Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Menolak tawaran


__ADS_3

Sayup-sayup terdengar suara adzan subuh berkumandang dari menara Masjid. Diiringi kicauan burung yang merdu dan deru angin yang menyapa. Seketika Rival terbangun. Mata getirnya menatap nanar langit-langit kamar. Setelah dirasa kesadarannya berhasil terkumpul, Ia menoleh kesebelahnya , ada Mely yang masih tertidur pulas, dengan satu tangannya memegang lengannya Rival.


Sesaat Rival tersenyum melihat wajah Mely yang teduh saat tidur. Kalau sedang tidur begini, Mely terlihat menggemaskan. Rival ingin membangunkan istrinya itu mengajaknya untuk sholat berjemaah. Tapi, Dia mengurungkan niatnya. Mengingat sikap Mely yang dingin kepadanya semalam.


Rival belum memahami karakter Mely sesungguhnya. Wanita itu sifatnya cepat sekali berubah. Jelas memang, karakternya menggambarkan kalau Mely keras kepala, egois dan terlalu mengikuti apa yang dirasakannya tanpa memikirkan efek dari perbuatannya.


Dengan menghela napas berat, Rival dengan pelan berusaha melepas tangan Mely yang menggenggam tangannya. Tapi tangan itu sangat susah untuk dilepas, hingga Rival melepaskannya dengan sedikit kuat.


Merasa tubuhnya ada yang menyentuh, Mely membuka mata mendapati suaminya sedang memegang tangannya. Mata keduanya bertemu, Rival grogi sekaligus merasa takut, kalau Mely akan marah. Sehingga Rival refleks melepas tangan Mely.


"Aaakuu, tadi hanya ingin melepas tanganmu dari tanganku." Ucap Rival dengan sedikit gugup. Mely tidak menjawab ucapan Rival. Dia mengubah posisi tubuhnya jadi berbaring dan menatap langit-langit kamar.


"Apa Adek mau sholat berjamaah?" tanya Rival dengan lembut. Semoga saja Dia tidak kena amukan Mely.


Benar saja, Mely tidak menggubris ucapan Rival. Akhirnya Rival pun turun dari ranjangnya. Masuk ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya. Setelah berganti pakaian untuk sholat, Rival keluar dari ruang ganti.


Dia melihat ke arah Mely yang tetap anteng rebahan di ranjang.


"Adek tidak mau sholat?" tanyanya dengan tersenyum. Mely melihat ke arah Rival, tapi wanita itu hanya diam saja. Merasa diabaikan, Rival keluar dari kamar itu berjalan menuju ruang sholat. Tadinya Dia ingin berjemaah di Mesjid. Tapi, karena sudah telat. Jadi Dia sholat di rumah saja.


Sesampainya di ruang sholat, Rival melihat Pak Ali sedang melaksanakan sholat. Rival pun melaksanakan sholat. Saat Dia hendak meninggalkan tempat itu. Pak Ali memanggilnya.


"Ada hal serius yang ingin Ayah sampaikan. Kita bicarakan sekarang di ruang kerja Ayah." Ucap Pria yang sudah tua itu.


Mendengar ucapan Pak Ali, ada sedikit rasa was-was dan tidak enak di hati Rival. Dia beranggapan Pak Ali akan membicarakan mengenai hubungannya dengan Mely.

__ADS_1


"Duduklah." Pak Ali menyodorkan file kehadapan Rival, yang kini sudah duduk di sofa yang ada di ruang kerja Pak Ali tersebut. Sesaat Rival menyoroti ruangan kerja Pak Ali. Karena sudah empat bulan lebih Dia di rumah itu, baru kali ini Dia masuk ke ruangan ini.


Rival kemudian membuka dokumen tersebut, matanya melotot penuh membaca isi tulisan yang ada di kertas itu. Ekspresi wajahnya berubah drastis karena tercengang. Pak Ali yang melihat ekspresi Rival itu dibuat bahagia, Dia beranggapan Rival sangat senang dengan isi surat yang dibacanya. Padahal, Rival saat ini merasa tidak percaya dengan apa yang dibacanya. Dia tidak setuju dengan isi surat yang dibacanya itu.


"Aaapa ini Ayah?" Rival bertanya dengan sedikit rasa gugup. Dia menatap Pak Ali dengan tatapan bingung.


"Sesuai dengan isi surat itu. Itulah kenyataannya." Ucap Pak Ali dengan terseyum.


"Ini tidak mungkin, mana mungkin semua aset yang Ayah miliki dilimpahkan kepada saya. Saya tidak bisa terima ini." Rival meletakkan kembali file tersebut dihadapan Pak Ali dengan tangan sedikit gemetar. Wajah penuh keterkejutannya nampak jelas di wajahnya yang putih dan tampan itu.


"Kenapa tidak mungkin. Ini buktinya Ayah mewariskannya kepadamu." Pak Ali tersenyum, sungguh Dia sangat terharu melihat sosok anaknya ini. Yang tumbuh dengan karakter yang baik. Mata Pak Ali berkaca-kaca menatap Rival yang masih setia dengan wajah terkejut nya.


"Tapi saya bukan ahli waris Ayah. Ada Mely putri Ayah." Ucap Rival dengan masih bingung. Ini benar-benar kejadian aneh. Orang lain menyerahkan semua hartanya kepada orang yang tidak dikenal.


"Tidak Ayah, tidak boleh seperti ini. Ini sungguh tidak adil terhadap Mely. Kenapa Ayah begitu percaya kepada saya. Dibolehkan tinggal dan diberikan pekerjaan kepada saya saja, saya sudah sangat bersyukur." Ucap Rival dengan mata berkaca-kaca. Dia sebenarnya senang, Pak Ali begitu percaya kepadanya. Tapi Rival yang baik hati itu. Mana mau mengambil kesempatan, dari sikap Pak Ali yang baik kepadanya.


"Kenapa tidak adil, toh Mely juga masih merasakan semua fasilitas dan kekayaan yang ada. Kecuali kamu ingin menikah lagi dan menceraikan Dia." Ucap Pak Ali dengan nada datar.


Rival tercengang mendengar ucapan Pak Ali. Bagaimana mana mungkin Dia akan melakukan itu, secara hartanya sudah diserahkan kepadanya semua.


"Maaf Ayah, saya tidak bisa menerima ini. Biarlah saya jadi pegawai Ayah saja di kantor. Jadi pegawai biasa saja pun saya tidak masalah. Tidak usah seperti jabatan yang saya emban saat ini." Rival benar-benar merasa kejadian di pagi ini sebagai terafi spot jantungnya. Sungguh Dia sangat terkejut dengan kenyataan pagi ini.


Pak Ali hanya diam dan menatap lekat wajah Rival. Ingin Dia memberitahu fakta sebenarnya, bahwa Rival adalah anaknya yang menghilang. Tapi, Pak Ali takut. Rival tidak mempercayai nya. Sehingga Dia sangat takut kehilangan putranya itu kembali.


"Kalau tidak ada lagi yang mau dibahas. Saya permisi dulu Ayah. Saya harus cepat ke kantor. Karena pagi ini ada rapat." Ucap Rival dengan masih berusaha menenangkan dirinya yang terkejut itu. Jantungnya juga sampai saat ini masih berdetak tidak karuan.

__ADS_1


Rival masuk ke kamar Mely dan mendapati wanita itu sedang menyisir rambut dan sepertinya akan pergi.


Mely tidak melirik ke arah Rival yang mendatanginya. Sikap Mely yang tiba-tiba berubah. Membuat Rival menarik kesimpulan bahwa Mely jadi tak acuh kepadanya. Karena Mely sudah mengetahui bahwa semua harta Pak Ali diwariskan kepadanya.


"Apa Adek sudah mau berangkat sepagi ini?" tanya Rival dengan sangat hati-hati, membuka percakapan diantara keduanya. Rival memperhatikan pantulan Mely di cermin. Begitu juga dengan dirinya. Yang kini berdiri dibelakang Mely.


"Iya." Mely menghentikan kegiatan menyisir rambutnya. Dia merapikan bajunya dan bangkit dari duduknya. Saat Dia ingin menarik handle pintu. Rival menahan lengan kirinya.


"Ada yang harus kita bicarakan. Sepertinya Adek berubah karena hal itu." Mely memutar lehernya, agar bisa menatap wajah Rival yang tidak tenang itu.


"Apa Dia tahu, mood ku rusak karena mendapati foto istrinya di dalam tas ranselnya?" gumam Mely, sorot matanya nampak serius menatap Rival.


"Aku tidak ada waktu, dosen pembimbingku memintaku datang ke rumahnya sebelum pukul tujuh. Ada yang harus ditanda tangani Dosen pembimbing ku " Ucap Mely berkata jujur. Dia memang ingin ke rumah Dosen pembimbingnya. Yang rumahnya sangat jauh. Perjalanan bisa lebih satu jam.


Dia harus berjumpa hari ini dengan Dosennya itu. Jikalau Mely ingin cepat sidang. Karena Dosennya itu akan keluar kota selama satu Minggu.


"Kalau begitu nanti siang, Abang ke kampusmu. Kita makan siang bersama." Ucap Rival dengan perasaan tidak enak. Dia yakin sekali Mely berubah, karena Ayahnya mewariskan hartanya kepadanya.


"Tidak bisa. Nanti siang juga Aku sibuk." Ucap Mely menepis keras tangan Rival. Dia keluar dari kamar berjalan cepat menuju garasi. Dia sampai mengabaikan Mamanya yang memanggilnya untuk sarapan.


TBc.


Mampir juga ke novelku yang berjudul


Dipaksa menikahi Pariban

__ADS_1


__ADS_2