
"Ayah, maafin Mely!" ucapnya dengan menangis sesenggukan, Mely berlutut dihadapan Pak Ali yang sedang duduk di sofa tersebut. Pak Ali sangat tersentuh dengan sikap Mely hari ini. Seumur-umur baru kali ini putrinya itu meminta maaf padanya. Walau segudang keonaran yang diciptakan nya hingga sering lari dari rumah dan tiba-tiba kembali. Tapi, Mely selalu merasa perbuatannya tidak salah.
Hati Ayah mana yang tidak luluh, melihat putrinya meminta maaf dengan tulus.
"Iya Nak, Ayah juga minta maaf. Ayah akui, Ayah ini bukan Ayah yang baik." Ucap Pak Ali dengan raut wajah sedih. Dia meminta Mely bangkit. Kemudian mereka pun berpelukan dengan hangatnya.
Pak Ali merasa jadi orang tua yang gagal, karena Dia tidak bisa mendidik Mely. Mungkin akibat dari memanjakan Mely sedari kecil. Sehingga Mely tumbuh jadi gadis semaunya saja.
Mama Maryam, sangat tersentuh dengan kejadian hari ini. Dengan mata berkaca-kaca, Mama Maryam menoleh ke arah Rival yang masih berdiri di sebelah nya. Dengan tersenyum, Rival merangkul Mama mertuanya itu.
Setelah tontonan yang menyedihkan itu selesai, mereka pun makan malam dengan khidmatnya. Walau Mely merasa tidak enak hati, karena kelakuannya tadi. Tapi Dia berusaha bersikap seperti biasanya. Dia menatap Rival yang nampak menikmati santapan dihadapannya. Merasa diperhatikan Rival pun menoleh ke arah Mely, Dia tersenyum. Mely membalas senyuman dan kemudian kembali fokus ke makanan dihadapannya.
Setelah makan malam, Pak Ali mengajak Rival ke taman belakang. Rival pun mengiyakan ajakan Pak Ali tersebut.
Sedangkan Mama Maryam nampak mengajak Mely ke sebuah kamar. Dimana kamar itu akan menjadi kamar Mely dan Rival. Kamar itu berada di lantai satu. Saat menekan handel pintu kamar. Kedua mata Mely membeliak melihat isi kamar itu.
Kamar itu sangat luas dekorasi interior minimalis dikombinasikan dengan desain modern. Kedua gaya tersebut mampu membuat ruang tidur terlihat sangat nyaman. Kamar tersebut semakin nampak elegan dengan perpaduan warn-warna cokelat, krim, dan putih. Mely sangat menyukai nuansa kamarnya itu.
"Ma, ini kamar bagus sekali." Ucap Mely bahagianya dengan mata berbinar-binar. Kedua bola mata indahnya menyoroti semua sudut ruangan. Suasana hatinya mendadak berubah jadi senang dan bahagia. Kamar seperti ini adalah kamar idamannya.
Dengan langkah lebarnya, Dia masuk ke ruang ganti. Memeriksa isi lemari di ruang tersebut. Ternyata pakaian Mely di rumah yang lama sudah di pindahkan sebagian ke kamarnya yang sekarang. Begitu juga dengan tas, sepatu dan barang lainnya sudah lengkap di ruang ganti tersebut.
Mely menghampiri Mamanya yang duduk di tepi ranjang. "Ma, ide siapa yang desain kamar ku seperti ini. Aku suka sekali Ma." Ucapnya dengan sumringah. Dia menggenggam tangan Mamanya. Dia sungguh tidak sabar menunggu jawaban dari Mamanya itu.
"Siapa lagi kalau bukan Ayah mu yang siapkan ini semua." Ucap Mama Maryam membalas tatapan hangat putrinya itu.
__ADS_1
Mendengar ucapan Mamanya, Mely kembali lemas. "Ma, kenapa Ayah berubah setelah Abang Rival hadir di keluarga kita?" ucap nya lesu, memasrahkan kepalanya di bahu Mamanya itu.
"Ayah tidak berubah, itu hanya perasaan mu saja." Ucap Mama Maryam, Dia melirik ke arah putrinya yang memasrahkan kepalanya di bahunya itu. Dia pun merangkul putrinya itu.
"Tapi, Ayah sekarang kalau bicara sama Mely, ucapannya pedas-pedas banget Ma. Seperti tadi, apa coba maksud Ayah bicara seperti itu. Selama ini sesalah apapun Mely, Ayah bicaranya pasti baik-baik dan selalu sabar menghadapi Mely. Tapi, kenapa sekarang Ayah selalu ketus sama Mely." Ucap Mely dengan sedihnya. Itu jelas terlihat dari matanya yang sudah berkabut.
"Ayah itu sayang samamu nak. Dia hanya takut, Rival meninggalkanmu. Karena sifat mu yang sesukamu saja. Berubah lah, jangan urakan lagi. Jangan naik gunung lagi atau main sama geng mu itu. Mama takutnya Rival tidak menyukainya." Ucap Mama Maryam, masih masih menatap putrinya yang lagi cemberut itu.
"Tapi Ma, tidak semestinya Ayah mengancam, akan mencarikan istri lagi kepada Abang Rival." Ucap Mely kesal, masih dalam rangkulan Mamanya.
"Iya Ayah merasa bersalah telah mengatakan itu. Tapi semua itu terlontar begitu saja, karena Ayah sudah mulai lelah menghadapi mu. Tolong lah Nak, mulai saat ini berubah lah. Kasihan Ayah, Dia sudah struk ringan." Mama Mely kini meraih bahu putrinya itu. Menatap lekat kedua bola matanya Mely.
"Apakah Aku sejahat itu selama ini? sehingga Ayah kecewa sekarang kepada ku?" gumam Mely dalam hati. Dia pun langsung memeluk Mamanya itu, tak terasa air mata pun jatuh di punggung Mama Maryam.
"Ayo kita ke taman belakang. Di sana sedang ada barbeque." Mama Mely beranjak dari duduknya. Dia menyeka air matanya dan juga air mata Mely. Mereka berdua pun akhirnya berjalan menuju taman belakang. Bergabung dengan yang lainnya.
Di taman belakang, nampak Rival dan Sari sedang membolak-balik daging di atas panggangan. Hati Mely mulai panas melihatnya.
"Ma, lihatlah si Sari. Dia selalu menempel sama Abang Rival." Ucapnya pelan di telinga Mamanya. Mama Maryam pun menoleh ke arah Rival dan Sari yang nampak akrab memanggang daging tersebut.
Mama Maryam terseyum. "Kamu harus bijak dan dewasa. Mana mungkin Rival akan tergoda dengan Sari. Sudah sana kamu deketin suamimu." Mama Nur, mendorong pelan putrinya agar berjalan ke tempat pemanggangan.
"Sayang....!" ucap Mely yang kini sudah berdiri di sebelah kanan Rival. Dia menghadiahi senyuman Pepsodent nya dengan ramahnya.
Rival pun menoleh ke arah Mely yang tersenyum Pepsodent itu. "Cerita apa sih sama Mama lama bener baru ikut gabung." Ucap Rival, Dia menatap wajah istrinya itu yang sedikit sembab.
__ADS_1
"Tadi Mama ajakin lihat-lihat rumah sekalian kamar kita." Ucapnya mesra, yang membuat Sari terbatuk-batuk dihadapan mereka.
"Ooh... Dagingnya sudah matang ini. Sari cepat ambil wadahnya." Titah Rival, dengan cepat sari mengambil wadah daging panggang tersebut.
"Sini Aku saja yang pegangin wadahnya." Ucap Mely menjulurkan tangan kanannya kepada Sari. Dengan ragu dan kesal, Sari memberikan wadah tersebut.
"Sana, kamu bantuin Bi Siti saja." Ucap Mely, menatap tajam ke arah Sari. Sehingga Sari pun tidak berkutik.
"Iya Nona." Sari berjalan dengan malasnya meninggalkan pasangan itu, sesekali Dia menoleh ke belakang, melihat pasangan suami istri itu. "Nona gangguin saja. Kenapa harus nongol sih?" Mely mendumel dan menghampiri kakaknya yang sibuk menyiapkan sambal mata dan cemilan lainnya.
Sari terus saja memperhatikan Rival dan Mely dari kejauhan. Dia melampiaskan kekesalannya dengan meremas tomat yang dipegangnya hingga hancur dan muncrat ke kakaknya Siti.
"Sari, kamu apa-apaan sih?" Bi Siti marah, karena kena cipratan tomat. Sari diam tapi tatapan matanya masih menatap Rival dan Mely dengan tidak senangnya. Melihat kelakuan Adiknya itu, Bu Siti sadar. Bahwa Adiknya itu cemburu kepada Mely.
"Jangan gila kamu mau merusak hubungan Nona dan tuan Rival. Tadinya kakak berpikir kamunya becanda, menanggapin ucapan tuan besar. Tapi, melihat dirimu yang uring-uringan begini. Kakak jadi yakin, kamu memang serius dengan ucapanmu tadi. Buang jauh-jauh keinginan mu itu untuk masuk dalam kehidupan tuan Rival. Kalau kamu masih mau bekerja di keluarga ini." Ucap Bi Siti, menampar keras lengan atas adiknya yang lagi jatuh cinta itu.
"Tidak semudah itu kak. Sejak Abang Rival datang di rumah ini. Aku memang sudah suka
Bahkan disaat Abang Rival belum sembuh, Aku sudah menaruh hati kepadanya. Mana bisa Aku melupakan nya begitu saja. Apalagi Abang Rival juga sepertinya menyukai ku. Dia baik kepadaku. Mau berbicara denganku, mau bernyanyi bersama-sama dengan kita di taman." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Sari, sadar kamu. Tuan Rival memang baik. Kamu jangan Baper dengan kebaikan dan sikap ramah nya. Tuan Rival tidak akan menoleh kepada mu. Sadar....!" ucap Bi Siti kesal. Sungguh Dia tidak habis pikir dengan Adiknya satu ini.
"Tapi Aku menyukainya kak. Abang Rival begitu bersahaja." Ucapnya lirih, menatap kesal ke arah Rival yang menyuapi Mely dengan daging asap begitu sayangnya. Yang membuat hati Sari mencak-mencak.
TBC
__ADS_1