
"Windii....!" Rili langsung memeluk sahabatnya itu, setelah Dia membuka pintu rumahnya. Windi membalas tak kalah hangatnya pelukan Rili. Kedua mata Rili, langsung berkaca-kaca, setelah pelukan keduanya terlepas. Tapi, kedua tangan Windi, masih menggenggam tangan Rili.
"Wajahmu kenapa? kenapa kamu setelah menikah menjadi jelek?" ucap Windi, dengan ekspresi wajah sangat terkejut. Dia menatap lekat kening dan pelipis Rili yang belum sembuh.
Rili menggeleng, Dia malas membahas, luka-luka peninggalan dari kekejaman Mertuanya.
"Aku kangen banget samamu. Kamu susah kali dihubungi." Rili mengajak Windi, ke dalam kamarnya.
"Kita lepas kangennya di ruang tamu aja. Jangan ke dalam kamar. Aku merasa tidak enak hati, sama Abang Rival." Windi mendudukkan tubuhnya di sofa, yang terdapat di ruang tamu. Rilipun akhirnya duduk di sofa yang sama. Tepatnya disebelah kanan Windi.
Windi mengangkat kedua kakinya, ke atas sofa dan duduk bersila. Dia pun memutar tubuhnya menghadap Rili. Tangan mulus dan jari lentiknya, meraih dagu Rili. "Apa luka-luka di wajah mu ini, hasil KDRT?" Windi mulai memperhatikan kembali luka Rili yang mulai mengering itu.
"Kamu koq tahu, Aku sudah pulang?" Rili mengalihkan pembicaraan. Dia masih traumah untuk membahas. Malam tragis yang menimpanya 4 hari yang lalu.
"Kamu ya, Aku nanya. Kamu balik nanya juga. Jangan mengalihkan pembicaraan dech. Aku tadi lewat dari depan Rumahmu. Kulihat jendela rumah, ada yang terbuka. Makanya, Aku datang kesini." Windi, masih terus menatap lekat wajah Rili.
"No ponsel mu kenapa tidak aktif dua hari ini?" Ucap Rili, sambil menepis tangan Windi yang selalu penasaran memegangi luka diwajahnya.
"Ponsel ku jatuh ke danau. Gara-gara Si Ucup rese itu." Ekspresi wajah Windi, mendadak berubah menjadi berkabut. Dia sangat kesal, kepada Yusuf. Pria yang dijodohkan orang tuanya.
"Koq bisa?" tanya Rili. "Aduuhh.... itu tidak usah, kita bahas dikisahmu ini. Nanti Author Febriliani, akan membuat kisahku tersendiri. Kalau kisahku diceritakan juga, Kapan tamatnya cerita kalian." Ucap Windi kesal.
"Kamu juga ponselmu, sampai sekarang tidak aktif-aktif." timpal Windi.
"Ponselku hancur. Dan bangkainya pun, Aku tidak tahu dimana keberadaannya." Ucap Rili, Dia nampak menggesek-gesekkan telapak tangan kanan ke pahanya. Sungguh, Dia merasakan tertekan, mengingat kejadian malam naas itu.
"Kenapa, Kamu kirim SmS kepadaku hari Selasa kemarin, menanyakan alamat kampung Abang Rival?"
"Pingin singgah aja. Soalnya. Abang Yusuf ajakin ke perkebunan Abang Yas, Eehhh... itu maksudku. Dia ajakin Aku jalan-jalan ke arah kampung Abang Rival." Windi tiba-tiba menjadi gugup. Dia hampir saja menyebut nama Yasir.
"Kalian ingin ke Perkebunan Abang Yasir kan?" Ucap Rili dengan nada lemah. Matanya kembali berkaca-kaca.
"Kamu jahat Windi. Kamu mengetahui tentang Abang Yasir. Tapi, Kamu tidak mau menceritakannya kepadaku." Ucap Rili. Dia menatap lekat, wajah Windi yang mulai merasa tidak nyaman. Karena, Dia berbohong kepada Rili.
"Jangan kita bahas lagi, Abang Yasir. Ingat kamu sudah menikah. Kamu harus bisa move on." Windi tidak tahan melihat kesedihan di wajah Rili.
__ADS_1
"Mungkin selamanya, Aku akan menderita. Aku juga pingin move on. Pingin bahagia dengan pernikahan ku sekarang. Tapi, Dia tidak bisa ku lupakan. Aku.. Aku sangat mencintainya." Rili semakin mengencangkan tangisnya. Tangan kirinya, Memegang jidatnya yang masih terluka.
"Apa maksudmu? Apa kalian berjumpa?" Windi, memegangi kedua bahu Rili. Dia sedikit menggoyang tubuh Rili.
"Iya." Rili memeluk tubuh Windi. "Aku sudah mengetahui semua tentang Abang Yasir. Andre, Ryan dan Yasir adalah pria yang sama. Dia adalah pria yang ku nanti-nanti, sejak 16 tahun yang lalu." Rili menangis di pelukan Windi. Air matanya membasahi kemeja pink kotak bercampur toska, yang sedang dikenakan Windi
"Astaghfirullah.... Kalau namanya jodoh,, memang pasti akan bertemu lagi." Ucap Windi, spontan. Dia mengelus pundak Rili. Tapi, Rili langsung melepaskan pelukannya.
"Apa maksudmu?" Rili menelisik.
"Sebenarnya, saat hari pernikahanmu. Aku memaksa Bang Ucup, untuk menceritakan tentang Abang Yasir. Aku mengancam. Kalau Dia, tidak cerita. Maka, Aku tidak mau melanjutkan perjodohan dengannya.
"Dia bercerita. Abang Yasir, dijebak Ayahnya. Saat ulang tahun perusahaan. Abang Yasir dipaksa bertunangan, tapi Abang Yasir menolak langsung. Di depan para tamu undangan.
"Sikap keras Abang Yasir itu berbuntut panjang. Disaat Abang Yasir, hendak datang ke kota kita ini. Dia ingin menikahimu. Ayahnya menghadang dan melarangnya. Sehingga pertengkaran hebat pun terjadi. Sampai Penyakit jantung, Ayahnya kambuh.
"Abang Yasir, tidak peduli lagi terhadap Ayahnya. Karena, Dia sangat kecewa terhadap Ayahnya. Semua Abang Yasir lakukan untuk Ayahnya. Sampai Abang Yasir, menerima kesepakatan. Agar tidak komunikasi denganmu selama 3 bulan. Kalau Abang Yasir, lolos dalam perjanjian itu. Maka Ayahnya merestui kalian. Tapi, nyatanya. Ayahnya mempermainkannya.
"Dia pergi dari rumah mereka yang dijakarta. Dia meminta supir mengantarkan ke bandara. Dia akan menjumpai mu. Tapi, kejadian naas pun terjadi. Dia mengalami kecelakaan. Supirnya tewas. Abang Yasir kritis. Otaknya terbentur, Dia juga koma selama dua bulan.
"Disaat Hari pernikahan mu. Aku memaksa Abang Ucup, untuk menghubunginya. Tapi, ternyata Si Ucup yang oon itu. Sedang Eror. Dia bilang sudah menghubungi Abang Yasir. Tapi, nyatanya. Dia salah menelpon Orang." Akhirnya dengan berurai air mata Windi menceritakan semua yang diketahuinya.
Rili pun menangis sejadi-jadinya. Cerita yang diceritakan Windi ini. Belum diceritakan Yasir kepadanya. Begitu besar, cinta Yasir kepadanya. Bagaimana mungkin Dia bisa melupakan Yasir.
"Sehari setelah pernikahanmu. Abang Yasir datang. Dia menjumpai Ayah dan Mamamu. Tapi, saat itu. Tante mengatakan, bahwa kamu sangat bahagia. Tante memohon-mohon kepada Abang Yasir, Agar jangan menghubungi atau menjumpaimu. Dia terpaksa mengiyakannya. Karena, kata Tante. Kamu tidak mencintainya lagi.
Mendengar cerita Windi, Rili semakin terisak. Dadanya terasa semakin sesak, karena menahan emosi dan kecewa kepada Ibunya. Harusnya Ibunya tidak memaksanya menikah dengan Rival.
"Abang Yasir juga mendatangiku. Dia mencari informasi mengenai dirimu juga. Tapi, karena Tante, menyuruhku tutup mulut. Akupun tidak mengatakan keberadaanmu. Saat itulah Aku mengembalikan cincin dan gelangnya.
"Sebelumnya, Dia meminta Yusuf untuk menghubungiku, menanyakan keberadaanmu. Tapi, Aku pun meminta Abang Yusuf untuk tutup mulut. Merasa tidak puas dengan jawaban ku. Abang Yasir datang ke rumah. Dengan keadaan sangat memprihatinkan. Sepertinya saat itu kondisinya belum sembuh total.
"Apa kalian benar bertemu?" Windi menatap lekat kedua mata Rili. Dia sangat penasaran dengan jawaban Rili.
"Iya, tadikan sudah ku jawab. Aku bahkan di rumahnya selama dua hari. Di Rumah itu, Aku menemukan jawaban, yang tersimpan rapat." Rili masih saja menangis tersedu-sedu. Dia mengambil tisu di meja ruang tamu, untuk melap ingusnya.
__ADS_1
"Jadi, lukamu ini dari mana asalnya?" tanya Windi, Dia kembali mengamati luka Rili yang hampir kering dan di pinggir-pinggir lukanya masih membiru.
Dengan tersedu-sedu dan napas pendek-pendek. Dan sesekali Rili menghirup udara sedalam-dalamnya. Agar Dia bisa rileks untuk menceritakan semuanya. Akhirnya, aib rumah tangganya pun dibeberkannya kepada Windi.
Windi yang mendengar cerita Rili, dibuat takut, geram sekaligus kasihan kepada sahabatnya itu. Dia juga ikut menangis. Dia pun langsung memeluk Rili, mereka menangis, sambil berpelukan. Ternyata, seorang pria yang tak lain adalah Rival. Sudah menguping pembicaraan keduanya, dari teras Rumah. Dia pun ikut syok, mendengar cerita Rili. Bagaimana tersiksanya bathin Rili selama ini bersamanya. Dia pun terduduk dilantai teras rumah dan bersandar di dinding.
"Astaghfirullah..... Ada ya manusia jenis itu?" ucap Windi, Dia pun melepas pelukannya dari Rili.
"Kalau seperti itu cerita rumah tanggamu. Minta cerai aja, sama Abang Rival." Ucap Windi dengan sangat kesal.
"Mana mungkin itu terjadi. Aku tidak sanggup melakukan itu. Abang Rival pria baik, Sholeh."
"Tapi, orang disekelilingnya hantu semua. Parasit lagi. Seumur hidup kamu tidak akan bahagia, kalau kamu terus bersama Abang Rival." Windi mulai geram, terhadap Rili. Yang tidak bisa tegas itu.
"Keputusan yang kamu buat ini. Menyakiti tiga manusia. Kamu, Abang Yasir dan Abang Rival. Kamu bilang, tidak bisa melupakan Abang Yasir. Belum bisa menerima Abang Rival dihatimu. Jadi, pernikahan macam apa yang akan kamu jalani ini?" Windi, menggoyang tubuh Rili, Yang masih menangis tersedu-sedu itu.
"Aku sudah menikah. Tidak mungkin, Aku memilih Abang Yasir. Itu sama saja, Aku akan menyakiti hati Abang Rival. Dia sangat baik. Karena kebaikannya itulah membuat Aku semakin tersiksa. Tolong pahami Aku!" Rilipun akhirnya menurunkan tubuhnya dari sofa. Dia terduduk lemas dilantai keramik rumahnya dan bersandar dibadan Sofa.
"Aku akan bicara dengan Abang Rival, Dia juga hrs memikirkan kebahagiaanmu. Kalau kamu mempertahankan, Abang Rival. Suatu saat kamu bisa mati konyol. Atau bisa saja, mertuamu akan membunuhmu. Baru menikah dua Minggu. Kamu sudah babak belur.
"Jangan Windi, Dia sangat baik. Aku tidak berani melakukan itu. Biarlah, Aku menderita. Mungkin sudah nasibku begini." Rili memutar tubuhnya menghadap Windi yang masih duduk di atas sofa. Dia menggenggam kedua jemari Windi.
"Dia pria baik, tapi Dia tidak baik untuk keberlangsungan hidupmu. Wanita yang cocok buat keluarga Abang Rival itu adalah. Wanita yang kaya atau wanita yang tukang ribut seperti Mertua gilamu itu. Kalau kamu pertahankan pernikahanmu ini. Kamu sama saja akan menjadi mayat hidup. Hidup segan mati tak mau." Windi menurunkan tubuhnya dan duduk sejajar dengan Rili di lantai.
"Kalau Abang Rival Mau, Aku akan mengajaknya tinggal disini. Agar tidak banyak kontak Dengan keluarganya. Agar pertengkaran tidak terjadi."
"Pernikahan macam apa seperti itu?"
"Assalamualaikum....!" Windi dan Rili menoleh ke arah suara yang mengucap salam.
Kencengin votenya dong kakak-kakak cantik. 🤗😍
Jangan lupa like, coment dan Favorit.
Terimakasih
__ADS_1