Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Maafkan kami Nak!


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan sekitar 10 menit, kini mobil mewah Merk BMW warna hitam yang ditumpangi oleh Yasir dan Jef, tersebut nampak parkir di depan pagar rumah Rili. Jarak Bandara dari rumah Rili memang dekat.


"Bos, sudah 30 menit kita parkir di depan rumah ini. Apakah ini rumah Nona Rili?" ucap Jef, dengan nada pelan dan sedikit hati-hati. Kedua matanya menatap ke arah rumah Rili yang sekarang sudah berubah warna menjadi ungu. Pagar besi rumah tertutup rapat, tapi tidak dikunci.


Jef sudah sangat bosan berada di dalam mobil itu. Walau mobilnya begitu nyaman. Tapi, menunggu itu sangat membosankan. Apalagi terperangkap di dalam mobil.


Yasir mengangguk, Dia masih sedang berusaha menstabilkan detakan jantungnya yang meletup-letup itu. Tangannya pun sudah mengeluarkan keringat. Entah kenapa, ada ketakutan dan kekhawatiran yang besar yang bercokol di hatinya.


Dia takut pertemuannya dengan Rili kali ini, tetap akan sama seperti sebelumnya. Mereka tidak dapat bersama.


"Ya Allah, Ku mohon mudahkanlah urusanku kali ini. Semoga apa yang ku harapkan, terwujud." Ucap Yasir dalam hati. Disaat. Dia berdoa dalam hati, kumandang adzan Ashar pun terdengar.


"Tuan, akan lebih baik kita sholat Ashar dulu, baru bertamu ke rumah Nona Rili." Ucap Jef masih dengan nada hati-hati. Dia sudah melihat begitu banyak perubahan emosi dalam Bosnya itu. 30 menit mereka terdiam di dalam mobil. Yasir, seperti orang linglung yang tidak tahu harus berbuat apa.


Yasir kembali mengangguk mendengar ucapan Asistennya. Kini mobil yang mereka tumpangi, bergerak menuju Mesjid yang tidak jauh dari Rumah Rili.


"Jikalau saya bisa menikah dengan Rili hari ini juga, maka saya bernazar akan membangun Mesjid yang megah disini dan sedekahku pun akan bertambah menjadi 2x lipat dari pengeluaran biasanya." Yasir menutup sholatnya yang kali ini sangat khusuk dilakukannya dengan berdoa.


Setelah selesai sholat Ashar, mobil Yasir kembali bergerak menuju rumah Rili. Asisten Jef langsung membuka handle pintu mobil. Yasir pun turun dari mobil mewahnya dengan perasaan kacau dan nervouse.


Yasir keluar dari mobilnya, Dia masih berdiri disebelah mobil tersebut. Kakinya seolah berat untuk melangkah. Sudah dua kali orang tua Rili menolaknya dan Ibunya Rili pun pernah memintanya untuk menjauhi Rili. Entah kenapa, rasa percaya diri Yasir turun drastis. Sangat susah mendekati orang tua Rili. Yasir yang kaya raya tidak membuat orang tua Rili tergiur menjadikannya menantu. Mungkin, jikalau harapannya tidak terwujud. Dia akan frustasi selamanya.


"Huuffttt...!" Yasir menarik napasnya dalam. Dia merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku.


"Bismillahirrahmanirrahim... Ayo,!" ucap Yasir berjalan menuju pagar rumah yang diikuti oleh Jef dari belakang. Tiba-tiba langkah Yasir terhenti, disaat sudah dekat dengan pagar rumah Rili.


"Ada apa Bos, kenapa berhenti?" ucap Jef yang sudah berada disebelah kanan Yasir. Jef belum melihat ke arah rumah Rili, Dia hanya melihat Bosnya yang seperti bukan dirinya lagi. Jef beranggapan, Bosnya menyuruhnya membuka pagar. Sehingga Dia pun membuka pagar rumah Rili yang tidak terkunci itu. Tapi, Bos nya masih diam mematung ditempat dengan wajah pucat dan sedikit menampakkan wajah kecewa.


Yasir bersikap seperti itu, karena Dia terkejut melihat pemandangan di depan matanya. Ternyata, Mamanya Rili dan Ayahnya keluar dari rumah secara bersamaan. Dimana Mamanya Rili sedang menggendong bayi. Dan Ayahnya Rili sedang mengunci pintu.

__ADS_1


Ayah dan Mama Rili hendak berangkat ke Rumah Sakit setelah sholat Ashar. Tadinya Rili akan ikut. Tapi, karena tim kerjanya Rili mengadakan acara bakar-bakar ikan di pantai, sehingga Rili menghubungi Mamanya waktu istirahat siang, tidak bisa ikut. Dan akan menjenguk adik iparnya setelah selesai acara bakar-bakar ikan.


Saat keluar dari rumah dan melangkah satu langkah. Mamanya Rili melihat Yasir yang bengong berdiri di depan pagar rumahnya.


"Paa..kkk, bukannya itu Nak Yasir?" ucap Mama Rili dengan terbata-bata. Raut wajah orang tua Rili berubah menjadi sedih dan merasa bersalah.


Melihat ekspresi wajah kedua orang tua Rili yang seperti kaget melihatnya, menambah ketidak percayaan dirinya untuk melangkah ke rumah itu. Apalagi Dia melihat Mamanya menggendong Bayi dengan kain panjang berwarna coklat yang berambu disetiap ujungnya.


"Bos, kenapa kita hanya berdiri disini. Ayo masuk. Itu penghuni rumah sepertinya mau keluar juga." Ucap Jef, dengan menatap wajah Bosnya yang sudah berkabut itu.


"Assalamualaikum....!" Ucap Jef dengan ramah, Dia langsung masuk melewati pagar rumah Rili dan menghampiri kedua orang tua Rili yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya dengan wajah tak kalah terkejutnya.


"Waa... walaikumsalam...!" jawab kedua orang tua Rili secara bersamaan dengan terbata-bata.


Jef semakin mendekatkan langkahnya ke arah orang tua Rili berada. "Bu, maaf kami mengganggu. Apakah ini benar rumahnya Nona Rili Askana?" ucap Jef, dengan ramahnya. Kedua tangannya saling bertautan saling meremas yang berada disekitar perutnya. Senyumannya tidak pernah hilang dari wajahnya mulai dari membuka pagar.


"Iii...ya Nak. Bukankah yang di luar pagar itu Nak Yasir?" ucap Mamanya Rili dengan mata berkaca-kaca. Dia sungguh merasa bersalah kepada Yasir. Karena, Dia selalu menilai Yasir dengan buruk dan tidak pantas untuk putrinya. Sedangkan pria yang dinilainya pantas untuk putrinya malah menceraikan putrinya dan keluarganya malah menyiksa putrinya.


Sebenarnya Yasir tidak menceritakan detail tentang Rili kepada Jef. Yasir hanya bilang akan menikahi seorang wanita bernama Rili. Dia tidak bilang status Rili. Karena Dia pun tidak tahu status Rili saat ini apa. Janda atau istri orang.


Yasir enggan melangkahkan kakinya. Dia takut akan menjadi fitnah. Melihat Mamanya Rili menggendong anak. Yasir beranggapan Rili sudah menikah lagi setelah Rival menceraikannya. Yasir, takut kedatangannya akan menyebabkan pertengkaran antara Rili dan suaminya kelak. Yang mungkin akan membuat Rili kembali sedih. Yasir tidak mau itu terjadi. Karena, Rival pun menceraikan Rili gara-gara Yasir menemui Rili.


"Nak Rili belum pulang, Dia kemungkinan pulang habis magrib. Ayo, kita masuk dulu." Ucap Ayah Rili, Dia pun membuka pintu rumahnya kembali.


"Oohh, Nona Rili tidak ada. Bentar Pak, saya tanyakan dulu kepada Bos apakah akan menunggu Rili atau tidak. Karena tujuan kami kesini ingin bertemu dengan Nona Rili. Lagian orang Bapak dan Ibu saya lihat mau keluar. Jadi, rasanya tidak enak hati. Gara-gara kami bertamu, langkah kaki Bapak dan Ibu terhenti." Ucap Jef. Dia pun berjalan menuju Yasir yang masih diam mematung seperti maneken di luar pagar.


"Bos, Nona Rili tidak ada di rumah." Ucap Jef, dengan hati-hati sungguh Dia sangat bingung melihat tingkah Bosnya kali ini. Bosnya seperti orang bodoh-bodoh.


Yasir tidak menanggapi ucapan Jef dengan cepat. Dia sedang berfikir keras agar tidak salah dalam mengambil keputusan. Dia sudah jauh-jauh datang ke kota S. Walaupun Rili sudah mempunyai anak. Dia harus mengetahui status Rili dengan jelas. Apakah Rili masih punya suami. Tau Rili sudah kembali single parent.

__ADS_1


"Kamu tanyakan kepada Ayah dan Ibunya Rili, apakah jikalau saya bertamu. Tidak akan ada yang keberatan?" ucap Yasir, dengan masih menatap ke arah orang tua Rili.


"Baik Bos." Jef, kembali berlari kecil menjumpai orang tua Rili yang masih berdiri di teras rumah.


"Pak, bolehkah Bos saya bertamu?"


"Boleh Nak, kan tadi sudah saya suruh masuk." Jawab Ayah Rili dengan sedikit bingung. Kenapa pula harus ditanya boleh tidaknya bertamu.


"Bos saya hanya ingin memastikan, jikalau Dia bertamu ke rumah Bapak dan Ibu. Agar nantinya tidak ada yang salah paham dan keberatan." Jawab Jef. Dia pun sebenarnya bingung, apa maksud dari ucapannya.


"Tidak akan ada yang keberatan. Malah, kalau Nak Yasir berdiri terus di depan pagar itu. Maka orang-orang akan salah tanggap. Takutnya Bos mu dianggap tukang koperasi yang lagi menagih hutang." Ucap Ayah Rili dengan sedikit seloroh yang membuat Jef tertawa. Ya, penampilan Yasir kali ini seperti petugas pengutip hutang.


"Hadeuh... jangan sempat Bos Yasir mendengar ucapan calon mertuanya. Bisa-bisa Bos Yasir berang." Jef membatin dalam hati. Dia pun kembali berjalan ke arah Yasir. Sedangkan Ibunya Rili sudah masuk ke dalam rumah. Valri sudah tertidur dan Dia akan meletakkan Valri di Box Bayi yang terdapat dikamar orang tua Rili.


"Ayo Bos masuk!" ajak Jef dengan sedikit menundukkan kepalanya.


Yasirpun akhirnya memberanikan diri masuk ke rumah Rili, tentunya dengan mencoba menstabilkan degupan jantungnya yang berdetak tidak karuan itu. Sungguh Yasir merasa susah bernafas saat berjalan. Padahal pasokan udara sangat banyak disekitarnya.


"Pak Haji, aaa..pa kabar?" ucap Yasir dengan gugup dan tangannya sedikit gemetaran saat terulur untuk menjabat tangan Ayahnya Rili.


Jef dibuat heran dengan tingkah Bosnya yang tiba-tiba mendadak menciut itu. Seorang Yasir Kurnia yang sudah diakui di dunia perbisnisan pintar dan berani itu, nampak ketakutan dihadapan Ayahnya Rili.


Sebenarnya Yasir tidak takut. Pikirannya diselimuti Rasa cemas dan gugup yang luar biasa. Dia sangat khawatir tidak memberi kesan yang baik kepada orang tua Rili. Dia takut di usir, karena Rili sudah punya suami atau Dia takut tidak direstui seperti sebelum-sebelumnya.


"Maafkan kami Nak...!" Ayah Rili langsung menyambar tangan Yasir dan memeluknya. "Maafkan kami, gara-gara kami putri kami menderita. Nak, kamu kesini mau membahagiakannyakan? kamu masih mencintainyakan?" Ayah Rili terisak didalam pelukan Yasir.


Sungguh sikap Ayah Rili diluar ekspektasi Yasir. Sikap Ayah Rili membuat Yasir hampir jantungan. Dulu begitu dinginnya Ayah Rili kepadanya. Tapi, hari ini sisi kelemahan seorang Ayah, nampak jelas dihadapan Yasir.


Orang tua Rili sudah mengetahui semua tentang Yasir. Rili yang menceritakannya. Setelah mendengar cerita Rili, kedua orang tuanya merasa sangat bersalah. Sempat ada pemikiran Orang tua Rili Ngotot untuk menghubungi kembali Yasir. Tapi, Rili tidak mau. Dia tidak mau merusak tujuan hidup Yasir yang sudah bulat meninggalkan Indonesia dan menetap di Australia.

__ADS_1


Mohon beri like, coment positif, rate 🌟 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit


Tetap votenya kuharapkan kakak2 cantik 😍☺️


__ADS_2