Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )

Misteri Jodoh (Janda Tapi Perawan )
Season 2 Aku cinta


__ADS_3

Mama Maryam terdiam dengan apa yang dikatakan Mely. Dia tahu memang dari awal Rival tidak menyukai putrinya itu. Tapi, Mamanya Mely tidak tahu, bahwa putrinya itu kabur dari rumah dan tidak ingin kembali. Karena Rival yang ngotot ingin menjumpai mantan istrinya.


"Iya sayang, sudah jangan menangis lagi. Toh sekarang Nak Rival masih bersamamu." Ucap Mama Maryam dengan lembut dan penuh perasaan seolah Dia terhanyut dengan penderitaan yang dialami putrinya.


"Minum dulu ya sayang." Mama Maryam mendekatkan segelas juice alpukat ke mulut Mely yang sudah ada sedotannya.


Mely pun menyedot juice itu dalam keadaan berbaring.


Rival masih terdiam seribu bahasa memperhatikan istrinya yang sangat membencinya, sambil menggendong anaknya Raynan.


"Febri, kamu panggilkan Bi Siti kesini." Ucap Mama Maryam. Menatap Febri yang memberikan sufor kepada Rival. Rival pun memberikan sufor itu kepada Bayinya yang kini sudah tidak menangis lagi.


"Iya Nyonya." Febri meninggalkan kamar itu.


Setelah selesai memberi Mely juice. Mama Maryam mendekati Rival yang berdiri sambil menggendong putranya. Yang sudah selesai memberi sufor kepada Raynan.


"Apa si Raynan sudah tidur?" tanya Mama Maryam dengan penuh kebahagiaan, karena Dia sudah punya cucu.


"Sudah Ma." Jawabnya lirih.


"Letakkan saja di box bayi. Kita perlu bicara." Ucap Mama Maryam. Rival pun berjalan dengan penuh kesedihan ke box bayi, sambil sesekali melirik Mely yang sudah menutup matanya itu.


Rival tidak langsung meletakkan Raynan di box bayi. Dia terlebih dahulu mensendawakan putranya itu.


Mama Maryam mendekati Pak Firman yang masih memberikan sufor kepada Raina. Mama Maryam memperhatikan Pak Firman yang begitu terlatih dan sayangnya saat memberikan Raina susu formula tersebut.


"Masih cocok jadi Ayah, kenapa Abang tidak menikah lagi?" tanya Mama Maryam menatap Pak Firman dengan senyum mengejek.


Firman menghelas napas kasar, "Gak ada yang mau. Kalau kamu mau kita bisa coba buatkan satu lagi anak." Ucapnya polos to the point, yang membuat Mama Maryam tersentak dengan ucapan Firman. Yang hanya bisa didengar Mama Maryam. Karena Firman berbisik di telinga Mama Maryam, saat mengatakannya.


Mama Maryam melotot dan geram kepada Pak Firman. Dasar tidak pernah berubah, selalu mengatakan hal yang membuat jantung terasa copot. Mama Maryam membathin.

__ADS_1


"Hanya bercanda, kamu jangan menanggapi nya dengan serius begitu." Ucap Pak Firman dengan tertawa kecil. Dia pun memberikan Raina kepada Mama Maryam.


"Tapi, kalau kamu mau. Apa salahnya kita coba perbaiki hubungan kita kembali." Ucapnya kembali berbisik kepada Mama Maryam.


Mama Maryam bergidik ngeri mendengarkan nya. Baru juga suaminya meninggal. Mana ada Dia kepikiran untuk berumah tangga lagi. Apalagi dengan si Firman manta Mafia miskin.


"Nak Rival, Bapak pamit ya. Semoga kamu bisa sabar hadapi Mely. Aku kasihan kepadanya. Bagaimana Dia menjalani hidup bersamaku dalam keadaan hamil besar dan serba kekurangan. Jangan terpancing oleh amarahnya Mely." Ucap Pak Firman, menepuk bahu Rival. "Semangat...! sepertinya kita harus sama-sama berjuang." Ucapnya lagi, yang membuat Rival kali ini mengerutkan dahinya. Apa maksud ucapan dari Pak Firman itu.


Sama-sama berjuang?


Febri, Bi Siti dan semua ART yang jumlahnya sepuluh memasuki kamar Mely.


"Nyonya memanggil kami?" tanya Bi Siti, yang kini mereka sudah membentuk dua sap barisan.


Mama Maryam menoleh. "Kenapa kalian semua kesini?" tanya Mama Maryam heran.


"Kami ingin melihat si kembar Nyonya." Jawab Bi Ani, yang bertugas dibagian Loundry.


Dia juga sudah sangat merindukan istrinya itu. Dia ingin tidur satu ranjang dengan Mely. Walau Mely tidak menginginkannya. Setidaknya Dia bisa menatap wajah istrinya itu, kalau tidak boleh dipeluknya.


"Eehhmmm... Sebaiknya si kembar mulai malam ini sudah bisa dikenalkan dengan suasana kamar mereka. Jadi Febri dan semuanya. Kalian jaga si kembar di kamarnya saja ya!" ucap Rival tegas, menatap satu persatu pembantunya.


"Baik Pak," Jawab Febri. Mengerti maunya majikannya itu.


"Baik tuan---!" jawab semua ART secara serentak.


Para ART itu pun mulai memindahkan semua barang-barang keperluan si kembar ke kamar bayi itu.


"Kita bicara sebentar di balkon!" titah Mama Maryam dan berjalan menuju balkon.


Rival mendekati tempat tidur, memperhatikan Mely yang nampak sedang tertidur pulas. Dia pun menyelimuti istrinya dengan perasaan sedih.

__ADS_1


Rival pun menyusul Mama Maryam ke balkon,


yang ada di kamarnya. Mama Maryam nampak duduk di kursi empuk panjang yang ada di balkon itu.


"Jadi benar yang dikatakan Mely itu, Dia kabur dari rumah karena kecewa kepadamu?" tanya Mama Maryam dengan kesal, menatap Rival yang berdiri membelakanginya.


"Iya Ma." Jawabnya dengan lemah, karena merasa bersalah. Dia memegang erat besi pembatas.


"Kenapa kamu tidak menceritakan itu alasannya Mely kabur. Kami mengira, Mely kabur karena Hobby kaburnya kambuh." Tanya Mama Maryam, Dia kecewa kepada Rival yang tidak mau menceritakan masalahnya dengan MeLy.


"Aku tidak tahu, itu alasannya Mely menghilang Ma. Walau sempat, Aku berfikir nya kesitu." Jawabnya dan kini berbalik badan menghadap Mama Maryam


"Apa kamu masih mencintai mantan istrimu?" tanya Mama Maryam, menatap lekat Rival.


Rival menghela napas dalam, Dia pun ikut duduk disebelah Mama Maryam.


"Sekarang Aku tidak mencintainya Ma. Bodoh sekali Aku mencintai istri orang, padahal jelas Aku punya istri yang cantik dan masih muda." Ucapnya sedikit keras, karena Dia kesal dengan pertanyaan Ibu mertuanya itu


'Kamu kan bodoh.' Mely membathin, Dia yang pura-pura tidur mendengar percakapan Rival dan Mamanya.


"Apa kamu mencintai Mely?" tanya Mama Maryam, masih menatap Rival disebelahnya.


"Saya mencintainya Ma. Kalau tidak cinta, bagaimana mungkin Dia melahirkan anak-anak ku." Ucapnya polos, yang membuta Mama Maryam tertawa kecil.


"Apa dengan menghamili nya bisa dikatakan indikatornya, bahwa kamu mencintainya?" tanya Mama Maryam, tidak percaya dengan jawaban Rival.


Aneh sekali menantunya ini pikirnya. Laki-laki bisa saja melakukan itu, tanpa cinta. Beda dengan perempuan, Dia biasanya akan mau melakukannya dengan pria yang dicintanya.


"Iya Ma, kalau saya tidak mencintainya. Saya tidak akan sanggup melakukannya. Kenapa Mama menanyakan itu?" Rival berdecak kesal, sepertinya Mama Maryam tidak percaya dengan ucapannya. Yang terkesan tidak masuk akal.


"Berarti kamu sudah lama mencintainya. Kenapa kamu tidak mau mengajaknya, disaat kamu ingin bertemu dengan mantan istrimu. Padahal kata Mely, Dia sudah minta ikut. Dan Dia juga melarang kamu untuk pergi. Tapi, tetap saja kamu pergi." Ucap Mama Maryam dengan ekspresi geram dan kesal kepada Rival.

__ADS_1


__ADS_2