
"Sayang.... Sayang..... !" Yasir dengan paniknya berusaha membangunkan Rili dalam dekapannya. Kondisi Rili memang sangat lemah, Dia juga merasa kepalanya sakit. Ternyata Rili tidak 💯 pingsan, Dia hanya tidak mampu menopang tubuhnya lagi sehingga Dia ambruk.
"Jef, cepat hubungi Dokter!" ucap Yasir, tangannya menggenggam erat jemari Rili. Kekhawatiran sangat jelas terlihat diwajah Yasir.
Mata Rili yang masih terbuka, nampak sangat layu menatap Yasir. "Bang, tidak usah panggil Dokter. Aku baik-baik saja." Ucap Rili lemah.
"Kondisi Adek sedang tidak fit. Perlu diperiksa sayang." Ucap Yasir dengan mata berkaca-kaca, dengan cepat Yasir membopong tubuh Rili yang setengah sadar itu menuju kamar mereka yang diikuti oleh Mamanya Rili dan Mama Melati.
Sedangkan Ayah Yasir mengajak besannya ke Restauran yang ada di Hotel itu.
"Ma, tidak usah ikut ke atas. Mama bilangin sana sama pelayan bawakan makanan ke kamar kami." Ucap Yasir dan melirik ke arah Mamanya yang berdiri disebelahnya, tepat dihadapan lift.
Sebelum kedatangan Mamanya, Rili nampak bahagia. Jadi, Yasir takut nanti Mamanya mengeluarkan kata-kata yang membuat Rili kembali sedih. Walau sebenarnya Mama Yasir tidak ada niat jahat kepada Rili. Bahkan Dia sangat bahagia, dengan pernikahan Yasir dan Rili.
Akhirnya Mama Melati melenggang pergi ke arah restoran, dengan perasaan sedikit kesal. Dia juga sangat mengkhawatirkan keadaan Rili. Tapi, Yasir malah seperti tidak ingin Dia dekat dengan Rili.
Setelah sampai di depan kamar yang akan ditempati oleh Rili dan Yasir. Dengan cepat Mamanya Rili membuja pintu kamar dengan menggunakan cardlock. Yasir membaringkan Rili dirancang, sedangkan Mamanya Rili merogoh tas jinjingnya untuk mengambil minyak kayu putih.
"Nak Yasir, coba usapkan minyak kayu putih ini ke perut Rili. Siapa tahu Dia masuk angin juga." Mamanya Rili memberikan minyak kayu putih kepada Yasir yang sedang duduk disisi ranjang dekat kepala Rili.
Yasir pun membuka kancing bungkus kebaya Rili bagian perutnya. Rili yang merasakan sentuhan lembut dan hangat dari minyak kayu putih, menyentuh kulit perutnya, Akhirnya membuka mata.
"Mama..." Ucap Rili dengan menangis.
"Sudah, jangan menangis lagi." Mama Rili mendekat ke arah putrinya itu. Dia pun memijat-mijat betisnya Rili, setelah Dia menyingkap sedikit songket yang dikenakan Rili.
nging.....nging.....nging....
Suara ponsel yang berada di tas jinjing mamanya Rili, membuat wanita itu menghentikan aktivitasnya memijat kaki Rili. Tangannya dengan cepat menekan tanda panggilan masuk di ponselnya.
"Walaikum salam, Apa? Menantuku sudah sadar dari komanya. Oh, Iya kami akan kesana." Tiba-tiba saja raut kebahagiaan tersirat jelas diwajah Ibunya Rili.
"Nak, adik iparmu sudah sadarkan diri. Ibu akan menjenguknya ke rumah sakit. Tidak apa-apa kan Nak, Ibu pergi sekarang?" Mama Rili melirik ke arah Rili dan beralih memandang Yasir.
"Tidak apa-apa Bu. Aku sangat senang, akhirnya Valery sadar juga dari komanya. Bu, Aku sudah baikan koq. Cepat hubungi Riswan Bu. Dia pasti sangat senang mendengar kabar istrinya akhirnya sadar juga." Ucap Rili dengan nada lemah. Sedangkan Yasir, terus saja memijat-mijat tangan dan kening Rili.
Valery adik iparnya Rili mengalami penyakit Preeclampsia selama kehamilannya.
Preeclampsia merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah, yang kemudian diikuti oleh meningkatnya kadar protein di dalam air seni ibu hamil. Selain terjadi peningkatan tekanan darah dan kadar protein, ibu hamil yang mengalami preeclampsia juga akan mengalami pembengkakan pada tangan dan kakinya. Jika preeclampsia tidak teratasi dengan baik, maka akan terjadi kondisi lanjutan yang disebut dengan eklampsia. Gejala dari eklampsia, adalah kejang-kejang. Jika eklampsia dibiarkan tanpa mendapatkan penanganan yang tepat, maka sebelum, saat atau setelah melahirkan, eklampsia dapat menyebabkan koma atau bahkan kematian.
Sepeninggalnya Mama Rili, Yasir masih terus memijat lengan, kening, pelipis dan kaki Rili. Sentuhan hangat dan sayang membuat Rili tersentuh. Air mata Kembali jatuh dari sudut matanya.
"Adek kenapa lagi menangis?" ucap Yasir dengan melap air mata Rili. Dia pun mencium kelopak mata Rili yang basah itu. Yang membuat darah Rili berdesir hebat.
"eemmmuaahhhh.... emmmuuuaccvhhh!" suara itu keluar dari mulut Yasir saat mencium kembali kedua mata Rili yang sudah mulai bengkak itu karena menangis.
"Mata indah ini, tidak akan Abang biarkan mengeluarkan air mata kesedihan lagi." Lagi-lagi Yasir kembali mencium kedua mata Rili dengan lembut dan tersenyum.
__ADS_1
"Eeehhmmmm.... Asin. Air mata Adek asin. Adek kebanyakan makan ikan asin ini!" Yasir membuat lelucon, yang menurut Rili tidak lucu.
"Namanya juga air mata pasti ada asin-asinnya. Kalau mau yang manis. Ya minum susu aja." Jawab Rili dengan sedikit jutek.
"Susu? Apa sudah boleh Abang menyusu?" kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut Yasir. Yang membuat Rili terkejut dan mendengus kesal.
"Abang bukan anakku, kenapa malah minta menyusu." Ucap Rili ketus, Dia pun menggerakkan tubuhnya, Dia ingin duduk dan bersandar di head board tempat tidur.
Yasir membantu Rili untuk duduk, "Abang ini anak Adek yang paling besar, yang akan selamanya menyusu." Jawab Yasir genit. Yang membuat Rili membulatkan matanya. Sungguh pembicaraannya dengan Yasir kali ini unfaedah.
Melihat ekspresi wajah Rili yang kesal itu, membuat Yasir tertawa bahagia. "Abang turun dulu ya, Abang ambilkan makanan untuk kita. Agar Adek punya tenaga menyusui Abang nantinya." Yasir kembali tertawa genit, Dia pun dengan cepat mengecup bibir Rili, yang membuat Rili terkejut dengan serangan mendadak itu.
Rili menahan lengan Yasir yang hendak pergi.
"Telpon aja bang. Jangan tinggalin Adek. Aku takut." Rili mendongak, memelas kepada Yasir , agar jangan meninggalkannya sendirian dikamar itu.
"Oh iya, koq Abang jadi telmi gitu ya? Abang kebanyakan mikir malam pertama kita, jadi gak fokus." Yasir terkekeh, Dia pun menelpon Asisten Jef.
"Cepat perintahkan pelayan membawa makanan ke kamar. Dan kamu harus pastikan, tidak akan ada yang datang menggangguku malam ini." Ucap Yasir tegas dan mematikan sambungan telponnya.
Setelah selesai bertelpon dengan Jef, ternyata pelayan sudah sampai di depan pintu kamar mereka.
Pelayan masuk dan meletakkan makanan di atas meja makan yang terdapat di ruang makan kamar tersebut.
"Dek, kita makan dulu ya? Abang juga lapar banget ini." Ucap Yasir, Dia pun dengan cepat menggendong Rili ke ruang makan.
Makanan yang dapat meningkat libido tersaji di atas meja makan. Ada kerang rebus pakai sambal mata, steak salmon saus lemon, sup daging, sate bumbu kacang, juice alpukat, darkcokelat.
Dengan sedikit malu-malu tapi mau, akhirnya Rili menyantap semua makanan yang ada di meja makan. Tentunya Yasir sangat senang melihat Rili yang sangat lahap itu.
Yasir tidak banyak bicara saat makan, Dia hanya fokus melayani Rili makan, tentunya Rili juga melayani suaminya itu. Mereka suap-suapan. Bahkan mereka minum dari gelas yang sama. Yasir juga hanya mau menyedot minuman yang sudah ada bekas bibir Rili disedotan itu.
Ternyata mood Rili sudah kembali lagi. Dia nampak ceria dan selalu tersenyum bahagia kepada Yasir.
"Abang sangat senang, akhirnya Adek bisa ceria lagi malam ini. Tadi saat Ijab Kabul, Adek cemberut terus. Abang jadi sedih tahu." Ucap Yasir, Dia memeluk Rili dengan sangat erat dari belakang dan menjatuhkan kepalanya dipundak Rili. Tentu saja, bibir Yasir tak henti-hentinya menciumi leher dan pipi Rili. Hingga Rili tidak konsentrasi saat membuka kancing kebayanya.
"Iiiihhh geli bang." Rili menggeliat, saat Yasir mencium dan mengendus-endus aroma tubuh Rili dikupingnya. Perlakuan Yasir itu membuat bulu kuduk Rili meremang. Darahnya berdesir hebat.
Yasir tidak menggubris Rili yang sedikit meronta karena Geli. "Sini Abang bantuin buka kancingnya." Ucap Yasir lembut, Dia pun membalik tubuh Rili ke arahnya. Sehingga Kini Rili membelakangi cermin.
"Tidak usah, Aaadekkkk biisaa koq bang." Rili sudah mulai grogi dan malu. Dia tahu pasti apa yang diinginkan suaminya itu.
"Katanya bisa, tapi dari tadi satu kancing pun belum ada yang terbuka." Ucap Yasir , Dia sampai kesusahan menelan ludahnya sendiri. Saat Dia sudah berhasil membuka 3 kancing kebaya Rili. Tentunya Belahan dada Rili sudah tereskpos indah, yang sebagiannya masih ditutupi bra Rili berwarna merah cabe dengan sedikit berbusa dan berenda itu.
Yasir agak berjongkok sedikit, Dia menyesuaikan tingginya dengan kancing kebaya Rili yang hampir terlepas semuanya. Tinggal satu kancing lagi di atas pusat, maka kebaya Rili akan teronggok dilantai.
"Akhirnya, Abang lolos juga uji coba buka kancing kebaya Adek." Yasir sedikit berseloroh. Dia ingin membuat Rili rileks. Pasalnya saat ini, tubuh Rili sangat grogi, Dia sampai gemetar, Disaat Yasir berdiri pelan menciumi tubuh Rili dari pusat, perut dan naik ke dada Rili yang masih ditutupi Bra itu.
__ADS_1
Setelah Yasir berhasil menciu*mi bagian perut, pinggir-pinggir gunung kembar Rili yang tidak tertutup Bra. Kini Yasir melepas kebaya Rili dan teronggok dilantai.
Dengan tidak sabar, Yasir kembali me*nciumi leher indah jenjang nan putih Rili. Sungguh, Yasir sangat menyukai aroma tubuh Rili. Yang membuat nafsunya tersulut.
Dia memeluk erat tubuh Rili. Mereka lama berpelukan dalam keadaan berdiri. Dimana Yasir masih berpakaian lengkap, hanya jas dan dasinya saja yang sudah dilepasnya. Sedangkan Rili saat ini, masih mengenakan Rok songket dan Bra.
Lama berpelukan dalam diam, mereka hanya merasakan detakan jantungnya dari pasangannya yang berdetak sangat cepat itu. Rili sangat menyukai sentuhan Yasir. Walau Dia sedikit malu dan canggung. Tapi, Dia pasrah. Dia mengikuti keinginan tubuhnya yang pingin dimanja itu.
Masih dalam keadaan memeluk Rili, Yasir menciumi pundak dan punggung Rili. Tangannya yang memeluk terkadang mengusap-usap punggung. Sungguh kulit Rili yang halus dan lembut membuat Yasir sangat candu dan tidak ingin mengakhiri bibirnya untuk menciumi Rili.
Rili sudah merasa geli dan sedikit terangsang, Dia mendesah yang membuat Yasir melonggarkan sedikit pelukannya. Dengan rakus, Dia kembali menciu*mi, menyesap leher Rili, yang membuat Rili menggeliat.
Yasir menjil*ati leher Rili dari bawah sampai ke dagunya, yang membuat Rili mendongak. Kemudian Yasir memegang kepala Rili dengan lembut dan cup.... Yasir me*ncium sekilas bibir Rili yang merah, kemudian Yasir menatap wajah Rili yang pasrah, sungguh Yasir sudah tidak tahan. Dia sudah sangat panas di dalam. Mungkin karena memendam cinta dan kerinduan yang terlalu lama, membuat Yasir tidak bisa mengontrol diri.
"Dek," Ucap Yasir dengan suara berat, karena menahan gejolak nafsu. Rili menjawab panggilan Yasir dengan manja dengan mulut sedikit terbuka dengan mata masih terpejam.
Sungguh ekspresi wajah Rili membuat Yasir sangat terangsang. Degupan jantungnya semakin cepat saja. Napasnya juga sudah sangat berat. Sungguh Dia sangat nafsu sekali. Dia pun menci*umi bibir Rili secara bergantian dari bawah ke atas dengan lembut.
Ciuman lembut itu, kini berubah menjadi panas dan menuntut. Rili yang belum mahir berciuman, akhirnya menarik bibirnya dari luma*taan Yasir. Dia sampai kehabisan oksigen. Yasir juga mengalami hal yang sama, tapi Dia sedikit lebih lihai saat berciu*man, sehingga Dia masih bisa bernafas saat meluma*t dan menyes*p bibir Rili yang kenyal dan terasa manis itu.
Melihat Rili sudah siap untuk melanjutkan pertempuran bibir itu. Yasir pun kembali bermain-main dibibir Rili, Dia sampai bermain di rongga mulut Rili. Tapi, permainan bibir itu, saat ini masih didominasi oleh bibir Yasir. Rili hanya pasrah saja, bibirnya di obok-obok oleh Yasir. Dia belum mengerti cara membalas ciuman Yasir yang kini sudah menuntut untuk dibalas.
Akhirnya, feeling Rili pun bermain. Dia pun membalas Lum,a*Tan yang diberikan oleh bibir Yasir. Karena mendapat perlawanan, akhirnya Yasir tambah bernafsu. Kedua tangannya sampai memegangi kepala Rili, Tubuhnya bergerak seiring dengan kerasnya ciuman yang mereka lakukan.
Ciuman bibir yang panas itu terus berlanjut, sampai-sampai Rili memundurkan langkahanya. Rili merasa perlu tempat tumpuan, untuk membalas serangan Yasir. Akhirnya tangan kanannya meraba-raba tempat bersandar. Dia meraba-raba meja Rias, sedangkan bibir keduanya masih terpaut dalam.
Pang...preng...pung....
Benda-benda yang berada di atas meja rias Rili berjatuhan, akibat Rili salah meraba. Yasir dan Rili tidak memperdulikan benda-benda yang terjatuh itu. Saat ini yang Dia inginkan adalah meraup manisnya bibir keduanya.
Dukkkk....
Akhirnya Rili terduduk di kursi meja rias. Bibir keduanya pun terlepas. Mereka saling bersitatap dengan penuh nafsu yang bergejolak. Dan saling tersenyum. Keduanya nampak bahagia sekali.
Melihat mulut Rili sedikit menganga dan dadanya yang naik turun, karena berusaha menstabilkan pernapasannya, membuat Yasir semakin bergairah.
Dia pun menundukkan kepalanya dan langsung meluma*t bibir Rili. Kali ini tangan kanan Yasir ikut bermain, meremas-remas bukit kembar milik Rilir yang masih ditutupi Bra tersebut.
Yasir ingin lebih, Dia ingin merasakan bibirnya menyesap dan me*nciUmi gunung kembarnya Rili. Tapi, inilah masalahnya Yasir tidak pandai membuka Bra, sehingga Dia menurunkan kedua tali Bra Rili. Sehingga gunung kembar Rili menyembul sempurna.
Mata Yasir melotot penuh, dengan lidah yang menjulur membasahi bibirnya yang kering. Yasir kesusahan menelan ludahnya sendiri, melihat pemandangan bukit kembar Rili yang sangat menggoda.
Bukit kembar Rili putih bersih, ukurannya tidak kecil dan tidak terlalu besar. Puti*ngnya yang berwarna pink muda, tetapi ukurannya kecil. Mungkin putingnya Rili jarang dihisap atau dirangsang. Yang membuat Yasir tidak sabar untuk mengisapnya.
Bersambung...
Mohon like, coment positif dan votenya kenceng dong kak?
__ADS_1
NB: Cerita Rili Yasir pingin dilanjut sampai punya anak atau sampai belah duren aja kak?
t