
Rili melihat dilayar ponselnya, memanggil private number. Rili melirik Yasir, mendekatkan ponselnya ke arah Yasir.
"Coba angkat sayang, siapa tahu penting." Ucap Yasir.
Rili pun menekan tombol terima, terdengar suara pria yang mengucap salam.
Tuettt teeettt.... Ponsel Rili padam, karena kehabisan baterai.
"Pon...selku kehabisan baterai." Ucap Rili dengan sedikit gugup. Dia menatap sekilas suaminya itu kemudian Dia memutar lehernya ke arah luar jendela mobil. Dia menghindari tatapan mata Yasir yang seolah minta penjelasan. Tiba-tiba perasaan Rili menjadi kacau dan cemas.
Dia meremas-remas ponsel yang masih digenggamnya dengan hati tidak tenang. Tapi, Dia merasa selamat karena ponselnya kehabisan baterai. Sehingga, pembicaraan pun terputus.
Sentuhan lembut dirasakan Rili ditangannya yang masih memegang ponsel itu.
"Ponselnya dicas dulu ya sayang?" Yasir mengambil ponsel Rili, dengan cepat Rili merampas ponselnya kembali dari tangan Yasir dengan sedikit kasar. Yang membuat Yasir sedikit heran dan bingung dengan sikap Rili yang tiba-tiba berubah seperti orang ketakutan itu.
"Pon.. ponselnya dicas di rumah aja Bang." Ucap Rili gugup, Dia kembali memalingkan wajahnya, saat Yasir menatapnya.
Mendengar suara yang mengucap salam itu, benar-benar membuatnya takut dan cemas. Suara itu masih Dia kenal. Suara itu adalah milik Rival Youman. Mantan suami yang menceraikannya dengan tiba-tiba, setelah menghilang dan tidak ada kabar.
"Kenapa Dia menghubungiku, disaat Aku sudah bahagia. Aku takut, Aku takut Ya Allah. Aku tidak ingin berkomunikasi dengannya." Gumam Rili dalam hati, Dia melap air mata yang tanpa permisi itu jatuh dipipi putihnya.
"Adek kenapa?" Yasir meraih pundak Rili. Mau tidak mau Rili membalik badannya. "Adek menangis?" Yasir menyentuh lembut pipi Rili. Dia juga menyelipkan rambut anak rambut Rili ke kupingnya.
"Tidak bang, mata Adek kelilipan." Rili memutar-mutar bola matanya, Dia tidak berani menatap mata Yasir.
"Kelilipan dari mana? kaca mobilnya tertutup semua. Abu dari mana yang buat Adek kelilipan Haahh?" Yasir menarik Rili kepelukannya. Dia tidak butuh alasan dan penjelasan yang membuat Rili sedih. Tugas Dia adalah membuat Rili bahagia. Dia akan menunggu Rili bercerita dengan sendirinya.
Rili merasa begitu tenang dan damai dalam pelukan Yasir. Suaminya itu benar-benar mengerti akan dirinya. Selama perjalanan menuju rumah Rili Yasir terus saja menciumi jemari Rili dan juga kening Rili. Yang membuat Rili malu-malu mau.
__ADS_1
Setalah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit dari Rumah Sakit, kini mereka sudah sampai di rumahnya Rili yang sederhana.
Rili nampak sibuk menyiapkan makan malam, sedangkan Mamanya dan Riswan menemani Valery dan Valri. Menyiapkan semua kebutuhan yang diperlukan oleh Ibu dan anak itu.
Sedangkan Yasir baru saja pulang dari Mesjid bersama Ayah mertuanya. Di Mesjid tadi Yasir sempat uji kebolehan mengumandangkan Adzan. Kata Pak Ridwan, Suara Yasir bagus dan fasih. Walau Tidak sebanding dengan suara Rival saat Adzan.
Di Mesjid tadi, Yasir menyumbangkan uang senilai 5 M. Sesuai dengan Nazar Dia. Apabila Rili menjadi istrinya, maka Dia akan membangun Mesjid di daerahnya Rili.
Baru berpisah tidak kurang satu jam, Yasir sudah sangat merindukan Rili. Sesampainya di rumah mertuanya. Dia mencari Rili ke dapur, karena tadi disaat Dia meninggalkan rumah, Rili sedang memasak.
Yasir tidak menemukan keberadaan Rili di dapur. Kemudian Yasir mencari keberadaan Rili di kamarnya. Dia tidak juga menemukan Rili di kamar. Tapi, Dia mendengar suara percikan air yang pelan dari kamar mandiyang terdapat dikamarnya Rili.
Yasir melihat ponsel Rili di meja rias. Dia mengambilnya. Ternyata Rili belum juga menchargernya. Akhirnya Yasir mencharger ponsel Rili.
10 menit sudah Yasir berbaring di tempat tidur Rili yang berukuran 5 kaki itu. Tapi, Rili tidak kunjung keluar dari kamar mandi. Yasir pun berniat menyusul Rili ke kamar mandi.
"Iya Bang. Sebentar, sudah mau selesai ini." Jawab Rili dengan suara sedikit keras, agar Yasir mendengarnya dibalik pintu.
"Bukain pintunya dong! Abang kebelet pipis ini." Ucap Yasir bohong. Dengan cepat Rili membuka pintu kamar mandi. Dia tidak mau suaminya terserang penyakit ginjal atau prostat karena menahan air seni.
Ceklek ..
Nampak lah Rili yang bagian dada sampai lutut ditutupi oleh kain salin. Rambut tergerai karena habis keramas. Yasir mematung memandangi Rili yang tengah berdiri dihadapannya. Tatapan Yasir sukses membuat Rili malu, salah tingkah dan jantungan. Yasir juga tak kalah tegangnya. Pasalnya juniornya sudah berontak, pingin dibebaskan.
"Ini bang." Rili menyodorkan gosok gigi model zig-zag kepada Yasir. Yang membuat Yasir menyergitkan keningnya. Tapi Dia meraih juga sikat gigi itu. Rili benar-benar salah tingkah, sehingga Ia tidak sadar memberikan gosok gigi yang dipegangnya kepada Yasir.
"Baiklah, Abang akan gosok gigi lagi. Biar mulut Abang wangi. Biar lebih enak ciumannya." Yasir pun mengoleskan pasta gigi putih ke sikat giginya. Ucapan Yasir sukses membuat Rili jantungan dan pipi Rili berubah menjadi kepiting rebus.
Tidak munafik, Dia sungguh candu disentuh oleh Yasir. Yasir selesai menggosok gigi, Dia juga mencuci wajahnya pakai facial foam milik Rili.
__ADS_1
Yasir membuka celana goyangnya dan melorotkannya dilantai kamar mandi. Dia juga membuka kemeja dan kaos dalamnya. Saat ini Yasir hanya pakai dalaman saja.
Melihat Yasir seperti ingin mandi, Rili hendak keluar dari kamar mandi, tapi langkahnya dihentikan Oleh Yasir. Tanpa aba-aba Yasir langsung ******* bibir Rili yang membuat Rili terkejut, tapi akhirya menikmati sentuhan yang diberikan Yasir.
Tidak hanya bibir Yasir yang bermain-main disetiap inci wajah Rili, tapi tangan Yasir juga sukses membuat tubuh Rili polos. Tangan kanannya langsung memainkan bukit kembar Rili, sedangkan tangan kirinya merengkuh pinggang Rili.
Suara-suara eksotis yang dikeluarkan mulut keduanya, membuat hawa dikamar mandi menjadi panas. Karena pasangan suami istri itu, sudah ingin pelapasan. Mereka tidak mungkin menuntaskannya di kamar mandi Rili yang ukurannya hanya 1.5x2 m itu. Sehingga Yasir membopong tubuh Rili ke ranjang.
Yasir kembali membuat Rili prustasi. Karena Yasir berlama-lama bermain dibagian bawahnya Rili. Sudah 3x Rili pelepasan. Hentakan-hentakan pinggul Rili diranjang, membuat ranjang bergoyang. Karena memang ranjang Rili, kayunya sudah keropos.
Mereka tidak sadar. Pergulatan sore hari yang mereka lakukan. Terdengar samar-samar di luar kamar. Karena, kamar Rili tidak kedap suara.
Yasir juga ingin merasakan seperti yang dilakukannya kepada Rili. Dengan senang hati dan muka memerah, Rili kembali memainkan-mainkan juniornya Yasir. Yang membuat Yasir mengerang penuh nikmat. Napasnya sampai tersengal-sengal. Matanya merem melek dengan lidah yang kadang menj*ilati bibirnya.
"Sayang...!" ucap Yasir, juniornya sudah blash masuk ke sarangnya. Otot-otot organ sensitif Rili begitu kencang, junior Yasir seolah-olah di pijat-pijat. Karena otot-otot nya yang berdenyut.
Brakkkk... brukkkkk...brakkkk...!
Aksi penyatuan keduanya terhenti, karena adanya gempa lokal. Tempat tidur Rili ambruk dan blash....
Singgah juga ke novel baru ku yang berjudul * PARIBAN I HATE YOU
TBc.
Tetap dukung novel ini dengan memberi like, coment positif, vote, rate 🌟 5 dan jadikan novel ini sebagai favorit
Terimakasih
__ADS_1