapa terkejutnya Mely melihat pemandangan dihadapannya.


__ADS_2