Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Ayahku di mana?


__ADS_3

"Mas, sudah pernah naik pesawat?" tanya Mely heran, melihat suaminya yang pucat setelah pesawat take off.


Rival mengangguk dan melap keringatnya yang menempel di dahinya dengan tisu, yang diberikan oleh istri nya itu.


"Berapa kali?" tanya Mely, membantu suaminya melap keringat sebiji jagung yang tak henti keluar dari pori-pori kulit nya Rival. Bahkan rambutnya sudah lepek karena basah keringat.


"Tiga kali. Pertama dulu sekali mau ke Jakarta. Kedua saat mau ke Arab Saudi dan ketiga pulang dari Arab Saudi." Ucap Rival, Dia menutup mulutnya dengan tangannya. Karena Dia merasakan ingin muntah.


"Kalau sudah pernah, kenapa Abang mabuk udara." Ucap Mely khawatirnya. Karena saat ini suaminya itu sepertinya dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Rival tidak menanggapi ucapan Mely. Dia sedang menahan dirinya agar tidak muntah. Tapi, semakin ditahan. Perutnya semakin terasa di aduk-aduk saja.


Rival melepas seat belt nya dan berjalan cepat menuju toilet.


"Apa Dia sakit?" gumam Mely dalam hati. Jangan sampai Rival sakit setelah sampai di Canberra.


Sepuluh menit kemudian, Rival keluar dari toilet. Dia pun berjalan sedikit lemas menuju tempat duduknya.


"Mas sakit?" tanya Mely, memperhatikan detail wajah suaminya itu yang kini masih nampak pucat.


"Iya Dek, Mas sepertinya masuk angin." Ucapnya menyandarkan punggungnya di sandaran tempat duduknya.


Mely merogoh minyak kayu putih dari tas selempang nya. Dia pun membuka kancing jaket dan kemeja suami nya itu. Kemudian mengoleskan minyak itu ke perutnya Rival.


Rival hanya pasrah menerima semua perlakuan istrinya yang memijat-mijat pelipis dan keningnya dengan minyak angin tersebut. Sehingga Dia terlelap.


*


*


*


Tujuh jam kemudian. Mereka sudah sampai di Bandara Canberra. Pasangan suami istri itu langsung memesan taxi dan melaju menuju Rumah Sakit. Mereka ingin memberikan kejutan kepada orang tua mereka. Sehingga Mely tidak memintanya untuk dijemput ke Bandara.


Sesampainya di Rumah Sakit. Mereka langsung berjalan cepat menuju ruangan Ayahnya dirawat.


"Sayang...!" ucap Mama Maryam kaget, melihat Putri dan menantunya berdiri diambang pintu. Senyum sumringah menghiasi wajah lelah Mamanya, yang ternyata satu malam ini tidak bisa tidur. Karena diserang Insomnia.


Mely berlari kecil menuju Mamanya yang masih berdiri, didekat bed Pak Ali berbaring. Mama Maryam pun menyambutnya dengan pelukan hangat, dan membombardir wajah putrinya dengan ciuman. Mama Maryam sangat merindukan putri nakalnya itu, apalagi Dia sebentar lagi akan mendapatkan cucu.


Sedangkan Rival langsung menghampiri Pak Ali. Wajah pucat Rival karena mabuk udara. Kini berubah menjadi wajah penuh kebahagiaan. Dia tidak menyangka, pertemuannya dengan Mely membawanya kepada keluarga kandungnya.

__ADS_1


"Ayah," ucapnya memeluk Pak Ali dengan perasaan haru bahagia. Pak Ali tak kalah terharunya, melihat kedatangan anak-anaknya yang menjenguknya.


"Semoga Ayah cepat sembuh." Ucap Rival dengan mata berkaca-kaca. Dia memeluk Ayah kandungnya itu dengan sayangnya.


"Iya Nak, terimakasih." Ucap Pak Ali dengan suara bergetar, karena sedih bercampur bahagia sedang melandanya. Air mata yang menetes dari sudut mata tuanya cepat-cepat disekanya. Rival ikut menitikkan air mata, setelah melepas pelukan dari Ayahnya itu. Dia tidak menyangka, bahwa Pak Ali adalah Ayahnya.


"Ayah sangat senang kalian datang menjenguk Ayah." Ucap Pak Ali, Dia mencoba untuk duduk dan dengan cepat Rival membantunya.


Rival ingin sekali mengatakan kalau Dia adalah anak Pak Ali. Tapi, Dia tidak punya keberanian untuk itu. Dia takut Pak Ali tidak percaya.


"Ayah.." Mely memeluk Pak Ali.


"Berubah lah, karena menjadi seorang Ibu itu tidak mudah." Ucap Pak Ali membalas pelukan Mely.


Kening Mely menyergit. Bisa-bisanya Ayahnya mengatakan itu. Emangnya Ayahnya pernah jadi Ibu.


"Iya Ayah. Mely akan berubah jadi istri yang Sholehah dan jadi anak yang baik untuk Ayah. Karena Ayah sudah mau membesarkanku, sudah mau menjadi sosok seorang Ayah yang baik untukku." Ucap Mely dengan raut wajah sedih, menggengam tangan Ayah kemudian menciumnya.


Ucapan Mely itu sontak membuat Mama Maryam terkejut, begitu juga dengan Pak Ali. Apa maksud dari ucapan putrinya itu.


"Iya sayang, kenapa kamu bicaranya jadi bijak begini? biasanya juga kamu tidak pandai mengeluarkan kata yang bagus." Ucap Pak Ali menilik wajah Mely yang sudah tertunduk dan malu.


"Ini semua berkat Nak Rival, Dia benar-benar suami yang baik. Dan dengan sabar membimbing Mely." Ucap Mama Maryam terseyum. Dia kemudian mendudukkan bokongnya dibibir bed tempat Pak Ali. Dia mengelus punggung Suaminya itu.


"Sebenarnya Ayah sudah bisa pulang. Ini Mama lagi beres-beres." Ucap Mama Maryam. Dia pun bangkit dari bed tempat Pak Ali di rawat dan berjalan menuju lemari pakaian yang ada di kamar itu.


Mely pun membantu Mamanya beres-beres. Sedangkan Rival memijat-mijat kaki Ayahnya, sekaligus membicarakan masalah perusahaan mereka.


"Cabang perusahaan kita disini cukup berkembang, walau baru satu tahun Ayah rintisnya. Jadi kemungkinan besar, Ayah dan Mama akan menetap disini dan kalian urus perusahaan kita yang di Indonesia saja." Ucap Pak Ali, menatap Rival dengan lekat.


Mely yang mendengar Ayahnya mengatakan ingin menetap di negara hewan berkantung itu, akhirnya buka suara.


"Ayah ingin mengikuti jejak paman Usman, dengan menetap disini?" tanya Mely, menghentikan sebentar aksinya membantu Mamanya mempacking barang-barang orang tuanya itu.


"Iya." Jawab Pak Ali, masih menatap lekat wajah Rival anaknya.


"Pak Usman itu siapa?" tanya Rival, Dia baru tahu ada saudara mereka namanya Usman.


"Paman Usman itu Adik kembarnya Ayah." Jawab Mely, seketika Dia memegang perutnya. Pantesan anak nya kembar toh ada keturunan kembar dari kakeknya.


"Oohh... Aku baru tahu kalau Ayah punya saudara kembar." Ucap Rival masih memijat-mijat kaki Pak Ali, kini tangannya sudah bergerak memijat jari-jari kaki Pak Ali. Sungguh Pak Ali menikmati pijatan Rival. Pijatannya sangat enak.

__ADS_1


"Iya, sebentar lagi Ayah akan punya cucu kembar juga kan? apa betul Mely hamil?" tanya Pak Ali, masih menatap lekat wajah Rival dan kali ini Rival pun menatap Pak Ali.


"Iya Ayah." Jawab Rival tersenyum.


"Nak Rival, sebenarnya ada yang ingin Ayah sampaikan. Ayah harap, Nak Rival jangan salah paham nantinya kepada Ayah." Pak Ali menjeda ucapannya. Dia menarik napas dalam, sudah seharusnya Dia mengatakan bahwa Rival adalah anaknya. Jikalau Rival tidak percaya. Dia akan meminta Rival untuk test DNA di rumah sakit ini.


"Apa itu Ayah?" tanya Rival dengan hati bertanya-tanya. Kedua bola matanya menyorot serius wajah Pak Ali yang sedang bicara.


"31 tahun yang lalu, saat Ayah dan keluarga besar sedang melakukan liburan ke kota G. Kampungnya Nak Rival. Saat itu kami sedang


melakukan kegiatan mancing mania di sungai yang terkenal dengan ikannya yang besar- besar itu." Pak Ali kembali menjeda ucapannya, karena Dia merasa dadanya sesak. Jikalau mengingat kejadian anaknya Rival yang tiba-tiba hilang dari kapal mereka saat di atas air membuatnya sangat sedih.


Rival menghentikan aktifitasnya memijat kaki Pak Ali. Karena Dia sangat tertarik dengan cerita bilangannya dirinya dari keluarganya dan ditemukan Pak Ahmad di sungai.


"Sudah Ayah, jangan sedih. Dokter sudah melarang Ayah agar jangan setres." Ucap Mama Maryam, mengelus punggung suaminya dengan lembut. Dia ingin menenangkan Suaminya itu.


"Iya Ma, Ayah tahu itu. Ayah akan mengatakan semua fakta yang Ayah simpan akhir-akhir ini. Mama juga harus tahu fakta itu." Ucap Pak Ali menatap istrinya.


"Fakta apa Ayah?" Mama Maryam begitu penasaran.


Pak Ali menatap wajah Rival lekat-lekat. Tatapan Pak Ali dibalas Rival dengan hangatnya.


"Rival, kamu adalah anak Ayah yang hilang di sungai 31 tahun yang lalu." Ucap Pak Ali dengan sedih sekaligus lega. Setidaknya Dia sudah mengatakan rahasia yang sudah disimpannya selama enam bulan ini. Sejak Dia mengetahui Rival adalah anaknya.


Pak Ali heran melihat sikap datarnya Rival menanggapi ucapannya. Sekarang yang menanggapinya tak kalah hebohnya adalah Mama Maryam. Istrinya itu sangat terkejut, mengetahui Rival adalah anak tirinya.


"Apa? benarkah yang Ayah katakan itu?" Ucapnya menatap Rival yang duduk di dekat kaki Pak Ali yang berseloncor. Pak Ali mengangguk.


"Astaga..."Mama Maryam menutup mulutnya yang sempat menganga karena tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Kenapa semuanya seperti diatur dan kebetulan.


"Rival..." Mama Maryam bergerak dan langsung memeluk Rival yang juga duduk dibibir ranjang.


"Terimakasih sudah hadir dihidup kami lagi, terimakasih sudah mau menikah dengan putriku yang tidak berguna itu." Ucapnya histeris dengan berurai air mata, masih memeluk Rival.


Mely yang mendengar Namanya mengatakannya wanita tidak berguna, dibuat sedih. Tapi cepat-cepat pikiran negatif itu dibuang dari hatinya. Toh memang kenyataannya Dia tidak berguna. Dia tahunya memfoya-foyakan uang Pak Ali.


"Iya Ma. Mungkin beginilah jalannya keluarga kita jadi lengkap. Sudah Mama jangan menangis. Mely itu istriku, Dia wanita hebat dan sangat berguna Ma." Ucap Rival menenangkan Ibu mertuanya itu masih dalam dekapannya.


Mama Mely mengangguk, Rival mengurai pelukan Ibu mertuanya itu.


Mely yang masih mempacking pakaian Ayahnya, menghentikan kegiatannya itu. Dia berjalan menghampiri Mamanya.

__ADS_1


"Kalau Aku anaknya siapa Ma? Ayah kandungku siapa dan ada di mana Ma?' Duarrr.... Mata Mama Maryam melotot penuh mendegar ucapan putrinya itu.


__ADS_2