Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Private number


__ADS_3

Setelah selesai sholat shubuh, Rili merasa sangat kantuk sekali, badannya juga terasa pegal semua. Rasa pegal yang dirasakannya bukan karena salah gaya atau terlalu ekstrim saat melakukan hubungan intim dengan Yasir. Tapi, karena Rili kekurangan waktu istirahat.


Dia yang sudah terbiasa tidur paling lama jam 10 malam. Tapi, empat hari terakhir ini. Mereka akan baru tidur setelah jam 1 malam. Pasangan suami istri ini seolah tak kenal waktu dan tidak pernah bosan untuk melakukan ibadah yang bisa membuat orang seperti terbang ke awang-awang. Menyenangkan, nikmat dan tidak bisa digantikan dengan emas batangan.


Melihat istrinya sudah terlelap dalam pelukannya, Yasir melepas pelukannya dengan pelan, Dia takut membangunkan Rili. Dengan perasaan yang sangat bahagia Yasir mencium kening dan bibir Rili sekilas. Dia tersenyum dan mengelus pelan puncak kepala Rili. Dia sangat bersyukur, karena Dia bisa memiliki Rili.


"Abang sangat mencintaimu." Ucapnya dan mencium kembali kening Rili, Dia turun dari ranjang pergi menuju ruang olah raga yang terdapat di kamar itu juga.


Yasir sudah lebih dari seminggu tidak olah raga. Dia yang sudah terbiasa olah raga 3 kali dalam seminggu itu, merasa tidak enak badan jika tidak mengeluarkan keringat dari tubuhnya.


Pagi ini Yasir melakukan olah raga ringan, yaitu bersepeda statis dan senam kegel. Melakukan senam kegel sudah menjadi kebiasaan buat Yasir dan cara melakukannya juga gampang, tapi khasiatnya luar biasa. Terbukti sudah hasil dari senam kegel yang dilakukan Yasir. Rili selalu terpuaskannya. Bisa membuat Rili puas adalah suatu kebanggaan dan kebahagiaan buat Yasir.


Sudah satu jam Yasir berolah raga. Dia mengistirahatkan tubuhnya dengan duduk dibalkon, Dia melap keringatnya dengan handuk kecil berwarna putih. Ekspresi-ekspresi wajah Rili saat pelepasan melintas di otak Yasir. Dia tersenyum, hatinya bahagia sekali. Menjadikan Rili sebagai istrinya adalah tujuan hidupnya. Dan itu sudah terwujud.


Lamunan Yasir buyar, saat Dia mendengar deringan ponsel Rili yang keras dari tadi. Deringan ponsel yang tak kunjung berhenti itu, akhirnya membuat Yasir berjalan cepat menuju asal suara.


Ponsel Rili terletak di atas nakas samping tempat tidur. Tadi habis sholat shubuh, Rili melakukan panggilan dengan orang tuanya. Setelah selesai bertelpon, Rili meletakkannya di atas nakas.


Mata Yasir sedikit menyipit dengan dahi berkerut melihat panggilan dilayar ponselnya Rili, no pribadi. Saat Dia hendak menekan tombol menerima panggilan. Panggilan pun terputus, Dia lama menunggu agar no private number itu masuk kembali, tapi nyatanya tidak ada. Ternyata sudah 3 kali private number itu menelpon. Dan Rili tidak mendengarnya, karena Dia tidur lelap sekali.


Yasir meletakkan ponsel Rili ditempat semula. Pandangannya beralih ke wajah istrinya yang sangat cantik itu, apalagi saat tidur, wajah Rili nampak tenang dan begitu glowy yang membuat Yasir gemes. Dia tidak tahan untuk tidak mengekpresikan rasa cintanya.


Cup...cup..


Yasir mencium bibir Rili dua kali dengan cepat, yang membuat Rili terbangun.

__ADS_1


"Sudah bangun?" Yasir tersenyum, yang membuat Rili salah tingkah dipandangi terus oleh Yasir. Dia sangat malu. Seharusnya seorang istri itu, harus duluan bangun menyiapkan sarapan dan keperluan lainnya untuk suaminya. Nyatanya empat hari ini, Rili seperti putri saja diperlakukan Yasir.


"Ayo mandi," Rili mengangguk, dengan cepat Yasir kembali membopong tubuh Rili ke kamar mandi. Tentunya hati Rili selalu berdebar-debar dengan perlakuan Yasir.


Acara mandi bareng itu pun akhirnya selesai setelah satu jam. Pasangan suami istri itu yang seolah masih candu dengan kenikmatan surga dunia. Sehingga mereka melakukannya lagi dikamar mandi. Walau Rili masih ada perasaan malu saat melakukannya, tapi sikap Yasir yang begitu memuja dan menyukai setiap lekuk tubuh Rili, membuat Rili akhirnya percaya diri. Rili bisa rileks dan begitu terangsang pagi ini. Yang akhirnya Rili tidak merasakan sakit sama sekali.


Dert....Dert....Dert....


Suara ponsel Rili terdengar kembali saat mereka sarapan di balkon. Rili ingin beranjak untuk mengambil ponselnya. Tapi, Yasir melarangnya.


"Makan dulu sayang, nanti aja dihubungi kembali." Ucap Yasir sambil menahan lengan Rili yang hendak melangkah itu. Akhirnya Rili menuruti perintah Yasir.


"Kita jadi menjenguk Adik Valery?" tanya Yasir, Dia melap bibir Rili yang belepotan karena saos spaghetti.


"Iya Bang." Rili tersenyum, masih dengan hati berdebar-debar. Entahlah setiap sentuhan Yasir membuat Rili dag Dig dug.


Yasir kecewa mendengar ucapan Rili. Kenapa Rili meminta itu. Padahal tanpa Rili mintapun, Yasir sudah menghubungi Jef untuk menyiapkan segala sesuatunya untuk menjemput Valery dari Rumah sakit.


"Iya Sayang. Tanpa Adek mintapun, Abang sudah mempersiapkan semuanya." Yasir tersenyum. "Makan ini juga!" Yasir menyuapi daging sapi asap ke mulut Rili. "Adek harus banyak makan, Abang tidak suka Adek diet-diet ya." Sungguh sikap Yasir membuat Rili sangat terharu. Dicintai pria sempurna seperti Yasir, merupakan suatu keberuntungan buat Rili.


Setelah selesai sarapan, akhirnya Rili bisa menghirup udara bebas. Pasalnya sudah empat hari mereka mendekam di kamar Hotel. Pernah sih keluar satu kali disaat malam, saat Yasir mengajak Rili dinner di tepi pantai.


"Sayang, kita beli buah tangan di A Market aja ya?" Yasir menoleh ke arah Rili yang duduk disebelah kanannya. Sedari tadi tangan kanan Rili digenggam terus oleh Yasir dan sesekali menciuminya. Yang membuat Rili tersenyum bahagia.


"Iya bang." Jawabnya lembut, yang membuat Yasir tersenyum.

__ADS_1


🌻🌻🌻


Tepat pukul 11 siang, Rili dan Yasir tiba di Rumah Sakit Umum Daerah tempat Valery dirawat. Yasir dan Rili berjalan menuju ruangan Valery dirawat. Sepanjang perjalanan menuju ruangan Valery, tangan Yasir tak pernah lepas menggenggam tangan Rili.


Sungguh sikap Yasir membuat Rili begitu bahagia. Semoga sikap Yasir begini selamanya. Bukan karena lagi pengantin baru.


krekkkk..... Yasir mendorong pintu ruangan Valery dirawat. Rili masuk yang diikuti oleh Yasir. Rili memeluk Ibunya yang sudah sangat dirindukannya itu. Sudah empat hari Dia berpisah dengan Ibunya. Puas memeluk Ibunya, Rili memeluk Ayahnya dan juga saudara laki-lakinya yang sudah datang 3 hari yang lalu dari Pekanbaru. Yasir juga tak kalah hangatnya menyapa Mertua dan Adik iparnya itu. Sungguh Yasir merasa hidupnya nyaris sempurna, bisa diterima dengan baik oleh keluarga Rili.


" Kakak senang, kamu sudah sadar. Valri sudah sangat merindukan sentuhan ibunya." Rili memijat-mijat lengan Adik iparnya itu, tentunya dengan mata berkaca-kaca. Dia sangat bersyukur akhirnya keponakannya tidak kehilangan ibunya.


Valery tersenyum, dalam hati Dia sangat bersyukur mempunyai kakak ipar yang sangat baik seperti Rili. Rili rela begadang, saat merawat Valery selama 6 Minggu terakhir ini.


"Terimakasih banyak ya kak, sudah sangat menyayangi Valri." Ucap Valery dengan tersenyum. Rili mengangguk.


Krek..... Perawat dan Dokter nampak masuk memeriksa keadaan Valery. Setelah Dokter melakukan pengecekan, Valery sudah diperbolehkan pulang, seperti info yang diberikan perawat tadi pagi.


Setelah biaya administrasi dilunasi oleh Yasir. Valery langsung diboyong ke rumah mertuanya yaitu, rumah orang tua Rili. Yasir memfasilitasi mobil yang akan ditumpangi orang tua Rili, Riswan dan Valery. Sedangkan Yasir dan Rili berada di mobil yang berbeda.


Dert....Dert....Dert.... Ponsel Rili kembali bergetar di dalam tas selempangnya. Yasir melepas tangan Rili dari genggamannya, karena Rili ingin merogoh ponselnya dari tasnya itu.


Rili melihat dilayar ponselnya memanggil private number. Rili melirik Yasir, Dia mendekatkan ponselnya ke arah Yasir.


"Coba angkat sayang, siapa tahu penting." Ucap Yasir.


Rili pun mengangkat, terdengar suara pria yang mengucap salam.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2