
Tepat pukul 04.30 Wib. Rival terbangun dari tidur lelapnya. Hampir seminggu Dia begadang terus. Mulai dari proses melahirkannya Mely sampai kematian Ibu angkatnya Ibu Durjanna.
Rival merasa tubuhnya sangat berat untuk bangkit. Dia masih merasa kantuk. Masih dalam posisi berbaring, Dia menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku dan tegang, sehingga menimbulkan bunyi retakan.
Perhatiannya kini beralih ke ponselnya yang berdering di atas meja dekat tempat tidurnya. Dengan malasnya Dia beringsut, meraih ponselnya itu. Menatap layar ponsel, sambil mengucek kedua matanya. Memperjelas penglihatannya. Ada Mama Maryam yang menelpon.
"Assalamualaikum Ma." Ucapnya sambil menguap, kini posisinya sudah dalam keadaan duduk di tepi ranjang.
"Walaikumsalam, bagaimana keadaan mu Rival? kamu sehat kan?" tanya Mama Maryam dengan mencoba menghentikan gerak tangan Mely yang ingin merampas ponsel dari tangannya. Mely kesal kepada suaminya itu. Dari semalam ditelepon. Tapi, tidak pernah diangkatnya. Kenapa disaat Mamanya yang menelpon. Suaminya itu mengangkatnya?
"Sehat Ma." Jawabnya seadanya.
"Oohh...!" Mama Maryam, sedang memikirkan kata-kata yang tepat untuk diucapkan, agar Rival tidak tersinggung. Pasalnya Mely mengadu, kalau dari semalam Rival tidak mengangkat telpon nya. Dia menyimpulkan menantunya itu sedang tidak ingin diganggu.
"Bagaimana kabar si kembar Ma?" tanya Rival dengan perasaan sedih. Baru juga ditinggal satu hari Dia sudah sangat merindukan anaknya itu.
"Mereka berdua baik Budi dan sehat." Jawab Mama Maryam, menoleh kepada MeLy yang dari tadi minta diberi kesempatan untuk bicara dengan Rival.
"Oohh Syukurlah. Ma, nanti kita sambung lagi ya. Rival mau sholat shubuh dulu. Assalamualaikum...!" ucapnya, setelah Mama Maryam menjawab salamnya Rival langsung mematikan ponselnya. Sehingga Mely tidak jadi berkomunikasi dengan suaminya itu.
Rival menghela napas kasar, Dia sengaja tidak menanyakan kabar istrinya itu. Saat ini, Dia benar-benar ingin mereka intropeksi diri. Memikirkan dengan matang tentang kelanjutan hubungan mereka. Rival tidak mau lagi setelah baikan nantinya. Mely kembali mengungkit masa lalunya. Saat kestabilan emosi terguncang, pikiran butuh beristirahat dan jeda sejenak.
Rival kembali menghela napas, berjalan malas menuju kamar mandi. Membersihkan dirinya dan bersiap-siap untuk melaksanakan sholat shubuh.
__ADS_1
🌻🌻🌻
Di kota M.
Di sebuah kamar yang luas, seorang wanita nampak memukul-mukul bantal yang ada di atas pangkuannya. Dia adalah Mely. Mely sedang kesal, sekesal kesalnya. Dia benci kepada Rival yang tidak mau membalas pesan dan mengangkat teleponnya. Padahal Dia sangat merindukan suaminya itu.
Mama Maryam yang sedang membantu Febri mengganti popok Raina, melirik sedih putrinya yang susah dinasehati itu. Dia pun menghampiri Mely, duduk di sisi ranjang. Meraih ponsel Mely di atas meja. Tadi shubuh Dia sempat membaca pesan yang dikirim Mely kepada Rival.
"Kenapa kamu tidak bisa dibilangin. Rival sudah memberi tahu sebelum Dia pergi, agar kamu intropeksi diri, tapi lihat kelakuanmu ini. Kamu menerornya dengan ratusan pesan dari semalam. Apa tanganmu tidak capek mengetik ini?" Mama Maryam membaca semua pesan yang dikirim Mely kepada Rival mulai dari kemarin.
Isi pesan pertama, masih enak dibaca. Menanyakan kabarnya Rival. Begitu juga isi pesan kedua sampai ketiga. Tapi, pesan seterusnya sudah berisi ancaman dan umpatan.
"Apa yang kau tuliskan ini Mely. Kenapa kamu marah-marah kepada Rival, hanya karena Dia tidak mengangkat teleponmu?" tanya Mama Maryam dengan geleng kepala, menyayangkan tindakan putrinya itu, yang tidak bisa sabar dan tenang. Selalu menunjukkan sikap, atas apa yang dirasakannya.
pesanku pun tidak. Apalagi mau menelpon balik." Ucap Mely dengan menangis memegang kedua tangan Mamanya yang kini duduk di sebelahnya di ranjang yang sama.
"Disaat jauh-jauhan begini. Komunikasi harus dijalin bagus. Ini malah menghilang tanpa kabar." Masih menatap Mama Maryam yang kesal kepada putrinya itu.
"Rival sudah memberi kamu waktu berfikir tiga hari. Kamu harus sabar menunggu waktu itu tiba. Baru kamu mulai komunikasi dengannya. Jangan nampakkan dirimu begitu mencintainya. Dia bisa-bisa menjauh.
"Cinta itu seperti kupu-kupu. Semakin dikejar, semakin lari. Tapi bila dibiarkan terbang, ia akan datang di saat kita tidak mengharapkannya." Ucap Mama Maryam memberi pengertian kepada Mely, agar lebih sabar dan tenang. Sifatnya yang memaksa akan membuat Rival semakin menjauh.
"Aku takut Ma. Mas Rival akan meninggalkanku. Kenapa tidak ada orang yang bisa memahami apa yang ku rasakan. Mama tahu kan Aku baru kali ini jatuh cinta. Aku takut kehilangannya Ma." Mely memeluk Mamanya , menumpahkan kesedihan yang dirasakannya. Dia merasa Rival dan Mamanya tidak mengerti kemauan Dia.
__ADS_1
"Kamu takut kehilangannya secara berlebihan Nak. Perasaan itu timbul karena kamu sekarang merasa tidak berharga. Pemikiran seperti itu akan semakin membuatmu down. Jangan banyak pikiran, yang membuatmu lelah sendiri. Ingat kamu sudah jadi Ibu. Kalau pun Rival benar-benar akan meninggalkanmu. Kamu harus ambil nilai baiknya. Berarti jodoh kalian sampai disitu. Jangan memaksa kehendak, harus sesuai dengan kemauan kita.
"Sabar, menahan diri. Jangan lagi kirimin pesan kepada Rival. Coba kamu baca ulang pesan yang kamu kirim itu. Itu kata-kata nya buat sakit hati. Kamu juga mengancamnya akan pergi dari hidupnya dan membawa anak-anak. Ucapan seperti apa itu? tidak usah ancam-mengancam Dia, dengan membawa-bawa anak kalian. Ngerti kamu." Mama Maryam mengurai pelukan Mely.
"Jangan menangis lagi, fokus sama anak-anak mu." Ucap Mama Maryam dengan perasaan sedih sekaligus kesal. Dia sangat kesal dengan sikap Mely yang tidak bisa berubah.
Mama Maryam sangat khawatir dengan kelangsungan rumah tangga putrinya. Dia akui putrinya itu memang keras kepala dan selalu melakukan apa yang dipikirkannya.
Mama Maryam sangat senang, Rival mau menikahi putri liarnya itu. Karena Dia yakin Rival bisa sabar membimbingnya. Awalnya Rival memang sabar. Tapi, dengan begitu banyaknya masalah yang datang ditambah masalah yang ditimbulkannya Mely, membuatnya menyerah dan bosan dengan masalah itu-itu saja. Yaitu kecemburuan dan ketidakpercayaan.
"Ma, Aku tidak mau kalau Mas Rival meninggalkanku." Mely masih terisak dalam pelukan Mamanya.
Mama Maryam mengelus pelan lengan putrinya itu. "Iya sayang. Mama juga tidak akan membiarkan itu terjadi. Kamu sabar ya, banyak berdoa. Semoga Rival tetap Istiqomah dengan p qzernikahan kalian." Ucap Mama Maryam menyemangati putrinya yang lagi sedih dan putus asa itu. Dia sangat takut kehilangan Rival.
"Non Mely, sudah saatnya si Raynan disusui." Febri yang juga mendengar pembicaraan majikannya. Hanya bisa terdiam, seolah tidak mendengar apa-apa. Dia pun menyerahkan Raynan kepada Mely.
Mely meraih putranya itu. Dia menatap lekat wajah Raynan yang katanya lebih mirip kepada nya dibanding kepada Rival suaminya.
"Abang Raynan kangen Ayah ya?" Mely mengajak putranya itu bicara, mengelus pelan pipinya yang halus dan mulus. Memandangi putranya itu dengan tatapan penuh kasih dan sayang. Putranya itu begitu semangat nya saat menyusui. Sepertinya Dia sangat haus.
"Sepertinya yang kangen Ayahnya bukan Raynan dech. Tapi, Mamanya Raynan." Ucap Mama Maryam, mengelus lembut kepala cucunya itu. Mely hanya memanyunkan bibirnya. Dia kesal digodain Mamanya.
TBC.
__ADS_1
Di hari Idul fitri yang indah ini, saya ingin mengucapkan selamat Idulfitri kepada kalian yang merayakannya. Mohon maaf lahir dan batin.