
Matahari pagi menyapa. Sinarnya begitu terang menerpa hingga mata silau tak berdaya.
Setelah pukul 09.10 Wib. Akhirnya Rival dan Mely bisa bersiap-siap juga untuk berangkat dari Kota M ke kampung nya Rival. Yang akan menghabiskan waktu selama 8-9 jam perjalanan melalui darat.
Mely sangat semangat hari ini, Itu terlihat jelas dari raut wajahnya yang sumringah. Memandorin supirnya memasukkan semua barang yang akan di bawa ke kampungnya Rival. Satu mobil jenis fontuner, penuh dengan buah tangan dari Mely. Dan mobil itu nantinya akan ditinggalkan di rumah orang tuanya Rival yang di kampung.
Mobil itu hadiah dari Pak Ali. Rival sudah menolaknya. Tidak perlu Pak Ali membelikan mobil kepada Orang tua Rival di kampung. Tapi, Pak Ali memaksa, sehingga Rival pun tidak bisa menolaknya.
"Mely yang sudah siap beres-beres menyusul Rival ke kamar. Dia merasa suaminya itu lama sekali keluar, padahal ini sudah hampir jam 10 pagi. Mau jam berapa lagi mereka akan sampai di kampung suaminya itu.
"Sayang....!" teriak Mely menuju kamar mereka. Tapi tidak ada sahutan dari suaminya itu.
"Sayang... Sayang.... kamu di mana?" Mely memasuki kamarnya, memeriksa setiap ruangan, untuk memastikan keberadaan Rival. Ternyata, Rival sedang di kamar mandi. Dia baru saja selesai memuntahkan semua isi perutnya. Sampai mengeluarkan cairan berwarna kuning.
"Abang sebenarnya kenapa?" tanya Mely dengan sangat khawatir. Dia membantu Rival berjalan untuk duduk di bibir ranjang mereka. Dan menyeka keringat yang ada di dahi Rival.
"Abang hanya masuk angin ini." Jawabnya Rival dengan lemasnya.
"Kalau Abang lemas begini, apa kita tunda aja berangkatnya?" ucap Mely, masih melap keringat yang ada di dahi suaminya. Mely juga mengambil gelas yang berisi air minum di atas meja riasnya.
"Jangan ditunda, nanti juga baikan. Abang heran saja, kemarin kata Dokternya Abang sehat-sehat saja. Tapi, kenapa setiap mau sarapan pagi Abang selalu tidak tahan mencium aroma makanan itu dan pasti muntah." Rival memberikan gelas kosong kepada istrinya itu. Bekas Dia minum.
"Kita periksa dulu ya kesehatan Abang, baru kita berangkat." Mely langsung menghubungi Dokter pribadi mereka. Tanpa menunggu persetujuan suaminya itu.
__ADS_1
Setengah jam kemudian Dokter Fery, sudah sampai di rumah mereka. Dokter Fery pun memeriksa kesehatan Rival.
"Dari hasil pemeriksaan Saya, Bapak baik-baik saja. Tapi tekanan darah Bapak sedikit rendah. Mungkin itu penyebabnya Bapak lemas akhir-akhir ini. Bapak juga harus banyak makan makanan yang mengandung protein. Daging, ikan atau protein nabati seperti kacang-kacangan. Jangan lupa makan sayur yang banyak juga. Agar kadar zat besi didalam tubuh bapak tidak rendah." Ucap Dokter, Dia pun meninjection bokong Rival dengan penambah darah. Dan memberikan strip obat.
"Sebaiknya Pak Rival mengisi lambungnya dulu, baru minum obat ini." Pak Dokter nampak memberesi alat medisnya.
"Seriusan Dok, tidak ada yang penyakit suami saya." tanya Mely dengan heran dan penasaran nya. Pasalnya sebulan terakhir ini, suaminya itu, sering mual-mual dan lemas gitu.
"Iya Nona Mely, Pak Rival baik-baik saja." Jawab Pak Dokter tersenyum.
"Baiklah kalau begitu." Ucap Mely, Dokter pun keluar dengan ditemani oleh ART mereka, yang baru masuk membawakan makanan kepada tuan besar nya itu.
"Adek suapi ya?" Mely langsung menyodorkan sendok ke mulut Rival. Kali ini menunya sudah diganti dengan menu tempe goreng dengan sambal cabe rawit diulek halus ditaburi irisan bawang merah kemudian ditetesi perasan air jeruk dengan sayur rebus campur-campur daun katuk, kangkung, terong, daun ubi, kacang panjang.
"Abang bisa sendiri, tidak usah di suap. Abang ingin makan pakai tangan." Ucapnya mencelupkan tangannya ke wadah pencuci tangan Yang ada di atas nampan. Yang tergeletak di sebelahnya. Rival pun mulai melahap makanannya yang masih panas itu, Dia sesekali meniup-niup nya, kali ini Rival makan dengan lahapnya.
Mely mengambil obat suaminya itu. Mengeluarkannya dari bungkusnya.
"Iya, Abang juga merasa begitu. Abang bawaannya gampang lelah dan mual-mual. Apalagi mencium aroma ikan." Rival meminum obatnya dalam satu tegukan.
"Abang seperti orang hamil saja, mual-mual dan tidak bertenaga." Celoteh Mely, Dia pun duduk disebelah Rival. Memandangi wajah suaminya yang berkeringat setelah makan.
"Abang kenapa semakin ganteng sih?" ucap Mely menggoda suaminya itu. Rival pun menoleh ke arah Mely.
__ADS_1
"Sama, Adek juga semakin cantik. Kulit Adek halusssss sekali. Dan dada Adek ini kenapa jadi kenyal banget dan padat sekali." Rival menangkup dengan cepat gunung kembarnya istrinya itu. Mely terkejut, dan hampir menepis tangan suaminya itu. Walau akhirnya Dia menyukai tangan Rival mengobok-obok gunungnya.
"Abang suka, walau Abang lelah dan tidak bertenaga, tapi kalau sudah benda kenyal nan hangat ini Abang genggam, Abang pun jadi semangat." Tangan Rival sudah mulai bergerilya. Sepertinya dengan memakan makanan yang diinginkannya, tenaganya langsung pulih.
"Apa sih, Ayokkkk...!?" Mely berusaha melepas tangan Rival yang sudah menggerayangi tubuhnya. Bahkan kini Mely sudah berada dibawah kungkungan tubuh suaminya itu.
"Sebentar saja sayang, tiba-tiba Dia pingin." Ucap Rival melihat ke arah selangka"#ngannya. Yang membuat pipi Mely merona merah. Karena Dia juga selalu menginginkannya.
Akhirnya mereka pun kembali berkebun. Setelah mereka selesai bercocok tanam, keduanya masih sempatnya membahas, kalau mereka sudah tiga bulan bercocok tanam. Harusnya Mely sudah memberi tanda-tanda bahwa benih yang mereka semai sudah tumbuh dan berkembang. Tapi sejauh ini, Mely baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda atau gejala ibu hamil seperti lemah, lesu, mual dan muntah yang dialaminya.
"Kita sudah tiga bulan melakukan itu, tapi selama ini Adek tidak pernah menstruasi." Ucap Rival membelai puncak kepala Mely dalam dekapannya.
"Apa Adek hamil?" ucap Mely antusias, Dia mendongak untuk melihat ekspresi wajah Suaminya itu.
"Adek tidak mungkin hamil. Tanda-tanda orang hamil tidak Adek rasakan." Ucap Mely sedih, Rival pun mencium kening istrinya itu.
"Sudah jangan sedih. Tapi, Adek sudah tiga bulan loh tidak menstruasi." Ucap Rival, Dia ingat betul. Karena sejak mereka belah duren. Mely tidak pernah halangan.
"Adek biasa sih Sayang, telat haid sampai dua bulan. Kalau banyak kerjaan dan sedikit stres. Mungkin karena menghadapi Skripsi kemarin, Adek jadi telat haid. Palingan juga Minggu depan Adek sudah halangan." Ucap Mely, menatap lembut suaminya itu.
"Ooohh.... semoga disini sudah tumbuh anak kita." Rival menelusupkan tangannya kebalik selimut, mengelus pelan perut datarnya Mely.
"Aammniinnn....Adek juga sudah tidak sabar punya baby." Mely merangkum wajah suaminya itu, menghadiahi ciuman bertubi-tubi diwajah tampannya Rival.
__ADS_1
"Sudah, nanti jadi pingin lagi." Ucap Rival, menyibak selimut yang menutupi tubuh mereka. Dia langsung membopong tubuh rampingnya Mely ke kamar mandi. Setelah Mandi, mereka kembali bersiap-siap untuk pulang kampung. Akhirnya mereka pun berangkat setelah sholat Dzuhur.
TBc