
"Assalamualaikum.... Dek Rili....!" Terdengar suara cowok dari sambungan telepon.
Windi tidak menyahuti pria yang menelpon Rili, Windi malah berjalan ke arah Rili dan memberikan ponsel itu kepada Rili.
"Ini kamu aja yang jawab," ucap Windi. Dan langsung menyodorkan ponsel milik Rili tersebut.
"Emang kenapa? apa susahnya menjawabnya," ucap Rili pelan.
"Malas, kamu aja yang jawab."Ucap Windi.
Sementara pria yang menelpon itu tak henti-hentinya mengucapkan kata halo... halo....
Rili mendekatkan ponselnya ke daun telinganya. Entah kenapa Dia menjadi gugup. Dia berfikiran bahwa Yasir yang menelponnya.
"As.....Assalamualaikum..." Ucap Rili dengan sedikit terbata-bata.
"Walaikum salam..." Ucap pria itu dengan suara bariton. Ciri khas suara pria pada umumnya.
Mendengar suara itu Rili menjadi lemas, Dia sempat berharap bahwa no yang tidak dikenal itu adalah no ponsel Yasir. Tapi, nyatanya tidak.
Rili diam, dan mengubah posisinya menjadi duduk di sisi ranjang.
"Dek Rili, ini Abang Rival, bisa gak dek datang kesini sebentar?" ucap Rival dengan sedikit rasa gugup.
"Emangnya ada apa bang? kenapa no nya beda?" tanya Rili.
"Handphone Abang kehabisan pulsa. Jadi, Abang pinjam handphone teman Abang. Dek, punya minyak tawon, atau minyak yang bisa kempesin bengkak pada kulit karena digigit serangga?" tanya Rival.
"Siapa yang kena gigit serangga?" tanya Rili.
"Abang dek,", Ucap Rival. Dia menarik napasnya dalam-dalam, Dia tahu Rili kurang menyukai Dia. Tentu Rili tidak akan mengkhawatirkan keadaannya. Bahkan mungkin kalau Rival di gigit ular sekalipun, Rili akan bersikap biasa saja.
"Baiklah, Rili akan kesana." Ucap Rili dan mengakhiri panggilan telepon seluler itu.
"Yuk temenin aku ke rumah tetangga sebelah," Ucap Rili dan langsung mengambil sebuah botol yang berisi minyak dari laci lemarinya.
" Ngapain?" tanya Windi dan langsung mengikuti langkah Rili keluar dari kamar.
"Nanti juga kamu tahu." Jawab Rili.
Kini Rili dan Windi sudah memasuki rumah tetangganya, tempat rombongan calon mempelai pria menginap malam ini. Rombongan mempelai pria harus datang hari ini, karena besok akad nikah akan diadakan sekitar jam 10 pagi. Karena Rumah Rival yang jauh sehingga rombongan harus datang satu hari sebelum hari pernikahan agar tidak terlambat.
Rili melihat seorang teman dari Rival sedang mengompres wajah Rival dengan menggunakan kain yang dicelupkan dengan air hangat.
Rili berjalan mendekati Rival yang sedang duduk dilantai beralaskan tikar tersebut.
__ADS_1
Melihat kedatangan Rili, maka Rival langsung berdiri dan temannya menghentikan aktifitas nya mengompres wajah Rival yang bengkak dibawa matanya tersebut.
Deg..... Jantung Rival seakan berhenti berdetak. Disaat Rili yang berdiri didepannya menatap wajah Rival yang dibagian bawah mata kirinya sedikit membengkak.
Disaat Rili memperhatikan wajah Rival, mata keduanya bertemu. Rival menatap dalam pada kedua bola mata indah Rili. Disaat menatap lekat-lekat kedua mata Rili, membuat sesuatu yang mulai tumbuh dihatinya menjadi subur. Dia menikmati kecantikan wajah Rili.
Rili yang merasa tatapan Rival penuh dengan arti itu, dibuat malu sekaligus grogi. Wanita itu memalingkan mukanya. Dia sedikit kesal dengan cara Rival menatapnya.
"Ehmmm..... " Rili berdehem masih dalam keadaan memalingkan wajahnya.
Akhirnya Rival pun tersadar, Dia sempat terhipnotis dengan keindahan mata dan wajah Rili yang cantik dan Ayu itu.
"Ini bang," ucap Rili dan langsung menyodorkan minyak tawon tersebut tanpa melihat ke arah Rival.
Rival meraih minyak tawon tersebut.
"Terima kasih dek!" ucap Rival dengan sedikit rasa malu.
"Habis sholat magrib nanti makan malam di rumah, setalah habis sholat isya ada acara bainai. Abang juga nanti akan dipakaikan Inai." Ucap Rili masih dalam posisi tidak menatap wajah Rival.
"Iya dek,"
"Kami pamit ya!" Rili nampak menghampiri Windi yang masih berdiri di dekat pintu.
"Assalamualaikum.." Ucap Rili. Meraka pun berjalan menuju rumahnya.
Windi sekarang nampak merebahkan tubuhnya di ranjang Rili yang sudah dihias.
"Aku penasaran gimana ya cara kalian nanti melakukan malam Pertama?" Ucap Windi sambil ketawa cekikikan.
"Melihat kalian tadi aja saat ketemu, lucu banget. Satu malu-malu mau, yang satu lagi cuek-cuek bebek." Ucap Windi.
"HIhiHi.... Nanti ceritain ya gimana malam pertamanya dengan babang Rival yang ganteng itu. Aku yakin pasti nanti kamu dibuat teriak-teriak enak, terus merem-merem melek." Ucap Windi dengan sedikit seloroh.
"Kamu ya Windi!" ucap Rili kesal sambil melempar Windi dengan baju Rili yang hendak dimasukkannya ke koper.
"Aku yakin, Dia pasti bisa buat kamu puas!"
"Windi ...!"
"Hehehehe..... Becanda, kamu sih tegang banget." Ucap Windi.
"Aku yakin pasti itunya Abang Rival pasti tegang dan keras banget itu." Ucap Windi lagi.
"Astaghfirullah..... Kamu pergi berwudhu sana, agar pikiran kotormu itu hilang!" Ucap Rili kesal.
__ADS_1
"Iya, magrib masih lama. Ini baru setengah enam." Ucap Windi dan mengubah posisinya menjadi berbaring miring ke arah Rili yang sedang mempacking pakaian serta barang yang diperlukan nanti di kampung Rival.
"Kenapa kamu begitu tidak sukanya sama Abang Rival. Apa kamu tidak bisa menilai orang? sekali lihat saja, orang pasti bilang Dia itu pria yang baik." Ucap Windi.
Rili diam saja, Dia malas meladeni ucapan Rili. Mungkin kalau Rili duluan kenal dengan Rival, mungkin ceritanya akan beda.
Suara adzan pun dikumandangkan, lagi-lagi Rival yang adzan di mesjid. Mendengar suara Rival saat adzan yang begitu merdu dan syahdu membuat warga tertarik untuk sholat berjamaah di mesjid.
Setelah sholat magrib, rombongan mempelai pria yang datang terlebih dahulu sekarang nampak sedang makan malam bersama dikediaman Rili.
Rival menelusuri setiap sudut ruangan, Dia sedang mencari sosok yang akan menjadi istrinya itu. Tapi, Dia tidak melihatnya.
Setelah sholat isya, maka acara bainai akan dilakukan. Sebenarnya acara bainai adalah adat dan kebiasaan suku Minangkabau. Tapi, sudah kebiasaan di kota Rili yang berada di pesisir pantai melakukan adat itu walau Rili bukan suku Minangkabau.
Rival nampak sudah duduk bersila dengan beberapa pemuda dari kampungnya dan pemuda setempat.
Jarak satu meter dari tempat Rival duduk, Rili juga sedang duduk bersama dengan Windi gadis-gadis setempat.
Sebenarnya acara bainai di tempat Rili tidak seperti malam bainai suku Minangkabau. Tidak ada acara ritual khusus. Hanya acara melekatkan daun Inai yang ditumbuk halus ke kuku jari tangan dan kaki calon pengantin
Itupun yang menghias tangan calon pengantin dengan Inai adalah gadis-gadis setempat.
Seumpama calon pengantin yang menikah ini adalah pasangan kekasih yang saling mencintai, mungkin malam bainai nya akan penuh dengan canda tawa kedua calon mempelai. Tapi, malam ini calon mempelai wanita sedikitpun nampak tidak bahagia.
Rival pun tahu, bahwa Rili tidak senang dengan pernikahan ini. Dia hanya bisa berdoa semoga pernikahan yang diawali dengan sangat menyedihkan ini, suatu saat bisa bahagia.
Acara ber inai sudah selesai. Windi pamit pulang. Rombongan mempelai pria pun nampak meninggalkan kediaman Rili dan akan beristirahat di rumah tetangga Rili.
Rili menatap jam dinding yang ada di kamarnya sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Dia tidak bisa tidur. Pikirannya mengkhayal seandainya besok yang menikah dengannya adalah Yasir bukan Rival.
🌹🌹🌹
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Rili Askana binti Ridwan Askan dengan maskawinnya yang tersebut, tunai."
"Tunggu....!" teriak seorang pria dari luar, Dia nampak berlari dengan tergesa-gesa dan Dia menabrak tukang kamera di dalam rumah tempat acara ijab kabul berlangsung.
Brugggg... Tukang kamera dan video tersungkur di depan kedua mempelai.
Semua orang melihat pria yang datang secara mendadak itu, mata Rili hampir copot dari tempatnya. Melihat Yasir datang menghampirinya.
"Rili..... Rili.... Ayo.... Bangun.... Bangun.... ikutin Abang!" Ucap Yasir dan memegang tangan Rili
Bersambung...
Mohon beri like, coment, vote, rate ⭐dan jadikan novel ini sebagai favorit.
__ADS_1
Terima kasih