Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Tidak mau menyalahkan keadaan


__ADS_3

"Yang ini, atau yang ini?" Yasir pun memperagakan seperti Abang-abang penjual pakaian dalam yang sering Rili lihat dipasar, yang membuatnya tertawa.


"Tiga sepuluh ribu, tiga sepuluh ribu. Mari dipilih Ibu-ibu celana dalam untuk Bapaknya. Agar burung Bapaknya jangan keluyuran. Mari... dipilih.... dipilih.... Dijamin. Bahan lembut." Ucap Yasir, sambil membentang-membentangkan celana dalamnya. Dia juga memakaikan celana dalamnya ke kepalanya. Yang membuat Rili tertawa terpingkal-pingkal. Rasa sakit diperutnya terasa berkurang. Karena Dia merasa senang dan bahagia. Karena tingkah Yasir.


Yasir sangat bahagia, melihat Rili akhirnya tertawa. "Tujuan hidupku hanya kamu. Hanya ingin membahagiakanmu." Gumam Yasir. Matanya tak lepas memperhatikan wajah Rili yang tertawa dengan lepasnya.


Menyadari seseorang memperhatikannya saat tertawa, akhirnya Rili diam dan melihat Yasir dengan perasaan malu.


"Adek, pakai aja dulu celana Abang ya? Mau dicari diluar pun, mana ada lagi toko yang buka. Ini Kota kecil. Toko jam 10 malam pun sudah pada tutup. Di Minimarket pun belum tentu ada pakaian dalam wanita." Ucap Yasir. Dia memberikan satu kotak celana dalam kepada Rili.


"I....ya. Tapi, Aku juga butuh pembalut bang." Ucap Rili, dengan sedikit canggung.


"Ooohhh. iya, apa itu ada di koper Adek?biar Abang ambil." Rili menggelengkan kepalanya.


"Apa harus pakai pembalut?"


"Iya bang.Kalau gak pakai nanti. Bisa tembus dan mengotori apa saja yang Aku duduki." Ucap Rili.


"Tunggu sebentar, Abang cariin dulu ke kamar Murti." Ucap Yasir.


"Apakah namanya Murti?" tanya Rili dengan mata berkaca-kaca. Dia beranggapan Yasir, mencari pembalut ke kamar istrinya, yang dilihatnya tadi siang.


"Iya,"


"Di....mana Dia?" tanya Rili dengan gugup, sekaligus merasa bersalah Karena Dia bersama suami orang.


"Tadi sore Dia pulang sama Mamanya." Ucap Yasir dengan polosnya. Dia tidak tahu, jawaban Yasir itu, sangat menyakiti hati Rili.


"Kenapa juga hatiku sakit mendengarnya." Gumam Rili dalam hati.


"Abang tinggal bentar ya, Abang cariin Dulu. Semoga ada." Ucap Yasir. Dia berjalan cepat menuju kamar pembantunya Murti dilantai satu.


Rili diam termenung, Perlakuan mertuanya terlintas lagi dipikirannya. Dia juga memikirkan Rival suaminya. Begitu banyak panggilan telpon dari Rival yang belum dijawabnya.


Seandainya Dia punya ponsel. Dia mungkin akan menghubungi kembali suaminya itu. Tapi, ponselnya sudah hancur dibuat Bounya.


Suara Yasir, membuyarkan lamunan Rili, Dia melap air matanya. "Adek, kenapa menangis?" tanya Yasir. Dia membawa 2 bungkus benda yang diyakininya adalah pembalut.


"Tidak apa-apa. Aku rindu Ibu." Jawabnya.


"Mana pembalutnya?"


"Ini dek," Kening Rili menyergit melihat apa yang diberikan Yasir.


"Ini kenapa Abang bawa juga." Ucap Rili sambil memegangi bungkusan popok dewasa.


" Abang tidak kenal. Mana pembalut. Jadi Abang ambil saja semuanya yang Abang lihat di kamar Murti."


"Apa istrinya Abang Rival pakai popok? Apa istrinya sedang sakit." Gumam Rili daa hati. Dia pun turun dari ranjang Yasir. Ranjang Yasir sudah kotor kena darah haidnya.


"Aku pakai ini dulu, nanti aku ganti sepreinya dan besok pagi biar Aku cuci. Maaf ya, gara-gara Aku datang bulan. Sepreinya jadi kotor dan mungkin kamar ini menjadi amis." Ucap Rili dengan mata berkaca-kaca.


Ya, pada umumnya. Wanita yang sedang datang bulan, lebih sensitif dan sangat emosional.


"Adek kenapa begitu ngomongnya. Apa Abang mempermasalahkan sepreinya? kan tidak. Bahkan Abang, membolehkan Adek mememakai pakaian dalam Abang. Kenapa jadi sensitif begitu.


"Maaf, Aku ini orang miskin. Dan biasanya tidak seteril menurut orang kaya." Ucap Rili, Dia pun berjalan dengan sedikit terpincang-pincang menuju kamar mandi.


Rili tidak menyangka, bahwa Yasir sangat kaya. Dulu sewaktu di kota tempat Dia tinggal. Rumah yang ditempati Yasir, tidak semegah dan semewah ini. Rili membuka kotak celana dalam milik Yasir. Mata Rili melotot melihat harga celana dalam Yasir tersebut.


"Khasiat celana dalam ini apa ya? harganya, nolnya sampai enam. Aku saja celana dalamnya 3 lima puluh ribu." Gumam Rili dalam hati. Pantas saja kami tidak bisa berjodoh. Perbedaannya begitu jauh.


Hati Yasir begitu sakit mendengar ucapan Rili. "Apa maksud ucapannya itu. Bagaimanapun dirimu. Aku tidak akan pernah jijik dan merasa amis. Bahkan jikalaupun kamu tidur, dan meninggalkan banyak peta dibantalmu. Maka bantal itu akan sangat wangi buatku. Kamu kenapa tidak menyadari cintaku yang begitu besar.


"Mungkin hanya aku yang mencintaimu. Kamu tidak mencintaiku. Makanya kamu menikah dengan pria lain dan tidak mau menungguku." Gumam Yasir dalam hati. Matanya nampak berkaca-kaca.


Yasir pun mengganti seprei ranjang di kamarnya.


Rili keluar dari kamar mandi dengan berpakaian lengkap, Dia juga sudah mengganti bajunya yang basah dan memakai trainining Yasir. Sungguh Rili sangat menyukai celana dalam Yasir. Begitu nyaman dan terasa ringan. Trainingnya juga lembut, tidak gerah dipakai.


"Ayo, kita makan dulu." Ucap Yasir. Dia melambaikam tangannya ke Rili. Rili pun akhirnya berjalan menghampiri Yasir. Dia duduk disebelah kanan Yasir. Yasir mengambilkan nasi, dan lauk untuk Rili. Lauknya adalah ayam semur dan capcai.

__ADS_1


"Abang suap ya?" Ucap Yasir. Dia sudah mendekatkan sendok yang berisi nasi ke mulut Rili. Rili menolak suapan Yasir. "Aku bisa makan sendiri bang." Ucap Rili dan menundukkan pandangannya.


Mereka makan dalam hening, di kursi meja yang terdapat disudut ruangan tersebut.


Yasir, selalu memperhatikan Rili. Tapi, Rili tidak berani menatap Yasir. Bagaimana pun. Dia adalah istri orang. Tidak seharusnya Dia berada satu ruangan dengan pria lain. Apalagi pria itu, pria yang masih dicintainya. Itu akan sangat berbahaya.


"Apa perutnya masih sakit?" tanya Yasir, setelah Dia menghabiskan makanannya.


"Iya, tapi hanya kram saja. Itu hal biasa." Jawab Rili dengan tidak berani menatap Yasir.


"Apa Adek merasakan sakit setiap menstruasi?"


"Iya. Tapi, biasanya hanya satu hari satu malam."Jawab Rili. Yasir mengangguk mendengar jawaban Rili.


"Adek makan obat ini." Yasir menyerahkan 5 macam tablet obat.


Rili menelannya sekaligus. "Adek tidur ya. Berani tidur sendirian kan?" tanya Yasir, setelah Dia menuntun Rili berbaring dan menyelimutinya.


"Iya, berani."


"Ok. Selamat tidur?" ucap Yasir dan membelai puncak kepala Rili. Yang membuat darah Rili berdesir hebat.


"Abang tidur dikamar sebelah." Kalau ada apa-apa telpon Abang ya, tekan angka 2." Yasir menjelaskan cara menghubunginya dikamar lain dengan menggunakan telepon yang ada di kamar itu.


"Iya bang. Terimakasih kasih banyak, sudah menolongku." Ucap Rili. Dia menatap lekat mata Yasir. Yasir pun tersenyum.


"Iya sayang, tidur ya, ini sudah pukul dua dini hari." Ucap Yasir. Dia pun mengusap kepala Rili. Dia keluar dari kamar dan menutup pintu kamar yang ditempati Rili.


Sepeninggalan Yasir dari kamar. Rili tetap tidak bisa memejamkan matanya. Terlalu banyak kejadian yang menyakitkan melintas dipikirannya.


Setelah memendam rindu selama enam bulan, akhirnya Dia bisa bertemu dengan pria yang sangat dicintainya. Tapi, pertemuannya dengan Yasir, tetap membuat hati Rili sakit.


"Kenapa kita bertemu lagi, setelah kita sudah punya pasangan masing-masing. A...aku hanya ingin penjelasan darimu, kenapa kamu tidak ada kabar selama enam bulan ini. Kalau dari Awal, Abang mengatakan akan menikah dengan wanita lain, dan tidak mencintaiku lagi. Mungkin Aku tidak merasa sesakit ini.


"Bodohnya Aku, yang masih mencintaimu. Padahal kamu tidak pernah mengingatku selama enam bulan ini. Dan tadi, sikap apa yang kamu tunjukkan itu kepadaku? Kenapa kamu seolah masih sangat mencintaiku, mengkhawatirkan ku. Padahal kamu sudah punya istri yang cantik, dan tentunya strata kalian sama.


"Sikapmu tadi, membuat hatiku semakin sakit. Rasa cinta yang tidak pernah hilang selama enam bulan ini, malah semakin bertambah saja dipertemuan kita ini. Gumam Rili dalam hati. Dia tidur miring dengan memeluk guling, dalam keadaan menangis.


"Aku harus menghubungi Windi. Aku akan memintanya menjemputku. Mungkin, Aku tidak bisa menahan sakit ini sendirian. Aku butuh Seseorang untuk memahamiku.


"Bolehkah Aku mengeluh Ya Allah? Kenapa Takdir yang kujalani ini begitu menyakitkan.


Kabulkan permintaanku malam ini. Bantu Aku melupakan Abang Yasir. Tidak seharusnya Aku memikirkan suami orang lain, padahal Aku pun sudah punya suami. Bantu Aku, agar Aku bisa menerima suamiku seutuhnya. Aku sangat merasa tersiksa dengan ini semua.


"Aku harus pergi dari rumah ini besok. Aku tidak mau dipergoki Istrinya Abang Yasir. Aku tidak mau dimarahi lagi, Aku takut dimaki-maki. Aku trauma." Ucap Rili sambil tersedu-sedu. Air mata terus saja mengalir membasahi pipinya dan bermuara dibantalnya, dadanya juga terasa sesak.


Diapun mencoba menenangkan dirinya,, sambil membaca Doa tidur.


Yasir yang sedari tadi membaringkan tubuhnya juga tak kunjung terlelap. Pikirannya dipenuhi oleh Rili, wanita yang sangat dicintainya itu. "Kenapa kamu tidak merasakan cintaku yang begitu besarnya. Melihatmu seperti itu, membuat dada ini begitu sakit.


"Kita sempat berpisah cukup lama. Kita dipisahkan oleh keadaan. Aku tidak mau menyalahkan keadaan, sebab pada akhirnya Aku akan menyalahkan Tuhan." Gumam Yasir dalam hati.


Yasir mengambil ponselnya, Dia mengirimkan foto Rili yang wajahnya, penuh dengan luka terutama kening dan pelipisnya kepada bawahannya. Dia menyuruh bawahannya mencari informasi tentang suami Rili dan besok suami Rili dan kekeluarganya, harus dijebloskan ke penjara.


Tadinya, Dia ingin menghubungi Rival. Untuk menyelesaikan masalah Rili yang ditelantarkan oleh suaminya. Tapi, niatnya tersebut diurungkannya. Mengingat Rival sedang dinas diluar kota.


🌻🌻🌻


Cahaya matahari mengintip dari balik jendela kamar, memaksa Rili membuka matanya. Dia menggeliat, meregangkan otot-otot nya yang terasa kaku dan pegal. Dia melihat jam yang menempel di dinding kamar mewah tersebut. Ternyata sudah pukul 8 pagi.


Tidak biasanya Rili bangun kesiangan. Walau Dia telat tidur. Tubuhnya selalu bisa bangun di waktu shubuh. Tapi, kali ini tubuhnya malah bermalas-malasan.


"Aku sudah melewatkan sholat shubuh." Ucap Rili. Dia mengubah posisinya menjadi duduk dan bersandar di head board tempat tidur. Dia turun dari ranjang, dan berjalan dengan sedikit berjingkat-jingkat menuju kamar mandi. Dia mengeluarkan urinenya serta mengganti pembalut, mencuci wajahnya dengan facial foam milik Yasir. Yang tentunya khusus untuk pria. Dia juga menggosok giginya.


Setelah keluar dari kamar mandi, Dia kembali duduk di sisi ranjangnya. Dia melihat sepucuk surat yang diletakkan di atas nakas samping tempat tidur.


"Dek, Abang keluar sebentar. Kamu harus sarapan dan jangan lupa minum obat. Sarapannya sudah ada dimeja dekat jendela." Itulah isi memo dari Yasir.


Rili sarapan, dengan menu telur mata sapi berbentuk love serta nasi goreng yang dihias dengan saos dengan emoticon smile. Sejenak Rili tersenyum melihat sarapannya itu. Tapi, senyumnya itu akhirnya merubah menjadi kesedihan. Air mata jatuh dipipinya. Bagaimana mungkin, seorang pria yang sudah beristri. Memberi perhatian kepada wanita yang sudah bersuami.


Rili mendudukkan bokongnya di dekat meja tempat Dia sarapan. Dia menyeruput teh manis yang masih panas itu. Berarti sarapan ini baru dibuatkan. Sejenak Rili memikirkan Rival suaminya. Bagaimana cara agar bisa berkomunikasi dengan Rival. Rili tidak hapal no ponselnya.

__ADS_1


Di Kota Pekanbaru. Rival benar-benar tidak fokus melaksanakan tugasnya. Seperti saat ini. Dia lebih banyak melamun. Syukur rekan kerjanya bisa diandalkan. Sehingga kerjaan mereka pagi ini tidak ada kendala.


Rival sempat bercerita kepada Timnya, sebelum tidur tadi malam


Bahwa Dia tidak bisa menghubungi istrinya sejak siang dan sampai sekarang. Temannya menyarankan Rival menghubungi orang tuanya. Tapi, Mamanya Rival tidak kunjung mengangkat telpon.


"Bro, kamu harus konsen. Ini tugas harus cepat kita selesaikan. Biar kita bisa cepat pulang dan kamu bisa bertemu istrimu." Ucap Ridho. Tim nya Rival bekerja.


Rival mengangguk saja, mendengar perkataan temannya tersebut.


Sungguh Dia sangat mengkhawatirkan istrinya.


Setelah sarapan, Rili membuka gorden jendela. Dari balik jendela. Dia menatap ke bawah. "Sungguh pemandangannya sangat indah dan asri." Gumam Rili


Ya, Yasir membangun Rumah di jalan lintas, yang tidak jauh dari kota, tapi Rumah Yasir dikelilingi oleh sawah.


Rili menghirup udara pagi itu sedalam-dalamnya. Kemudian Dia menghembuskannya pelan. Berulang kali Dia melakukan itu, sampai Dia merasa tenang. Dan akhirnya pun Dia melamun. Meratapi nasibnya.


Ceklek....


Yasir nampak masuk ke dalam kamar dengan membawa 5 paper bag. Rili memutar lehernya, mendengar suara pintu terbuka.


Yasir berjalan, menuju nakas yang berada disamping ranjang. Dia meletakkan paper bag tersebut di atas nakas.


Rili masih diam mematung di dekat jendela sambil memperhatikan Yasir mendekat kepadanya.


"Adek, mandi ya! Itu Abang sudah bawa pakaian gantinya." Ucap Yasir. Dia mengelus pelan punggung Rili dan berjalan keluar kamar.


"Tunggu." Ucap Rili yang membuat Yasir menghentikan langkahanya.


"Bolehkah Aku meminjam ponsel Abang?" Ucap Rili masih mematung didekat jendela.


"Boleh, Adek mau menelpon siapa?" tanya Yasir dan memberikan ponselnya kepada Rili. "Ini ponsel kesanyangan Abang. Ponsel Ini sangat ajaib tahan banting." Ucap Yasir dan tersenyum.


"Aku, ingin menelpon Windi. Apakah no ponsel Windi Ada di ponsel Abang?" tanya Rili.


"Ada."


"Terkunci. Tolong Abang buka kuncinya." Ucap Rili dan memberikan ponsel Yasir kembali.


"Buka Aja, pasti bisa."


"Aku tidak tahu pola atau passwordnya." Ucap Rili dan memandang ke arah Yasir. Yasir pun memandang wajah Rili yang masih pucat itu.


"Password tanggal lahir adek lengkap." Ucap Yasir. Dia masih menatap lekat wajah Rili. Yang membuat Rili tercengang. Dia hampir saja ambruk saat berdiri. Tangannya langsung berpengangan ke badan jendela.


Yasir pun dengan cepat memegangi tubuh Rili yang hendak jatuh itu.


"Adek sudah makan kan?" Rili mengangguk.


" Baiklah Abang keluar dulu, nanti kalau sudah selesai menelponnya. Ponselnya letakkan saja di atas nakas." Ucap Yasir, Dia pun pergi menuju ruang kerjanya.


Rili mencari kontak Windi. Dia pun langsung melakukan panggilan. Tapi, no Windi tidak aktif.


Rili mendudukkan bokongnya di kursi yang terdapat disalah satu sudut ruangan kamar Yasir yang sangat luas itu.


Dia iseng mengotak-atik ponsel Yasir. Dia membuka pesan yang masuk. Kebanyakan pesan dari nama kontak Asisten, Yusuf dan Mama. "Kenapa tidak ada pesan dari istrinya Murti." Rili berbicara sendiri sambil membuka galeri ponsel Yasir. Matanya membelalakkan, melihat isi galeri ponsel Yasir kebanyakan fotonya dan foto mereka berdua.


"Kenapa fotoku banyak sekali disini. Mana foto Dia bersama istrinya." Ucap Rili. Dia melihat foto kebersamaan mereka enam bulan yang lalu. Terus foto-foto Rili sekitar 3 bulan yang lalu juga ada digaleri ponsel Yasir.


"Kenapa fotoku 3 bulan yang lalu ada disini." Rili kembali memastikan tanggal foto di keterangan foto itu. " Kapan Dia mengambil fotoku ini?" Ucap Rili. Melihat foto-fotonya di dalam galeri Yasir membuat Dia jadi penasaran. "Aku harus menanyakan ini semua." Ucap Rili, Dia pun keluar dari kamar dan mencari keberadaan Yasir di rumah yang luas Tersebut.


Dia turun ke lantai satu. Dia beranggapan Yasir ada dilantai satu. Semua ruangan sudah di telusurinya dengan berjalan sedikit pincang. Tapi, Rili tidak menemukan Yasir. Dia kembali menaiki tangga ke lantai dua. Akhirnya Dia mendengar suara Yasir, yang sedikit marah. Suara itu bisa terdengar, karena pintu ruangan tempat Yasir berada tidak tertutup.


"Laporan macam apa yang kamu laporkan ini. Saya tidak terima laporan yang tidak ada hasil. Paksa Polisi mencari keberadaan mereka. Nanti sore, mereka harus mendekam di penjara." Rili mendengar ucapan Yasir, yang membuat Rili takut.


Bersambung


Mohon beri like, coment positif. Rate bintang 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit.


Jangan lupa VOTE nya kak! Karena itu adalah amunisi untuk membuat semangat menulis.

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2